User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive
 

Saat ini kubah langit malam kota Jakarta sudah tidak begitu indah, hal ini disebabkan karena sudah tercemar oleh lampu-lampu kota yang sangat terang, sehingga suasana malam hari pun layaknya seperti siang hari (polusi cahaya). Selain itu, kualitas udaranya pun semakin mengkhawatirkan (polusi udara). Namun, jika kita pergi agak jauh dari kota Jakarta, ke tempat yang tingkat polusinya rendah apalagi daerah yang masih asri serta tidak padat penduduknya, maka kita akan melihat pemandangan kubah langit yang sangat indah.

Ribuan kerlap kerlip pendaran bintang terpampang. Pemandangan inilah yang membuat sejak jaman dahulu para leluhur menjadikannya sebagai pedoman arah dan musim, baik bagi para nelayan, pengembara, juga para petani untuk menentukan kapan musim tanam dan masa panen, dll. Mungkin kalau berkenan sejenak merenunginya, tentu karya ciptaNya itu bukan sekedar untuk pemuas mata ataupun sekedar hiasan langit. Bahkan, mohon maaf, kaum tunanetra pada kancah internasional pun sudah mendapat tempat dalam mempelajari serta memahami benda langit dalam pendidikan Astronomi.

Kembali apabila kita melihat langit dengan cermat, nyatanya di kubah langit dapat disaksikan beragam benda selain bintang seperti Matahari, Bulan, planet, meteor, komet, dll. (Lihat artikel: Selintas Tata Surya). Pemunculan mereka dan ragam fenomenanya yang berulang secara teratur atau berkala menjadikan kita dapat mengenal dimensi waktu, yang selanjutnya menjadi penting dalam pengamatan fenomena alam secara umum di mana pun posisi kita berada.

Adapun planet sebagai benda langit akan tampak berpindah, bergeser di lautan bintang. Dimaklumi apabila dinamai planet (Yunani: planetes) yang artinya pengembara atau pengelana. Perubahan letaknya yang menunjukkan gerak balik atau retrograde yang dicermati Johannes Kepler akhirnya mendukung berlakunya konsep heliosentris Copernicus (Matahari sebagai pusat Tata Surya).

 

Gambar 1.

Delapan planet, disertai asteroid dan bintang berekor. Credit: Photojournal – NASA/JPL

 

Semua planet termasuk Bumi mengedari Matahari pada lintas orbitnya masing-masing dan praktis semua planet bergerak dalam satu bidang orbit. Ibarat keping uang logam, maka keping itulah tempat planet bergerak mengedari Sang Surya. Menurut Copernicus lintasan edar ini berbentuk lingkaran. Namun, dibuktikan oleh Kepler bahwa orbit itu bentuknya ellips dan Matahari berada di salah satu titik apinya. Bumi dan 7 planet lainnya bersama Matahari membentuk satu tatanan yang selanjutnya dikenal sebagai Keluarga Matahari atau Tata Surya. Adapun nama planet dimulai dari yang terdekat Matahari adalah sebagai berikut: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Sekarang selintas kita coba berkenalan dengan Matahari dan planet kebumian (terrestrial planet). Silakan simak juga artikel Selintas Tata Surya, khususnya tentang data fisik dan orbit planet.

 

1. Matahari

Matahari adalah kepala keluarga” Tata Surya, namun sekaligus merupakan sebuah bintang yang tidak jauh berbeda dengan bintang-bintang lainnya yang biasa tampak pada malam hari. Yang membedakan hanyalah jaraknya yang terdekat dengan Bumi dibanding bintang lainnya. Jarak MatahariBumi sekitar 150 juta km yang biasa didefinisikan sebagai 1 satuan astronomi (1 sa atau 1 au). Adapun diameternya ±1.400.000 km (Bumi ±12.750 km).

Cahayanya tampak putih cemerlang. Namun, setelah diamati dengan peranti khusus ternyata permukaan Matahari tidak seputih dan semulus seperti yang terlihat. Acapkali terdapat bintik hitam yang disebut sunspot dengan berbagai ukuran. Temperatur di pusatnya konon 15 juta 0C dan disinilah terjadi pembangkitan energi melalui proses nuklir. Dengan panas yang sedemikian hebat, maka terjadilah fenomena granulasi di permukaan Matahari (seperti sebaran gerak gelembung udara pada permukaan air mendidih). Sementara itu, yang biasa kita lihat sehari-hari adalah lapisan luar Matahari yang tebalnya hanya sekitar 500 km yang disebut fotosfer yang memancarkan cahaya menyilaukan mata. Banyak fenomena terkait aktifitasnya, termasuk ledakan di permukaan yang acap kali materinya dapat terhambur hingga ke tepian Tata Surya.

Apabila partikel dari Matahari singgah ke Bumi, kadang tebaran materi tersebut dapat mengganggu jaringan ke-listrik-an maupun komunikasi. Pada sisi lain, kadang menimbulkan sesuatu yang indah di langit, yaitu hadirnya cahaya warna warni (aurora) di daerah sekitar kutub Bumi. Sekedar peringatan bahwa jangan sekali-kali memandang Matahari secara berlama-lama secara kasat mata dan jangan pula melihatnya dengan alat optis seperti binokuler/kekeran ataupun teleskop tanpa filter yang aman. Sangat beresiko, bahkan dapat merusak penglihatan.

 

Tabel 1. Data Matahari

(Ref.: NASA, Wikipedia, Darling – 2004)

 Jarak rata-rata ke Bumi

149,6 juta km ≈ 150 juta km

Biasa disebut 1 satuan astronomi (1 sa/1 au)

Diameter ekuator (diameter linier)

1.391.400 – 1.392.000 km

Diameter sudut

31,6 – 32,7 menit busur

Saat Gerhana Matahari Total, diameter sudut Matahari = diameter sudut Bulan.

Kerapatan rata-rata

1,41 g/cm3

Kerapatan pusat

162,2 g/cm3

Gravitasi di ekuator

274 m/s2

Kecepatan lepas

617,7 km/s

Ibaratnya, bila kita dapat melompat melebihi kecepatan ini, maka kita dapat melepaskan diri dari permukaan Matahari. Bumi hanya 11,2 km/s.

Temperatur pusat

15,7 juta K

Temperatur permukaan

5772 – 5785 K

Temperatur korona

5 juta K

Bagian atmosfer terluar Matahari.

Luminositas

3,828 x 1026 watt

Usia

4,6 milyard tahun

Magnitudo semu (m)

Minus 26,74

Kecerlangan yang tampak dari Bumi. Kalau dibayangkan Matahari makin dekat, maka nilai ini semakin kecil. Kalau Matahari menjauh berpuluh kali, maka nilainya semakin besar atau Matahari semakin redup terlihat dari Bumi.

Magnitudo mutlak (M)

4,83

Kecerlangan sejatinya dilihat dari jarak 10 parsek (1 pc ≈ 3,2616 tahun cahaya ≈ 63.240 sa ≈ 9,5 x 1012 km).

Kelas spektrum

G2V

G mengindikasikan bintang cenderung berwarna kuning dan V (lima) berarti tergolong bintang deret utama (unsur dominan hydrogen)

Unsur

hydrogen (H) (73,46%);

helium (He) (24,85%);

Lainnya: oksigen (O), karbon (C), besi (Fe), neon (Ne), nitrogen (Ni), silicon (Si), magnesium (Mg), dll

Periode rotasi ekuator

24 hari 6 jam

Matahari adalah bola gas panas, jadi ada perbedaan kala rotasi antara ekuator dengan periode rotasi pada lintang ke arah kutubnya (di kutub 34 hari 9,6 jam).

 

Gambar 2.

Korona Matahari yang dapat disaksikan saat terjadi Gerhana Matahari Total (GMT). Foto di atas diabadikan saat GMT tanggal 9 Maret 2016 dari kota Palu. Bagian korona jauh lebih panas (jutaan derajat) dibandingkan permukaan Matahari (beberapa ribu derajat saja). (Credit: Ronny Syamara – Planetarium dan Observatorium Jakarta / HAAJ)

 

2. Merkurius

Dahulu kala pada era Yunani, planet ini memiliki 2 nama. Sebagai bintang pagi, julukannya Apollo dan sebagai bintang malam disebut Hermes (kurir para dewa) walaupun mereka akhirnya tahu bahwa 2 planet ini adalah sama. Saat era Romawi berganti nama menjadi Mercury yang juga merupakan kurir para dewa. Dalam mitologi, sebagai dewa, uniknya adalah dewa yang tangkas sekaligus ahli mencuri dan mencopet (kemungkinan karena geraknya di kubah langit yang cepat, termasuk penampakannya yang relatif singkat). Dalam budaya Babylonia, tokoh ini bernama Nabu dan dikenal sebagai dewa kebijaksanaan atau pengetahuan yang bersama istrinya Tashmetum mencipta tulisan. Sementara itu di Mesir, lebih dikenal sebagai dewa Thoth yang menciptakan tulisan hieroglyph. Saat Latin Middle Ages, dewa ini diketahui sebagai Mercurius termasuk yang ditemukan dalam beberapa bahasa di Eropa. Di Indonesia, diambil nama Merkurius.

Merkurius merupakan planet terdekat dari Matahari. Dengan eksentrisitasnya yang besar (e = 0.206, lintasannya ellips/lonjong) membuat jaraknya ke Matahari berubah antara 45,9 (perihelion) hingga 69,8 juta km (aphelion). Sementara itu harga a atau setengah sumbu panjang (semimajor) ellips kisaran 57 juta km. Yang dapat teramati dengan jelas apabila kita dapat berdiri di permukaannya adalah besar piringan Matahari yang berubah mengecil atau membesar. Matahari dapat terlihat hingga 2,5 kali ukuran yang biasa kita saksikan. Pergeseran titik perihelion planet ini tidak dapat dijelaskan dengan teori gravitasi Newton. Bahkan sempat muncul teori bahwa hal ini akibat adanya planet di antara Matahari dengan Merkurius sebagai pengganggunya, disebut Vulcan. Namun, akhirnya terpecahkan dengan hadirnya teori relatifitas Einstein.

Posisinya sangat dekat Matahari, maka cahayanya tenggelam oleh pancaran cahaya Sang Surya. Oleh karena itu, Merkurius sulit diamati. Hanya waktu-waktu tertentu saja kita dapat melihatnya, yaitu sesaat menjelang Matahari terbit dan sesaat setelah Matahari terbenam.

Kondisi tuna atmosfer, membuat permukaanya penuh dengan kawah akibat banyaknya tumbukan materi antar planet, yang kalau di Bumi terjadi fenomena meteor. Akibat lain ketiadaan atmosfer serta didukung dengan rotasinya yang lambat (58,65 hari) adalah temperatur siang hari dapat mencapai 425 0C dan malam menjangkau minus 180 0C. Pada permukaannya terdapat cekungan (basin) dengan dalam kisaran 5,38 km. Sementara dataran tingginya hingga mencapai 4,48 km. Adapun cekungan terbesarnya mencapai diameter 1.350 km, disebut Caloris Basin.

Planet ini tidak memiliki satelit, berbeda dengan Bumi yang mempunyai Bulan. Uniknya, periode edarnya hanya 87,97 hari, sebanding dengan periode rotasinya. Bandingkan Bumi yang periode rotasinya 1 hari (dengan acuan terhadap bintang, 23 jam 56 menit 4 detik) dan periode edarnya 365,25 hari.

Kendati dikatakan tuna atmosfer, akibat adanya sumbangan dari materi antar planet atau materi dari Matahari, maka acap terdeteksi materi yang seolah menjadi atmosfernya. Unsur dominan hidrogen. Lainnya: helium, neon, natrium, dan argon.

Planet ini telah dikunjungi oleh 2 misi antariksa. Pertama kali adalah Mariner 10 milik NASA. Pada tanggal 29 Maret 1974, wahana ini melakukan lintas-dekat (flyby) sejarak 704 km, berulang 21 September sejarak 48.069 km, serta terdekat tahun berikutnya pada jarak 327 km. Berhasil memetakan kisaran 45% detail permukaannya. Misi antariksa berulang dengan wahana Messenger (MErcury Surface, Space ENvironment, GEochemistry, and Rangingrobotic spacecraft buatan NASA).

Messenger diluncurkan tanggal 3 Agustus 2004 dengan roket Delta II dari Cape Canaveral. Sebelum mencapai Merkurius, wahana ini mampir flyby dahulu ke Bumi dan Venus (2 kali) sebelum akhirnya berhasil melakukan flyby dekat Merkurius sejarak 200 km tanggal 14 Januari 2008. Berulang 6 Oktober (200 km, perihermion) dan 29 September 2009 (228 km). Sejak tanggal 18 Maret 2011 sukses mengorbit (sebagai orbiter) sebelum akhirnya jatuh ke planet tersebut tanggal 30 April 2015, 3 tahun lebih lama dari rencana awal.

 

Gambar 3. Merkurius

Merkurius dipotret saat misi wahana antariksa Messenger mendekatinya (2013, Credit: NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Carnegie Institution of Washington)

 

3. Venus

Venus di kubah langit merupakan benda yang sangat terang, bahkan dapat disaksikan pada pagi hari sesaat setelah Matahari terbit atau sore hari sesaat Matahari hendak terbenam. Umum di Indonesia disebut Bintang Pagi atau Bintang Sore/Malam. Sebutan populer di Jawa Lintang Panjer Esuk/Sore. Benda langit yang dimaksud mereka sebenarnya bukan bintang, melainkan planet yang jaraknya sangat dekat dengan Bumi.

 

Gambar 4. Venus

Venus dipotret melalui wahana antariksa Magellan (1994, Credit: The Magellan mission is managed by JPL for NASA's Office of Space Science)

 

Tabel 2. Nama atau Julukan Venus dalam Ragam Budaya

(Ref.: Cornelius (2005), Maass (1924), situs Wikipedia)

Daerah

Venus

China

Tai-bai (the Great White; the Opener of Brightness), Chang-geng (the Excellent West One)

Romawi

Lucifer (Light-Bringer, Morning Star), Vesper (Evening Star), Venus

Yunani

Hesperus/Hesperos/Heosphoros (Evening Star), Phosphorus/Eosphorus (Morning StarBearer of Light; Bearer of Dawn)

Babylonian/Yunani

Ishtar/Aphrodite (Born of the Foam)

Amerika Tengah (Maya)

Quetzalcoatl (Morning Star)

Aceh

Bintang Thikurluëng/Thkureuëng ; Bintang Timu; Bintang Rusha; Bintang Pancuri

Sumatera Utara (Batak)

Bintang Perpola, Singkora; Bintang Sihapuhapu

Sumatera Barat (Minangkabau)

Bintang Zuhara (Lebih karena adaptasi nama Arab); Bintang Timur/Timua(r); Bintang Sulur/Sulua(r); Bintang Kajora; Bintang Babi (kemungkinan yang dimaksud adalah babi hutan); Bintang Barat.

 

Catatan:

Ada juga dalam catatan Maass (1924) sebutan dalam masyarakat Minangkabau, yaitu stern des morgengrauens (bintang fajar). Disebut sebagai Bintang Kasiangan.

Lampung

Bintang Jerlang

Mentawai

Bintang Sukat

 

Jawa

Lintang Joar/Johra/Zahara; Bentéung Juhara dan Bentéung Barat (Sunda); Bintang Johro (Madura); Bintang Suhara (Sumenep); Lintang Timur (Baduy); Lintang Panjer Rina/Esuk/Sore

 

(Catatan: banyak nama mirip Zuhara di Sumatera Barat; adaptasi nama Arab);

 

Ting Negara Landa (The Dutch’s Lantern) pada masa penjajahan Belanda.

Bali

Lintang Celeng (mirip Sumatera Barat: Bintang Babi); Lintang Sidamalung; Lintang (Bintang) Siyang; Lintang Pameneh

Timor

Fafel Momel (Bintang Pagi), Gfung-näno (Bintang Malam)

Buru

Metala

Kei

Teleowar (Bintang Pagi); Butuon Atiko (Bintang Malam)

Aru

Tawon Maera

Maluku (Ambon)

Marimatawa

Sulawesi

Lolaurik (Halmahera); Ngoma Oru (Bintang Pagi) dan Ngoma Lobitara (Bintang Malam) untuk Ternate; Ngoma Korru dan Ngoma Bolongossa untuk Tidore; Bintang Bawi (Makassar); Kaendoan dan Ipengamo ni wihoo/Ipahamumuris/Se Sankor/Sangkor; Lolaurék untuk Minahasa

Kalimantan

Bintang Sawah (Bintang Pagi) dan Bintang Maling (Bintang Malam)

Papua

Samfari (Bintang Pagi) dan Maklendi/Mandira/Makbeeni (Bintang Malam)


Kondisi atmosfer Venus sangat tebal, berkisar 180 km. Selain itu pekat dan didalamnya pada ketinggian antara 48 hingga 68 km terdapat awan yang menyelimuti planet yang terdiri dari unsur sulfur (S) dan asam sulfat (H2SO4). Yang terbanyak adalah karbondioksida (CO2). Di sana sifat hujannya adalah hujan asam.

Walau jaraknya ke Matahari lebih jauh dibandingkan Merkurius serta lamanya berotasi, permukaannya jauh lebih panas baik siang maupun malam, ±485 0C. Hal ini sebagai akibat terjadinya efek rumah kaca atau green house effect. Keunikan lain bila kita di permukaannya, maka akan melihat terbitnya Matahari dari ufuk barat dan terbenam di timur. Hal ini akibat arah rotasinya yang berlawanan dengan arah gerak rotasi Bumi.

Venus tidak memiliki satelit. Apabila kita berkesempatan melihat dengan teleskop, maka akan terlihat bentuk wajahnya menampakkan fase seperti wajah Bulan, ada saatnya sabit (saat dekat ke Bumi, posisi konjungsi-dalam atau di antara Matahari dan Bumi) dan ada saatnya (nyaris) purnama (saat jauh dari Bumi, posisi konjungsi-luar atau Matahari diapit Bumi dan Venus). Sebenarnya hal ini juga terjadi pada Merkurius, namun tentu harus dengan teleskop yang besar saja dapat terlihat karena ukuran Merkurius sangat kecil.

 

4. Bumi

Bumi hanyalah sebuah planet yang mengitari Matahari, namun planet yang satu ini sangat khas dan istimewa, berbeda dari planet-planet lain (Lihat artikel: Planet Biru Bumi). Lautan biru, kegiatan vulkanik dan tektonik, serta atmosfernya yang dinamis menjadikan Bumi unik (kegiatan vulkanik dan tektonik paling aktif ada di satelit Jupiter bernama Io; julukannya the Pizza Planet). Ditambah dengan adanya kehidupan biologis flora dan faunanya, Bumi semakin menonjol dalam keunikannya dan belum dijumpai di mana pun. Sekitar 70% permukaan Bumi tertutupi lautan sehingga sering dijuluki Planet Biru Bumi.

 

Gambar 5. Planet Biru Bumi

Tampak jelas wajah Bumi bila dilihat dari luar angkasa. Terlihat pula satelit kembar – Double Star – buatan European Space Agency (ESA) yang berhasil diluncurkan tanggal 29 Desember 2003 dan 25 Juli 2004. Satu satelit merupakan satelit yang mengorbit sesuai ekuator (Equatorial satellite, TC-1), sebuah lagi sesuai lingkar kutub utara-selatan (Polar satellite, TC-2). Misinya meneliti medan magnet Bumi termasuk fenomena terkaitnya, dengan tujuan untuk memahami dampak aktifitas Matahari terhadap lingkungan di Bumi. Credit: 20 Mei 2005, ESA

 

Bumi mengorbit Matahari dalam lintasan ellips dengan jarak rata-rata dari Matahari sebesar 149.500.000 km. Karena lintasan ellips ini, maka jarak antara Bumi dan Matahari selalu berubah. Perbedaan jarak titik terdekat (bulan Januari) dengan titik terjauh (bulan Juli) mencapai 5 juta km. Hal ini terasa saat terjadi fenomena Gerhana Matahari Total.

Bumi diselubungi campuran gas yang disebut udara. Kita tahu semua bahwa udara merupakan zat yang sangat penting untuk menunjang kehidupan seluruh makhluk di Bumi (selain hadirnya air). Adanya aliran udara yang berlangsung di atmosfer, digabung dengan penguapan dan kondensasi uap air selanjutnya akan melahirkan suatu fenomena, yaitu gejala cuaca. Kombinasi keseluruhan akan membantu terbentuknya beragam iklim.

 

 Gambar 6. Bumi pada Malam Hari

Citra Bumi pada malam hari yang diperoleh NASA dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) berbasis satelit  Suomi National Polar-orbiting Partnership (NPP) yang berhasil diluncurkan pada bulan Oktober 2011 dan bekerja sama dengan the Department of Defense. “The night is nowhere near as dark as most of us think. In fact, the Earth is never really dark. And we don’t have to be in the dark about what is happening at night anymore either,” menurut Steven Miller, pakar studi atmosfer dari Colorado State University.

Pakar ilmu sosial dan demografi pun menggunakan citra seperti ini untuk model distribusi spasial kegiatan ekonomi, dan populasi. Para perencana dan kelompok lingkungan telah menggunakan peta dari lampu yang tampak tersebar tersebut untuk memilih situs untuk pembangunan observatorium Astronomi dan memantau aktifitas manusia di sekitar taman ataupun lokasi perlindungan satwa liar.

Perusahaan tenaga listrik, para pengendali bencana, dan media berita berusaha untuk beralih ke lampu malam untuk mengamati panorama kubah langit malam (Sebenarnya, di Indonesia telah dicoba pada acara Earth Hour, namun belum juga berhasil walau telah dilakukan sejak tahun 2011). Bagi pemantauan kondisi iklim/cuaca khususnya malam hari tentu sangat berguna, bahkan hingga kepentingan militer. Credit: NASA Earth Observatory/NOAA NGDC

 

Air yang berada di atmosfer sebagiannya berasal dari proses penguapan. Penyimpanan energi yang sangat besar ini yang kemudian dilepaskan ketika uap air ini mengalami pengembunan. Kekuatan badai besar yang berlangsung di Bumi merupakan hasil dari pelepasan energi yang tersimpan dalam air yang ada di atmosfer tersebut. Namun, hingga kini masih belum jelas bagaimana air dapat begitu berlimpah di Bumi. Salah satu hipotesis yang paling banyak dianut adalah tumbukan dengan komet yang kaya akan air yang datang dari tepian Tata Surya, yaitu dari obyek-obyek yang orbitnya berada di luar orbit Neptunus. Dengan adanya air yang berlimpah ini memungkinkan di Bumi terdapat kehidupan seperti yang telah kita kenal.

 

5. Mars

Mars sering disebut planet merah karena tampak warnanya yang merah, jingga atau kekuningan. Hal ini disebabkan banyaknya oksida besi yang memenuhi permukaannya (Lihat juga artikel MARS, Sang Dewa Perang). Mars mengorbit Matahari dengan periode 687 hari pada jarak rata-rata 228 juta km. Seperti juga Bumi, orbit Mars ini agak lonjong sehingga jarak titik terdekat dan titik terjauh berbeda sekitar 42 juta km. Diameter Mars hanya 6.784 km, kira-kira setengah diameter Bumi. Sebanyak ±15% tubuhnya terdiri atas besi dan belerang. Atmosfernya didominasi oleh karbondioksida (95%), sementara uap air (H2O) hanya kisaran 0,03% saja. Suhu permukaan cukup ekstrim, yaitu antara minus 133 0C hingga 27 0C.

 

Gambar 7. Mars

Mars saat oposisi tahun 2001, yang kala itu berada pada jarak 68 juta km (jarak terdekat seperti ini sebelumnya adalah tahun 1988). Tampak kutub es airnya serta badai debu yang menyelimutinya. Oposisi dengan jarak terdekat terjadi tahun 2003 (sebelumnya 1924) dan akan berulang nanti tahun 2287 dengan jarak hanya kisaran 56 juta km saja. Saat Asaph Hall berhasil menemukan 2 satelitnya, posisi planet pun ketika oposisi. Poster by ESA/Hubble dan Credit: NASA and The Hubble Heritage Team (STScI/AURA); Acknowledgment: J. Bell (Cornell U.), P. James (U. Toledo), M. Wolff (SSI), A. Lubenow (STScI), J. Neubert (MIT/Cornell)

 

Secara garis besar, permukaan Mars terbagi menjadi dua karakter yaitu daerah dataran tinggi belahan selatan yang penuh dengan kawah dan alur mirip saluran, serta belahan utara yang lebih mulus dan penuh dengan gunung api yang sudah padam. Kedua belahan ini begitu berbeda sehingga Mars seolah seperti belahan dua jenis planet yang bertangkupan. Mars juga memiliki atmosfer yang bertekanan hanya 1/150 tekanan atmosfer Bumi. Planet ini mempunyai 2 satelit yang ditemukan Asaph Hall tahun 1877, yaitu Phobos (artinya ketakutan) dan Deimos (teror).

Dari cerita di atas, kita telah mengetahui serba sedikit tentang Matahari dan planet kebumian. Semoga bermanfaat dan pada masa mendatang kita mencoba berkenalan dengan planet Jovian. Salam Astronomi.–WS–

 

Daftar Pustaka

Cornelius, G., 2005, The Complete Guide to the Constellations, Duncan Baird, London, p.149-159

Darling, D., 2004, The Universal Book of Astronomy, John Wiley & Son, New Jersey

Maass, A., 1924, Tijdschrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde, Albrecht & Co., Batavia, Deel LXIV, p.146-7, 382-387, 434-444

Pasachoff, J. M., 1978, Astronomy: from the Earth to the Universe, Saunders Co., Philadelphia

Sawitar, W., 2009, Stars and the Universe: The Ancient Cultures of Indonesia, “Asia Stars Workshop” at National Astronomical Observatory of Japan (NAOJ) – Mitaka – Tokyo, 11-14 Mei 2009

Sawitar, W., 2016, Menjelajahi Tata Surya, Bahan Ajar Penyuluhan ke Sekolah tingkat SD, Planetarium dan Observatorium Jakarta

 

Situs

  • NASA (Solar System Exploration)
  • Wikipedia the free encyclopedia
  • Hubble Space Telescope (HST)/Space Telescope Science Institute (STScI)