Written by widya sawitar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

STRUKTUR JAGAD RAYA

DAN

TAHAPAN KELAHIRANNYA

 

Widya Sawitar

 

“Lumaksana sekar sarkara ‘mrih, pininta maya-maya ‘nggeng ulah, kang minangka pituture,
duk masih awang uwung, ru-rung ana bumi langit, nanging Sang Hyang Wisesa,
kang kocap rumuhun, meneng samadyaning jagad, datan arsa mosik jroning tyas maladi,
ening aneges karsa.”
(Manikmaya, Mulyono, 1989, p.181)

Gambar 1 El Gordo
Citra teleskop Hubble dari gugus galaksi paling masif yang pernah ada ketika alam semesta masih berumur setengah dari yang kini diketahui pada kisaran 13,8 miliar tahun.
Gugus ACT-CL J0102-4915 mengandung ratusan galaksi dengan taksiran massa 3 juta miliar kali Matahari (sekitar 3.000 kali massa Bima Sakti) walaupun sejatinya sebagian besar massa tersembunyi sebagai materi gelap (dark matter). Lokasi materi gelap dipetakan di kawasan berwarna biru layaknya kabut. Karena materi gelap tidak memancarkan radiasi apa pun, para astronom Hubble mengukur bagaimana gravitasinya membelokkan citra galaksi latar belakang yang jauh (gravitational lensing).
Fenomena ini membantu para ahli untuk memperkirakan jumlah massa gugus ini.
Julukannya El Gordo (Spanyol: gemuk) tatkala pengamatan sinar-X dan studi kinematik pertama kali menunjukkan bahwa gugus ini luar biasa masif untuk rentang usianya. Juga diketahui bahwa gugus ini sedang mengalami proses penggabungan dengan dua gugus yang lebih kecil didekatnya.
Tanggal rilis: 3 April 2014
Credit: NASAESA, and J. Jee (University of California, Davis).
[and J. Hughes (Rutgers University), F. Menanteau (Rutgers University and University of Illinois, Urbana-Champaign), C. Sifon (Leiden Observatory), R. Mandelbum (Carnegie Mellon University), L. Barrientos (Universidad Catolica de Chile), and K. Ng (University of California, Davis)]

 

Alam Perbintangan 

Sejarah penelusuran perbintangan terus berlangsung sampai saatnya diketahui bahwa bintang gemintang yang selama ini dapat terlihat tampak jauh lebih banyak sejak era Galileo. Pada tahun 1650, Riccioli (Itali) melihat dengan teleskop ke bintang Mizar (Zeta Ursae Majoris) di rasi bintang Biduk atau Gayung Besar (bagian dari Ursa Major atau Beruang Besar). Didapati bahwa Mizar adalah bintang ganda. Awalnya dianggap efek visual sampai Herschell, sang penemu Uranus menelitinya dan akhirnya keberadaan pasangan bintang layaknya pasangan Bumi-Bulan diakui keberadaannya. Kini diketahui bahwa Mizar adalah sistem bintang berempat dan nyatanya sebagian besar bintang adalah bintang ganda atau bahkan bintang majemuk. Selain bintang ganda/majemuk, ternyata banyak dijumpai kelompok bintang yang disebut gugus bintang. Anggotanya ratusan bahkan ratusan ribu buah. Ada yang relatif teratur (globular cluster; gugus bola), ada yang tidak teratur (open clustergalactic cluster; gugus terbuka; gugus galaktik).

Gambar 2 Gugus Bola NGC 1846.
Gugus bola ini terdiri dari ratusan ribu bintang berlokasi di halo galaksi Awan Magellan Besar berjarak kisaran 160.000 tc ke arah rasi bintang Dorado. Kebanyakan anggotanya berusia menengah, beberapa dalam rentang miliar tahun. Dalam citra juga terekam keberadaan extra galaksi nun jauh di latar belakangnya. Ada yang cukup menyita perhatian, yaitu adanya nokhtah biru cemerlang di area bawah-tengah yang sempat dikategorikan sebagai “planetary nebula”.
Masih belum dipastikan apakah objek ini anggota gugus, atau sekedar segaris pandang saja.
Penelitian awal bahwa objek ini memang anggota gugus.
Citra ini dihasilkan dengan menggunakan Advanced Camera for Surveys pada bulan Januari 2006.
Credit: NASA and The Hubble Heritage Team (STScI/AURA)
Acknowledgment: P. Goudfrooij (STScI)

Gambar 3 Gugus Terbuka Lintang Kartika (M45 atau Pleiades)
Courtesy: Bill and Sally Fletcher

Adapun ruang di antara bintang gemintang bukan ruang kosong, melainkan sering didapati materi gas dan debu (nebula) yang disebut materi antar bintang. Salah satu yang populer adalah Nebula Orion (sebagian area Orion di Indonesia disebut Lintang Waluku yang dipakai untuk pedoman musim). Materi antar bintang di Orion pertama diketahui dan disebut nebula oleh Claude Fabri dari Peiresc tahun 1659. Kini di daerah ini telah banyak dijumpai calon bintang, bahkan diduga akan membentuk sistem keplanetan1.

Gambar 4 Rasi Bintang Orion (Lintang Waluku)
Astrofotografer: Sarah Fauziah, Pengolah Citra: Dmirza P. Al Amamu (Planetarium Jakarta)

dan Nebula Orion
Astrofotografer dan Pengolah Citra: Ronny Syamara (Planetarium Jakarta)

Keterkaitan antara materi antar bintang dan bintang sangat erat. Berbasis evolusi bintang, bahwa bintang terbentuk dari adanya materi tersebut. Dengan berhasilnya membentuk kesatuan materi yang diikuti proses terjadinya rangkaian reaksi nuklir serta penghamburan energinya, lahirlah bintang sejati. Namun, bila bahan bakar nuklir kurang tersedia, gagallah dia menjadi bintang. Dapat menjadi bintang katai coklat, seperti yang diduga terhadap Jupiter. Atau dapat menjadi bintang katai merah. Ada dugaan bintang seperti ini sangat berlimpah di alam semesta. Massanya hanya 10% kali Matahari, sementara kecerlangannya sekitar 60 ribu kali lebih redup.

 

Pada akhir hidupnya, bintang dapat membubuskan sebagian materinya dalam ujud seperti angin Matahari (Solar Wind). Kadang semburan partikel ini begitu banyak yang dapat melahirkan objek langit berupa bintang Wolf Rayet.

Gambar 5 Nebula Carina
Sebagian dari Nebula Carina ini diabadikan dengan memakai kombinasi filter merah, hijau, dan biru dengan Wide Field Imager pada teleskop 2,2 meter MPG / ESO di Observatorium La Silla ESO – Chili.
Pusatnya yang berwarna putih-biru cemerlang merupakan bintang muda yang masif (bermassa besar) dan panas yang diberi nama WR 22 yang tergolong kelompok bintang Wolf – Rayet.
Bidang pandang foto 72 x 72 tc dan jaraknya sekitar 7.500 tc. Dirilis tanggal 28 Juli 2010
Credit: ESO

Gambar 6
Citra Teleskop Hubble menunjukkan hadirnya bintang-bintang muda, energik, masif, dan cemerlang. Suatu lukisan alam yang luar biasa yang terbentuk oleh angin bintang dan semburan radiasi ultraungu.
Tampak nebula merah raksasa (NGC 2014) bersama tetangganya yang lebih kecil berwarna biru (NGC 2020) yang merupakan kawasan pembentukan bintang yang membentang luas di Awan Magellan Besar, dengan jarak 163.000 tc. Citra ini melahirkan julukan "Cosmic Reef," karena nebula tersebut menyerupai dunia bawah laut. Daerah pusat NGC 2014 terdiri dari bintang-bintang yang besar dan cemerlang di mana masing-masing memiliki massa sekitar 10 hingga 20 kali massa Matahari.
Area biru di NGC 2014 mengungkapkan kehadiran unsur oksigen yang panas sebagai dampak besarnya radiasi ultraungu. Gas merah yang lebih dingin menunjukkan adanya hidrogen dan nitrogen.
Sementara itu, fenomena NGC 2020 berawal dari keberadaan sebuah bintang maharaksasa (Wolf-Rayet) yang luminositasnya kisaran 200.000 kali lebih terang dari Matahari
di mana nebula yang menyelimutinya berasal dari bubusan materi selubung bintang tersebut.
Bentang citra Hubble yang diabadikan dengan Wide Field Camera 3 ini mencakup 11 detik busur (520 tc) dan dirilis tanggal 24 April 2020 dalam rangka ulang tahun teleskop Hubble yang ke 30.
Credit: NASAESA and STScI

Ada pula materi yang berasal dari letupan bintang yang melahirkan Kabut Planet (Planetary Nebulae). Objek ini tidak terkait dengan planet yang biasa dikenal, hanya penamaan saja. Konon, nanti Matahari akan seperti ini. Sementara itu, inti bintang seperti ini biasanya berupa Katai Putih. Pertama kali diamati Alvan Clark (1862-3), yaitu bintang Sirius B yang merupakan pasangan Sirius A. Kesimpulan bahwa bintang tersebut Katai Putih setelah Walter Adams (1914) meneliti temperatur dan kecerlangannya. Penelitian diawali dari gerak Sirius yang aneh, lintasan bergelombang berperiode 50 tahun, yang sejak tahun 1844 juga telah diamati Bessel.

Gambar 7 Kabut Planet NGC 5189
Sering dikhayalkan laksana kristal cemerlang.
Strukturnya tergolong kompleks yang sekaligus menjadi ladang penelitian tentang mekanisme terbubusnya selubung bintang yang kini berupa Katai Putih.
Contoh spektakuler dari kompleksitas ini tampak dari pita-pita biru dan jingga yang berkelindan bahkan sepintas terspiral membentuk huruf S dengan Katai Putih dipusatnya. Struktur bipolar atau kuadrupolar ganda ini dapat dijelaskan apabila ada pengganggu didekatnya,
atau dengan kata lain terdapat pasangannya dalam sebuah sistem bintang ganda.
Namun, hingga kini, tidak ada kandidat visual untuk kemungkinan pendampingnya.
Jarak antara 1.800 – 3.000 tc ke arah rasi bintang Musca. Diabadikan dengan Wide Field Camera 3 pada teleskop Hubble (6 Juli 2012), dengan filter sesuai warna spesifik atom sulfur, hidrogen, dan oksigen. Filter pada rentang kasat mata dan inframerah-dekat juga digunakan. Dirilis tanggal 8 Desember 2012.
Credit: NASAESA, and the Hubble Heritage Team (STScI/AURA)

 

Gambar 8 Kabut Planet NGC 6302
Gugus bintang yang cemerlang atau nebula sering diberi nama bunga atau serangga.
Seperti halnya NGC 6302 yang berjarak kisaran 4.000 tc di arah rasi bintang Scorpius,
yang mendapat julukan Nebula Kupu Kupu. Tampak bentang sayapnya mencapai 3 tc. Bintang dipusatnya diperkirakan mencapai 250.000 derajat. Bintang ini sebenarnya adalah bintang yang sudah dijelang akhir hidupnya, yang sudah membubuskan hampir semua selubungnya dan tertinggal bagian intinya saja. Objek keseluruhannya disebut Kabut Planet (Planetary Nebula)
dan bintang dipusat objek ini adalah Katai Putih.
Credit: NASA/ESA/Hubble

Atau, bintang suatu ketika meletup dalam ujud novae (nova stella, new star). Mendadak sangat terang karena letupan dahsyat. Dapat mencapai ratusan ribu bahkan jutaan kali lebih terang dibanding cerlang awal, lalu meredup lagi secara perlahan. Sudah lebih 100 novae ditemukan dalam kurun waktu satu abad terakhir. Yang paling terang Nova Aquilae 1918 dan Nova Cygni 1975 (ditemukan astronom amatir Jepang). Objek ini dijumpai di sistem bintang ganda. Kadang letupan terjadi berkala (dapat simak contohnya pada Ophiuchus Bagian 2 ).

Gambar 9 Nova V838 Monocerotis
Bintang variabel adalah bintang yang berubah-ubah kecerlangannya.
Adapula bintang variabel mirip nova, yaitu V838 Monocerotis yang tampak sedang membubuskan sebagian selubung bintangnya. Bintang ini berada di arah rasi bintang Monoceros, berjarak sekitar 20.000 tahun cahaya. Gambar pertama diambil 8 Februari 2004 dan kedua 23 Oktober 2004 (Credit: NASA, ESA, and The Hubble Heritage Team (STScI/AURA)). Gambar ketiga, gabungan 17 November 2005 dan 9 September 2006. Credit: NASA, ESA, and H. Bond (STScI)

Selain itu, materi antar bintang dapat hadir karena ada bintang meledak yang disebut supernovae. Kecerlangannya dapat berlipat antara 10 – 100 miliar kali. Supernova yang tercatat sangat spektakuler terlihat dengan mata telanjang terjadi tahun 1054 di rasi bintang Taurus, SN1054 Tau, bahkan dapat disaksikan pada siang hari (dapat simak Supernova Bagian Pertama ). Terakhir yang dapat dilihat mata bugil adalah tahun 1987, SN1987A, yaitu supernova yang terjadi di salah satu satelit galaksi kita Awan Magellan Besar. Kini juga dikenal adanya objek hipernovae (1999).

Selain hamburan materi ke segala penjuru akibat supernova/hipernova, maka ada sebagian dari objek ini yang inti bintangnya tersisa membentuk objek langit yang disebut Bintang Neutron. Keberadaan bintang seperti ini telah diramalkan secara matematis oleh Baade dan Zwicky tahun 1934. Apabila Bintang Neutron tadi ternyata melakukan gerak rotasi yang teramat cepat, maka akan melontarkan pancaran energi dalam ujud sinyal radio. Dari sini, lahirlah benda langit yang disebut pulsar (pulsating radio source). Baik Bintang Neutron maupun pulsar, baru ditemukan tahun 1967 oleh Hewish dan Bell, yaitu pulsar di pusat ledakan supernova di Taurus yang terlihat tahun 1054. Materi sebaran sisa ledakan supernova ini dikenal dengan Kabut Kepiting (Crab Nebula). Selain pulsar radio, dikenal pula pulsar sinar X yang ditemukan pada sistem bintang ganda dan baru ditemukan pada tahun 1974 oleh Taylor dan Hulse yang sekaligus memperkokoh keabsahan teori Einstein2 (dapat simak pada Supernova Bagian Kedua ).

Selain tersisa bintang neutron dan pulsar, ternyata berbasis teori bahwa ledakan supernova pun dapat melahirkan objek langit lain yang disebut Lubang Hitam (Black Hole), khususnya pada supernova tipe kedua (SNII; dapat simak Lubang Hitam dan Supernova Bagian Ketiga). Dengan suatu mekanisme tertentu membuat bagian inti bintang mengerut sangat cepat sehingga menjadi sangat mampat. Hal ini menyebabkan gaya gravitasinya menjadi sedemikian kuat, bahkan cahaya sekalipun tidak dapat lepas darinya. Kemampatannya dapat diandaikan apabila Matahari diciutkan hingga radius 3 km saja. Bila benda ini merupakan anggota bintang ganda, maka keberadaannya relatif mudah dideteksi dari pancaran sinar-X yang sangat kuat akibat interaksi antar keduanya. Pada saatnya, bila objek langit di atas sudah benar-benar kehabisan bahan bakar nuklirnya, maka mereduplah bintangnya, mendingin, akhirnya melahirkan objek langit yang disebut bintang katai hitam atau katai gelap.

 

Galaksi Bima Sakti

Bintang-bintang di langit malam yang sehari-hari dapat dinikmati kasat mata nyatanya hanya sebagian sangat kecil saja, kisaran 5000 buah dari satu keluarga besar perbintangan yang disebut galaksi Bima Sakti (Milky Way) yang mengandung anggota sekitar 400 miliar bintang (dapat simak Bima Sakti dalam Budaya Jawa ; Bima Sakti dalam Mitologi Ragam Budaya ; Bima Sakti Rumah Kita ). Pada malam cerah, sebagian lautan perbintangan di galaksi kita dapat disaksikan kasat mata layaknya awan putih tipis mirip selendang.

Adapun dari peneraan bintang yang berkesinambungan akhirnya diketahui bahwa bentuk galaksi kita adalah spiral laksana pusaran air apabila dilihat dari atas kutubnya. Tentu penelitian terhadap bentuk ini awalnya bervariasi karena bermula dari penelitian yang sederhana semisal bentuknya mirip balok (Wright, 1750). Sementara William Herschel tahun 1784-5 menghasilkan bentuk galaksi yang pipih dan bila dilihat selintas dari arah kutub bentuknya seperti pohon cemara. Sampai taraf ini, Matahari masih dianggap berada di pusat galaksi. Disusul konsep seperti bola rugby (elipsoidal) oleh Kapteyn (1910). Dengan metode cacah bintang dan memakai bintang variabel Cepheid di gugus bola sebagai lilin penentu jarak, Harold Shapley (1917-20) menyatakan bentuk galaksi seperti cakram. Dengan adanya teknologi teleskop radio akhirnya bentuk spiral galaksi diketahui, bahkan kini dengan penelitian modern menunjukkan kecenderungan bentuk galaksi kita adalah spiral batang (barred spiral).

Sejenak kita bahas tentang dimensi jarak. Diketahui jarak Bumi – Matahari sekitar 150 juta km. Dalam astronomi dikenal ada istilah jarak tahun cahaya (tc), yaitu jarak yang ditempuh cahaya dalam setahun dalam ruang hampa yang setara dengan sekitar 9 trilyun km (9,4605 x 1012 km). Jadi, jarak Bumi-Matahari sekitar 8,3 menit cahaya. Bintang terdekat Matahari adalah Proxima Centauri berjarak sekitar 4,2 tc. Bintang ini merupakan anggota sistem bintang bertiga yang dikenal selama ini sebagai Alpha Centauri. Bintang Alpha Centauri sendiri merupakan bintang ganda visual, yang artinya relatif mudah dilihat dengan teleskop kecil sekalipun. Atau, apabila kita anggap jarak Bumi – Matahari 1 meter, maka jarak Pluto kisaran 40 m, dan jarak Proxima Centauri sekitar 260 kilometer. Dengan bekal ini dapat dibayangkan betapa besar galaksi kita yang bergaris tengah sekitar 100 ribu tc.

Gambar 10 Struktur Galaksi Bima Sakti
“Stars and Galaxies”; Lunar and Planetary Institute – Space Science for Middle School at HCDE
February 20, 2009 (ppt)
https://www.lpi.usra.edu/education/ )

Gambar 11
Atas
Citra pusat Galaksi Bima Sakti melalui gabungan teleskop Hubble (kasat mata) dan Spitzer (inframerah) (RA: 17j 45m 36,00d; D: -28 derajat 55 menit 58,8 detik busur).
Jarak 26.000 tc arah rasi bintang Sagittarius.
Credit: NASA, ESA, Q.D. Wang (University of Massachusetts, Amherst), and S. Stolovy (Caltech)
Rilis: 5 Januari 2009

Bawah
Daerah yang sama dengan gabungan 3 teleskop, yaitu Hubble (kasat mata), Chandra (sinar-X), dan Spitzer (inframerah). Bentang foto adalah 246 tc.
Credit: NASA, ESA, CXC, SSC, dan STScI

Pada tahun 1912, penelitian Leavitt dengan memakai bintang variabel Cepheid menggiringnya pada kesimpulan bahwa ternyata benda langit yang biasa disebut Awan Magellan Kecil berjarak kisaran 190 ribu tc. Disimpulkan bahwa objek ini merupakan galaksi di luar Bima Sakti. Tidak lama kemudian diperoleh kesimpulan yang sama terhadap Awan Magellan Besar (163 ribu tc). Keduanya telah dipetakan di kubah langit dengan baik oleh Ferdinand Magellan tahun 1500-an. Kini keduanya dikategorikan sebagai satelit galaksi Bima Sakti, di antara 11 satelit galaksi yang diketahui.

 Gambar 12
Astrofotografer: Ronny Syamara (Planetarium Jakarta)

Gambar 13 Galaksi Termuda dan Gugus Galaksi Abell 383
Salah satu penemuan spektakuler teleskop Hubble yang berhasil mengabadikan salah satu galaksi termuda di alam semesta yang sangat jauh, dengan bintang-bintang yang berusia 13,5 miliar tahun.
Dalam hal ini pengertiannya bahwa galaksi terbentuk tidak lama setelah pembentukan alam semesta, kisaran 200 – 300 juta tahun setelah alam semesta lahir.
Penemuan ini membantu menjawab pertanyaan tentang kapan galaksi pertama kali muncul,
dan bagaimana alam semesta dini ber-evolusi.
Pengamatan rinci dari W.M. Keck Observatory di Mauna Kea di Hawaii mengungkapkan galaksi ini terbentuk saat alam semesta baru berusia 950 juta tahun.
Kini disepakati bahwa usia jagad raya kisaran 13,7 – 13,8 miliar tahun.
Data inframerah dari Hubble dan Spitzer mengungkapkan bintang-bintang galaksi itu cukup mapan dan mulai terbentuk ketika alam semesta masih berusia 200 juta tahun. Gambar galaksi terejawantah layaknya pita karena efek lensa gravitasi dari hadirnya gugus galaksi Abell 383. Jadi, galaksi muda tersebut berada di belakang gugus Abell 383 dan akibat efek lensa gravitasi membuat cahayanya menjadi kisaran 11 kali lebih terang. Citra diambil November 2010 – Maret 2011.
Credit: NASA, ESA, J. Richard (Center for Astronomical Research/Observatory of Lyon, France),
and J.-P. Kneib (Astrophysical Laboratory of Marseille, France)
Acknowledgment: M. Postman (STScI)

Gambar 14
Satelit galaksi Bima Sakti, Awan Magellan Kecil (NGC 602, N90).
Merupakan hasil kombinasi antara teleskop Chandra (sinar-X), Hubble (visual), dan Spitzer (inframerah).
Jurnal ilmiah pertama yang menganalisis hasil ini dipublikasikan secara daring pada tanggal 1 Maret 2013 (the Astrophysical Journal). Penulis utama: Lidia Oskinova dari Universitas Potsdam – Jerman.
Credit: NASA, ESA, CXC and the University of Potsdam, JPL-Caltech, and STScI

Penelusuran ini semakin berkembang saat benda langit yang disebut M31, sebuah objek langit yang semula dikategorikan sebagai nebula di rasi bintang Andromeda adalah sebuah galaksi besar di luar galaksi kita. Galaksi ini bentuknya mirip dengan Bima Sakti berjarak sekitar 2,2 juta tc. Kandungan bintangnya diperkirakan mencapai 300 miliar bintang. Galaksi Andromeda inipun memiliki 2 satelit galaksi seperti Awan Magellan di samping beberapa satelit galaksi yang lebih kecil.

 

Struktur Makro Jagad Raya

Baik galaksi kita maupun Andromeda ternyata dapat dimasukkan pada satu keluarga galaksi yang disebut Gugus Lokal (Local Group) yang mengandung sekitar 30 galaksi dan berada dalam orde jarak 1 megaparsec (1 parsec = 1 pc = 3,26 tc). Penelitian menunjukkan bahwa antara satu gugus dengan gugus lain juga membentuk grup yang lebih besar, yang biasa disebut super-gugus atau super cluster. Yang lebih luas lagi disebut super-supercluster, dst.

Gambar 15
Menelusur jejak semesta hingga 11 miliar tahun yang lalu, para astronom melihat bahwa ragam bentuk galaksi tidak berbeda jauh berbasis Hubble Space Telescope Cosmic Assembly Near-infrared Deep Extragalactic Legacy Survey (CANDELS). Adapun tujuannya untuk menelusuri evolusi galaksi di alam semesta dini dan struktur makronya hingga kurang dari 1 miliar tahun setelah Big Bang.
Sebelumnya terkendala dan hal ini lebih dikarenakan pendeteksian terbatas pada cahaya kasat mata dan adanya fenomena pengembangan alam semesta. Yang tampak jelas adalah pancaran ultravioletnya dan ini biasanya berasal dari daerah pembentukan bintang sehingga bentuk galaksi umumnya tampak menggumpal yang seolah berbeda dengan ragam bentuk galaksi yang sekarang. Dengan mengamati galaksi secara kasat mata dan dipadukan dengan infra merah (Hubble's Wide Field Camera 3), maka astronom dapat mengamati bagaimana galaksi-galaksi jauh ini akan tampak normal.
Gambar menunjukkan alur waktu semesta. Setiap penggalan waktu menunjukkan bagaimana galaksi dari setiap jenis muncul. Diagram ini disebut Diagram Garpu Tala Hubble yang menggambarkan morfologi galaksi dalam 4 bentuk utama, yaitu spiral (S), spiral batang (SB), ellips (E), dan lentikular (S0).
Di sebelah kiri adalah elips, lentikular di tengah, dan spiral di kanan.
Spiral di cabang bawah memiliki batang ditengahnya.
Alam semesta saat ini menunjukkan bentuk galaksi yang besar dan jelas, dan sering sangat kompleks. Berbeda era dulu yang cenderung kecil dan belum mapan karena masih dalam proses pembentukan.
Illustration Credit: NASA, ESA, and M. Kornmesser (ESO)
Science Credit: NASA, ESA, and B. Lee, M. Giavalisco, and C. Williams (University of Massachusetts),
Y. Guo (University of California, Santa Cruz), J. Lotz (STScI),
A. van der Wel (Max Planck Institute for Astronomy), H. Ferguson (STScI),
S. Faber (University of California, Santa Cruz), A. Koekemoer and N. Grogin (STScI),
D. Kocevski (University of Kentucky), C. Conselice (University of Nottingham),
S. Wuyts (Max Planck Institute for Extraterrestrial Physics), A. Dekel (The Hebrew University),
J. Kartaltepe (Nataional Observatory Astronomy Observatory), and E. Bell (University of Michigan)
hubblesite.org/infographics/history )

Secara garis besar bahwa bentuk galaksi yang diketahui ada 4, yaitu eliptik, lenticular, spiral, dan yang tidak beraturan. Untuk eliptik raksasa dapat beranggotakan hingga orde 10 trilyun bintang sementara eliptik kerdil berorde beberapa juta saja.

Gambar 16 Abell 520
Jaraknya 2,4 miliar tc di arah rasi bintang Orion. Anggotanya diketahui saling berinteraksi bahkan bertabrakan. Bentangan dalam gambar kisaran 6 juta tc.
Credit: NASA, ESA, CFHT, CXO, M.J. Jee (University of California, Davis), and A. Mahdavi (San Francisco State University)

Gambar 17 NGC 1132
Galaksi berbentuk ellips ini berjarak 318 juta tc di arah rasi bintang Eridanus. Tampak juga galaksi-galaksi di latar belakangnya dengan aneka warna dan bentuknya yang mengisi ruang alam semesta. Bentangan gambar mencapai sekitar 250.000 tahun cahaya.
Credit: NASA, ESA and the Hubble Heritage (STScI/AURA)-ESA/Hubble Collaboration Acknowledgment: M. West (ESO, Chile), M. Gregg (University of California, Davis), P. Cote (Dominion Astrophysical Observatory), S. van den Bergh (Dominion Astrophysical Observatory), and M. Drinkwater (University of Queensland)

 

Dinamika Galaksi 

Penelitian terhadap galaksi di luar galaksi kita secara sistematis diawali Vesto Slipher (1912) yang mengamati 4 nebula. Tiga buah menjauh diketahui dari efek Doppler yang teramati dari spektrumnya. Satu lagi, yaitu Andromeda mendekati kita. Diperluas sampai 12 nebula hasilnya sama. Semua menjauh, kecuali Andromeda. Hal inilah yang akhirnya diteliti Hubble dan menemukan hasil yang cukup mengejutkan bahwa Andromeda ternyata adalah sebuah galaksi. Sampai tahun 1925 mencapai 45 galaksi dengan hasil sama kecuali ada 1 buah galaksi lagi yang mendekat. Akhirnya tahun 1929, Hubble dan Humason mendapat kesimpulan bahwa dalam skala jagad raya, semua galaksi seolah menjauhi kita. Artinya alam semesta sedang dalam proses mengembang.

Gambar 18 Galaksi M106
Galaksi M106 atau NGC 4258 berjarak 23,5 juta tc di arah rasi bintang Canes Venatici.
Foto ini merupakan perpaduan antara hasil pemotretan teleskop Hubble dan teleskop landas Bumi oleh R. Gendler dan J. GaBany.
Credit: NASA, ESA, the Hubble Heritage Team (STScI/AURA), and R. Gendler (for the Hubble Heritage Team).

Gambar 19
Ilustrasi foto ini menunjukkan hasil pengukuran dari hasil teleskop Hubble terhadap gerak rotasi bintang terhadap pusat galaksi Awan Magellan Besar (LMC). Secara kasat mata tampak relatif kecil. Namun, dengan kombinasi teleskop landas Bumi dan Hubble, maka bentangannya tampak jauh lebih lebar. Bandingkan dengan Bulan Purnama di sisi kanan.
Garis panah mewakili pengukuran dan arah rotasinya. Setiap panah menunjukkan gerakan yang diprediksi selama 7 juta tahun ke depan. Gerak setiap bintang yang diukur oleh Hubble selama beberapa tahun adalah satu juta kali lebih kecil dari panjang setiap panah.
LMC menyelesaikan rotasi setiap 250 juta tahun.
Image Credit: NASA, ESA, A. Feild and Z. Levay (STScI), Y. Beletsky (Las Campanas Observatory), and R. van der Marel (STScI)
Science Credit: NASA, ESA, R. van der Marel (STScI), and N. Kallivayalil (University of Virginia)

 

Pergeseran Merah 

(Ref.: TN-6-ESA-2014) Panjang gelombang cahaya yang diamati akan memanjang jika sumber cahaya menjauh dari pengamat. Efek ini diamati pada garis serapan (gelap) atau garis pancaran (terang) pada spektrum galaksi. Inipun terjadi pada gerak galaksi. Bila memerah, maka galaksinya menjauh atau berlaku sebaliknya menuju biru. Efek ini lebih dikenal sebagai fenomena pergeseran merah dan biasa diberi parameter z di mana analisisnya dapat dituangkan dalam persamaan sbb.:

 

 

di mana λ0 adalah panjang gelombang yang diamati dan λe adalah panjang gelombang yang dipancarkan. Para astronom menganalisis spektrum dari galaksi jauh dan mencari garis unik dari unsur yang ada seperti garis K dan H dari kalsium terionisasi dan garis H-alpha dari hidrogen. Posisi dari garis ini dapat ditemukan dengan percobaan laboratorium dan dibandingkan dengan yang berhasil diamati dalam spektrum galaksi. Untuk kecepatan <0.1c (dengan c adalah kecepatan cahaya), persamaan pergeseran merah di atas dapat dinyatakan sbb.:

Pada kecepatan relativistik, maka modifikasi persamaannya menjadi


Gambar 20
Hubungan antara jarak galaksi dengan kecepatan menjauhnya.
Credit: ESO

Parameter ini sangat penting dalam telaah kosmologi karena dapat menunjukkan apakah alam semesta benar-benar mengembang (expanding universe). Inilah yang menjadi awal perhatian Hubble dengan teleskop 100 incinya (Hooker reflector di Mount Wilson Observatory). Beliaulah yang pertama menyadari dampak penemuan tersebut, yaitu semua galaksi menjauh. Lebih jauh lagi bahwa hal ini bukan karena secara intrinsik galaksinya yang bergerak menjauh, melainkan ruang di antara mereka mengembang. Jadi, alam semestanya yang mengembang.

Dari sini, para astronom berusaha menelaah jagad raya secara makro dalam pengertian mulai menelaah struktur alam semesta dan awal mula terbentuknya yang menggiringnya pada lahirnya bidang keilmuan kosmologi. Dalam hal ini dapat dipandang bahwa galaksi – yang sedemikian banyaknya, bahkan ditaksir yang teramati sudah mencapai 100-an miliar galaksi – hanyalah sebagai elemen terkecil dari alam semesta.

Masalah jagad raya mengembang, ada kecenderungan bahwa semakin jauh letak galaksi, semakin cepat menjauhnya. Hal ini diperoleh dengan mengamati pergeseran merah spektrumnya. Misal galaksi di Ursa Major berjarak 650 juta tc, menjauh dengan kecepatan 15.088 km/s, di Corona Borealis berjarak 940 juta tc menjauh 21.250 km/s, lebih jauh lagi di Bootes berjarak 1,7 miliar tc dengan 40.000 km/s.

Hasil Hubble tentang pengembangan alam semesta menunjukkan bahwa ada hubungan linier antara jarak galaksi dengan kecepatan menjauhnya (Hubble’s Law, 1929) yang dapat dirumuskan sbb. (lihat gambar 20):

v = H x d   ⇒  v  : kecepatan galaksi

                     H : konstanta (konstanta/parameter Hubble)

                    d  : jarak galaksi (dalam megaparsec)

Dengan perumusan di atas, maka dapat dinyatakan bahwa besaran z sebagai berikut:

Gambar 21 Interaksi Antar Galaksi
Peristiwa interaksi antar galaksi, atau tabrakan antar galaksi adalah fenomena yang wajar terjadi. Dalam foto ini tampak jelas terjadinya peristiwa tersebut. Berturut dari kiri atas ke arah kanan: Galaksi Arp 148, UGC 9618, Arp 256, NGC 6670, NGC 6240, ESO 593-8, NGC 454, UGC 8335, NGC 6786, NGC 17, ESO 77-14, NGC 6050. Credit: NASA, ESA, the Hubble Heritage (STScI/AURA)-ESA/Hubble Collaboration, and A. Evans (University of Virginia, Charlottesville/NRAO/Stony Brook University)

Namun demikian, sejatinya ada kendala dalam penentuan konstanta Hubble. Dengan menggunakan Persamaan Hubble, sangat mungkin untuk menentukan jarak galaksi dari kita, dengan mencari kecepatan menjauhnya dengan cara penelusuran pergeseran pada spektrumnya. Namun, sejatinya ada kendala dan kewajiban untuk keekstrahati-hatian saat menentukan pengukuran besaran terkait. Hal ini, utamanya, bagaimanapun galaksi memiliki dinamika gerak secara mandiri/individual (intrinsic motion). Yang kedua adalah diakibatkan hadirnya interaksi gravitasi semisal pada galaksi ganda, gugus galaksi, atau bahkan pada supercluster. Tabrakan antar galaksi menjadi contoh bahwa mereka memiliki gerak, baik secara individual maupun secara sistem.

 

Lilin Penentu Jarak (Standard Candles)dan Kosmologi 

Saat ini harga konstanta Hubble semakin konvergen pada 70 – 75 (±10) km/detik/Mpc atau setara usia jagad raya kisaran 13,5 (s.d 13,8) miliar tahun. Adapun objek langit yang saat ini dipergunakan sebagai lilin penentu jarak untuk galaksi jauh bukan lagi memakai bintang Variabel Cepheid (VC), melainkan supernova khususnya tipe Ia (SNIa) karena sifatnya yang sangat cemerlang dan praktis seragam dimanapun ditemukan.

Terkait dengan penelitian ini, bahwa era kosmologi modern dapat dikatakan berlangsung sejak telaah secara makro ini. Khususnya setelah era lahirnya formulasi gravitasi Albert Einstein dan observasi yang dipelopori Edwin Hubble terhadap lautan galaksi. Dalam kosmologi dipelajari bentuk, struktur, komposisi, dan evolusi jagad raya yang menyangkut telaah awal mula lahirnya alam semesta, usia, dan perkiraan akhir riwayat alam semesta.

Dalam kosmologi dikenal adanya asumsi yang disebut Prinsip Kosmologi yang berawal dari Prinsip Copernicus (bahwa kita bukan pengamat yang istimewa) dan Prinsip Relativitas Khusus dan Prinsip Relativitas Umum (yang juga menyangkut kecepatan rambat cahaya yang tetap, yaitu c). Adapun yang disebut Prinsip Kosmologi adalah:

  1. Alam semesta dalam skala makro tampak seragam pada segala arah;
  2. Bumi tempat tinggal kita tidaklah menempati posisi istimewa;

atau dengan jabaran lain bahwa alam semesta memenuhi 3 ciri utama, yaitu:

  1. Ciri homogenitas ruang (spatial homogenity);
  2. Ciri isotropi ruang (spatial isotropy);
  3. Ciri keseragaman waktu (uniformity of time);

di mana ini terkait erat dengan hukum kekekalan momentum linier, hukum kekekalan momentum sudut, dan hukum kekekalan energi.

Gambar 22 Lilin Penentu Jarak
Beberapa objek yang digunakan dalam penentuan jarak galaksi.
Objek inilah yang biasa disebut sebagai Lilin Penentu Jarak (Standard Candles).
Credit: ESO

Gambar 23 Cepheids sebagai Lilin Penentu Jarak
Grafik ini menggambarkan hubungan antara luminositas dan periode keterubahan cahaya dari VC yang digunakan astronom untuk menghitung ukuran, usia, dan laju pengembangan alam semesta.
Data teleskop Spitzer ini merupakan salah satu pengukuran yang dianggap sangat presisi.
Tampak bahwa semakin lama periodenya, semakin cemerlang cahayanya dan dengan serangkaian parameter lainnya, maka diketahui bahwa bintang ini memiliki sifat yang sama dimanapun ditemukan. Yang membedakannya adalah tingkat peredupan apabila semakin jauh. Ibarat lampu 60 watt yang diletakkan pada beberapa lokasi dengan jarak yang semakin jauh, maka yang nyata bahwa semakin jauh semakin redup. Namun, kecerlangan sejatinya tetap 60 watt. Dari sinilah dapat diketahui jarak tersebut.
Credit: NASA / JPL-Caltech / Carnegie

Gambar 24 Mundur dalam Waktu
Semakin kita ketahui objeknya semakin jauh,
maka sebenarnya kita menelusur ke awal terbentuknya alam semesta,
atau sebut sejarah awal lahirnya jagad raya.

Beranjak dari sini, konsep mengembangnya alam semesta dapat dikatakan bahwa jagad raya tampak mengembang oleh siapapun sang pengamat dimanapun dia berada. Sementara dari Teori Relativitas Umum Einstein (gravitasi) bahwa alam semesta tidak statis, akan dapat mengembang atau mengerut dengan segala dinamikanya dan semua bergantung pada proporsi massa–energi didalamnya. Kini dari gabungan keduanya secara pengamatan bahwa alam semesta mengembang dipercepat, pengembangannya berlaku pada semua titik ke segala arah di mana tidaklah ada apa yang disebut titik pusat pengembangannya. Ibarat permukaan balon yang diberi gambar beberapa titik, saat digelembungkan maka setiap titik yang ada akan menjauh satu sama lain.

Gambar 25
Ilustrasi ke kedalaman Jagad Raya berbasis penelusuran hasil bidikan teleskop Hubble.
Tujuan dari Hubble Ultra Deep Field adalah mendapatkan banyak gambar galaksi seperti yang ada pada beberapa ratus juta tahun pertama setelah Big Bang (satuan waktu tidak linier dalam ilustrasi ini).
Credit: NASA and A. Feild (STScI).
(hubblesite.org/contents/media/images/2004/07/1462-infographics-universe )

Dari telaah termodinamika, apabila saat ini mengembang, maka seharusnya dulu – awal mula sekali – bahwa alam semesta tentu berukuran sangat kecil yang bersifat sangat padat dan sangat panas. Dari sinilah terlahir teori awal mula jagad raya yang disebut Teori Dentuman Besar atau Teori Big Bang.

Gambar 26 Lensa Gravitasi
Kadang ditemukan adanya objek unik berupa busur cemerlang di seputar benda yang bermassa besar (masif) seperti galaksi, gugus galaksi, dan lain-lain (tidak selalu berupa busur). Sebenarnya obyek busur tadi adalah benda di balik benda masif tersebut, namun karena cahayanya terbelokkan akhirnya dapat dilihat. Adapun gugus galaksi dengan jumlah massa yang besar tadi berlaku layaknya sebuah lensa. Oleh sebab itu fenomena seperti ini disebut Lensa Gravitasi. Hal sama ketika terjadi Gerhana Matahari Total, kita dapat melihat bintang yang berada di balik Matahari. Fenomena ini merupakan bukti kesahihan Teori Relativitas Umum yang dikemukakan oleh Einstein. Selain itu juga hadirnya Materi Gelap (Dark Matter). Gambar atas: Abell 68; Credit NASA/ESA – Nick Rose. Gambar bawah: SDSS J1004+4112; Credit: ESA, NASA, K. Sharon (Tel Aviv University) and E. Ofek (Caltech)
(https://hubblesite.org/contents/media/images/2013/09/3155=abell)
(https://hubblesite.org/contents/media/images/2006/23/1929=SDSS%20J1004+4112 )

Gambar 27
Quasar merupakan inti galaksi yang cemerlang sebagai dampak hadirnya Lubang Hitam yang melahap gas dan debu yang kemudian menghamburkan cahaya dalam prosesnya. Ketika cahaya quasar melewati medan gravitasi dari hadirnya gugus galaksi yang terletak di antara kita dan quasar, cahaya tersebut dibelokkan (akibat kelengkungan ruang) sehingga dihasilkan lima citra terpisah yang lokasinya mengelilingi pusat gugus galaksi yang disebut SDSS J1004 + 4112 (lihat gambar 26 bawah).
Dalam program Sloan Digital Sky Survey dengan teleskop Hubble ini diketahui usia gugus kisaran 7 miliar tahun, sementara galaksi yang lebih jauh yang terdistorsi cahayanya berjarak kisaran 12 miliar tc atau setara usia 12 miliar tahun atau terbentuk sekitar 1,8 miliar tahun setelah Big Bang.
Keberuntungan bahwa saat dibandingkan dengan foto setahun sebelumnya, ternyata dideteksi hadirnya supernova di gugus galaksi tersebut sehingga membantu untuk merekonstruksi bagaimana alam semesta diperkaya oleh unsur-unsur berat melalui ledakan ini.
Credit: ESA, NASA, K. Sharon (Tel Aviv University) and E. Ofek (Caltech)
Credit: NASA, ESA, and A. Feild (STScI)
https://hubblesite.org/contents/media/images/2006/23/1930 )


Gambar 28
Dalam The Astrophysical Journal edisi 20 Mei 2008, Charles Danforth dan Mike Shull (University of Colorado, Boulder) melaporkan tentang hasil pengindraan dari teleskop Hubble dan pengamatan Far Ultraviolet Spectroscopic Explorer (FUSE) NASA yang diambil sepanjang garis pandang ke 28 quasar.
Analisis mereka mewakili pengamatan paling rinci hingga saat ini tentang bagaimana materi antar galaksi terlihat dalam jarak sekitar empat miliar tc dari Bumi. Disimpulkan bahwa telah terdeteksi setengah dari prediksi keberadaan materi yang hilang, yang disebut baryon, di ruang antar galaksi.
Ilustrasi ini menunjukkan bagaimana penemuan baryon yang “hilang”,
dengan melihat cahaya dari quasar yang jaraknya beberapa miliar tahun cahaya.
Berbasis sidik jari spektral yang diperoleh sebagai dampak adanya penyerapan oleh materi tersebut pada frekuensi tertentu (ditunjukkan dalam spektrum warna-warni), akhirnya diketahui pemetaan materi baryon untuk membantu melacak struktur ruang antar galaksi, yang disebut Cosmic Web (jaring kosmik).
( Baryon yang sangat populer dikenal adalah proton dan neutron. Namun, untuk lebih lengkap untuk mencari panduan tentang baryon, dapat menyimak https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_baryons, beserta referensi yang terdapat dalam artikel tersebut )
Credit: NASA, ESA, and A. Feild (STScI)
(https://hubblesite.org/contents/media/images/2008/20/2347-missing%20matter )

Big Bang 

Apabila kilas balik ke usia semesta sangat dini, maka tidak terbayangkan semua materi berawal dari katakanlah sebuah titik saja dengan kerapatan luar biasa besar. Untuk menjelaskan keterjadian jagad raya, tentu hanya melalui proses ledakan super hebat yang pada akhirnya dapat menimbulkan gejala mengembangnya alam semesta seperti yang saat ini kita amati.

Tidak terbayangkan betapa besar energi yang tersimpan didalamnya, dengan temperatur teramat sangat panas. Batas penelitian saat ini barulah mencoba menguak kondisi alam semesta saat berusia 10–43 detik (biasa disebut Waktu Planck); atau 10–43 detik setelah Big Bang. Pada era Waktu Planck, segala macam interaksi juga gravitasi menyatu dalam adonan semesta raya. Semua proses fisis berlangsung sangat cepat, dan sedetik kemudian barulah terbentuk materi seperti proton, neutron, elektron. Tentu partikel elementer yang lebih kecil lagi terbentuk terlebih dahulu. Dalam hitungan menit disusul lahir inti atom paling sederhana yaitu inti atom hidrogen. Sementara itu, elektron masih bergerak bebas (layaknya kondisi ionisasi saat temperatur sangat tinggi). Bahkan interaksi elektron dan foton menyebabkan foton yang membawa informasi tersebut masih belum sanggup lepas darinya (mirip kondisi Lubang Hitam dengan titik singularitasnya di mana cahaya tidak dapat memberi informasi ke luar dari objek ini).

Saat temperatur alam semesta mencapai 10.000 K, maka mulailah terbentuk atom hidrogen netral, dan elektron bebas mulai berkurang. Pada saat usia alam semesta sekitar 300.000 tahun dan temperatur mencapai 3000 K, barulah foton mulai dapat bergerak bebas ke segala arah. Foton generasi awal inilah yang saat sekarang dianggap sebagai sumber dari Radiasi Gelombang Mikro Latar Belakang (Cosmic Microwave Background Radiation – CMBR) yang dideteksi bertemperatur sekitar 2,74 K. Istilah “latar belakang” pengertiannya adalah yang menunjukkan usianya lebih tua dari bintang, galaksi, ataupun benda langit yang selama ini dikenal. Juga karena sifat seragamnya di segenap pelosok jagad raya. Atau mungkin secara sangat sederhana penggambarannya bila kita ibaratkan adanya petasan yang meledak, maka aroma mesiunya tersebar merata di segala penjuru dan aroma inilah yang kita hirup yang mungkin saja kita tidak tahu kapan dan di mana petasannya meledak. Hanya aromanya saja yang menandai bahwa pernah ada petasan meledak.

Teori tentang radiasi ini telah dilakukan oleh Walter S. Adams tahun 1941, dan diteruskan McKellar dengan temperatur teorinya sekitar 2,3 K. Sementara George Gamow bersama Ralph A. Alpher dan Robert Herman menunjukkan hasil teorinya tahun 1946 dengan temperatur radiasi sebesar 5 K. Pembuktian adanya radiasi latar belakang ini akhirnya didapat oleh Arno Penzias dan Robert Wilson tahun 1965 dengan memakai gelombang 7–cm (microwave) di Bell Telephone Laboratory – New Jersey. Keduanya mendapat hadiah Nobel Fisika tahun 1978.

Dalam masalah teori kosmologi di atas tentu dibutuhkan syarat awal (initial condition) yang sedemikian akan memunculkan kondisi alam semesta yang kini kita huni. Salah satunya adalah parameter kerapatan yang apabila ditinjau ke kondisi dini alam semesta harganya mendekati harga 1. Dari teori kosmologi standard di atas, harga ini mendekati harga tersebut, dengan ketelitian 1 dalam 1060. Artinya mendekati kondisi awal terbentuknya alam semesta. Namun, harus diingat bahwa teori ini tidak dapat atau belum sanggup menembus batas pemahaman hingga sampai ke pertanyaan asal usul hadirnya alam semesta. Belum lagi pemahaman tentang paduan interaksi kuantum (teori kuantum) dengan gravitasi yang sampai sekarang belum dapat dijelaskan di mana justru hal ini sangat mendasar.

Gambar 29
Diagram teoritis ini menunjukkan perubahan laju ekspansi sejak alam semesta lahir 15 miliar tahun lalu. Semakin pendek kurva, semakin cepat laju ekspansi. Kurva berubah secara nyata sekitar 7,5 miliar tahun yang lalu, ketika objek di alam semesta mulai saling terpisah dengan kecepatan yang lebih cepat (adanya percepatan pengembangan alam semesta).
Para astronom berteori bahwa laju ekspansi yang lebih cepat disebabkan oleh sesuatu kekuatan
yang membuat galaksi-galaksi semakin berjauhan.
Kekuatan inilah yang kemudian melahirkan hipotesis adanya energi-gelap (dark energy).
Catatan: bukan materi gelap (dark matter)
Credit: Ann Feild (STScI)
https://hubblesite.org/contents/media/images/2001/09/1037 )

Penemuan objek Quasar (quasi stellar object, quasi pengertiannya adalah kondisi menyerupai) yang dianggap merupakan benda langit yang berada di tepian jagad raya tentu menambah data guna telaah makro jagad raya. Anggapan ini karena quasar memiliki ciri pergeseran merah sangat besar sekaligus berarti mempunyai kecepatan menjauh yang besar. Ordenya mencapai lebih dari setengah kali kecepatan cahaya. Penelitian galaksi telah banyak dilakukan dalam skala jagad raya. Semisal COBE (Cosmic Background Explorer), Sloan Digital Sky Survey, dan 2-degree Field Survey, termasuk dalam jajaran pemetaan modern untuk penelusuran alam semesta dini.

Gambar 30
Dalam jurnal Nature edisi 10 November 2011 dinyatakan bahwa astrofisikawan Space Telescope Science Institute, Mario Livio mengungkapkan misteri dihapuskannya paragraf dari terjemahan makalah tahun 1931 karya kosmolog Belgia Georges Lemaître yang pada tahun 1927 menunjukkan kecenderungan alam semesta mengembang. Selama hampir seabad, astronom Amerika Edwin Hubble yang lebih dikenal sebagai penyimpul pendapat tersebut. Setelah melalui ratusan korespondensi dengan Royal Astronomical Society, serta notulen rapatnya dengan RAS, dan berbasis materi dari arsip-arsip Lemaître, pada akhirnya Livio menemukan bahwa Lemaître sendiri yang menghilangkan bagian-bagian itu ketika dia menerjemahkan makalah tersebut ke dalam bahasa Inggris.
Tampak pada gambar di atas ilustrasi astronom Amerika Edwin Hubble (kanan, 1889-1953) dan pendeta sekaligus kosmolog Belgia Georges Lemaître (1894-1966). Berdasarkan bukti baru di atas, kedua ilmuwan ini berbagi penghargaan karena secara independen mengungkap bukti bahwa alam semesta mengembang. Lemaître juga diakui sebagai ilmuwan yang mengajukan teori tentang asal usul alam semesta yang kemudian disebut teori "dentuman besar" atau Big Bang.
Dalam gambar juga ditampilkan teleskop Hooker 100 inci di Gunung Wilson, California, yang digunakan Hubble serta foto teleskop Hubble yang berada pada sebelah kanan.
Credit: NASA, ESA, and A. Feild (STScI)
hubblesite.org/ - Lemaitre )

Hal ini tentu juga salah satunya adalah penentuan usia semesta. Apabila diketahui v = H.d, maka diketahui pula bahwa d = v.t. Sementara 1 Mpc 3 x 1019 km dan konstanta H = 70 km/s/Mpc. Dari sini dapat diperkirakan bahwa usia jagad raya (t = 1/H) kisaran 4,3 x 1017 detik atau setara dengan 13,6 miliar tahun (13,5 – 13,8).

Sementara itu, kita ketahui bahwa alam semesta berisi aneka benda atau tersusun antara lain dari energi, materi (juga foton). Saat ini secara teoritis diketahui bahwa kontribusi materi hanya sekitar 30% saja, dan ternyata yang dapat dideteksi hanya 10%. Selebihnya memunculkan apa yang dikenal sebagai energi gelap (dark energy). Keberadaannya mulai terkuak sejak adanya proyek penelitian Supernovae Cosmology Project, dan pengamatan radiasi latar belakang dengan Wilkinson Microwave Anisotrop Probe. Energi gelap inilah yang dianggap penyebab percepatan pengembangan jagad semesta (Apa lalu dapat dikatakan sebagai gravitasi-negatif, berlawanan dengan gravitasi yang umum dikenal dengan sifatnya yang tarik menarik?).

Saat ini, bagaimanapun Teori Big Bang dapat dikatakan sebagai pedoman penelitian kosmologi. Kendati demikian, sebenarnya sempat terlontar 2 teori tentang alam semesta yang di kemudian hari salah satunya sulit diyakini keabsahannya karena tidak didukung data pengamatan. Kedua teori tersebut adalah sbb.:

  1. Teori Keadaan Tetap (Steady State)

Dipelopori Bondi, Hoyle, dan Gold. Jagad Raya selalu tetap dan serba sama dalam ruang dan waktu. Senantiasa ada penciptaan materi baru (paling sederhana adalah hidrogen) untuk mengisi kekosongan ruang akibat pemuaian. Sifat alam semesta abadi, tidak berawal dan tidak berakhir. Teori ini sudah ditinggalkan;

  1. Teori Osilasi

Dipelopori Alan Guth dan Andrei Linde. Intinya bahwa bila alam semesta ini mengembang, maka suatu saat karena keterbatasan materi dan energinya sendiri akan berhenti mengembang. Setelah ini terjadi, maka berlangsung proses balik. Alam semesta menuju bentuk awalnya kembali yang disebut Big Crunch (lawan dari Big Bang). Teori ini masih menjadi pertimbangan, bahkan cenderung akan dipertahankan. Namun, apakah setelah Big Crunch akan terulang lagi peristiwa Big Bang dan begitu seterusnya. Berdasar penelitian matematis, fisika, ataupun kosmologi, saat sekarang belum ada yang memastikannya.

 

Wawargita ing Widya3

Jagad Raya nyatanya sangatlah dinamis. Secara sederhana apabila kita memandang bintang gemintang di kubah langit malam, rasanya sejak pertama memandang hingga berpuluh tahun kemudian, seolah konfigurasinya selalu sama. Nyatanya, mereka bergerak begitu cepat. Bahkan, Matahari yang tampak tenang pun memiliki kecepatan lebih dari 200 kilometer per detik dalam gerak revolusinya mengedari pusat Bima Sakti.

Berbasis penelusuran ke segenap pelosok jagad kasatmata, ataupun berlandas ragam gelombang nan jauh dari kemampuan pandangan mata wadag, data yang terkumpul pun baru sangat sedikit yang berhasil diolah. Sebagai satu contoh bahwa penemuan hadirnya satelit planet Jupiter “yang baru” dan begitu banyak, juga Saturnus, beberapa tahun belakangan ternyata berbasis hasil pantauan dekade tahun 80-an dari hasil pengembaraan wahana Voyager. Belum lagi kasus lainnya. Dengan majunya iptek juga kerjasama antar lembaga terkait, tentu rasa optimis guna menambah wawasan tentang jagad raya harusnya perlu dikedepankan pada generasi mendatang. Sebuah pemikiran yang tidak bisa ditiadakan, bahwa seluas-luas jagad raya tentu tidak mungkin lebih luas dari luasnya kekuasaan yang menciptakannya.

Memandang dari sisi lain, bahwa sebagai sebuah disiplin ilmu, Astronomi tidak mengenal batas wilayah geografi karena objek telaah dan metodologinya bersifat universal. Sebagai ilmu alam dasar, Astronomi mempelajari fenomena fisis yang melibatkan entitas terkecil dalam ranah partikel elementer dengan penelusuran hingga ke awal pembentukan jagad raya hingga menyelisik entitas terbesar yang tidak lain alam semesta itu sendiri dengan segala isi dan fenomenanya. Sejarah keastronomian di dunia sejak ribuan tahun yang lalu, bahkan juga di Indonesia, telah membuktikan hal ini. Selain itu, masyarakatnya dituntut untuk berinteraksi dan bersosialisasi dalam ber-Astronomi yang menggiringnya ke dalam medan akulturasi sosial-budaya, dan dalam era ke-kini-an hingga menyoal ranah politik dan bisnis. Pembangunan stasiun ruang angkasa internasional semakin mengukuhkan bahwa Astronomi amatlah unik. Sebuah perpaduan nan indah antar beragam disiplin ilmu, eksakta dan sosial-budaya. Pun menyimpan nuansa seni, keindahan, dan harmoni. Imajinasinya pun menelusuri jejak ilmu bermiliar tahun ke masa silam – kekinian – maupun ke masa depan yang dibarengi bahasa matematika dan spirit religi. Maka, tidaklah salah kalau Astronomi senantiasa dalam frontier ilmu pengetahuan, bahkan menjadi ujung tombak iptek.

Kini sejenak kembali ke rumah kita ( Planet Biru Bumi ). Bumi ibarat wahana antariksa berbentuk bola biru pucat dan sang awak tidak tinggal didalamnya, namun justru dipermukaannya di lempeng benua yang nyatanya juga selalu berubah bergeser ( Jakarta Tanpa Bayangan ). Coba kita bayangkan sebuah kapal laut dengan segala teknologi yang menyertainya, juga yang ukurannya sedemikian besarnya. Apabila sang kapal pada satu titik waktu kelebihan beban, maka yang terjadi adalah tenggelam. Sekarang, bayangkanlah apabila Bumi yang mengalami kelebihan beban dalam ragam bentuknya? Rasanya, seleksi alam pun menjadi “keniscayaan”, termasuk fenomena yang salah satunya diyakini terkait dengan punahnya makhluk yang dikenal sebagai Dinosaurus dan teman-temannya ( Asteroid Bagian 4 ; Asteroid Bagian 5 ).

Gambar 31
Benua Afrika tampak jelas pada foto Bumi yang diabadikan melalui kamera Earth Polychromatic Imaging Camera (EPIC) pada satelit Deep Space Climate Observatory (DSCOVR) milik NASA (6 Juli 2015) dengan jarak bidik kisaran 1,6 juta km.
Sebagian wilayah Eropa dan Asia Tengah terlihat tertutup awan.
Misi ini merupakan kerja sama antara NASA, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), dan Angkatan Udara AS, dengan tujuan utama untuk mempertahankan kemampuan pemantauan Angin Matahari secara real-time, yang sangat penting untuk keakuratan dan waktu tunggu peringatan, dan untuk prakiraan cuaca antariksa. Selain itu juga digunakan untuk mengukur tingkat ozon dan aerosol di atmosfer, ketinggian awan, sifat vegetasi, dan berbagai fitur lainnya.
(July 29, 2015 – Africa and Europe from a Million Miles Away)
https://www.nasa.gov/image-feature/africa-and-europe-from-a-million-miles-away )

Pada sisi lain, sang awak anggap sebagai “sesuatu yang hidup” (mohon maaf, di sini tidak dibahas tentang hakekat hidup dari mana). Ditubuhnya ada unsur apa saja dan ini merupakan ranah ujud – siapapun sah masuk ke ranah itu (terlalu cepat apabila dicampurbaurkan bahasan ini dengan esensi hidup karena ini merupakan wewenang dalam dataran Yang Maha Agung). Ada satu hal yang lumrah untuk belajar tentang kehidupan di ranah indrawi, mencari contoh sebanyak mungkin tentang segala sesuatu yang “dianggap” hidup dengan cara memperbandingkan segala yang terkait dengan kehidupan. Jadi, berbekal ranah inilah (misal yang terkait bidang medis, astrobiologi, astrokimia, dan mungkin yang populer dalam pencariannya adalah yang terkait istilah habitable zone yang berkelindan dengan penelusuran Extra Solar Planet atau Exoworld atau Exoplanet), pada dasarnya kita mencoba menelusuri unsur pendukung sebagai syarat butuh untuk berlangsungnya kehidupan – untuk mencoba memahami dinamika kehidupan kita sendiri yang akhirnya secara spirit memperoleh “sesuatu” yang justru dalam menapak tangga ini dapat ter-bias-kan jikalau hanya berlandas acu pemikiran yang semata lahiriah.

Pada aspek lain, siapa yang berniat merusak rumahnya sendiri? Apabila pada tahap pemahaman bahwa jagad semesta adalah rumah semestanya, maka siapa yang bercita-cita “masa bodoh” dengan segala yang terjadi pada rumahnya sendiri? Sampai kini, sebagian besar umat insani menyadari bahwa jagad semesta begitu luas. Namun, tetap menganggap Bumi adalah satu-satunya tempatnya ber-kehidupan. Di ranah lain, tetap berusaha dengan segala kerendahan hati untuk mencari sahabat hingga nun jauh di luar sana. Dalam ranah lain dan justru menjadi salah satu sokoguru, bahwa apapun ragam penelitiannya, nyatanya masih tetap menunjukkan hasil bahwa lingkungan yang paling nyaman hanyalah di Bumi. Jadi, satu-satunya cara agar tetap nyaman adalah dengan mengelola, merawat, dan melestarikan Bumi. Uniknya, inilah yang sejatinya “diamanatkan”. Dalam pengembaraannya, Bumi dan Jagad Raya adalah sahabat sejatinya. Dalam pemahaman ini, siapa yang berkeinginan untuk mengkhianati sebuah persahabatan yang indah?

Atau dari pemikiran yang lain lagi yang pernah penulis singgung dalam artikel di sini, bahwa semua itu adalah dalam rangka usaha kita untuk mendorong terungkapnya dimensi ataupun fenomena yang masih sangat banyak tersembunyi, untuk mencoba belajar menalar realita sebatas domain kerjanya sebagai makhluk yang secara mutlak punya keterbatasan. Selebihnya, terserah kepada kita, bagaimana kita manfaatkan Astronomi yang berkelindan dengan ragam sains secara umum sebagai basis, baik berlandas ranah ujud ataupun dataran spirit dan kita aktifkan fungsi transendental kita untuk menggapai Yang Maha Mulia yang ilmuNya tidak tertampung bahkan dalam alam semesta yang maha luas ini.  Pada tahap ini, semoga kita dapat semakin arif menyikapi berbagai isu sains khususnya Astronomi/Kosmologi dan justru mungkin saja segala ujaran menjadi tidak bermakna, bahkan bibir pun terkunci terkatup rapat. Karena justru ujungnya, pada satu ranah tertentu adalah feel amazement – rasa syukur dengan segala kerendahan hati karena mendapat kesempatan untuk merasakan penjabaran dan indahnya sains melalui Astronomi sebagai tahapan pencarian sebanyak mungkin bekal di Jagad Buwana untuk menuju Jagatkamuksan, yang keindahan tamannya tidak mungkin tertandingi oleh taman manapun di ranah ujud jagad semesta.

Sampai taraf ini, dari sekian rajutan temuan yang semakin mencengangkan, dapat dikatakan hanyalah sekedar satu langkah awal pemikiran ke tahap yang terasa begitu agung ataupun wacana penuh misteri tentang eksistensi kehidupan. Temuan ini nyatanya membongkar kembali ide tentang alam semesta yang mungkin bagi sebagiannya ”rasanya” tidak punya arti. Di balik ini semua, sejatinya, ”malah justru” menghidupkan lagi pertanyaan mendasar sejak dahulu kala. Alam semesta yang keadaan awalnya, sampai batas tertentu yang dapat ditelusuri dan dengan segala fenomena yang terejawantah didalamnya, telah menunjukkan adanya keteraturan yang terpelihara yang merupakan indikasi atau petunjuk akan adanya kaidah fundamental yang dipatuhi oleh semesta. Adanya kaidah ini mengundang gagasan akan kehadiran ”sesuatu” yang kedudukannya normatif dan menggiring lahirnya gagasan kepada ”sesuatu” yang bersifat transendental. Pertanyaan tentang Yang Maha Agung, dan hubungannya dengan penciptaaan jagad semesta, pertanyaan tentang maksud adanya semesta raya dan kaitannya dengan ranah kehidupan yang telah dikenal, bangkit kembali dan diajukan dengan membuka  koridor pemikiran yang baru. Temuan-temuan saintifik tidak meniadakan pertanyaan tentang Yang Maha Agung dan ranah spirit religius, tetapi justru menyediakan begitu beragam gagasan penajaman dalam substansi mendasar secara investigatif dan universal.4

Pada akhir bahasan ini, ada 2 cuplikan yang ingin penulis sampaikan. Pertama, dari salah satu maestro dalam Astronomi dan Fisika, Albert Einstein yang barangkali kita dapat turut mengikuti ritme pemikirannya:5

The fairest thing we can experience is the mysterious.
It is the fundamental emotion which stands at the cradle of true science.
He who knows it not, and can no longer wonder,
no longer feel amazement, is as good as dead.

Kedua, adalah cuplikan dari corat coret penulis sendiri6:

The truth is what the truth is,
The end of it is in your inner-core.

Mengapa “end of it”? Teringat kata bijak, “Saatnya nanti” tangan dan kaki kitalah yang berbicara. Namun, kita mewujud dalam alam semesta laksana tangan kaki sebagai bagian dari diri nan rentan ini. Jadi, semoga tidaklah salah kalau ditambahkan bahwa “Saatnya nanti”, bintang gemintang pun yang akan berembug tentang kita. Mereka hadir demi kita, dan apa kira-kira yang mereka beritakan apabila kita tidak berkenan “menyapa”nya. Hadirnya jagad semesta (termasuk kita didalamnya dengan segala dinamika kehidupan yang ada) adalah kebenaran dan the end of it is in your inner-core.

Pada penyelisikan akan itu semua, mungkin terbersit pertanyaan, Jadi, .. Bagaimana mengadanya jagad semesta .. dan mengapa harus dihadirkan adanya kehidupan? Dalam tahapan pencarian di ranah ujud dapat kembali ke awal tulisan ini, di mana disajikan cuplikan dari kisah Manikmaya tentang ‘mengadanya” Jagad Semesta:

“Lumaksana sekar sarkara ‘mrih, pininta maya-maya ‘nggeng ulah, kang minangka pituture,
duk masih awang uwung, ru-rung ana bumi langit, nanging Sang Hyang Wisesa,
kang kocap rumuhun, meneng samadyaning jagad,
datan arsa mosik jroning tyas maladi, ening aneges karsa.”

Manikmaya – Kitab Ambiya – Karta Mursadah
(S. Mulyono, 1989, Wayang: Asal-usul, Filsafat, dan Masa Depannya, CV Haji Masagung, p.180-181).

yang diterjemahkan bebas oleh penulis sebagai:

“Guided by sarkara’s (optimism) sacred song that there is always hopes for the beauty of every works,
meanwhile its word is when the condition is still awang uwung
and in this moment there is only just the presence of Sanghyang Wisesa which in contemplating, motionless, peace worship at His innercore of the heart,
the questioning concerning God will.”

Mungkin dapat sebagai bahan perbandingan konsep bahwa dalam Manikmaya disebutkan penciptaan berawal dari kondisi Awang Uwung (Sunya atau Sunyata). There is no thing but the Divine Reality, the One Truth. Sebuah kekosongan, kehampaan. Namun, di sini lebih dalam pengertian there was something rather than nothing (Taya). Sanghyang Wisesa mendengar suara yang sangat lirih. Tidak seperti ledakan (not likes the big bang), begitu lembut dan very deeptone like a single tinkling sound of a very small bell. Di lokasi bunyi itulah mulai tampak the big egg – the Primordial Egg hang on the sky.

Jelas, tidak berawal dari sesuatu yang menghentak dan berdentuman. Atau dapat jadi, secara proporsionalnya bahwa tahapan dalam Manikmaya adalah sebelum Waktu Planck dan bahasan Teori Big Bang adalah setelah Waktu Planck. Sebuah pemikiran yang mungkin sedikit jahil, termasuk “Dapatkah kita melongok keluar jendela di tepi alam semesta: Ada apa di luar sana?” dalam pemahaman jagad terbatas bertepi.

Bahasan ini hanyalah sekedar memperkenalkan sezarah aspek dari gulungan benang merah gagasan mengenai awal ke-terjadi-an alam semesta; sebagai sebuah undangan untuk sejenak berkontemplasi, untuk minimal lebih mengagumi dan menghirup dalam-dalam aroma samudra karunia yang begitu indah. Tiada seorangpun datang kecuali dengan pengetahuan tentang ketidakmampuannya. Semoga bahasan yang sezarah ini tetap bermanfaat, walau mungkin hanya mengisi penggalan waktu yang sangat singkat dalam ranah tarikan desah nafas di alam fana ini. Wartya Wiyata Wicitra Withing Wintang Widik Widik. Kisah nan indah berawal dari kerlap kerlip cahaya bintang gemintang. Salam Astronomi. –WS–

  

Catatan


[1] Kini diketahui ada 4.306 planet di luar Tata Surya dan 5.668 kandidat, di mana 3.196 berada dalam sistem keplanetan seperti Tata Surya (artinya sebuah bintang memiliki beberapa planet). Selain itu diketahui ada 163 planet mirip dengan planet kebumian ( Exoplanets - NASA – 27 11 2020).

[2] HewishBell menerima Nobel Bidang Fisika pada tahun 1993 karena penemuannya ini.

[3] Modifikasi paparan “KOSMOLOGI: Sebuah Opini: Kosmologi Menjadi Sarana Refleksi Diri” dalam acara Talkshow Astronomi: Big Bang – How did the Universe Begin? yang diselenggarakan oleh FOSCA di SMAN 48 Jakarta Timur – 31 Januari 2015 dan ringkasan materi TEDxUniversitasIndonesia di Balai Sidang Kampus Universitas Indonesia – Depok – Sabtu, 14 Maret 2020

[4] Premadi, 2007. Sebuah penafsiran dan modifikasi dari penulis.

[5] Rosicrucian Order (AMORC)#1

[6] Sawitar, 1991

[7] Sawitar, 2009

 

Daftar Pustaka


 ESA Science Educational Support, 2005, Teacher Notes: Booklet 6 – Galaxies and the Expanding Universe, European Space Agency (TN-6-ESA-2014)

Mulyono, S., 1989, Wayang: Asal-usul, Filsafat, dan Masa Depannya, CV Haji Masagung, Jakarta, p. 58-62, 70-76, 88, 180-197, 240-242

Premadi, P. W., 2007, Alam Semesta dan Eksistensi Manusia: Sebuah Undangan Untuk Kontemplasi, Kuliah Umum di ITB dan dalam

Premadi, P. W., 2007, Kurikulum Pendidikan untuk Membangun Pola Pikir Saintifik (Educational Curricula and Universe Awareness), dalam Prosidings Pekan Astronomi Jakarta dan Pameran Astronomi dalam rangka Pekan Antariksa Dunia 2007, Planetarium Jakarta, p.22-28.

Sawitar, W., 1991, Beberapa Aspek dalam Mekanisme Ledakan Supernova Tipe II, Tugas Akhir S1

Sawitar, W., 2009, Stars and the Universe: The Ancient Cultures of Indonesia, “Asia Stars Workshop” at National Astronomical Observatory of Japan (NAOJ) – Mitaka – Tokyo, 11-14 Mei 2009

Sawitar, W., 2013, Menjelajahi Jagad Raya, Bahan Ajar Materi Penyuluhan Astronomi

Sawitar, W., 2015, Sebuah Opini: Kosmologi Menjadi Sarana Refleksi Diri, dalam acara Talkshow Astronomi: Big Bang – How did the Universe Begin? Diselenggarakan oleh FOSCA di SMAN 48 Jakarta Timur – 31 Januari 2015

Sawitar, W., 2015, Astronomi dalam Cerita Rakyat Nusantara, Makalah pada Seminar Astronomi dalam Budaya Nusantara (SINDARA) di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta – 30 Mei 2015

 

Daftar Situs


 https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_baryons

https://exoplanets.nasa.gov/exoplanet-catalog/

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/22-planet-biru-bumi

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/58-bima-sakti-mitologi-dalam-budaya-jawa

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/61-bima-sakti-mitologi-manca-negara

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/64-bima-sakti-galaksi-rumah-kita

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/98-supernova-ledakan-bintang-bag-1

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/115-asteroid-bagian-4

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/117-asteroid-bagian-5

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/160-lubang-hitam-kerakusan-tiada-tara-2

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/165-supernova-bagian-kedua-selintas-klasifikasi-dan-supernova-tipe-i

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/169-jakarta-tanpa-bayangan

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/188-ophiuchus-sang-penakluk-ular-2

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/189-supernova-tipeii

https://hubblesite.org/contents/media/images/2001/09/1037-Image.html?Type=04-infographics&Type=05-artwork&page=3&Topic=105-galaxies&Topic=106-universe&Topic=108-key-concepts&keyword=hubble%20deep%20field&filterUUID=4c394bbb-b21e-43ab-a160-2a4521d70243

https://hubblesite.org/contents/media/images/2004/07/1462-Image.html?Type=04-infographics&Type=05-artwork&page=4&Topic=106-universe&Topic=108-key-concepts&Topic=109-the-telescope&keyword=NASA%20and%20A.%20Feild%20(STScI)&filterUUID=4c394bbb-b21e-43ab-a160-2a4521d70243

https://hubblesite.org/contents/media/images/2006/23/1929-Image.html?Type=01-hubble-favorites&Type=02-observations&Topic=105-galaxies&Topic=106-universe&keyword=SDSS%20J1004+4112

https://hubblesite.org/contents/media/images/2006/23/1930-Image.html?Type=04-infographics&Type=05-artwork&page=2&Topic=105-galaxies&Topic=106-universe&Topic=108-key-concepts&keyword=lensing&filterUUID=4c394bbb-b21e-43ab-a160-2a4521d70243

https://hubblesite.org/contents/media/images/2008/20/2347-Image.html?Type=04-infographics&Topic=106-universe&keyword=missing%20matter

https://hubblesite.org/contents/media/images/2011/36/2929-Image.html?Type=05-artwork&keyword=lemaitre

https://hubblesite.org/contents/media/images/2013/09/3155-Image.html?Type=01-hubble-favorites&Type=02-observations&Topic=105-galaxies&Topic=106-universe&keyword=abell%2068 )

https://hubblesite.org/contents/media/images/2013/33/3232-Image.html?Type=04-infographics&Type=05-artwork&Topic=105-galaxies&Topic=106-universe&Topic=108-key-concepts&keyword=The%20Hubble%20Sequence%20throughout%20the%20Universe%27s%20history

https://hubblesite.org/contents/media/images/2020/16/4646-Image?news=true

https://hubblesite.org/contents/news-releases/2020/news-2020-16

https://www.lpi.usra.edu/education/

https://www.eso.org/public/images/eso1031a/

dan situs yang tertera pada artikel.