User Rating: 2 / 5

Star ActiveStar ActiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Dalam kehidupan sehari-hari bahwa sebuah benda berbentuk piringan di langit yang bercahaya sangat cemerlang pada siang hari biasa dikenal di Indonesia sebagai Matahari. Secara internasional, kata Matahari lebih dominan disebut dalam bahasa Inggris, yaitu dengan sebutan Sun. Baik kemunculan kata Sun maupun yang terkait kata Matahari dalam ranah budaya Nusantara ternyata cukup menarik kalau dikupas.

Di sini dicoba hanya mengambil sezarah kasus saja dengan perunutan masalah berlandas acu budaya seputar Surakarta dan Yogyakarta, serta secara internasional berbasis budaya Eropa (utamanya Inggris). Inipun dengan permohonan maaf, apabila yang tersaji tidaklah tuntas, bahkan mungkin terasa mengawang dalam batasan ke-ilmu-an baik dari bidang ilmu Astronomi maupun ilmu Budaya secara terpisah dan mandiri, ataupun dari penyelisikan berbasis cabang ilmu Astronomi Budaya sebagai cabang ke-ilmu-an yang utuh. Anggap saja tulisan ini sekedar gagasan awal, dan mungkin istilah inilah yang lebih nyaman.

 

Pe”nama”an: Sebuah Kilas Balik

Pada masa sekarang, memang kita tinggal memakai dua kata itu, baik Matahari maupun Sun. Hal ini harus diakui karena nyatanya sangat sedikit yang dapat berhadapan dengan sebuah kesulitan untuk sekedar penasaran dalam menelusur akar pembahasaan itu. Mengapa sebutannya Matahari dalam pengertian mata dari hari? Apa hal ini karena siang nan terang dan penuh harapan dibandingkan dengan nuansa pekat malam yang terasa menakutkan. Namun, unik juga karena kebiasaan kita menyebut rentang waktu semisal satu hari adalah sehari semalam atau semisal bila bepergian keluar kota kita acap sebut selama dua hari satu malam. Mengapa tidak sesiang semalam (pada Jawa Kawi ada istilahnya: Wisuwakala merujuk periode siang malam) atau dua siang satu malam? Atau “saking” semangatnya bekerja dan butuh pengakuan hingga mengucap, “… kerja seharian sampai malam …” padahal seharian sudah pasti mengandung siang dan malam, bahkan 24 jam durasinya. “Lebay …”, mungkin ini istilah anak muda sekarang (bukan lebé atau lebai, ataupun lebya ber-“lebih”-an dalam bahasa Jawa).

Pada sisi lain, dalam batasan mata, ada kata Surya, Hontakara/Hondakara, Aditya, dll. yang juga terkait kebeningan pandangan bahkan mengandung pengertian mata yang jernih untuk gambaran siang yang terang benderang. Sebenarnya kasus seperti ini (dapat jadi melanda penulis sendiri) sekedar gambaran pada umumnya tentang kehadiran kesejatiannya selaku insan di Jagad Raya ini, jalani saja sesuai aturan yang ada lalu habis perkara termasuk mengikuti trend ataupun mode daripada dibilang ketinggalan jaman walaupun sering salah. Tidak banyak atau repot bertanya mengapa begini, mengapa begitu. Istilah bahasa gaulnya, (ditulis) ribet (walau sebenarnya ribed atau reribed yang berarti kesukaran, kesusahan – kena ing reribed kena susah atau menyusahkan).

Dalam kasus penelusuran di atas “terpaksa” harus diakui bahwa memang sangat sulit dan “menyusahkan” untuk merunut sejarah kata tersebut dalam jejak ranah budaya. Namun, tetap saja rasa penasaran akan muasal pendefinisian senantiasa berkelindan dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang saat sekarang – kita sebut dan anggap – semakin modern mengenai karakter fisik bendanya itu sendiri. Dalam kasus ini, ilmu yang dikenal sebagai Astronomi dapat dikatakan maju selangkah ke depan dengan segala fasilitas ke-cabang-annya, sebut semisal Astronomi Budaya yang mencakup Etno-Astronomy dan Astro-Arkeologi, juga dukungan Astrofisika, Astrokimia, Astrobiologi, dll.

Pada tahapan ini, maka tidaklah salah kalau penulis memberi topik tulisan tentang Matahari ini dengan judul Tékang Adityamandala, atau yang lebih memasyarakat atau lebih populer dapat saja diubah dengan judul Ta Ikang Surya, yang tidak lain secara fisik adalah bola/roda/cakram/piringan bercahaya cemerlang di atap langit yang sehari-hari dilihat pada siang hari sejak hadirnya manusia itu sendiri, khususnya oleh leluhur kita di Bumi Nusantara dan benda langit ini tidak lain adalah Sang MatahariThe Sun. Namun, dalam konteks ke-kini-an bahwa istilah semakin kaya dan terdapat kata Tata Surya (Solar System), juga adanya Keluarga Matahari, kadang the Kingdom of the Sun dan the Sun is the King. Jadi, dalam hal ini dapat diambil pengalihbahasaan Adityamandala dari bahasa Jawa Kawi sebagai Kerajaan Matahari. Faktanya, bahwa Matahari sebut saja sebagai raja atau kepala keluarga Tata Surya; planet beserta ragam benda lainnya sebagai punggawa atau anggotanya.

 

Selintas Istilah SUN (Matahari)

Berdasarkan catatan, bahwa kata Sun berawal dari kata Sunne pada masyarakat Inggris Kuno (Old English), era Anglo-Saxon yang berkembang pada abad 5 dan muncul pada sastra yang mapan pada abad 7 (muncul dalam mitologi berbentuk puisi tentang epik kepahlawanan Beowulf, yang sempat dibuat film layar lebarnya tahun 1999 yang dibintangi oleh Christopher Lambert, melawan keangkaramurkaan Grendel dan ibunya). Kata Sunne ini ditemukan juga pada bahasa Jerman Kuno, termasuk bahasa daerah Friesland (Old Frisian / Greater Frisia / Frisia Magna), yaitu Jerman bagian barat dan juga meliputi teluk Laut Utara, Belgia hingga Sungai Weser di bagian utara Jerman, sekitar rentang abad 8 hingga 13 dengan istilah Sunned dan Sonne; yang dalam bahasa Old Saxon adalah Sunna. Untuk masyarakat Belanda abad pertengahan Sonne, Belanda modern Zon. Adapun pada budaya Jerman Kuno juga ditemukan istilah lainnya Sunna (yang lebih modern di utara adalah Sonne).

Budaya lain yang berpengaruh adalah yang berasal dari Old Norse yang masyarakatnya disebut Norsemen. Salah satu tokoh mitologinya adalah Thor yang sebanding dengan hadirnya tokoh Zeus di Yunani dan Jupiter di Romawi (juga dibuat film layar lebarnya dengan judul sama). Mereka merupakan masyarakat yang mendiami wilayah bagian utara Jerman, seperti Skandinavia, Norwegia, dll. pada era abad 9 – 13. Berawal dari proto-Norse hingga abad 8 dan kemudian berlanjut pada Jerman Modern di daerah utara mulai abad 14. Mereka menyebutnya Sunna. Sementara itu, dari era yang lebih lama lagi kisaran abad 4, yaitu Gothic (masyarakat Goth, Burgundian, Vandalic) dikenal istilah Sunnō.

 

Citra Matahari yang diproyeksikan ke bidang berwarna putih yang merupakan proses dari Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Credit: HAAJ.

 

Apabila mengingat kata Sunday (hari Minggu), ini berasal dari Sun’s Day. Berawal sebelum abad 7 dari Inggris Lama, yaitu Sunnandæg. Adapun pada istilah Jerman ditemukan Dies Solis, yang berdasarkan sejarah nama Yunani hēméra hēlíou (hemera heliou). Istilah helios, aphelion, perihelion dalam istilah teknis Astronomi mungkin dapat membantu pembaca dalam penelusuran sejarah kata-kata Yunani, khususnya terkait akan adanya dewa Matahari Helios yang dilatinkan sebagai Sol. Kata ini sebenarnya tidak ada pada awalnya di Inggris. Baru kemudian muncul istilah Solar, khususnya oleh para astronom untuk memperbandingkan rentang hari di suatu planet dengan rentang panjang hari di Bumi (misal Solar Day untuk Bumi adalah 24 jam, sementara itu untuk planet Mars adalah 24 jam 39 menit 35,244 detik – istilah mereka “a mean Martian Sol”, dengan pengertian mean adalah rata-rata). Namun, terlepas dari itu semua bahwa baik dalam budaya Inggris maupun Jerman dapat ditarik lebih jauh ke belakang pada istilah dalam budaya kata proto-Germanic, yaitu Sunnōn).

 

Sezarah Budaya Penamaan Benda Langit

Bagi yang mendalami ranah sejarah munculnya sebuah kata seperti di atas tentunya masalah seperti ini menjadi ladang yang terhampar luas sejauh cakrawala. Semisal kata Sunday di atas dan Monday (dari Moon’s Day). Namun, kala muncul Thursday bagaimana kisahnya? Sejarah Norsemen dengan tokoh Thor tentu menjadi kewajiban perunutan tersendiri. Termasuk tokoh Frigga dalam muasal nama hari Friday (Jum’at) dan Tiw dalam Tuesday (Selasa). Boleh jadi ada konsepsi pemikiran yang sama ketika di Indonesia harus mengisahkan mitologi tentang hari yang berada di bawah lindungan Batara Guru dan terkait Lintang Wrahaspati (planet Jupiter) yang dipersandingkan dengan hari Kamis; atau kesetaraan antara Sang Batara Sri dengan Lintang Sukro (planet Venus) saat kita persandingkan dengan Frigga yang sama-sama menjadi pelindung hari Jum’at. Bagaimana dengan Senin kaitannya dengan Sang RembulanMonday, atau Batara Surya dengan Sunday untuk hari Ahad atau Minggu? Nyatanya, urutan hari tidak dikarang serampangan, melainkan diurutkan atas dasar kecepatan pergeseran Matahari, Bulan, dan 5 planet di Zodiak – siapa yang “tukang ngebut” dan siapa yang “alon-lonan”. Siapa dewa dewinya, baru disandingkan dengan mengambil konsep jauh sebelum era masehi bahwa periode sehari dibagi ke dalam 24 bagian yang kini disebut 24 “jam”.

Kembali pada masalah nama hari secara internasional yang terkait dewa dewi, beberapa, yaitu Selasa, Kamis, dan Jum’at berasal dari Bangsa Utara seperti dibahas di atas, yaitu budaya Norsemen (North-men atau lebih tepatnya dalam bahasan ini adalah masyarakat Scandinavian). Tiw atau Tiu atau Tyr adalah dewa bangsa Skandinavia; selanjutnya oleh bangsa Romawi dikaitkan dengan dewa perangnya Mars yang diabadikan untuk nama planet Mars. Nama hari Tuesday, diberikan sebagai penghormatan kepada dewa tersebut (Tiw’s Day). Frigga atau Frigg atau Freya, dalam mitologi Skandinavia adalah nama ratu atau dewi penguasa langit. Friday adalah nama hari sebagai penghormatan kepada dewi tersebut. Demikian pula dari nama dewa Thor – dewa Guntur, putra Odin padamana Odin adalah suami dari Frigga, lahirlah nama hari Thursday. Ketiga dewa/i ini membentuk trinitas penguasa alam semesta bagi bangsa Skandinavia.

Tidak ada salahnya kalau kita mencoba menyusur dan mendata ke dalam budaya penamaan benda langit di Bumi Nusantara, khususnya hanya yang terkait dengan Matahari. Penulis coba kumpulkan dari ranah seputar Solo/Surakarta (Jawa Tengah) dan D.I. Yogyakarta, yaitu antara lain (Ref: pengembangan dari Sawitar, 2016; dan beberapa tambahan dari kamus yang ada di daftar pustaka):

 

  1. Aditya,
  2. Adityamandala,
  3. Andakara,
  4. Ari,
  5. Arka,
  6. Aruna,
  7. Asumandiankara,
  8. Bagaskara,
  9. Bagaspati,
  10. Bagowong (Gerhana Total atau Pagowong),
  11. Baskara,
  12. Coblong (Gerhana Total),
  13. Datapati,
  14. Dewangkara,
  15. Dinakara
  16. Dhinakara,
  17. Diankara,
  18. Dinakara,
  19. Ditya,
  20. Diwangkara,
  21. Diwasasri,
  22. Giwangkara,
  23. Grahana (Gerhana)
  24. Gumiwang (Matahari condong ke barat),
  25. Haditya (Matahari/Hari Minggu),
  26. Hangkara,
  27. Harimurti (terang Matahari),
  28. Harka,
  29. Hondakara (Matahari atau mata jernih),
  30. Hontakara,
  31. Hrawi,
  32. Kalacakra,
  33. Karaba,
  34. Kalandara,
  35. Kalandaragenni,
  36. Kasongan (Tercahayai Matahari),
  37. Kauban (Tidak tercahayai Matahari),
  38. Kuladara,
  39. Kulandara,
  40. Kulandaragenni,
  41. Manclap (Matahari terbenam),
  42. Manjer (Matahari di meridian – transit atas),
  43. Niwasa,
  44. Parwakala (Gerhana),
  45. Panengahnikangrawi (Matahari tepat di tengah),
  46. Prabakara,
  47. Prabangkara,
  48. Prabangkarakara,
  49. Purbangkara,
  50. Pranggapati,
  51. Pratangga,
  52. Pratanggakara,
  53. Pratanggapati,
  54. Pratonggapati,
  55. Raditia,
  56. Radite,
  57. Raditya,
  58. Radiktya,
  59. Rantak (Terbitnya Matahari),
  60. Rawa,
  61. Rawi,
  62. Rawikara (Sinar Matahari),
  63. Redite,
  64. Sasrasuman,
  65. Sawita,
  66. Sawitar,
  67. Sawitri,
  68. Sengenge,
  69. Srenene,
  70. Srengenge (-Tumiling), (Matahari jam 10 – 11 WIB)
  71. Subandagni,
  72. Subanhagni,
  73. Sungingi Sinar,
  74. Suria,
  75. Surya,
  76. Suryaja (Matahari terbit),
  77. Suryakalalun (Matahari jelang senja),
  78. Suryasata (Tengah hari),
  79. Suwandahagni,
  80. Udaya (Terbit Matahari),
  81. Utarayana (Gerak maju Matahari ke arah Utara),
  82. Utarayanadiwasa (Waktu saat Matahari berada di Utara),
  83. Walarka (Matahari yang baru terbit),
  84. Walarkakara (Berpenampilan seperti Matahari),
  85. We,
  86. Wimba (Cakra atau bola Matahari),
  87. Wisagni,
  88. Withangka (Sorot Matahari),
  89. Wrahaspati (catatan: biasa ditujukan untuk nama planet Jupiter yang terkait Batara Guru pengayom hari Kamis),
  90. Tala.

 

Pada langit-langit Pendapa Ageng di istana Mangkunegaran – Solo terdapat gambar-gambar terkait benda langit yang terkait Matahari (juga Zodiak), disebut Kumudawati (Kemudowati, White Lotus, Teratai Putih). Credit: Sawitar, Doni, Mahesa.

 

Sebuah Pertimbangan

Memang banyak kata yang mirip, dan “rasanya” semata karena kebiasaan laksana kita kadang menulis atau menyebut gua atau goa atau gowa. Dalam hal ini dapat sebenarnya merujuk kosakata sebagai salah satu alternatif di Kamus Besar Bahasa Indonesia (yang juga penulis pakai, lihat daftar pustaka), di mana yang tertera adalah gua. Namun, dapat karena pengaruh tekanan lisan yang lalu ditulis sesuai nada yang terdengar, seperti kita sebut secara lisan Sênén atau Sênin, Rebo atau Rabu (Harbo). Atau pada kasus Matahari di atas, yang agak mirip adalah antara Wrahaspati dan Respati (lihat nomor 89 di atas); kapan merujuk pada Batara Guru, kapan mengacu pada Matahari, kapan digunakan sebagai nama planet Jupiter. Tentu hal semacam ini akan menjadi penelusuran tersendiri. Sebut saja ketika kita melafalkan “Wrahas” agak cepat, maka umumnya yang terdengar semacam bunyi “ra(h)as” lalu muncullah kata Respati dan tentu itulah yang ditulis kemudian dan terbawa bergenerasi kemudian. Atau kadang ada lirik tembang (gita) yang penamaan atau saat disyairkan (ginita) didalamnya terpaksa diubah demi harmonisasi tatkala dilagukan (gitareta). Ada pula yang sangat unik seperti nomor 46 hingga 54. Ada yang justru untuk pembeda kondisi penyebutannya atau sekedar penekanan kata, semisal dalam kasus untuk istilah bintang: susup / sususup / susususup; atau untuk sebutan Bulan: Sadara / Sasadhara / Sasadara (Sasadhara/Sasadara juga berarti bintang besar, sementara untuk Sasadarakawêkas adalah panggilan Sang Hyang Antaboga dan bila terkait Bulan artinya Bulan ke-siang-an). Kasus yang terakhir, mirip nomor 81 sampai 84. Atau sisipan seperti bintang gemintang, cerlang cemerlang, dll.

Atau, dapat jadi dalam masalah di atas ibarat membahas kata yang sedang populer akhir-akhir ini. Contoh mudah, kita sebut “si Anu korup ...” yang mungkin kita semua tahu bahwa maksudnya “korupsi”. Namun, kita semua mungkin lupa bahwa dalam bahasa di Nusantara (Sansekerta, Kawi, Jawa Kuno), kata “korup” memang ada dan artinya mungkin membuat kita agak tersenyum – yaitu “pantas” atau “seimbang hasil dengan susah payahnya” (walau ada juga lainnya: tidak setia). Sementara, korupsi adalah sesuatu yang lain makna, yaitu curang, menyelewengkan atau menggelapkan uang. Jadi berbeda arti antara korup dengan korupsi. Sangat jelas pada istilah Walarka dan Walarkakara bahwa tampak perbedaan atau tepatnya pengurangan penyebutan karena berniat ingin ringkas akan membawa dampak pengertian kata yang sangat berbeda. Contoh lain, Taranggana (rasi bintang atau konstelasi) dan Tranggana (bintang). Atau unik bila menyebut Srengéngé (Matahari) dan Srengéngétumiling (menunjukkan posisi Matahari di kubah langit jam 10 – 11 WIB); sementara tumiling artinya mendengarkan dan memandang dengan sungguh-sungguh serta tidak terkait dengan Matahari.

 

Akulturasi Budaya

Terlepas dari itu semua, bahwa istilah di atas terasa kental dengan banyaknya nama Sanskrit. Harus diakui bahwa ada akulturasi budaya antara India (Hindu) dan budaya Nusantara, khususnya Jawa (bagian Tengah) yang biasa disebut budaya Hindu-Jawa. Juga banyaknya persamaan antara budaya Jawa ini dengan budaya di Bali. Pengaruh India di Jawa kemungkinan berawal sejak 14 Maret 78 M. Hal ini berkait dengan kisah tentang kedatangan rombongan pertama dari India ke Jawa Tengah. Saat itu India diperintah oleh raja Kaniska, sementara rombongan ke Indonesia dipimpin oleh Aji Saka. Kedatangan pertama mendarat di daerah Jawa Tengah bagian utara, yaitu daerah Rembang. Tabel di bawah, sekedar sedikit dari sekian banyak contoh yang menunjukkan adanya akulturasi dalam hal penamaan benda langit yang cukup populer di masyarakat Jawa dan Bali, yaitu yang terkait Zodiak:

 

1

GEMINI

 

Sanskrit: MITHUNAM

Yogyakarta: LUMBUNG (tempat simpan beras) atau ASUJI (terkait mangsa katiga atau musim ketiga)

Solo: MIMI MINTUNA (Belangkas jantan dan betina, kadang disebut ketam/kepiting ladam – horseshoe crab; karakter: musim basah dan berangin berdasar Lintang Respati Jupiter – atau yang mirip julukan untuk Matahari adalah Lintang Wrahaspati yang bersanding dengan Batara Guru)

Bali: MITHUNA

2

CANCER

 

Sanskrit: KARKADAM

Yogyakarta: WULUH atau YUYU atau KARTIKA (Lintang Wuluh adalah Lintang Puyuh. Wuluh berarti buluh atau bentukan silinder seperti laras, bentukan mirip batang bambu. Sementara kalau dibahasakan sebagai batang akan mengacu pada kata Wulih dalam bahasa Jawa Kawi. Puyuh berarti burung puyuh. Yuyu sama dengan karkatha/kalakata, kepiting. Ada pendapat Lintang Wuluh adalah Lintang KartikaPleiades. Kartika juga terkait mangsa ke 4.)

Solo: URANG (REKATHA/Mangkara: ketam/udang; karakter: musim basah lokal berdasar Lintang Sukra Venus)

Bali: REKATA

 

Lukisan Mimi Mintuna (Belangkas jantan dan betina, kadang disebut ketam/kepiting ladam – horseshoe crab) yang terdapat di langit-langit Pendapa Ageng di istana Mangkunegaran - Solo. Credit: Sawitar, Doni, Mahesa.

 

Keunikan lainnya, bahwa di dua daerah ini, Solo – Yogyakarta dan sekitarnya, dari sekian jumlah nama Matahari tersebut di atas rupanya sebanding dengan jumlah nama untuk Bulan. Kemungkinan bahwa adanya konsep pasangan antar keduanya dianggap menjadi spirit tersendiri. Hal ini nyatanya hampir merata di budaya Nusantara. Sebut semisal pada Suku Lio di Selaru (Hola-Sou: Bulan-Matahari), Aru/Tanimbar/Kei dikenal konsep Dewa Langit (Matahari), Dewi Bulan, dan Dewi Bumi ataupun istilah Duad Ler Wulan (atas dasar waktu Bulan). Di Flores ada Mori Meze (Dewa Langit) dan Nitis (Dewi Bulan), di Timor ada Hama Maromak (Bapak Terang/Matahari) dan Ina Maromak (Ibu Terang/Bulan). Di wilayah timur Nusantara lainnya dikenal pasangan Lera-Wulan, Rena-Wulan, War-Wur (Matahari–Bulan), dan masih banyak lagi kisah seputar nama Matahari (dan tentu saja Bulan, dan semoga penulis dapat mengulasnya pada masa mendatang) di Indonesia.

Materi di atas pun masih sangat jauh dari tuntasnya penelusuran kosakata yang ada dalam kamus yang penulis cantumkan di daftar pustaka, bahkan mungkin sebatas mimpi dalam mimpi untuk merajut itu semua. Namun, yang bukan mimpi adalah harapan kepada kaum muda untuk menelusuri ranah budaya seperti yang menjadi topik di atas. Minimal melihat suatu cabang ke-ilmu-an seperti Astronomi yang tidak melulu terkait perhitungan Matematika dan Fisika semata seperti yang biasa diperlombakan semisal di ajang OSN, lebih jauh lagi ke-kedalaman-nya. Semoga. Wartya Wiyata Wicitra Witya Wintang Widik Widik. Salam Astronomi. -WS-

 

Daftar Pustaka

Sawitar, W., 2005, Constellations: In the Time Scale of the Cultures, in W. Sutantyo, P. W. Premadi, P. Mahasena, T. Hidayat and S. Mineshige (eds), Proceedings of the 9th Asian-Pacific Regional Meeting, p.328-329

Sawitar, W., 2008, Constellations: The Ancient Cultures of Indonesia, in Shuang-Nan Zhang, Yan Li, Qingjuan Yu, and Guo-Qing Liu (eds), Proceedings of the 10th Asian–Pacific Regional IAU Meeting 2008, China Science & Technology Press, Beijing, p.409-410

Sawitar, W., 2016, EtnoAstronomi dalam Astronomi Budaya Nusantara, Makalah pada Kuliah Umum di FMIPA Universitas Tadulako – Palu – Sulawesi Tengah (07/03/2016) dalam rangka Pelatihan Astronomi dan Astrofisika Gerhana Matahari Total 2016

Beberapa sisipan materi diambil juga dari makalah dan diskusi yang telah disampaikan pada Seminar Astronomi dalam Budaya Nusantara (SINDARA) di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (30/05/2015) dan Kuliah Umum di FMIPA ITB Bandung (30/09/2015)

 

Kamus yang digunakan:

Alwi, H. et al, 2005, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Balai Pustaka, Jakarta

Echols, J.M. dan H. Shadily, 1996, Kamus Inggris – Indonesia (cetakan xxiii), Gramedia, Jakarta

Maharsi, 2012, Kamus Jawa Kawi Indonesia, Pura Pustaka, Yogyakarta

Padmosoekotjo, S., 1967, Sariné Basa Djawa (cetakan ii), P.N. Balai Pustaka, Jakarta

Prawiroatmodjo, S., 1991, Bausastra Jawa – Indonesia, Gunung Agung, Jakarta

Suparlan, Y. B., 1988, Kamus Kawi – Indonesia, Penerbit Kanisius, Yogyakarta

Winter Sr, C. F. dan R. Ng. Ranggawarsita, 1990, Kamus Kawi – Jawa, Gadjah Mada Univ. Press

Wehmeier, S., 2000, Oxford Advance Learner’s Dictionary, 6th Edition, Oxford Univ. Press, Oxford

 

Situs:

Encyclopaedia Britannica

Wikipedia – the Free Encyclopedia