User Rating: 2 / 5

Star ActiveStar ActiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Pada artikel Selintas Tata Surya sedikit disinggung tentang anggota Tata Surya yang pertama kali ditemukan oleh Piazzi tahun 1801, yaitu asteroid yang lalu dinamai Ceres (Tahun 2006, benda ini berubah statusnya menjadi planet kerdil bersama Pluto).

Dengan semakin majunya peranti observasi, diketahui bahwa ternyata jumlah asteroid ada jutaan buah. Hampir semua berada di Sabuk Asteroid, di antara Mars dan Jupiter. Namun, banyak pula yang menyimpang. Hal ini karena dinamikanya serta gangguan gravitasi planet Jupiter sedemikian eksentrisitasnya menjadi besar (lintasan ellips yang sangat lonjong). Mereka ada yang menjadi pengembara sampai ke dekat Merkurius. Yang lintas dekat Bumi sering dijuluki EGA (Earth Grazer Asteroid).

EGA termasuk kelompok NEO (Near Earth Object, atau lebih spesifik NEA – Near Earth Asteroid). NEO pertama ditemukan tahun 1898, berupa asteroid yang bernama 433 Eros berdiameter 32 km. NEO pada dasarnya dapat berupa asteroid maupun komet.

Temuan terakhir yang cukup mengejutkan adalah adanya pendamping Bumi, yaitu 2016 HO3 (asteroid dengan indeks nomor 469219).

 

 

Gambar 1

Wahana antariksa milik NASA, OSIRIS-REx (the Origins, Spectral Interpretation, Resource Identification, Security-Regolith Explorer) ditugaskan untuk memetakan NEA bernama Bennu. Diluncurkan bulan September 2016. Ada 2 peranti yang digunakan, yaitu OVIRS (the OSIRIS-REx Visible and Infrared Spectrometer, untuk mendeteksi unsur organik dan mineral) dan OTES (the Thermal Emission Spectrometer, untuk pemetaan termal) hingga tugas mengambil contoh batuan dan membawanya kembali ke Bumi. Batuan target adalah yang diduga mengandung “building blocks of life”.

Ref.: NASA to Map the Surface of an Asteroid, by Sarah Schlieder

NASA's Goddard Space Flight Center – Greenbelt.

 

Near Earth Objects

Diprediksi ada lebih dari 600 ribu EGA, namun sebagian besar berdiameter kurang dari 40 m hingga sulit dilacak secara rinci. Sementara yang lebih dari 140 m ditaksir ada 50.000 (hingga Januari 2010). Dari yang telah didata elemen orbitnya (data tahun 2013) ada 9626 buah asteroid di mana 1.269 diantaranya berdiameter lebih dari 1 km. Sementara itu 1.378 adalah Potentially Hazardous Asteroids atau PHAs yang dapat berkenalan dengan Bumi, artinya siap tabrakan dengan kita.

EGA pun terdiri dari 3 tipe yang disebut gugus AAA (Apollo – Amor – Aten). Kelompok Aten bersifat memotong garis edar Bumi, kelompok Apollo bergaris edar tumpang tindih dengan Bumi. Sementara kelompok Amor sering mendekati Bumi dan memotong lintasan edar planet Mars.

Tahun 1932 asteroid 1862 Apollo mendekat Bumi sejarak 3,2 juta km. Tahun 1936 Adonis – 1,6 juta km, dan tahun 1937 Hermes lebih dekat lagi mencapai 780 ribu km. Hermes yang ditemukan oleh astronom Jeman Karl Reinmuth (1892 – 1979) saat ini dianggap menghilang.

Yang cukup membuat dahi berkerut antara lain tanggal 18 Januari 1991, asteroid 1991BA melintas dekat sekitar 160.000 km, tanggal 20 Mei 1993 asteroid 1993KA2 memotong garis orbit Bumi sejarak 140.000 km, dan 15 Maret 1994 giliran asteroid 1993ES1. Pada tanggal 9 Desember 1994 bahkan ada yang berjalan-jalan di antara Bumi – Bulan dan hanya sejarak 104.000 km saja, yaitu 1994XM1. Atau seperti asteroid Toutatis (2,7 km) yang pada bulan September 2004 mendekat sampai ±1.549.720 km. Uniknya bahwa penampakannya saat mereka mendekati kita (atau Matahari) dapat berujud seperti penjelajah kecil Tata Surya lainnya yaitu komet. Sementara tahun 2002, yaitu 2002MN berjarak 120.000 km dari Bumi. Lainnya adalah asteroid 2009UN3, tanggal 09 Februari 2010 hingga jarak 14,5 kali jarak Bumi – Bulan. Jaime Nomen, dkk. dari La Sagra Observatory – Spanyol bagian selatan menemukan asteroid 2012DA14 (diameter ±50 meter) yang melintas sejarak orbit geostationer (±36.000km) pada tanggal 15 Februari 2013 jam 19:25 UT. Lintasan di kubah langit sekitar 30 menit busur per menit. Atau lainnya adalah 99942 Apophis (2004MN4, diameter ±0,4 km, ditemukan 19 Juni 2004) yang diduga akan lintas-dekat dengan Bumi tanggal 13 April 2029 (rentang orbit geostasioner) dan tahun 2036 (dalam pemantauan, belum ada kesimpulannya). Bila merunut sejarah, maka punahnya Dinosaurus kisaran 65 juta tahun lalu pun terkait dengan jatuhnya asteroid.

 

Asteroid Trojan

Jenis unik lainnya adalah Asteroid Trojan yang bukan tergolong pengembara dan juga bukan EGA. Posisinya di lintas edar Jupiter, terjebak medan gravitasinya. Ada sekitar 700 di depan (Lokasi L4 pada gambar, Grup Achilles) dan sekitar 400 di belakang (L5, Grup Patrocles). Formasi dan jarak masing-masing ke planet terbesar ini tidak berubah walau Jupiter bergerak mengedari Matahari atau equilateral. Berlaku layaknya pengawal. Kondisi titik setimbang ini dirumuskan secara matematis oleh Lagrange dari Perancis tahun 1772, sedemikian titik-titik konsentrasi seperti yang terjadi pada Asteroid Trojan disebut Titik Lagrange (Catatan: tiap planet punya Titik Lagrange-nya sendiri). Contohnya 588 Achilles.

Ternyata bukan hanya Jupiter yang punya pengawal seperti ini. Kasus serupa adalah ditemukannya Mars Trojan Asteroid, juga pada Bumi dan Neptunus. Sebagai catatan bahwa 2 satelit Mars, yaitu Phobos (artinya ketakutan) dan Deimos (teror) diduga adalah asteroid yang terperangkap gravitasi Planet Merah tersebut (satelit tangkapan). Satelit lain yang diduga kuat satelit tangkapan adalah satelitnya Jupiter, yaitu Ananke, Carme, Pasiphae, dan Sinope. Arah edar satelit ini berlawanan (retrograde) dengan gerak edar satelit lainnya, juga berlawanan dengan arah edar dan rotasi Jupiter. Kasus sama pada Phoebe (Saturnus) dan Nereid (Neptunus). Namun, satelit tangkapan ini bukan tipe Trojan. Mereka memang menjadi satelit layaknya Bulan.

 

 Gambar 2.

Lokasi Asteroid Trojan (L4 dan L5). Jarak planet (lingkaran penuh berwarna biru) ke titik Lagrange (L) senantiasa sama walau planet bergerak mengedari Matahari. Credit: WS

 

Quasi-satelit: Pendamping Bumi

Pada tanggal 27 April 2016, team dari 926 Tenagra II Observatory berkedudukan di Arizona – Amerika Serikat (Michael Schwartz, Paulo Holvorcem) dengan teleskop (0.81m – f/7 – Ritchey-Chretien) dan team F51 Pan-STARRS 1 yang berkedudukan di Haleakala – Hawaii (N. Primak, A. Schultz, T. Goggia, M. Willman, P. Veres) dengan teleskop 1.8m/Ritchey-Chretien (dioperasikan oleh the University of Hawaii's Institute for Astronomy) menemukan asteroid yang diberi indeks 2016 HO3.

Asteroid ini mendapat indeks nomor setelah ada konfirmasi tentang data orbitnya saat mengedari Matahari, dicatat sebagai asteroid nomor 469219. Ukurannya masih dalam penelitian, yaitu antara 40 hingga 100 meter. Data orbit menunjukkan adanya resonansi dengan Bumi 1 banding 1 (1:1), artinya periode orbitnya sama, dan jaraknya ke Matahari ternyata juga praktis sama sedemikian penjelajah kecil ini tergolong asteroid tipe Apollo.

Keunikannya bahwa asteroid ini tidak hanya mengedari Matahari layaknya Bumi, melainkan juga mengedari Bumi layaknya Bulan. Berdasarkan perhitungan, orbitnya sangat stabil sedemikian asteroid ini akan mendampingi Bumi dan akan tetap demikian untuk kurun waktu seabad ke depan. Sifatnya yang demikian unik membuat obyek ini tidak dapat dianggap sebagai satelit sejati seperti Bulan. Status benda NEO ini oleh Paul Chodas, manajer NASA untuk penelitian Near-Earth Object (NEO) di Jet Propulsion Laboratory di Pasadena-California, dikelompokkan sebagai quasi-satelit (secara harfiah, benda seperti satelit). Sebut saja Pendamping Bumi sebagai pembeda kata pengiring yang biasa ditujukan untuk satelit.

Penemuan quasi-satelit ini sebenarnya bukan yang pertama. Sebelumnya terdapat 2010 SO16, (164207) 2004 GU9, (277810) 2006 FV35, 2002 AA29, 2014 OL339, 2013 LX28, dan 3753 Cruithne (diameter 5 km). Diketahui pula adanya Earth Trojan Asteroid, 2010 TK7 (diameter 300 m, di titik L4 – depan Bumi). Selain itu, ditemukan pula 54509 YORP, (85770) 1998 UP1, 2009 BD, dan 2015 SO2 yang sifat orbitnya mirip Cruithne yang berbentuk tapal kuda (horseshoe orbit). Namun, mereka sekedar bersama-sama dengan Bumi mengedari Matahari. Tidak mengedari Bumi. Hal ini berbeda dengan 2016 HO3.

 

 Gambar 3

Lintasan edar 2016 HO3 (kuning) terhadap Matahari dan Bumi (abu-abu).

Credit: NASA/JPL-Caltech

 

Kendatipun demikian, ada pula NEO yang menjadi satelit Bumi walau secara singkat (temporer), yaitu 2006 RH120 untuk kisaran 10 bulan lamanya (2006 – 2007). Kategori statusnya adalah satelit mini (minimoon). Yang unik adalah benda dengan indeks WT1190F yang mengedari Bumi dengan periode 23 hari sejak tahun 2009 hingga 2015 dan akhirnya jatuh ke Bumi. Beruntung ukurannya kecil (2 m), dan sejatinya benda ini tidak lain adalah sampah antariksa sisa roket yang digunakan pada misi Lunar Prospector tahun 1998. Hal yang sama pada 6Q0B44E dan J002E3 di mana keduanya adalah bagian dari roket pendorong Saturn V (S-IVB-507) pada misi Apollo 12.

Hadirnya minimoon ataupun adanya satelit selain Bulan telah diprediksi sejak tahun 1846 oleh astronom Perancis, Frédéric Petit dari Toulouse Observatory, bahkan saat itu Beliau katakan telah melihat satelit kedua. Disusul tahun 1898 oleh Georg Waltemath dari Hamburg dan E. Stone Wiggins seorang pakar cuaca Kanada yang konon Beliau melihatnya tahun 1882 dan hasil observasinya diterbitkan tahun 1884 sekaligus menyimpulkan bahwa anomali musim panas yang dingin tahun 1907 sebenarnya akibat adanya satelit ini termasuk anomali Gerhana Matahari bulan Mei tahun yang sama. Hingga kini tidak ada kelanjutan dari kasus ini.

Sebenarnya benda sejenis pun telah ditemukan 10 tahun yang lalu, yaitu 2003 YN107 yang ditemukan team LINEAR Sky Survey. Namun, ternyata orbitnya tidak stabil dan kini menghilang. Dalam kasus ini, 2016 HO3 ternyata jauh lebih stabil, seolah terkunci dan menari bersama Bumi, “In effect, this small asteroid is caught in a little dance with Earth,” ujar Chodas. Berdasarkan perhitungannya, 2016 HO3 telah menjadi pendamping Bumi yang stabil selama hampir satu abad, dan akan terus mengikuti pola ini berabad yang akan datang.


 Gambar 4

Lingkaran abu-abu adalah lintasan edar Merkurius, Venus, Mars. Warna hijau adalah Bumi. Asteroid dekat-Bumi (Near-Earth Asteroid / NEA) berwarna biru, dan yang dianggap berbahaya – berkemungkinan untuk terjadi tabrakan, yaitu potentially hazardous asteroid /PHA berwarna jingga. Adapun titik-titik adalah hasil pemetaan lokasi asteroid berbasis data NASA's NEOWISE dengan piranti Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE).

Credit: NASA/JPL-Caltech

   

Dalam perjalanan tahunannya mengelilingi Matahari, 2016 HO3 menghabiskan sekitar setengah dari waktunya untuk lebih mendekat ke Matahari daripada Bumi dan melewati depan planet kita, dan sekitar setengahnya lagi lebih menjauh dari Matahari dengan posisi di belakang Bumi. Selain itu bidang orbitnya tidak tepat sama dengan bidang orbit Bumi. Jadi seperti Bulan yang terkadang di atas kadang di bawah bidang orbit Bumi, “continue to play orbital leapfrog with our world for centuries to come,” layaknya melihat lompatan katak dari samping, naik turun secara perodik. Kombinasi gerak dan gaya gravitasi Bumi membuat jaraknya tidak dapat lebih dekat dari 38 kali jarak Bumi-Bulan dan tidak lebih jauh dari 100 kali jarak Bumi-Bulan. –WS–

 

Situs

  • NASA (Ilustrasi lintasan NEO)
  • JPL dan NEOWISE/NASA
  • Space.com
  • Wikipedia the free encyclopedia
  • Astronomy Magazine
  • Sky and Telescope Magazine
  • Minor Planet Center / International Astronomical Union