User Rating: 2 / 5

Star ActiveStar ActiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Penjelajah kecil yang satu ini khas wajahnya, kadang bentuk rupanya begitu panjang layaknya memiliki ekor. Tidak salah kalau sejak millenia lalu disebut komet yang artinya si rambut panjang. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani era awal, aster kometes atau long haired (flowing hair) star. Pada era Ptolemy yang terkenal dengan konsep Geosentris-nya (abad 2 M), muncul ragam istilah terkait wajah komet seperti beams (balok/tiang), trumpets, jars (guci), dll.

sesuai dengan penampakannya di langit. Julukan lain adalah Jenggot Langit (Babylonia, Celestial Beards), Bintang Sapu (jelas ketika terlihatnya komet West), Bintang Berasap (Aztec dan Jawa: Smoking Stars).Adapun sebutan Bintang Berekor banyak muncul pada abad pertengahan di Eropa yang mana lahir istilah tail star, hair star, long feathers, star of dust, dll. Masyarakat di wilayah Arab mengibaratkan sebagai Pedang Api (Flaming Sword), termasuk penggambaran Josephus, ibarat pedang tergantung di langit Jerusalem yang berlangsung setahun lamanya saat komet Halley muncul (66 M). Adapun Kepler (abad 17, yang terkenal dengan hukum peredaran benda langit) menggambarkannya as the fishes in the sea (lihat juga karya Hevelius pada gambar 1).

 

Mitologi

Terjadi ber-millenia tahun bahkan hingga kini, bahwa hadirnya komet di kubah langit malam sering dikaitkan dengan tanda akan datangnya bencana atau sejenisnya. Shakespeare dalam karya Julius Caesar, mengaitkannya dengan pertanda kematian. Ada kasus unik, pengarang Mark Twain (Samuel Langhorne Clemens) yang terkenal dengan buku fiksinya Petualangan Huckleberry Finn dan Petualangan Tom Sawyer, dilahirkan saat komet Halley muncul (1835) dan wafat ketika komet tersebut kembali muncul (1910).

Bersamaan kala tahun 1910, ketakutan pun melanda dunia. Di Amerika pun samapi memproduksi pil anti komet dan masker gas. Suasana ini memunculkan rumor di seluruh dunia bahwa tidak lama lagi akan terjadi perang besar. Nyatanya, 4 tahun berselang, terjadilah Perang Dunia I (28/07/1914 – 11/11/1918) yang dipicu dengan pembunuhan Franz Ferdinand, pewaris tahta Austria-Hongaria dan istrinya, oleh nasionalis Yugoslavia Gavrilo Princip di Sarajevo (28/06/1914). Dampaknya, tidak kurang 9 juta tentara dan 7 juta pertahanan sipil tewas di medan perang. Yang terlibat adalah negara Austria-Hongaria-Jerman-Kerajaan Ottoman-Bulgaria melawan Serbia-Rusia-Perancis-Kerajaan Inggris-Itali-Amerika Serikat-Jepang-Rumania. Selain seluruh wilayah Eropa, juga merambah Caucasus, Mesopotamia, Sinai, dll. Dimaklumi bila kemudian komet Halley kembali mengemuka menjadi perbincangan sebagai tanda bencana seperti rumor yang muncul tahun 1910.

 

Gambar 1.

Pada karyanya Cometographia (1696), Hevelius melukis beragam wajah komet  (Varia Cometarum Figurae). Ciri gambaran komet-nya dilukiskan laksana pedang berapi berkobar di langit malam yang lekat dengan pertanda perang dan kematian. Ref./Credit: Comets in Ancient Cultures by Noah Goldman – University of Maryland – Ball Aerospace & Technologies Corp – JPL/NASA

 

Di Indonesia pun mirip dan mungkin juga timbul masalah serupa saat kita runut komet yang teramati sejak masuk abad 20, yang antara lain tahun:

-       1910         1P/Halley (76 tahun),

-       1927         7P/Pons-Winnecke dan Skjellerup–Maristany (36.530 tahun),

-       1945         79P/du Toit–Hartley atau du Toit 2 (5,6 tahun),

-       1965         Ikeya-Seki (1.060 tahun),

-       1973/4      Kohoutek (35.600 tahun),

-       1996         Hyakutake (70.000 tahun),

-       1997/8      Hale-Bopp (2520 – 2533 tahun),

-       2004         P/2004 R3 (LINEAR-NEAT),

-       2013         C/2011 L4 (Panstarss) dan C/2012 S1 (ISON).

Ragam takhayul dari tahun ke tahun bermunculan silih berganti seolah tanpa istirahat, bahkan hingga menyisip ke isu kiamat. Tahun 1908, memang ada komet cemerlang (Komet Morehouse atau C/1908 R1), tetapi apakah terlihat dari Indonesia belum dapat dipastikan. Yang jelas tanggal 30 Juni 1908 di Rusia terjadi bencana saat pecahan komet Encke jatuh. Dikenal sebagai Peristiwa Tunguska, terjadi dekat Sungai Tunguska – Siberia. Cikal bakalnya adalah pecahan komet Encke yang meledak di ketinggian 10 km, menghancurkan lebih dari 2.000 km2 hutan di sana. Gema ledakan hingga radius 1.000 km dan Seismometer dari segala penjuru dunia mencatatnya. Kecerlangan ledakan bahkan mengalahkan terangnya Matahari. Adapun tahun 1927/8, untuk komet Skjellerup–Maristany di atas, identifikasi lainnya C/1927 X1, 1927 IX, dan 1927k, merupakan komet periode panjang dan sangat cemerlang. Sangat mudah dilihat dalam kisaran 1 bulan lebih. Secara terpisah ditemukan oleh astronom amatir John Francis Skjellerup (Australia, 28/11/1927) dan Edmundo Maristany (Argentina, 06/12/1927) dengan warna kuning terang yang ternyata karena kelimpahan sodium yang tinggi pada komet tersebut.

Bila hendak merunut kehadiran benda ini pada masa lalu memang sangat sulit. Sekedar contoh, astronom dari Tiongkok, Li Qibin, harus menelusuri lebih dari 150.000 manuskrip dan 10.000 prasasti yang relevan serta puluhan tinggalan lain selama 13 tahun hingga 1987 bersama 200 mahasiswanya untuk mencari dan mengidentifikasi benda langit yang di sana dikategorikan sebagai bintang Zhoubo, Bei, Jing atau sebutan lainnya. Tercampurnya beragam istilah cukup menyulitkan apakah benda yang tercatat benar komet atau lainnya seperti bintang, planet, nova, supernova, atau lainnya. Sama dengan di Indonesia, apapun benda langit umumnya disebut dengan awalan Lintang/Wintang. Hingga kini, dengan banyak lagi tambahan manuskrip, pekerjaan ini masih terus berlangsung dan jauh dari tuntas. Catatan tentang hadirnya komet yang terlihat di Tiongkok salah satunya telah ditulis pada manuskrip Book of Prince Huai Nan (komandan pasukan raja Wu saat melawan Zhou dari Yin tahun 1057 SM), yaitu komet Halley (Lihat juga gambar 2).

 

 

Gambar 2.

Berbeda dengan dunia barat, justru astronom China sangat teliti dalam menera langit serta mendokumentasikannya baik dalam bentuk gambar, ukiran, maupun tulisan termasuk kehadiran komet. Catatannya bahkan bukan hanya dalam bentuk komet, melainkan lokasi di lautan bintang, evolusi kecerlangan dan orientasi ekor, hingga jejak pergeserannya. Sebutan komet antara lain, Bintang Ekor Panjang Burung Pegar, Bintang Sapu (terkait bencana); kadang hingga sebutan Bintang Keji (vile stars). Ref./Credit: Comets in Ancient Cultures by Noah Goldman – University of Maryland – Ball Aerospace & Technologies Corp – JPL/NASA.

 

Contoh tinggalan lainnya seperti di Mesir. Dapat kita sebut semisal komet Hale-Bopp. Komet ini kemungkinan besar telah diamati bangsa Mesir kuno pada era Firaun Pepi I (2332-2283 SM). Pada piramidanya di Saqqara terdapat tulisan “nhh–star” yang dalam sandi hieroglyph maksudnya adalah pendamping firaun di langit dan “nhh” sendiri berarti rambut panjang. Sementara itu, kita tahu bahwa mitologi Mesir begitu kaya dengan aneka kisah terkait dewa dewinya.

Dari benua Afrika, beberapa komet cemerlang tampak tahun 1843, 1848, 1884. Budaya di benua ini dahulu kala tidak memiliki sistem kalender yang mapan. Biasanya sebuah kejadian ditandai dengan kejadian yang unik lainnya, semisal dikaitkan dengan peristiwa perang, kematian kepala suku, banjir, juga fenomena langit termasuk penampakan komet. Umumnya untuk hadirnya komet adalah sebagai pertanda akan datangnya bencana. Hal ini sebenarnya mirip di Indonesia. Dulu sering kita jumpai apabila kita tanya lahirnya seseorang, sering jawabannya „ketika gunung tertentu meletus“, „ketika terjadi banjir besar“, dikaitkan beragam kejadian. Namun, ada pula anggapan bahwa apabila benda ini terlihat, maka akan terjadi malapetaka. Pada gua di Fouriesberg – Afrika Selatan terdapat lukisan komet (menilik bentuknya, walau ada pemikiran – dapat jadi gambar bolide meteor) berusia kisaran 25.000 tahun. Selain itu juga dijumpai pada budaya Masai (Kenya, dekat Swahili) bahwa komet malah merupakan dewa yang sangat penting, lebih dari sekedar pertanda sesuatu. Dewa inilah yang memberi sesuatu yang optimistis. Ibarat hadirnya Batara Surya di India/Indonesia yang terkait Matahari.

Pandangan di atas juga terjadi di benua Amerika. Hadirnya komet menimbulkan ragam ketakutan, kekaguman, dan aneka takhayul. Sebagai pertanda bencana, murkanya Dewa, saatnya meramal kematian pangeran hingga jatuhnya kerajaan, dll. Mulai hilangnya budaya Aztec (wilayah Mexico) karena serbuan bangsa Spanyol (tertangkapnya Moctezuma – sang raja) juga kebetulan ditandai dengan munculnya the Great Comet tahun 1517. Bagaimana mitos tentang komet di Indonesia?

Khususnya di Jawa, kemunculan komet dikaitkan atau sebagai pertanda akan munculnya kerusuhan, kekacauan, perang, kelaparan, kematian, bencana, atau wabah penyakit (Maas/Tijdschrift, 1924, p.149). Namun, ada pula kisah atau mitos muasal keterjadian komet. Tinjau budaya di pulau Jawa bagian tengah (Solo dan Yogyakarta). Terdapat mitos tentang Lintang Kemukus pada manuscript Babad Tanah Jawi. Bila mendengar Babad Tanah Jawi, sebenarnya ada ragam versi. Misal “Serat Babad Segaluh dumugi Mataram” (Babad Galuh-Mataram) dan “Serat Babad Tanah Jawi”. Ada pula “Babad Pajajaran” yang isinya sebenarnya Babad Tanah Jawi yang mana didalamnya terdapat cerita tentang pertempuran antara Prabu Brawijaya (Jaka Suruh) dengan Siung/Tiung/Ciung Wanara hingga kisah penyerbuan Penembahan Senapati (Mataram) ke Pajang. Kisah Lintang Kemukus berasal dari yang pertama, yang isinya praktis sama dengan Serat Babad Tanah Jawi pada naskah Radyapustaka No.128, bab Teluh Condong-campur (ref: Sawitar 2015).

Dikisahkan akhirnya keris Kyai Condong-campur kalah dan kembali ke tempatnya. Walhasil Majapahit pun terbebas dari wabah penyakit. Prabu Brawijaya menitahkan ke Kyai Supagati dan Supradriya untuk menghancurkan keris itu karena pamornya telah rontok. Saat tiba keris dibakar hingga merah membara dan siap dihancurkan, keris mendadak melesat ke langit bersama teluh braja (braja: senjata) lalu menjelma menjadi Lintang Kemukus (bintang berasap, mêtu kukusé = keluar asapnya) yang disaksikan banyak orang. Sambil melesat itulah, terdengar keris tersebut bertutur ke Prabu Brawijaya tentang tugasnya untuk membuat keris berdapur nagasasra (keris Ki Jigja yang berukuran kecil terkenal dengan keris berdapur sabuk-inten).

Pada kisah lanjutannya, pemilik keris Kyai Sengkelat adalah Sunan Kalijaga, kakak ipar Ki Supa. Tentang keris nagasasra atau dapur sewu (Kyai Segara-wedang) dan sabuk-inten pernah dipopulerkan kisahnya oleh S.H. Mintardja (fiksi, berlatar sejarah transisi Majapahit – Pajang/Demak dengan tokoh Mahesa Jenar, murid Syeh Siti Jenar) yang Beliau juga terkenal dengan “Api di Bukit Menoreh”nya (transisi Pajang – Mataram; tokohnya Kyai Gringsing, Agung Sedayu, Glagah Putih, Pangeran Benawa, dan Panembahan Senopati).

Dalam naskah di atas, lenyapnya Kyai Condong-campur merupakan tanda runtuhnya Majapahit. Dalam sejarah Nusantara, saat Majapahit runtuh dikenal kata sandi atau sengkalan: sirna ilang kertaning bumi (0–0–4–1), yang artinya tahun 1400Ç (1478M). Yang sebenarnya cukup menarik, apakah saat itu memang ada Lintang Kemukus? Penulis belum dapat data pasti. Paling mungkin bahwa kejadian itu pada akhir masa Prabu Brawijaya V (1478) dan ada catatan bahwa komet tersebut dapat dilihat oleh banyak masyarakat saat itu. Artinya komet cukup lama terlihat dan cukup terang, maka kemungkinannya adalah komet 1471Y1 yang muncul sejak Desember 1471 hingga akhir Januari 1472 yang diprediksi memiliki magnitudo semu minus 3 (setelah melewati perihelion tanggal 1 Maret 1471). Adapun pada tahapan melesat ke langit, bercampur dahulu dengan têluh braja (diibaratkan layaknya Lintang Alihan yang mlêtik-mlêtik). Penulis mendapati ada 3 kandidat yang muncul berdekatan waktunya, yang dua lagi adalah 1P/Halley (1456, magnitude 0) dan 1468S1 (1468, magnitude 1 – 2). Pada referensi lain diperoleh kandidat lain, yaitu komet C/1491 B1 yang sempat mendekat Bumi hingga jarak 0,0094 AU pada tanggal 20 Februari 1491 – ketika peralihan era Brawijaya ke era putranya, Raden Patah telah purna (ref: Yeoman 2007, Astron. J. 89, 154-161, IAU/Minor Planet Center).

Terlepas dari mitologi di atas, bahwa pada masa sekarang dengan peralatan yang semakin modern, penemuan demi penemuan akan benda ini semakin sering. Berdasarkan data Minor Planet Center – International Astronomical Union (MPC-IAU), pada tahun 2016 hingga tanggal 24 Mei telah ditemukan 16 buah komet mendekati Matahari. Total penemuan komet kini sudah mencapai 3887 buah yang telah diketahui dengan baik sifat orbitnya (data statistik temuan komet: lihat tabel 3).

 

Citranya di Kubah Langit

Penampakannya di langit malam berbeda dengan anggota Tata Surya lainnya. Seolah berselimut kabut, tidak setegas citra bintang atau planet. Ada tidaknya penampakan ekor sebenarnya tergantung arah pandang si pengamat. Ibarat melihat pesawat terbang dari samping ataukah dari depannya. Walau ekornya sangat panjang, kalau kita amati dari depan tentu panjang ekornya tidak akan tampak.

 

 

Gambar 3.

Rentetan foto komet 252P/LINEAR saat mendekati Bumi dan pergeseran arah ekor. Dalam sejarah (lihat tabel 1), termasuk salah satu komet yang bergerak sangat dekat dengan Bumi, kisaran 5,4 juta km 14 kali jarak Bumi Bulan) yang terjadi 21 Maret 2016 lalu. Teleskop Angkasa Hubble pun juga mencatat sejarah karena meliput obyek terdekat kedua setelah Bulan. Sebenarnya sehari setelahnya, ada yang lebih dekat lagi, yaitu komet P/2016 BA14 (PANSTARRS) yang hanya berjarak 3,55 juta km. Namun, karakter orbitnya masih belum diketahui apakah periodik atau tidak. Credit: NASA, ESA, and J.-Y. Li (Planetary Science Institute).

 

Apabila kometnya cemerlang, maka dapat dilihat dengan kasat mata. Berbeda dengan meteor (bintang jatuh) yang hanya sekejapan saja muncul, komet dapat dilihat pergeserannya di lautan bintang. Memungkinkan untuk diamati beberapa hari hingga hitungan minggu. Misalnya komet Halley yang terlihat tahun 1985 hingga 1986, komet Lulin yang dapat dilihat dengan binokuler (sangat cerah dapat kasat mata) pada bulan Februari hingga Maret 2009, komet C/2011 L4 (Panstarrs) pada bulan Maret 2013, komet C/2012 S1 (ISON) pada bulan November 2013, komet LovejoyC/2014 Q2 yang dengan bantuan binokuler dapat tampak lebih dari 2 minggu (kala itu dapat disaksikan selepas Maghrib walau dari kota Jakarta). Kemunculannya di kubah langit juga dapat berdurasi panjang hingga berbulan-bulan.

Andai saja kita bayangkan suatu saat pada awal malam kita dapat melihat sebuah komet cemerlang terbit dan malam itu cerah hingga pagi, maka komet itu semalaman dapat diamati tanpa putus – namun belum tentu dapat menera pergeserannya relatif terhadap latar belakang bintang-bintang.

 

Penamaan

Komet dinamai sesuai dengan tahun diketemukannya, lalu dibubuhi label abjad. Sebagai contoh: Komet 1940a, yang berarti komet pertama yang ditemukan tahun 1940. Jadi komet berikut yang ditemukan tahun itu diberi label b, c, dst.

Setelah diketahui perihelion atau titik terdekatnya dengan Matahari, maka komet diberi label tahun dan angka romawi. Komet 1940a tersebut namanya diubah menjadi 1939VIII, yang artinya komet ke 8 yang mencapai perihelion pada tahun 1939. Namun, biasanya komet juga diberi nama sesuai penemunya seperti komet 1969IX disebut Tago-Sato-Kosaka. Atau lainnya seperti West, Hale-Bopp, Halley, dsb. Andai komet tersebut kerap muncul (periodik), maka namanya diberi tanda huruf P. Contoh: P/Halley, P/Encke, dll.

Pada bagian sebelumnya telah diceritakan tentang citra penampakan komet di kubah langit malam dan juga yang terkait cerita rakyat hingga mitos di manca negara. Terlepas dari budaya seperti ketakutan, dsb., nyatanya banyak pula yang justru penasaran menelitinya baik berlandas Bumi hingga landas antariksa dengan mengirim wahana ke komet. Tahap demi tahap penelitian terus dijalani termasuk cara pengidentifikasian obyek langit tersebut baik dari muasalnya, unsur, jejak lintasan, maupun interaksinya dengan tempat tinggal kita, planet Bumi.

 

Gambar 4.

Komet C/2012 S1 (ISON) pada jarak 630 juta km dari Bumi. Tampak jelas ekornya yang menjauhi Matahari (dalam foto, ke arah kiri bawah). Juga proses pelepasan atau semburan materi dari inti komet ke arah Matahari (bagian kanan atas dari inti yang terang). Saat diambil fotonya, berdasarkan perhitungan, diameter inti komet kisaran 56,5 km, bagian koma yang menyelubungi inti 5.000 km, dan ekornya 92.500 km. Ada kemungkinan bahwa komet ini termasuk yang akan jatuh ke Matahari (Kreutz Sun-Grazer). Credit: NASA, ESA, J.-Y. Li (Planetary Science Institute), and the Hubble Comet ISON Imaging Science Team.

 

Rumah Komet

Banyak ahli mencoba menguak misteri komet yang antara lain Edmund Halley yang dengan perhitungan orbitnya berhasil memprediksi sebuah komet yang sifat pemunculannya rata-rata tiap 76 tahun sekali. Kini komet tersebut diberi nama komet Halley (terakhir 1985/1986). Juga Whipple yang meneliti strukturnya dan Jan Oort yang mengupas asal usulnya yang berdasarkan teorinya bahwa jauh di tepi Tata Surya ada selubung awan materi tersusun atas milyard bongkah salju kotor (maksudnya aneka macam unsur, dan khusus istilah „dirty ice ball“ dikemukakan oleh Whipple tahun 1949).

Diduga hadirnya materi ini merupakan sisa pembentukan Tata Surya yang telah terdorong oleh tekanan radiasi Matahari dan angin Matahari ke pinggiran Tata Surya. Lokasi tepian inilah yang kemudian menjadi rumah komet. Karena pertama kali dipopulerkan oleh Oort, maka materi ini disebut Awan Oort[1]. Formasi mirip kulit bola yang menaungi TS.

Materi utama Awan Oort adalah inti komet yang beku yang diameternya hingga orde puluhan kilometer. Distribusinya hingga 100.000 AU (±1 tahun cahaya). Sebarannya dapat dikatakan terbagi antara 30 – 50 AU (radius dalam Sabuk Kuiper) yang tidak stabil karena gangguan planet, 50 – 2.000 AU dengan orbit stabil, 2.000 – 15.000 AU (radius dalam Awan Oort yang dipengaruhi gaya pasang surut galaksi), 15.000 – 100.000 AU yang mudah dipengaruhi oleh bintang-bintang dekat Matahari. Analisis terhadap eksistensi materi ini sebenarnya pertama kali dilakukan Ernst Julius Opik (1893 – 1985) dari Estonia, termasuk hipotesis pertama tentang bagaimana terjadinya meteor. Menyusul kemudian, barulah Jan Hendrik Oort (1900 – 1992) mengemuka. Kasus ini sama dengan penamaan Sabuk Kuiper, yang sebenarnya telah didahului oleh analisis dari Kenneth Edgeworth (1880 – 1972), seorang astronom amatir. Dia berhasil menuangkan gagasan ilmiahnya ke Journal of the British Astronomical Association tahun 1942. Orang pertama yang menghitung dan menghipotesiskan adanya “comet-like objects” di luar orbit Neptunus dengan dugaan berjumlah 10 milyard hingga 1 trilyun buah.

 

Struktur dan Unsur

Matahari dengan gravitasinya yang dominan di Tata Surya sering menarik materi itu. Jadi, suatu saat ada yang mendekati planet, termasuk Bumi sehingga dapat terlihat. Yang menjadi masalahnya adalah bagaimana benda redup ini dapat terlihat dari Bumi?

Saat materi bongkah salju ini (sebut: inti komet; yang umumnya berukuran 0,5 – 40 km dengan unsur utama H2O, CO, CO2, CH4, NH3, HCN) mendekati Matahari, maka akan mengalami pemanasan sedemikian terjadilah proses penguapan dan sublimasi (padat menjadi gas). Terciptalah selimut gas–debu dipermukaannya dengan variasi unsur Na, O, CO, C, CN. Makin dekat Matahari, selimut ini (coma) makin tebal hingga dapat berdiameter beberapa juta km (termasuk selubung hidrogen). Unsur lainnya adalah formaldehyde (H2CO), methyl cyanide (CH3CN), hydrogen cyanide (HCN). Dalam kasus ini, artinya inti komet memiliki materi dengan unsur yang mudah menguap (volatile).

Pada saatnya, tekanan radiasi dan angin Matahari (Solar Wind) membuat sebagian coma terdorong menjauhi Matahari, maka terbentuklah ekor komet. Arah ekor menjauhi Matahari dan terpanjang di perihelion (terdekat Matahari), dan biasanya ada 2 jenis ekor:

a.    Yang terbentuk dari partikel bermuatan (ion) dengan ciri sempit – lurus sampai ratusan juta km. Ekor ion ini lebih disebabkan oleh interaksinya dengan angin Matahari. Kadang disebut ekor tipe I.

b.    Ada ekor debu berciri lebar berkabut dan kadang melengkung akibat geraknya. Ekor debu dapat memanjang hingga puluhan juta km.

i. Untuk debu netral berukuran kecil, umumnya terdorong akibat adanya tekanan radiasi Matahari, bukan karena angin Matahari. Bentuknya agak sedikit melengkung.

ii. Sementara itu, untuk debu yang relatif besar bentuknya sangat lebar dan melengkung akibat gerak komet dan biasa terkait dengan fenomena hujan meteor. Partikel debu yang besar ini umumnya terbentuk saat komet sangat dekat Matahari.

 

Ekor debu dikategorikan sebagai ekor tipe II

Memang umumnya ada 3 ekor utama, namun ternyata ada komet yang punya lebih dari 3 dan bukan hanya menjauhi Matahari, tapi ada juga yang mengarah ke Matahari (antitail, walau ini lebih karena geometri visual). Contohnya komet Arend-Roland (1956) dan Hale-Bopp.

Kecepatan edar komet dapat 400.000 km/jam. Wahana peneliti komet antara lain ICE (1983), Vega 1 dan 2 (‘84), Giotto (‘85/6), Suisei (’86), Sakigake (‘96), Stardust (1999–2004), Deep Space 1 (2001), Deep Impact (2004), Rosseta (2004).

  

Gambar 5.

Struktur dan unsur komet. Credit: NASA, ESA.

  

Hujan Meteor

Melihat proses ini, maka di jejak lintas orbitnya banyak tertinggal materi. Jika Bumi masuk daerah ini, bisa terjadi hujan meteor. Fenomena ini telah dikemukakan oleh Alexander von Humboldt sejak tahun 1845 dalam karyanya yang selesai tahun 1862, berjudul Kosmos. Sebagai catatan, ada beberapa asteroid yang bertingkah mirip komet. Meninggalkan jejak materi dan bisa juga menimbulkan hujan meteor. Contohnya Geminids Shower yang terkait asteroid 3200-Phaethon, dan umumnya terjadi setiap tahun antara tanggal 7–17 Desember, dengan ZHR 60–120 meteor/jam.

 

Orbit dan Tipe Komet

Komet pun (umumnya) mengedari Matahari. Bergerak dengan lintasan berbentuk ellips dengan eksentrisitas relatif besar (sangat lonjong). Apabila mengorbit dekat Matahari, komet akan memiliki kecepatan yang tinggi. Semakin jauh, semakin lambat.

Atas dasar periode edar dikenal komet periode pendek (<200 tahun). Misal komet Encke (3,3 tahun), Biela (6,7 tahun), Halley (76 tahun), Swift-Tuttle (134 tahun, tahun 2126 diduga akan mendekati Bumi). Ada komet periode panjang seperti Hale-Bopp (2.380 tahun, terakhir terlihat 1995/6) dan Kohoutek (75.000 – 79.000 tahun, terakhir 1973). Ada lebih dari 500 komet periode panjang ditemukan.

Selain itu, ada pula komet yang terlalu dekat Matahari atau dapat jadi memang ditarik oleh Matahari sedemikian kuat akhirnya jatuh ke Matahari (biasanya sebelum jatuh sudah hancur lebur). Komet kategori ini digolongkan sebagai Kreutz Sun-grazers (berawal dari penelitian Heinrich Kreutz dari Jerman). Contohnya 1979XI (Howard-Koomen-Michels), LINEAR, atau (seri) SOHO. The Solar and Heliospheric Observatory atau SOHO, merupakan wahana antariksa peneliti Matahari hasil kerjasama antara the European Space Agency (ESA) dengan NASA. Mengorbit pada jarak 1,5 juta km dari Bumi. Sudah lebih dari 3000 komet ditemukan melalui wahana ini dan praktis semuanya hancur.

Selain itu, komet dikategorikan sifatnya berdasar kelimpahan unsur yang mudah menguap, sedemikian dikenal adanya tipe active (yang umum masyarakat lihat), dormant (secara internal aktif, namun tuna selimut gas), extinct (dapat dikatakan tidak lagi mempunyai unsur yang mudah menguap, artinya selubung atau coma tidak ada). Juga ada kecenderungan bahwa ekor debu akan semakin jelas pada komet periode pendek.

 

Keluarga Jupiter

Uniknya ada komet yang tidak mengedari Matahari tapi mengedari planet Jupiter. Ada 130-an buah dan salah satunya, komet Shoemaker-Levy 9, telah jatuh ke planet gas raksasa Jupiter tahun 1994 di mana masyarakat (termasuk yang ikut peliputan/peneropongan di Planetarium dan Observatorium Jakarta) dapat mengikuti peristiwanya dari awal pecahnya komet hingga menabrak planet raksasa tersebut.

 

Tabel 1.

KOMET YANG MENDEKATI BUMI

(1 AU adalah jarak rata – rata Bumi ke Matahari, yaitu 149.597.870 km atau sekitar 8,31 menit cahaya)

Ref: Sekanina dan Yeomans (A.J.89, 154-161), the IAU – MPC, HST – STScI, Mitton 1991.

 

NO.

JARAK

(AU)

TANGGAL

NAMA

PERIODE

(TAHUN)

01.

0.0151

1770 Juli 1,7

D/1770 L1 (Lexell)

5,60

02.

0.0229

1366 Okt 26,4

55P/1366 U1 (Tempel-Tuttle)

33,7

03.

0.0237

2016 Mar 22,65

P/2016 BA14 (PANSTARRS)

-

04.

0.0312

1983 May 11,5

C/1983 H1 (IRAS-Araki-Alcock)

1.020

05.

0.0334

837 Apr 10,5

1P/837 F1 (Halley)

76,9

06.

0.0358

2016 Mar 21,52

252P/LINEAR

5,33

07.

0.0366

1805 Des 9,9

3D/1805 V1 (Biela)

6,74

08.

0.0390

1743 Feb 8,9

C/1743 C1

-

09.

0.0394

1927 Juni 26,8

7P/Pons-Winnecke

6,01

10.

0.0437

1702 Apr 20,2

C/1702 H1

-

11.

0.0555

2014 Mei 29,33

209P/LINEAR

5,10

12.

0.0601

2011 Ags 15,34

45P/Honda-Mrkos-Pajdusakova

5,26

13.

0.0617

1930 Mei 31,7

73P/1930 J1 (Schwassmann-Wachmann)

5,43

14.

0.0628

1983 Juni 12,8

C/1983 J1 (Sugano-Saigusa-Fujikawa)

(hyp.)

15.

0.0682

1760 Jan 8,2

C/1760 A1 (Great Comet)

175,1

16.

0.0787

2006 Mei 12,4

73P/Schwassmann-Wachmann

5,43

17.

0.0839

1853 Apr 29,1

C/1853 G1 (Schweizer)

781

18.

0.0879

1797 Ags 16,5

C/1797 P1 (Bouvard-Herschel)

-

19.

0.0884

374 Apr 1,9

1P/374 E1 (Halley)

78,8

20.

0.0898

607 Apr 19,2

1P/607 H1 (Halley)

77,5

21.

0.0934

1763 Sept 23,7

C/1763 S1 (Messier)

72,5

22.

0.0964

1864 Ags 8,4

C/1864 N1 (Tempel)

3.930

23.

0.0982

1862 Juli 4,6

C/1862 N1 (Schmidt)

-

1.     The Great Comet tampak sejak 1759, dan Biela terlihat hingga 1806.

2.     C/1491 B1 mendekati Bumi hingga 0,0094 AU (20/02/1491), namun orbitnya sukar diprediksi.

 

Tabel 2.

KOMET YANG KASAT MATA

Ref: Mitton p.80-84 – 1991,  the IAU – MPC, Sagan p.97-103 – 1983, Pasachoff p.213-227 - 1978.

 

NO.

IDENTIFIKASI

NAMA

KARAKTER

01

1957 III

Arend-Roland

Mempunyai anti-tail.

 

1970 II

Bennett

Sangat terang (magnitudo nol, Maret 1970). Ditemukan J.C. Bennett dalam lawatannya ke Afrika Selatan (28/12/1969). Panjang ekor di kubah langit kisaran 300.

02

1874 III

Coggia

Ditemukan J.E. Coggia. Ekor kisaran 400.

03

1914 V

Delavan

Ditemukan Delavan (La Plata – Argentina) Desember 1913 dan terlihat berbulan-bulan.

04

1858 VI

Donati

Ditemukan G.B. Donati (Florence). Dilukiskan mempunyai ekor tipe I sebanyak 2 buah, dan tipe II yang sangat lebar.

05

1962 VIII

Humason

Ukuran termasuk besar dan sangat aktif, terbukti telah memiliki ekor walau jaraknya ke Matahari masih 5 AU (750 juta km, sejarak Jupiter).

06

1965 VIII

Ikeya-Seki

Ditemukan 18 September 1965 oleh astronom amatir Jepang. Masyarakat Indonesia banyak yang melihat, berwarna merah darah, mirip Mars. Tergolong Sungrazers (perihelionnya pendek).

07

1973f / 1973 XII

Kohoutek

Ditemukan Lubos Kohoutek saat bekerja di Hamburg Observatory. Perihelion komet hanya 21 juta km (0,14 AU). Memiliki anti-tail. Cemerlang dan jelas dilihat dari Indonesia/Jakarta. Magnitudo minus 5. Banyak ditemukan unsur HCN yang umumnya dijumpai di materi antar bintang. Hal ini sekaligus tanda bahwa komet berasal dari tempat yang sangat jauh dari Matahari bahkan hingga ke ruang antar bintang (tepi Tata Surya).

08

1957 V

Mrkos

Ditemukan astronom amatir Czech.

09

 

P/Biela

Ditemukan pertama kali tahun 1772, dan terus berulang hingga W. von Biela melihatnya tahun 1826. Periodenya 6,6 tahun. Saat tampak tahun 1846, baru diketahui bahwa komet ini pecah menjadi 2 walau tetap memiliki lintasan sama dan berdekatan. Pada tahun 1852 jarak keduanya menjauh hingga 2 juta km. Sejak itu perlahan keduanya hilang. Hujan meteor Andromedids pada bulan November terkait dengannya.

10

 

P/Encke

Pertama diamati dari kota Paris oleh P. Mechain tahun 1786. Ditemukan lagi oleh Caroline Herschel tahun 1795, Pons dkk tahun 1805 dan 1818. Secara matematis dinamika orbitnya diteliti oleh Encke dan saat terlihat tahun 1818, dia hitung bahwa komet ini akan terlihat lagi tahun 1822 dan terbukti benar.

Untuk pertama kali, adanya fenomena efek roket (makin dipercepat) melalui penelitian komet ini. Terjadi karena pengurangan massa yang terus menerus yang dialami oleh komet karena durasi mendekatnya ke Matahari relatif singkat. Terkait hujan meteor Taurid dan dikaitkan dengan bencana Tunguska di Rusia 30 Juni 1908, juga hujan meteor Beta Taurid.

11

 

P/Giacobini-Zinner

Ditemukan tahun 1900. Periodenya kisaran 6,5 tahun dan dikaitkan dengan materi hujan meteor Draconids setiap bulan Oktober. Tahun 1985 Amerika Serikat meluncurkan wahana antariksa International Sun-Earth Explorer (ISEE) 3 yang berhasil memasuki daerah ekor komet ini sebagai bagian dari misi International Comet Explorer (ICE)

12

 

P/Schwassmann-Wachmann

Periodenya 16,1 tahun dan lintasannya nyaris lingkaran. Jadi gerak edar terhadap Matahari mirip planet dengan lokasi di antara Jupiter dan Saturnus. Setiap tahun pada saat oposisi, komet ini dapat dilihat dengan bantuan teleskop (magnitudonya antara 10 hingga 18).

13

1976 VI

West

Komet yang sangat cemerlang yang ditemukan tahun 1975 dengan keunikan ekornya yang membentuk struktur mirip kipas atau segitiga. Sayangnya, ketika melewati perihelion, komet ini pecah menjadi 4 bagian besar dan tidak pernah terlihat lagi.

14

 

P/Halley

Termasuk komet yang sangat terkenal. Konon telah tercatat sejak 3.073 tahun lalu. Memang Edmond Halley bukan penemunya, namun yang pertama menghitung secara matematis orbitnya. Saat melihatnya tahun 1682, Halley berbekal teori yang kala itu dikembangkan oleh Newton, menghitung bahwa komet ini akan terlihat lagi tahun 1758. Nyatanya benar, walau sayangnya Halley tidak menikmatinya karena wafat tahun 1742. Wahana antariksa Giotto berhasil mendekati inti komet ini sejarak 605 km saja. Diketahui diameter inti 16x8 km yang berotasi tiap 7,1 hari. Temperatur yang menghadap Matahari mencapai lebih dari 350K. Komet ini terkait dengan hujan meteor Aquarids dan Orionids.

 

Tabel 3.

Komet yang ditemukan oleh wahana pendeteksi (sky survey) dan yang ditemukan astronom/astronom amatir.

Credit: NASA Science – Science News – comethunter.de

 

Survey

Official Comet Discoveries

SOHO

1982

LINEAR

220

Catalina Sky Survey

135

PanSTARRs

131

Siding Spring Survey

101

Mt. Lemmon Survey

74

SPACEWATCH

63

NEAT

54

STEREO

43

LONEOS

42

WISE/NEOWISE

26

Credited Discoverer

Comets

McNaught

82

Shoemaker

32

Gibbs

28

Hill

27

Pons

26

Boattini

25

Christensen

24

Levy

22

Brooks

21

Bradfield

18

Garradd

17

Skiff

16

Barnard

16

Mueller

15

 

Daftar Pustaka

McFadden, L., 1993, The Comet – Asteroid Transition, in A. Milani et al (eds.), Proceeding IAU Symposium No. 160 of Asteroids, Comets, Meteors, Kluwer Acad. Pub., Dordrecht, p.95-110

Mitton, J., 1991, A Concise Dictionary of Astronomy, Oxford Univ. Press, Oxford

Pasachoff, J. M., 1978, Astronomy: from the Earth to the Universe, Saunders Co., Philadelphia, p.212-331

Qibin, L., 1988, A Recent Study on the Historical Novae and Supernovae, in G. Borner (ed.), Proceedings of High Energy Astrophysics: Supernovae, Remnants, Active Galaxies, Cosmology, Springer-Verlag, Berlin, p.2-25

Sagan, C., 1983, Cosmos, Futura, London, p.95-104

Sawitar, W., 2014, Menjelajahi Jagad Raya, Materi Penyuluhan Astronomi Tingkat SMP dan SMA, Planetarium dan Observatorium Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta

Sawitar, W., 2015, Astronomi dalam Cerita Rakyat Nusantara, Makalah pada Seminar Astronomi dalam Budaya Nusantara (SINDARA) di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (30/05/2015)

Sekanina, Z. dan D.K. Yeomans, 1984, Close Encounters and Collisions of Comets with the Earth, Astron. J. 89, 154-161, AAS

The International Astronomical Union – Minor Planet Center

Walker, C., 1996, Astronomy: Before the Telescope, British Museum Press, London, p.50,177, 210-13, 235, 245, 285, 308, 313-15, 318, 322, 327-9, 331-4

 

 

[1] Kini telah diketahui bahwa komet dapat saja berasal dari Sabuk Asteroid dan Sabuk Kuiper.