User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

KAJIAN TENTANG IMSAKIYAH DAN TELAAH PENENTUAN AWAL SYAWAL 1437 HIJRIAH (URGENSI RUKYAT PADA POSISI HILAL DI BAWAH UFUK)

Catatan: Ada baiknya membaca dahulu tulisan tentang "Penelitian dan Pengembangan Hisab Rukyat" sebelum membaca tulisan ini.

 

Kajian tentang imsakiyah.

Waktu imsak adalah waktu tertentu sebagai batas akhir makan sahur bagi orang yang akan melakukan puasa pada siang harinya. Waktu imsak ini sebenarnya merupakan langkah kehati-hatian agar orang yang melakukan puasa tidak melampaui batas waktu mulainya puasa yakni fajar.

Selang waktu antara imsak dengan fajar atau waktu Subuh adalah waktu yang diperlukan untuk membaca 50 ayat Al-Qur'an atau sekitar 8 menit. Jadi waktu imsak terjadi 8 menit sebelum waktu Subuh. Oleh karena 8 menit itu sama dengan 2o, maka tinggi Matahari pada waktu imsak (himsak) ditetapkan minus 22o di bawah ufuk timur atau himsak = -22o. Seperti halnya penentuan waktu lainnya, waktu imsak dikurangi ikhtiyat antara 0 sampai 2 menit. Untuk penyeragaman dan hasil kesepakatan di Indonesia, waktu imsak = awal waktu Subuh dikurangi 10 menit. Misal waktu Subuh pukul 04:30 WIB, maka waktu imsak adalah pukul (04:30 – 10 menit) atau pukul 04:20 WIB.

 

Urgensi rukyat pada posisi hilal di bawah ufuk (telaah penentuan awal Syawal 1437 H).

Sesuai dengan Fatwa MUI No. 2 tahun 2004, awal bulan Dzulhijjah seperti halnya Ramadan dan Syawal di Indonesia ditentukan berdasar metode Rukyat dan Hisab. Secara hisab sudah jelas tertera dalam Taqwim Standar Indonesia 2016, bahwa tanggal 1 Syawal 1437 Hijriah bersamaan dengan hari Rabu Pahing tanggal 6 Juli 2016.

Hari penentu atau hari untuk menentukan kapan jatuhnya awal bulan Syawal 1437 Hijriah adalah pada tanggal 29 Ramadan 1437 Hijriah (hari hisab dan hari rukyat) yang bertepatan dengan hari ijtimak, yang juga bertepatan dengan hari Senin Kliwon tanggal 4 Juli 2016. Hal ini menunjukkan bahwa bulan Ramadan 1437 Hijriah berumur 30 hari atau meng-istikmal-kan bulan Ramadan 1437 Hijriah menjadi 30 hari sesuai dengan kaidah ilmu Falak. Penyebab utamanya adalah pada saat Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia, ketinggian Bulan berharga negatif (Bulan berada di bawah batas ufuk = 0o) antara minus 3,2o s.d. minus 0.8o seperti yang ditunjukkan oleh gambar di bawah ini.

 

Sementara posisi hilal pada saat Matahari terbenam di Pelabuhan Ratu – Sukabumi pada tanggal 29 Ramadan 1437 Hijriah yang bertepatan dengan hari Senin Kliwon tanggal 4 Juli 2016 diberikan pada tabel di bawah ini

Posisi hilal pada hari penentu hisab tersebut di atas belum memenuhi kriteria masuknya awal bulan Hijriah di Indonesia, yakni Hisab Kriteria MABIMS, yaitu perhitungan hisab yang berpedoman kepada ketinggian Bulan minimal 2 derajat untuk seluruh wilayah negara anggota, jarak sudut Matahari dan Bulan minimal 3 derajat dan umur Bulan minimal 8 jam setelah saat ijtima'. Akibat belum memenuhi kriteria awal bulan tersebut, maka di seluruh anggota MABIMS, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura secara hisab menggenapkan atau meng-istikmal-kan bulan Ramadan 1437 Hijriah menjadi 30 hari.

Dengan demikian, maka hari Selasa Legi, tanggal 5 Juli 2016 bertepatan dengan tanggal 30 Ramadan 1437 Hijriah dan Rabu Pahing, tanggal 6 Juli 2016 bertepatan dengan tanggal 1 Syawal 1437 Hijriah.

Hisab Kriteria MABIMS ini telah disepakati bersama oleh seluruh anggota MABIMS pada Muzakarah Rukyat dan Takwim Islam Negara Anggota MABIMS di Jakarta pada tanggal 21–23 Mei 2014. Demikian pula Keputusan Temu Kerja Hisab Rukyat Tahun 2014 dan telah diverifikasi kembali pada Temu Kerja Hisab Rukyat tanggal 24–26 Mei 2016 di Grand Diara Hotel Cisarua Bogor bahwa tanggal 1 Syawal 1437 Hijriah jatuh pada hari Rabu Pahing, tanggal 6 Juli 2016 seperti tertera pada tabel di bawah ini:

 

 

Berdasarkan hasil hisab sudah tampak jelas, sudah terang benderang. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah secara rukyat pada posisi hilal di bawah ufuk di seluruh wilayah Indonesia ini masih perlu dirukyat? Ada beberapa pemikiran dan pertimbangan dalam hal menjawab pertanyaan ini, antara lain:

a). Menurut Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 2 tahun 2004, pada Fatwa Pertama dan poin pertama berbunyi: Penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metoda ruk'yah dan hisab oleh Pemerintah RI cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional. Oleh karena fatwanya masih digunakan sebagai panduan penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia, maka rukyat harus/wajib dilaksanakan sebagai konfirmasi dari hisab. Konsekuensi penggunaan fatwa ini adalah tanpa menyebutkan posisi hilalnya, apakah berada di atas atau di bawah ufuk. Dalam kasus ini, lebih jelasnya bahwa apakah posisi hilal berdasar hisab pada hari penentuan berharga negatif (artinya: hilal di bawah ufuk) atau berharga positif (artinya: hilal di atas ufuk), kegiatan rukyat tetap harus bahkan wajib dilaksanakan sebagai konfirmasi dari hasil hisab.

b). Pemerintah harus mengayomi seluruh pengamal metode penentuan awal bulan Hijriyah di Indonesia. Diakui atau tidak, pada kenyataannya di kalangan masyarakat muslim di Indonesia terdapat berbagai metode dalam penentuan awal bulan, antara lain:

  • Metode hisab murni tanpa memerlukan konfirmasi hasil rukyat,
  • Metode rukyat yang dipandu oleh sistem hisab yang akurat,
  • Metode rukyat murni,

yang tidak ada kaitannya atau tidak mau tahu dengan metode hisab. Tidak ada panduan hisab untuk melakukan rukyat. Pada metode ini akan dilakukan rukyat tanpa terpengaruh oleh posisi hilal pada saat Matahari terbenam – apakah posisi hilal di bawah dan di atas ufuk menurut hasil hisab.

c). Sekalipun menurut hasil hisab kontemporer atau modern, posisi hilal masih berada di bawah ufuk, sering kali menurut beberapa sistem hisab takhribi sudah positif atau berada di atas ufuk jika ijtimak sudah berlangsung sebelum Matahari terbenam pada tanggal 29 Ramadan 1437 Hijriah ini. Beberapa kota di Indonesia yang mengalami ijtimak qoblal ghurub atau ijtimak berlangsung sebelum Matahari terbenam, diantaranya:

  1. Sabang (18:57 WIB),
  2. Banda Aceh (18:54 WIB),
  3. Meulaboh (18:51 WIB),
  4. Gunung Sitoli (18:39 WIB),
  5. Medan (18:39 WIB),
  6. Sibolga (18:35 WIB),
  7. Padang (18:25 WIB),
  8. Pekanbaru (18:23 WIB),
  9. Jambi (18:11 WIB),
  10. Bengkulu (18:12 WIB),
  11. Palembang (18:04 WIB),
  12. Batam (18:14 WIB),
  13. Tanjung Pinang (18:12 WIB).

Posisi hilal awal Syawal 1437 Hijriah tanggal 4 Juli 2016 menurut sistem hisab Takhribi di kota-kota ini besar kemungkinan memiliki ketinggian positif atau di atas 0 derajat, dan pengamal hisab ini akan melakukan rukyat karena meyakini posisi hilal sudah berada di atas ufuk atau memiliki ketinggian positif. Pelaksanaan rukyat akan menjadi pembuktian bahwa hilal Syawal 1437 Hijriah tanggal 4 Juli 2016 tidak dapat dirukyat dari seluruh wilayah Indonesia.

d). Indonesia saat ini tidak menganut penggunaan rukyat global. Sekalipun di seluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam ketinggian hilal berada di bawah ufuk (memiliki ketinggian hilal negatif), namun ada wilayah-wilayah tertentu di dunia yang memungkinkan hilal dapat dirukyat seperti pada peta di bawah ini.

 

Mengacu kepada Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia No.2 tahun 2004 pada Fatwa Pertama dan poin keempat yang berbunyi: Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walaupun di luar wilayah Indonesia yang matla'nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI. Matla' yang sama dengan Indonesia yang dimaksud adalah wilayah MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura). Sedangkan negara-negara yang memungkinkan hilal dapat dirukyat pada peta di atas adalah negara-negara di Amerika Selatan dan Afrika bagian selatan. Andaipun ada pelaporan bahwa hilal dapat terlihat di negara-negara ini, maka hasil rukyat tersebut tidak dapat dipakai untuk penentu awal bulan Syawal 1437 Hijriyah di Indonesia (matla’ yang sangat berbeda dan berjauhan).