User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Pada malam yang cerah dapat diamati beraneka benda langit secara kasat mata. sang Surya, taburan bintang, sang dewi malam, si pengembara, sesekali bintang jatuh, dan yang relatif jarang tampak si bintang berekor. Dengan bantuan alat optis seperti kékeran (binokuler) atau teropong bintang (téléskop) ternyata dapat terlihat lebih banyak lagi bintang, bahkan bentukan kawah di Bulan, rupa fase wajah Bintang Kejora, pengiring sang pengembara, dan banyak benda langit lainnya.

Pada pelajaran di sekolah dari tingkat SD hingga SMA, sudah diperkenalkan ragam benda langit seperti Tata Surya yang dipimpin oleh sebuah bintang bernama Matahari dengan diiringi para anggotanya. Anggota utama dikenal sebagai planet sang pengembara yang senantiasa mengelana di lautan bintang, yang lalu diketahui sebagai benda yang mengedari Matahari. Kebanyakan planet ini diiringi benda langit yang mengelilinginya yang disebut satelit. Selain itu terdapat bintang jatuh yang populer disebut meteor, juga sesekali terlihat bintang berekor yang lazim disebut komet. Kini juga dikenal adanya planet kerdil (dwarf planet), planet kecil (minor planet atau asteroid), dan banyak benda kecil lainnya yang diketahui selepas abad 20 (mulai kisaran tahun 2006, saat Pluto diganti statusnya dari planet menjadi planet kerdil).

 

Observasi Awal

Susunan atau posisi bintang di kubah langit kalau diamati ternyata tidak berubah walau mereka semua bergeser dari cakrawala timur lalu menuju ufuk barat, kemudian terbenam. Inilah yang akhirnya membuat nenek moyang kita maupun leluhur masyarakat di ragam budaya dunia membagi kubah langit ke dalam 88 wilayah langit yang kini disebut 88 rasi bintang atau konstelasi. Diantaranya terdapat 12 rasi bintang yang akrab dikaitkan dengan kelahiran kita yang disebut Zodiak (sejatinya kini ada 13 rasi bintang di Zodiak). Bila lebih cermat, maka sebagian besar anggota Tata Surya tersebut di atas ternyata mengembara di Zodiak. Hal ini telah diketahui sejak sebelum era masehi.

Selain itu, masyarakat jaman dahulu menganggap mereka semua bergerak mengedari Bumi, menjadi pusat alam semesta. Konsep ini dikenal sebagai konsep geosentris. Tokohnya yang menonjol adalah Ptolemy (abad 2 M).

 

Heliosentris

Bersamaan dengan kemajuan iptek Astronomi khususnya dalam peranti Matematika dan Fisika, Nicolaus Copernicus (1543) dengan pendapat heliosentris-nya dapat dijadikan tonggak sejarah. Dapat dianggap penelitian secara sistematis tentang dinamika orbit benda di Tata Surya dimulai. Paham heliosentris sebenarnya telah ada sejak Aristarchus (Samos, abad 3 SM), namun tidak banyak ditanggapi (walau saat Copernicus pun bahwa Matahari masih dianggap pusat alam semesta, bukan pusat Tata Surya. Artinya, bintang pun bergerak mengedari Matahari).

Kemajuan penelitian terhadap keluarga Matahari selanjutnya dipelopori Tycho Brahe, juga Johannes Kepler yang terkenal dengan Hukum Peredaran Planet atau Hukum Kepler. Keduanya juga berhasil mengamati fenomena langit yang disebut supernova (ledakan bintang) sedemikian dikenal adanya supernova Tycho (1572) dan supernova Kepler (1604). Kedua ledakan bintang ini sangat cemerlang sedemikian dapat dilihat secara kasat mata tanpa alat bantu apapun (terakhir fenomena seperti ini terjadi pada supernova SN1987A).

 

Gambar 1. Konsep Copernicus

Illustrasi dari buku Harmonia Macrocosmica (1660), karya Andreas Cellarius (1596-1665) berkebangsaan Belanda/Jerman. Illustrator: Frederik Hendrik van den Hove dan Johannes van Loon. (Ref.: Wikipedia the free Encyclopedia)

 

Pasca Galileo

Sejak era teleskop oleh Galileo tentu membuka cakrawala baru. Penemuannya akan adanya 4 satelit Jupiter dapat disebut turut mendukung konsep heliosentris. Termasuk pengenalan terhadap lautan bintang yang begitu rapat padat di awan putih seperti selendang yang di Indonesia dikenal sebagai Bima Sakti, juga penampakan tahapan bentuk sabit planet Venus Si Bintang Kejora.

 

Gambar 2. Keluarga Matahari

Credit: Photojournal/NASA/JPL

 

Secara perlahan setelah aneka pembuktian[1], maka pemahaman konsep heliosentris semakin lengkap. Ini menggiring pada kesimpulan bahwa Matahari sebagai pusat Tata Surya dengan segala wujud anggotanya, sementara bintang-bintang tidak lain adalah benda-benda langit seperti Matahari yang terletak nun jauh di segenap pelosok alam raya.

 

Penemuan demi penemuan terus terjadi. Huygens dan Cassini mencoba merumuskan gaya tarik menarik antar benda langit, serta meneliti keberadaan cincin planet Saturnus. William Gilbert pun menganalisis gaya yang mengatur pergerakan benda langit. Sampai pada saatnya, Newton berhasil menyempurnakan gagasan tersebut dalam teori gravitasinya, Halley mencoba menghitung orbit komet, Piazzi menemukan asteroid[2]. Ini mendorong penemuan lain. Herschel dengan dunia barunya planet ke 7 Uranus (1781), tiga serangkai Adam (Inggris) – LeVerrier (Perancis) – Galle (Jerman) menemukan planet ke 8 Neptunus (1845–6). Sementara pada abad 20, tepatnya tahun 1930, Tombaugh menemukan planet ke 9 Pluto yang tidak lepas dari kepeloporan perhitungan matematis oleh Lowell dan Pickering 15 tahun sebelumnya[3].

 

Ragam Kategori

Perkembangan studi ke-planet-an terus berlangsung sampai akhirnya mulai timbul pertanyaan tentang status Pluto. Bahkan tahun 1990-an telah dibentuk komisi khusus yang berkaitan dengan Pluto. Lebih dipicu lagi dengan benda langit temuan Mike Brown (Caltech), Chad Trujillo (Gemini Observatory), and David Rabinowitz (Yale University) yang diberi indeks 2003UB313 atau Xena (Eris) dengan diameter sekitar 2400 km (Pluto hanya 2300 km). Termasuk juga penemuan obyek 2003EL61 dan 2005FY9. Akhirnya, (ini berkaitan pula dengan salah satunya, yaitu sifat orbit Pluto yang unik) pada bulan Agustus 2006 Sidang Umum International Astronomical Union (IAU) ke 26 yang berlangsung di Praha memutuskan bahwa Pluto bukan lagi sebagai planet, namun dikategorikan sebagai planet kerdil (Indonesia juga mengirim wakilnya dalam pertemuan tersebut).

 

Sifat Planet

Kembali kita bahas planet. Kini atas dasar sifat fisik dikenal ada planet kebumian (mirip Bumi) atau terrestrial planet, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars; dan planet gas raksasa (planet keluarga Jupiter atau Jovian planets), yaitu Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus. Ukuran planet kebumian kecil, rapat massa besar, permukaan padat kecuali Bumi yang 2/3 wajahnya tertutup lautan, satelitnya sedikit bahkan ada yang tidak punya, dan atmosfernya tipis bahkan ada yang tuna-atmosfer. Planet gas raksasa berukuran besar, terbuat dari gas padat hingga tidak ada daratan – lautan di permukaan, atmosfernya tebal, kerapatannya kecil bahkan Saturnus lebih kecil dari air (Bila ada wadah berisi air yang dapat menampung Saturnus, maka planet ini akan mengapung), semua bercincin, dan satelitnya banyak.

Atas dasar posisi lintas orbitnya dikenal planet inferior (Merkurius, Venus), dan planet superior (Mars s.d. Neptunus). Bumi tidak masuk keduanya karena Bumi batasannya. Tapi ada penggolongan berdasar posisi asteroid. Dikenal inner planet (Merkurius s.d. Mars) dan outer planet (Jupiter s.d. Neptunus). Dengan demikian, inner planet identik dengan planet kebumian dan outer planet sama dengan planet Jovian. Mengamati Merkurius s.d. Saturnus dapat dengan mata biasa. Uranus dan Neptunus baik diamati dengan binokuler/teleskop, karenanya disebut telescopic planet. Sebenarnya, inipun tidak mudah karena tersamar dengan bintang-bintang.

 

TABEL 1.

Besar massa dan isi/volume dibandingkan dengan Bumi.

Massa Bumi ditulis = 1, yaitu 6 x 1024 kg dan volume Bumi = 1, yaitu 1,08 x 1027 cm3

Periode rotasi = periode rotasi sideris (acuan bintang); notasi h = hari, j = jam, m = menit, s = detik.

Nama Planet

Massa (Bumi = 1)

Diameter Ekuator (km)

Isi/Volume (Bumi = 1)

Periode Rotasi

Gravitasi Permukaan (cm/s2)

Temperatur (0C)

Merkurius

0,055

4.878

0,056

58,646 h

363

- 180 – 400

Venus

0,815

12.102

0,880

243 h

860

450 – 484

Bumi

1,000

12.756

1,000

23j 56m 4s

978,049

- 88 – 55

Mars

0,107

6.794

0,152

24j 37m

374

- 128 – 24

Jupiter

317,950

142.796

1.338

9j 53m

2.590

- 140

Saturnus

95,200

120.660

766

10j 25m

1.130

- 160

Uranus

14,600

50.800

60

17j 14m

1.040

- 180

Neptunus

17,200

48.600

57

16j 6m

1.400

- 200

 

TABEL 2.

Notasi arah rotasi planet: B – T (Barat ke Timur, seperti Bumi), sebaliknya T B.

Notasi periode revolusi: h = hari, t = tahun.

Nama Planet

Arah Rotasi

Periode Revolusi

Eksentisitas (notasi e)

Kecepatan Revolusi (km/detik)

Inklinasi Orbit terhadap Ekliptika

Merkurius

B – T

87,97 h

0,2056

47,89

70 0’

Venus

T – B

224,68 h

0,0068

35,04

30 24’

Bumi

B – T

365,25 h

0,0170

29,80

00

Mars

B – T

 686,98 h

0,0930

24,14

10 51’

Jupiter

B – T

11,86 t

0,0483

13,06

10 18’

Saturnus

B – T

29,46 t

0,0560

9,64

20 29’

Uranus

T – B

84,07 t

0,0460

6,80

00 46’

Neptunus

B – T

164,81 t

0,0090

5,43

10 46’

 

Catatan untuk tabel:

Eksentrisitas (notasi e) adalah ukuran kelonjongan bentuk lintasan, yaitu lingkaran (e = 0), ellips (0 < e < 1). Jadi, bila e makin dekat nol, bentuk lintasan mendekati lingkaran. Pluto unik karena nilai e besar dan membuatnya sejak 28 November 1978 hingga 12 Mei 2000 jarak ke Matahari lebih dekat dibandingkan dengan Neptunus. Jadi Pluto urutan ke 8, Neptunus ke 9 yang hal ini juga menjadi satu alasan Pluto tidak lagi dianggap planet. Pertukaran tempat antara planet kerdil Pluto dan planet Neptunus akan terjadi lagi tahun 2227 (Catatan: perihelion Pluto 4.436,3 juta km dan aphelion 7.382,8 juta km). Sementara itu, arah revolusi semua planet sama, dilihat dari atas berlawanan arah jarum jam. Kecepatan revolusi pada tabel adalah harga rata-rata dan makin dekat ke Matahari makin cepat. Hal ini tidak lepas dari kuatnya gravitasi Matahari. Jadi makin dekat ke Matahari, agar planet tidak jatuh ke Matahari, maka kecepatan edarnya harus makin tinggi. Tentang gerak edar dan planet dapat terus beredar pada posisinya mungkin ibarat ketika kita memegang ember berisi air lalu kita putar vertikal. Bila cepat, air tidak tumpah. Kalau makin lambat, tentu kita akan basah kuyup karena air di ember akan tumpah. Kalau terlalu cepat, dapat jadi embernya malah terlempar. Demikian juga planet, tarikan Matahari terhadap Merkurius paling kuat. Jadi, agar dia tidak jatuh ke Matahari kecepatan edarnya harus tinggi sesuai besar massanya.

 

TABEL 3. Data Satelit

(catatan: jarak adalah jarak rata-rata)

(ref.: Situs MPC – IAU dan wikipedia)

No.

Nama Planet

Jarak ke Matahari (juta km)

Jarak ke Matahari (s.a)

Jumlah Satelit

Nama Satelit

01.

Merkurius

58

0,3871

0

 

02.

Venus

108

0,7233

0

 

03.

Bumi

150

1

1

Bulan.

04.

Mars

225

1,5237

2

Phobos, Deimos (Asaph Hall, AS, 1877)

05.

Jupiter

778

5,2026

67

Metis (Synott, AS, 1973),

Adrastea (Jewitt/Danielson, AS, 1979),

Amalthea (Barnard, AS, 1892),

Thebe (Synott, AS, 1979),

Io – Europa – Ganymede – Callisto (Galileo, Italia, 1610),

Leda (Kowall, AS, 1974),

Himalia (Perrine, AS, 1904),

Lysithea (Nicholson, AS, 1938),

Elara (Perrine, AS, 1905),

Ananke (Nicholson, AS, 1951),

Carme (Nicholson, AS, 1938),

Pasiphae (Mellote, Inggris, 1908),

Sinope (Nicholson, AS, 1914),

Callirrhoe , Themisto, Megaclite, Taygete, Chaldene, Harpalyke, Kalyke, Iocaste, Erinome, Isonoe, Praxidike, Autonoe, Thyone, Hermippe, Aitne, Eurydome, Euanthe, Euporie, Orthosie, Sponde, Kale, Pasithee, Hegemone, Mneme, Aoede, Thelxinoe, Arche, Kallichore, Helike, Carpo, Eukelade, Cyllene, Kore, Herse, S/2010 J1, S/2010 J2, Dia, S/2003 J2, J3, J4, J5, J9, J10, J12, J15, J16, J18, J19, J23, S/2011 J1 – J2.

06.

Saturnus

1.423

9,5547

62

Pan (Showalter, AS, 1990),

Atlas (Terrile, AS, 1980),

Prometheus, Pandora, Epimetheus,

Janus (Dollfus, Perancis, 1966),

Mimas – Enceladus (Herschell, Inggris, 1789),

Tethys (Cassini, Perancis, 1684),

Telesto,

Calypso (Smith, AS, 1980),

Dione (Cassini, 1684),

Helene (Laques/Lacacheux, Perancis, 1980),

Rhea (Cassini, 1671),

Titan (Huygens, Belanda, 1655),

Hyperion (Bond, AS, 1848),

Iapetus (Cassini, 1671),

Phoebe (Pickering, AS, 1898),

Ymir, Paaliq, Tarvos, Ijiraq, Suttungr, Kiviuq, Mundilfari, Albiorix, Skathi, Erripus, Siarnaq, Thrymir, Narvi, Methone, Pallene, Polydeuces, Daphnis, Aegir, Bebhionn, Bergelmir, Bestla, Farbauti, Fenrir, Fornjot, Hati, Hyrrokkin, Kari, Loge, Skoll, Surtur, Anthe, Jarnsaxa, Greip, Tarqeq, Aegaeon, S/2004 S7, S12, S13, S17, S/2006 S1, S3, S/2007 S2, S3, S/2009 S1.

07.

Uranus

2.867

19,218

27

Cordelia, Ophelia, Bianca, Cressida, Desdemona, Juliet, Portia, Rosalind, Belinda, Puck,

Miranda (Kuiper, AS, 1948),

Ariel – Umbriel (Lassel, Inggris, 1951),

Titania – Oberon (Herschel, Inggris, 1787),

Caliban – Sycorax (Gladman/Nicholson, Canada/AS, 1997),

Prospero – Setebos – Stephano (Gladman / Petit-Kavelaars-Holman, Perancis/Canada/AS, 1999),

Trinculo, Francisco, Margaret, Ferdinand, Perdita, Mab, Cupid.

08.

Neptunus

4.488

30,1096

14

Naiad, Thalassa, Despina, Galatea, Larissa, Proteus,

Triton (Lassel, Inggris, 1846),

Nereid (Kuiper, AS, 1949),

Halimede, Psamathe, Sao, Laomedeia, Neso, S/2004 N1

 

Meteor

Sambil menikmati terbit terbenamnya benda langit pada malam hari, yang sebenarnya akibat rotasi Bumi, kita berharap melihat meteor walaupun kebanyakan sangat redup dilihat dengan kasat mata. Makin sulit dilihat apabila tempat kita mengamat di daerah yang tingkat polusi udara dan polusi cahaya (akibat terang cahaya khususnya lampu–lampu perkotaan) sangat tinggi seperti kota Jakarta. Julukannya bintang jatuh, bintang berpindah, lintang andaru, bahkan bintang hantu. Penampakannya layaknya bintang yang bergerak sangat cepat. Seringnya, sebelum kita sempat sadari kemunculannya, bendanya sudah menghilang. Kadang, walau sangat jarang, tampak cukup besar dan cemerlang serta relatif perlahan geraknya (bolide meteor atau fireball). Meteor berasal dari materi antar planet (sebut: meteoroid), baik berukuran besar maupun kecil. Bila tertarik oleh Bumi, meteoroid ini akan jatuh dengan terlebih dahulu menembus atmosfer sambil bergesekkan dengan materi di angkasa, menjadi panas akhirnya terbakar. Proses terbakarnya dimaklumi karena meteor jatuh dengan kecepatan tinggi, 30 hingga 60 km/s. Saat terbakar dan terlihat oleh kita, itulah yang dikenal sebagai meteor. Kebanyakan habis terbakar. Bila ukuran besar, kadang tidak habis dan dapat mencapai Bumi. Sisa meteor ini disebut meteorit. Salah satunya adalah meteor yang jatuh di Tambak Watu – Pasuruan Jawa Timur (Meteorit Tambak Watu). Kini disimpan di ruang pameran Planetarium dan Observatorium Jakarta.

 

Komet

Kadang, bahkan relatif amat jarang – tampak benda langit yang dijuluki oleh nenek moyang kita sebagai bintang berekor, bintang sapu, bintang berasap, lintang kemukus yang tidak lain adalah komet (Lihat artikel Komet: Sang Pengelana dari Tepian Tata Surya). Tidak seperti meteor yang nyaris setiap malam dapat terlihat, kemunculan komet sangat jarang. Penampilannya juga memiliki citra kabur, tidak seperti titik cahaya bintang atau planet. Terakhir yang cemerlang dan kasat mata adalah komet Hale-Bopp tahun 1995. Yang sangat terkenal adalah komet Halley yang setiap rata–rata 76 tahun sekali terlihat.

 

Gambar 3. Comet C/2012 S1 (ISON)

Saat dipotret teleskop Hubble (09/10/13), komet berjarak 1,49 a.u. dari Matahari dan 1,91 a.u. dari Bumi. Inti yang dilingkupi materi yang sangat terang sukar terlihat. Yang jelas strukturnya adalah daerah coma (cenderung biru terdiri unsur dominan gas) yang melingkupi inti, serta ekornya (cenderung merah karena bulir debu). Jarak terdekatnya ke Bumi terjadi tanggal 26 Desember 2013 (63,8 juta km). Credit: NASA, ESA, and the Hubble Heritage Team (STScI/AURA.

 

Komet berasal dari daerah tepian Tata Surya yang dikenal sebagai Awan Oort, juga dari Sabuk Kuiper dan Sabuk Asteroid. Berawal dari bongkahan batu dan es kotor (es terdiri dari aneka macam unsur), berukuran relatif kecil hingga kisaran 40 km. Ketika mendekati Matahari, terpanasi dan terjadilah proses penguapan dan sublimasi (padat menjadi gas). Semakin dekat Matahari, akibat dorongan tekanan radiasi Matahari dan Angin Matahari (Solar Wind), sebagian materi komet terdorong menjauhi Matahari. Terbentuklah ekor yang kadang mencapai ratusan juta km. Bila dekat Bumi, maka tampak seolah benda ini berekor. Penampakan ekor sebenarnya bergantung posisinya. Kalau kita dapati pemandangan dari depan, maka ekor tidak terlihat. Kalau dari samping, barulah tampak. Apabila Bumi memasuki materi hamburannya yang memenuhi jejak lintasannya, atau bahkan masuk ekor komet, biasanya terjadi hujan meteor.

 

Pembentukan Tata Surya

Selama ini bidang kosmogoni berusaha menelaah terbentuknya tata bintang, namun lambat laun mengarah pada penelitian terbentuknya Tata Surya. Terdapat beberapa tokoh yang menonjol, yang terkadang menimbulkan pertentangan namun pada akhirnya saling menunjang satu sama lain.

Diawali Descartes (1644), Tata Surya terlahir dari adanya pusaran gas, Comte de Buffon (abad 18) menyatakan Tata Surya lahir akibat tumbukan komet dengan Matahari, Kant – Laplace (1755 – 1796) dengan Teori Kabut atau materi antar bintang, Moulton abad 20 dengan Teori Pasang Surut. Lainnya, RusselLyttletonHoyle dengan Teori Bintang Ganda atau Bintang Majemuk yang salah satunya meledak lalu terbentuk planet dan anggota lainnya.

Teori pembentukan Tata Surya yang dianggap mapan baru setelah era Kuiper tahun 1950. Bahkan teori ini, pada saat sekarang dapat diperiksa ulang tatkala para astronom berhasil menemukan banyak cikal bakal atau janin bintang (protostar) di segenap pelosok Jagad Raya melalui wahana antariksa.

Salah satu penemuan cikal bakal tata surya dalam ujud cakram materi yang berpusar adalah obyek langit bernama Beta Pictoris. Lokasinya di arah rasi bintang Pictor, berjarak 63 tahun cahaya. Pertama dideteksi berbasis Satelit Inframerah (IRAS, 1983). Diketahui temperatur daerah piringan gas dan debu ±100 K dan berjejari 600 satuan astronomi (au). Gambaran piringan berhasil dicitrakan lebih rinci oleh Richard Terrile dan Bradford Smith dengan teleskop landas bumi, berdiameter 2,5 m di Observatorium Las Campanas. Saat itu diketahui bahwa bintang ini tergolong bintang deret utama (kelas spektrum: A3V) dengan prakiraan usia ±100 juta tahun (Matahari kisaran 5 milyard tahun). Secara kasat mata, bintang ini tergolong cukup terang dengan magnitudo visual sekitar 3,85.

Baik teori Descartes, Kant, Laplace, maupun Kuiper pada dasarnya mirip. Namun, Teori Kuiper dianggap paling lengkap. Penemuan kisaran 2.000 Extra Solar Planet pun dapat menjadi ujian bagi kesahihan teori tersebut.

 

Gambar 4. Protobintang

Hasil bidikan teleskop angkasa Spitzer (berbasis inframerah) terhadap  bintang LRLL 31, berjarak kisaran 1000 tahun cahaya di daerah IC348 arah rasi bintang Perseus, memapankan teori pembentukan tata bintang layaknya Tata Surya, khususnya terkait Teori Kuiper. Credit: NASA/JPL-Caltech

 

Kini ada argumen lain yang terdiri dari 4 teori, yaitu Teori Proto-Planet (McCrea/1988 – belum sahih secara dinamika Tata Surya), Teori Laplace Modern (Cook/1977 dan Prentise/1989, prediksi adanya satelit-satelit Neptunus terbukti benar bahkan sesuai rumusan Titius-Bode yang digulirkan tahun 1772 dan juga termasuk dalam hal kelimpahan unsur di Tata Surya), Solar Nebula Theory (mirip Planetesimal namun berbasis analisis unsur meteorit; termasuk kesimpulannya bahwa hadirnya Extra Solar Planet adalah sesuatu yang sangat wajar), Capture Theory (berlandas acu tidal mechanism, gravitational instability, collision) yang landasannya adalah hadirnya materi antar bintang yang mengalami shockwave atau gelombang kejut dari supernova yang berada didekatnya.

 

Matahari

Ketika saatnya pagi menjelang, langit mulai memerah kemudian terbitlah Matahari. Kubah langitpun menjadi terang berwarna biru yang sebenarnya akibat hamburan cahaya Matahari. Andai Bumi tidak punya atmosfer, tentu akan berbeda. Kubah langit pun tetap gelap layaknya malam. Matahari dapat tampak bersama bintang dan yang lainnya. Matahari dijuluki kepala keluarga Tata Surya sekaligus bintang terdekat dengan kita semua. Sebagai bintang, tergolong berwarna kuning. Jaraknya ±8,2 menit cahaya (1 au, atau 150 juta km). Badannya luar biasa besar, ±1.300.000 Bumi dapat ditampungnya. Kecerlangannya ibarat lampu dengan daya 400 trilyun-trilyun watt. Betapa besar peran Matahari sebagai sumber energi di Bumi.

Permukaan Matahari ternyata tidak selalu putih mulus seperti yang tampak. Wajahnya kadang dihiasi bintik-bintik hitam (sunspot). Mengapa dapat bercahaya? Kini diyakini dipusatnya terjadi pembangkitan energi nuklir (daur hidrogen atau reaksi proton-proton) dengan temperatur sekitar 15 juta 0C. Sebagian dilepas keluar hingga ke permukaan, dan energi ini masih sanggup membuat permukaan Matahari cukup panas, ±6.000 0C. Sebagian energi (termasuk dalam bentuk cahaya visual) diteruskan hingga ke tepian Tata Surya termasuk melewati Bumi.

 

Gambar 5. Wajah Lain Matahari

Dengan “kacamata” berbeda, maka wajah Matahari pun tampak tidak seperti yang sehari-hari kita saksikan. Hasil dari peranti NASA, Solar Dynamics Observatory (SDO), terlihat adanya busur-busur materi sebagai dampak hadirnya medan magnet yang sangat kuat (flux rope) pada daerah ledakan (coronal mass ejections – CMEs, yang sangat terang pada gambar). Ini untuk pertama kali para ahli dapat merunut prosesnya dengan presisi waktu yang tinggi (data 19 Juli 2012). Credit: NASA/Goddard Space Flight Center/SDO

 

Masa Depan

Kini dengan kemajuan teknologi wahana antariksa, penemuan demi penemuan terus berlangsung. Ragam benda di Tata Surya yang ber-klasifikasi baru pun menambah khazanah pengetahuan yang semakin luas.

Penampakan mereka beserta fenomenanya secara teratur, berkala atau periodik menyebabkan kita kenal konsep waktu. Tempat di mana kita melakukan pengamatan atau observasi memberi gambaran yang bersifat relatif tentang posisi. Tempat berbeda memberi pemandangan yang berbeda. Ada yang mengalami siang hari, sementara di belahan lain bertudung langit malam. Wajah langit di khatulistiwa (ekuator) pun berbeda, misal kita pergi ke arah Kutub Selatan atau Kutub Utara. Konsep posisi pengamatan atau ruang pun menjadi penting.

Konsep ruang–waktu menggiring kita dalam mengerti sifat dan gerak benda langit juga dampaknya. Misal rotasi Bumi sebagai penyebab siang–malam. Revolusi Bumi melahirkan kalender dan musim. Selain fenomena Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan, maka dikenal pula Gerhana Planet ataupun Gerhana Bintang yang lebih lazim disebut fenomena okultasi.

Sebenarnya masih sangat banyak lagi ragam fenomena yang terjadi ketika kita mencoba membaca wajah langit dalam ruang-waktu demi sezarah kesejatiannya. Faktanya, kumpulan data yang diperoleh baru sedikit yang berhasil diolah. Masih banyak data menanti untuk diteliti. Berharap dengan makin majunya iptek, juga jaringan kerjasama, tentu rasa optimis untuk menambah wawasan sesedikit apapun tentang Tata Surya serta segenap aspeknya dapat dikedepankan pada generasi mendatang, semoga. Salam Astronomi. –WS–

 

Daftar Pustaka

Darling, D., 2004, The Universal Book of Astronomy, John Wiley & Son, New Jersey

Dasch, P. (ed.), 2002, Planetary Science and Astronomy – Space Science Volume 2, Macmillan Reference USA – Thomson Gale, New York, p.147-151 (Pluto by Robert L. Marcialis)

Maran, S.P., 1992, The Astronomy and Astrophysics Encyclopedia, Cambridge Univ. Press, New York – Cambridge. p.28-34, 39-51, 147-165, 308-313

Pasachoff, J. M., 1978, Astronomy: from the Earth to the Universe, Saunders Co., Philadelphia

Sawitar, W., 2016, Menjelajahi Tata Surya, Bahan Ajar Penyuluhan ke Sekolah tingkat SD, Planetarium dan Observatorium Jakarta

 

Situs

The International Astronomical Union – Minor Planet Center (IAU-MPC)

Wikipedia the free encyclopedia (untuk perbandingan data, dan bab Copernicus)

 

 

[1] Konsep heliosentris awalnya diragukan dan ditentang. Ada masalah yang harus dibuktikan, yaitu paralaks bintang. Bukti baru berhasil pada era Henderson (1832–1833, untuk bintang Alpha Centauri), von Struve (1837–1839, Alpha Lyrae), dan Bessel (1838, 61-Cygni).

[2] Yang ditemukan Piazzi tanggal 1 Januari 1801 adalah benda langit mirip planet hanya ukurannya kecil, 933 km. Disebut asteroid oleh Herschel (kini disebut planetoid, planet minor, atau planet kecil). Julukan asteroid terus dipakai walau artinya benda langit mirip bintang. Ternyata di antara MarsJupiter banyak dijumpai asteroid. Yang terbesar adalah temuan Piazzi, dinamai Ceres Ferdinandea (sebut: Ceres). Sejak 2006, Ceres dimasukkan pada kelompok planet kerdil (dwarf planet). Ceres tidak sendiri, lainnya Pluto, Eris, Makemake, Haumea.

[3] Kini banyak klasifikasi anggota Tata Surya baru. Ada TransNeptunian Objects, Centaurus Objects, Plutino, Kuiper Belt Objects, dll. Juga sempat muncul kandidat planet seperti Karla, Smiley, Quaoar, Varuna, Sedna; termasuk Xena (Eris) yang kini merupakan planet kerdil terbesar, juga planet kerdil Pluto yang tidak lagi dikategorikan sebagai planet.