User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive
 

Mengenai penamaan Lintang Bima Sakti, memang banyak versi tuturan ataupun kisah seputar sebutan ini, antara lain cerita terkait Dewaruci, Nawaruci, Bima Suci, Bima Kunthing, Bima Sakti, dll. Beberapa tahun lalu penulis mencoba menelusuri kisah ini sekaligus demi menjawab pertanyaan dari seorang rekan astronom yang sudah sangat senior, baik dari usia maupun kepakarannya. Beliau kebetulan warga Jepang.

Memang sudah lebih 6 tahun berselang dan terasa sederhana pertanyaaannya terhadap hadirnya banyak versi di atas, “Are all those names (Dewa Ruci, Nawa Ruci, Bima Suci, Bima Kunthing, Bima Sakti) mean the Milky Way? What do they mean individually? And, do you need this sentence as a whole?” Pertanyaan terakhir muncul karena komentar penulis sendiri ketika mencoba menyajikan penggalan kisah Bima (So many versions of this Mahabarata’s fragment).

 

Ketika berusaha untuk menjawab tentang munculnya mitologi yang dikaitkan dengan nama galaksi kita ternyata benar-benar terasa cukup melelahkan (saat berkesempatan tatap muka pun, hal demikian tidak tabu untuk diungkapkan dan Beliau pun hanya tersenyum dengan “mungkin malah kelewat iseng” menambah lagi ragam pertanyaan). Untuk kali ini mohon maaf apabila dengan terpaksa penulis banyak mengutip langsung dari jawaban yang pernah dibuat diseling komentar atau uraian lainnya, bahkan dengan bahasa campuran yang cenderung bahasa percakapan sehari-hari (tokh, keduanya tidak berdialog dengan bahasa ibu masing-masing). Sekaligus setiap jawaban disertai acuan pustaka, dan memang tidak bercerita tentang fragmennya secara utuh seperti yang ada dalam kisah Mahabarata, melainkan lebih pada argumen bahwa penamaan Bima Sakti memiliki dasar yang masuk akal. Mungkin gaya penulisan inipun berbeda dengan yang sebelumnya yang pernah dibuat. Selain itu, sayang juga apabila masalah Ethnoastronomy seperti ini hanya bergaung di luar Nusantara. Lagi-lagi berharap pada para muda untuk menjejak kaki dalam ranah ini.

 

Kembali ke pertanyaan di atas, penulis mengawali jawabannya dengan, The reason why Mahabarata Epic (juga sosok Bima sebagai pahlawan) can be accepted by people of Ancient Java since c400M is the same culture especially about the worship to the gods/goddesses or dewa/dewi that related also with their ancestors, even also the concept of reincarnation, ritual process, kingship, way of life, immortality, etc. Dewa Ruci, Nawa Ruci, Bima Suci, etc. all those refer to the same myth, the BIMA SAKTI myth. The differences came from on different dialect or sub-cultural in Java on perceiving the story. The name Dewa Ruci, Nawa Ruci refer to the sacredness (Ruci can be translated to sacred), as the name DEWA RUCI (the sacred god) appears in the story, this Dewa Ruci plays the important role to the naming of ‘Bima Sakti’. Diurai juga tentang nama ini sebagai berikut:

 

  • Dewa = dewa/deva/god
  • Nawa = 9 (sembilan)
  • Ruci = holy, sacred, light, beautiful, good will

 

Nawa Ruci atau Dewa Ruci dapat diartikan sebagai Dewa Suci.

 

  • Bima Sakti = Mighty Bima
  • Bima Suci = Holy Bima
  • Bima Kunthing = Little Bima (Not a child or young Bima, but physically became very small that can come into the ear of Dewa Ruci).

 

Dijelaskan bahwa semua nama itu memang terkait tokoh Bima, putra kedua dalam barisan Pandawa dalam kisah Mahabarata. Pada kenyataannya, bahwa nama-nama tersebut terdapat pada naskah kuno dan dalam ragam tulisan ataupun tuturan yang bertema sama. Kisah yang kala itu disampaikan diawali dengan:

 

Once upon time in Astinapura Kingdom, there lived two collateral families that would someday succeed the throne. The two, Pandawa (5 brothers) and Kurawa (one hundred) were always in dispute because Kurawa envied Pandawa who always did the good. All were under Resi (priest) Durna’s teaching. Resi, an unfair teacher, plotted with Kurawa to harm Pandawa by giving them impossible tasks.

 

Kisah Mahabarata yang terkait the Milky Way, nama galaksi kita (Bima Sakti) diawali pada babak di mana berlangsung penugasan Bima oleh gurunya:

 

“I need you to find Tirta-prawita, elixir of knowledge, to open True Knowledge.” Resi told Bima the second Pandawa, “With it you become a true hero with divine knowledge, be the Mightiest, and live forever.”

 

 

Jadi, kisah penelusuran nama Bima Sakti bermula saat Bima, salah satu Pandawa Lima dalam lakon Mahabarata harus mencari air kehidupan (Tirta Pawitra; Dalam manuscript lain disebut Tirtha Amrta, Toya Pawitra, Banyu Mahapawitra, Tirtha Kamandanu/Kamandalu) berdasar tugas dari gurunya, Resi Druna. Pada kasus ini, hampir semua kisah dari semua manuscript adalah sama dalam temanya. Pada episode ketiga, Bima berhasil mengalahkan ular naga raksasa bernama Nemburnawa / Rajapanulah dan akhirnya menemukan jatidirinya, sangkanparan, asal usul dirinya melalui dialognya dengan tokoh Dewa Ruci. Kisah ini yang paling dekat adalah berawal dari bagian kitab Adiparwa atau buku pertama epik Mahabarata dari 18 buku. Yang menjadi masalah adalah, adanya perbedaan tafsir cerita antara versi India dan khususnya Jawa.

Daftar Pustaka

  • Sumaryoto, W.A., 1998, Citra Bima Dalam Karya Sastra Jawa: Suatu Tinjauan Sejarah Kebudayaan, Doctoral Thesis, p.3
  • Djojosupadmo, M.S., 1989, Wayang: Asal-usul, Filsafat dan Masa Depannya, CV Haji Masagung, Jakarta, p.61
  • Purwadi, 2007, Ilmu Kasampurnan: Mengkaji Serat Dewaruci, Panji Pustaka, Yogyakarta, p.2
  • Haryanto, S., 1992, Bayang Bayang Adiluhung: Filsafat, Simbolis dan Mistik dalam Wayang, Dahara Prize, Semarang, p.17-18

 

Penulis pun sempat menjelaskan pada Beliau bahwa versi awal Mahabarata di Nusantara adalah dalam bentuk relief dan lakon wayang saat Raja Rakai Pikatan (Mataram Hindu, 782 – 856 M) berdasar kepercayaan Hindu/Çiwa/Budha. Ilustrasi ini ada pada prasasti Wukajana/Balitung (907/908 M), juga prasasti Canggal (732 M), dan prasasti Candi Cangkuang Jawa Barat. Sementara yang menjadi landasan penulis untuk reka ulang kisah Bima adalah gubahan Raja Kediri – Darmawangsa Teguh (991 – 1007 M).

Daftar Pustaka

  • Sumaryoto, W.A., 1998, Citra Bima Dalam Karya Sastra Jawa: Suatu Tinjauan Sejarah Kebudayaan, Doctoral Thesis, p.3-5
  • Djojosupadmo, M.S., 1989, Wayang: Asal-usul, Filsafat dan Masa Depannya, CV Haji Masagung, Jakarta, p.65-66

 

Sementara itu, versi lengkap kisah Bima Sakti dalam manuscript Jawa Kuno ditulis oleh Mpu Çiwamurti (1450 – 1478 M) – bersamaan dengan runtuhnya Majapahit diganti era kerajaan Islam Demak. Versinya kemudian adalah hadirnya kisah Nawaruci atau Sang Hyang Tattawajnana dan tetap berlandas Hindu dan Budha, namun falsafah atau ajarannya disesuaikan dengan budaya lokal yang sudah mulai berakulturasi dengan Islam. Jadi, tulisan yang ada berdasarkan tulisan/bahasa Kawi.

Daftar Pustaka

  • Sumaryoto, W.A., 1998, Citra Bima Dalam Karya Sastra Jawa: Suatu Tinjauan Sejarah Kebudayaan, Doctoral Thesis, p.4
  • Djojosupadmo, M.S., 1989, Wayang: Asal-usul, Filsafat dan Masa Depannya, CV Haji Masagung, Jakarta, p.70
  • Adhikara, S.P., Nawaruci, Penerbit ITB, Bandung, 1984, p.7a-8a
  • Adhikara, S.P., Unio Mystica Bima, Penerbit ITB, Bandung, 1984, p.7a, 15
  • Purwadi, 2007, Ilmu Kasampurnan: Mengkaji Serat Dewaruci, Panji Pustaka, Yogyakarta, p.10

 

Indeed, in Mahabarata, the name of Dewa Ruci does not exist. This is original story from Javanese culture. In original Mahabarata, Bima get the enlightenment (babak ini terjadi setelah pertempurannya dengan sang naga) in the effort to get the water of life. Ancient Java indeed saw the chance to give their interpretation in this part. Jadi dalam versi asli Mahabarata memang tidak ditemukan tokoh Dewa Ruci.

 

Pada budaya kala itu dibutuhkan tokoh baru, sedemikian direka ulang bagaimana pencarian jatidiri ini dapat diikuti lewat sebuah dialog. They made a new actor, Dewa Ruci that in this event give the enlightenment via the very intensive dialogue about Ultimate Knowledge – Awareness – Reality – Truth – then Ultimate Being. The central element of this folktale is the ultimately sinless, pure, straight, honest, and open minded man. So does the Untoro Kondo arc story, that is an episode in Mahabarata, however, according to some shadow puppet masters or other Javanese traditional expert we have interviewed, they mention that this episode (Untoro Kundo), including the adventure of Bima in the Bima Sakti myth, is not found in India’s version of Mahabarata. This story is specifically only found in Javanese tradition, since we also never find this similar story on another part of Indonesia. Our purpose to write that part is just to highlight that this part of story only found in Javanese tradition, and not to be duplicated with India story. It can be interpreted by Javanese philosophy, the mightiness of Bima (the hero), is accomplished by meeting his true ‘Godness’ (or one inner identity) in the form of dwarf reflection of himself (Dewa Ruci), after defeating the giant dragon (the almost impossible task of life), that is the most accomplish of human being (BimaSakti, or the Mighty Bima).

 

The different naming of the myth can be perceived as how people of different culture see one particular phenomenon. For instance, one can name Pleiades, as the seven sisters, or seven stars, etc. All in all, the different name is used to express the richness the people of Java perceive the myth, there is no one particular source for the story, since the story passed between generation through verbal method or oral tradition.

 

For the example, in the year 1796, Yasadipura I under the Surakarta kingdom (Kasunanan Surakarta, the king is Paku Buwana IV) made Dewa Ruci (Bima Suci) manuscript (Serat Dewarutji Jarwa Sekar Matjapat) in modern Javanese and with Islamic philosophy (Sufi order and Islam Kejawen). After this era, so many stories about this fragment like Bima Suci, Bagawan Senarodra, Gunacara Agama, Bima Paksa, Serat Bima Bungkus, Babad Tanah Jawi, Kitab Walisana, Suluk Seh Malaya, etc. All those manuscript are mostly in Islamic order about enlightenment of Bima as guidance for the people.

Daftar Pustaka

  • Sumaryoto, W.A., 1998, Citra Bima Dalam Karya Sastra Jawa: Suatu Tinjauan Sejarah Kebudayaan, Doctoral Thesis, p.6
  • Purwadi, 2007, Ilmu Kasampurnan: Mengkaji Serat Dewaruci, Panji Pustaka, Yogyakarta, p.13
  • Djojosupadmo, M.S., 1989, Wayang: Asal-usul, Filsafat dan Masa Depannya, CV Haji Masagung, Jakarta, p.91
  • Adhikara, S.P., Unio Mystica Bima, Penerbit ITB, Bandung, 1984.

 

So, all the notes in the background of the story are just a note that there are so many version/manuscript about the story (even the Bima’s name, there are 14 names for Bima). Even in India, before Mahabarata – there is the same story in the Markandeya’s story. But in ancient Java, there is story of Markadeya (not Markandeya) in their version of Mahabarata in Wanaparwa (Book 3). If we trace back – about “the hero had been asked by the teacher/priest to find the water of life” – we can find in Mesopotamia millennia ago, before Markandeya or Mahabarata Epic, in Gilgamesh Epic.

Daftar Pustaka

  • Sumaryoto, W.A., 1998, Citra Bima Dalam Karya Sastra Jawa: Suatu Tinjauan Sejarah Kebudayaan, Doctoral Thesis, p.4
  • Purwadi, 2007, Ilmu Kasampurnan: Mengkaji Serat Dewaruci, Panji Pustaka, Yogyakarta, p.12-19
  • Suwandono, Dhanisworo, Mujiyono, 1991, Ensiklopedi Wayang Purwa, Balai Pustaka, Jakarta, p.115-118, 161, 171

 

Jadi, yang terkait akulturasi dengan India, salah satu jawaban penulis kala itu adalah “According to a local source (a dalang more widely known as the shadow puppet master), this episode of the adventure of Bima is different with the Mahabarata from India, because only found and told in Javanese tradition, both written and oral.”

 

Dari jabaran di atas, maka sedikit diulang di sini bahwa pada era berikut sebagai contohnya adalah versi gubahan Yasadipura I (Kasunanan Surakarta di bawah raja Paku Buwana IV yang membuat manuscript tentang Dewa Ruci atau Bima Suci dalam Serat Dewarutji Jarwa Sekar Matjapat, 1796) dengan bahasa Jawa modern yang sudah memuat ajaran falsafah Islam (gabungan ajaran sufi dan kejawen, lebih ke arah pelajaran moral tidak untuk lakon wayang, atau tidak jarang masuk ranah astrologi). Tidak lama muncullah beragam versi yang antara lain Bima Suci, Bagawan Senarodra, Gunacara Agama, Bima Paksa, Serat Bima Bungkus, Babad Tanah Jawi, Kitab Walisana, Suluk Seh Malaya, dll. yang lebih bersifat ajaran Islam.

 

Adapun keunikan lain dalam mitologi ini adalah ketika kita tera gambaran Bima di langit yang konon dekat daerah Sagittarius. Namun, tidak ditemukan pemetaan yang spesifik tentang gambaran terkait cerita di atas. Uniknya, dalam wayang kulit dikenal bahwa salah satu wanda dari Bima adalah Lintang yang pertama kali dicipta oleh Paku Buwana II tahun 1733 M (1655 Ç).

Daftar Pustaka

  • Haryanto, S., 1992, Bayang Bayang Adhiluhung, Dahara Prize, Semarang, p..38.

 

Adapun Sagittarius di Jawa disebut Dhana / Dhanus / Wusu / Wanok / Naya / Jemparing (busur panah), salah satu gambarannya ada di langit-langit Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran (tentang pendapa ini, lihat artikel Tèkang Adityamandala). Apakah daerah rasi bintang ini dikaitkan dengan awan putih (galaksi) Bima Sakti termasuk kaitannya dengan penggambaran Bima di lautan bintang belum jelas bagi penulis, seperti yang juga disampaikan kepada rekan astronom tadi,

 

“In fact – people of the ancient Java sees figure of Bima among the stars and the white cloud at Sagittarius area of the Milky Way, based on oral tradition. All of the dark-band in the Milky Way is the giant dragon that had been defeated by Bima. About the figure, now – in our generation – no one can tell precisely which the area is.” Pernah penulis sendiri ditunjukkan oleh seorang kerabat senior dari Pura Mangkunegaran, namun kesempatannya hanya sekali, relatif singkat (cuaca mendadak berubah), dan kala itu kebetulan memang membahas pemetaan langit yang lain. Ini pun sudah nyaris 10 tahun berselang dan jujur diakui sudah hampir pudar dalam ingatan (tahun 2007, sang kerabat ini berpulang bersamaan dengan waktu ketika masalah ini sedang dipresentasikan di Observatorium Bosscha).

 

Dalam tulisan ini, penulis mencoba menambah lagi ragam latar belakang kisah Bima Sakti selain dari jawaban ke rekan astronom tadi. Ada manuscript lain, semisal pada Serat Mijil di mana ditemukan juga dalam lirik tembang tersebut yang menyinggung tentang pengamatan jalur putih galaksi kita di kubah langit malam.

 

… Irim-irim lintang lanjar ngirim, gubug penceng anjog,

wus manengah praune sang Raden, Jaka Belek maluku ing Kali,

lintang Bima Sekti, nitih kuda dhawuk. …

Daftar Pustaka

  • Hadiwidjojo, K.G.P.H., 1978, Bedhaya Ketawang, Dep. P dan K, Jakarta, p.57

 

Secara terjemahan dan tafsiran bebasnya:

 

… Diiring dendang lagu, sang janda muda nan cantik jelita (lanjar) berjalan menuju ke arah pondok miring (Gubug Penceng);

Pada saat itu, ia melihat perahu sang pangeran (praune) telah tiba di tengah-tengah (manengah) sungai;

Ada juga seorang pemuda (Joko Belek) turut menyeberang;

Didampingi oleh ksatria Bima yang menunggang (nitih) kuda belang (kuda dhawuk)

 

Ternyata semua yang disebut dalam lirik tembang di atas terkait dengan benda langit yang akrab dengan kita di belahan Bumi selatan. Hal ini mungkin dapat kita analisis terhadap fenomena harian apa yang sekiranya dinikmati oleh para leluhur. Kalau hendak sedikit diperkirakan bahwa ini terkait dengan posisi ataupun pemetaan langit. Oleh karena pergerakan harian benda langit (diurnal motion) dari timur ke barat, maka Lintang Wulanjar Ngirim seolah mengawal atau mengiringi gerak Lintang Gubug Penceng.

 

Saat Lanjar Ngirim dan Gubug Penceng muncul atau terlihat semua (anjog di sini diambil kata yang berarti datang atau tiba di …, atau muncul; bukan jatuh), Praune Sang Raden (Prau Pegat atau Kapal Patah), yaitu Argo Navis (yang terdiri dari 3 rasi bintang: rasi Carina – Lunas Kapal, rasi Puppis – Buritan Kapal yang tampak patah, dan rasi Vela – Layar) sudah berada di manengah atau meridian (garis hubung antara titik selatan dan utara melewati zenith). Adapun Jaka Belek yang tidak lain planet Mars, kemungkinan sang pembuat tembang ini saat itu melihat planet tersebut – atau memang mengetahui bahwa planet ini Maluku ing Kali, berkelana di daerah bentang Bima Sakti. Kali atau Lintang Kali, biasanya dikaitkan dengan Sungai Serayu yang kalau bagi masyarakat Mesir kuno diibaratkan dengan bentang Sungai Nil yang digunakan sebagai gambaran awan putih Bima Sakti yang diselingi daerah gelap di sepanjang lajur putih tersebut dalam konteks nitih (menunggang) kuda dhawuk (keluarga kuda, yaitu kuda pinto). Hal yang dimaklumi karena pada saatnya planet ini menjadi cemerlang dan cukup menyita perhatian (kedudukan oposisi yang kisaran 26 bulan sekali; dan selain itu, juga diabadikan sebagai salah satu nama hari, yaitu hari Anggara/Maris/Mars/Lintang Joko Bélék, Thalatha/Selasa/Day of Fire). Dapat pula diinterpretasikan bahwa yang membuat tembang ini tahu pasti bahwa ada pengembara di lautan bintang (planet) yang berbeda sifat dan dinamikannya dengan karakter bintang secara umum.


Kembali ke jawaban di atas, Beliau juga bertanya tentang satu fragmen, “When they arrived at Karang Bolong, Bima told Punakawan to stay on coast. With Jalasengara’s spell, Bima could travel deep beneath ocean. Suddenly, he was attacked by giant dragon Nemburnawa. The fierce, brutal fight lasted for days, stirring up white foam on the surface. The sky reflected the foam. Knowing that might be sign of danger, Punakawan went up to the sky. Semar, Punakawan’s father went first. He appears as a red sign in the sky known as Lintang Kemukus. Gareng went next to south-east and became Lintang Joko Belek, appears during the dusk. Then Petruk, to the south-west and became Panjer Rina. They observe the fight and the brawling continue on and on. Are Lintang Kemukus, Lintang Joko Belek and Panjer Rina stars? Which stars in the western constellations are they? Please identify them. “

 

Penulis pun menjawab, “There is no agreeable definition nor consensus about the true celestial objects referred by the tradition, however, according to study such as from my work and my star-lore team based on interview with local and some several cultural references as we in Indonesia know:

 

  • Lintang Kemukus       = comet; (lihat artikel Komet)
  • Lintang Joko Belek     = most likely Mars since the name derived from Joko = young boy, Belek = conjunctivitis/eye disease that cause the eye turned to red, so it seems that this name refer to Mars; (lihat artikel Mars)
  • Lintang Panjer Rino/Rina derived from Javanese language = the star of dawn (panjer = sparkling or sign before do something that dealt, rino/rina = dawn), so it also most likely refer to Venus. As a note, sometimes Venus is known as Lintang Panjer Sore (Evening Star), Bintang Timur (East Star), Bintang Barat (West Star). When the Dutch here in Indonesia (Central Java), Venus is known as Ting Negara Landa or The Dutch’s Lantern; (lihat artikel Planet Kebumian).”

 

Atau dalam interpretasi penulis sendiri dalam ranah Astronomi dan kekinian, bahwa memang menjadi sebuah pertanyaan pula (bagi penulis), apakah formasi langit tatkala naskah kuno ini dibuat memang seperti yang diceritakan. Bila benar, maka kejadiannya adalah pada malam hari namun tidak mungkin tengah malam karena hadirnya planet Venus. Dikatakan Panjer Rina (Petruk) berarti fajar dan sebagai bintang pagi, paling cepat terbit pukul 03:00 WIB. Kombinasi penampakan Lintang Kemukus (Semar) yang relatif redup sedemikian hanya dapat disaksikan umumnya selepas Matahari terbenam atau sesaat sebelum Matahari terbit. Bantuan kata red sign, masih dapat berarti keduanya, senja atau fajar. Namun, kalau disandingkan dengan kehadiran Panjer Rina, berarti kedua benda langit ini berlangsung sesaat sebelum Matahari terbit, fajar. Adapun penampakan Lintang Joko Belek (Gareng) pada senja hari (dusk). Atau apabila kita analisis bahwa penjagaan langit dilakukan secara simultan dari Matahari terbenam hingga terbitnya, kombinasi di atas menjadi sangat lengkap. Mars tampak di arah timur (cenderung ke tenggara), artinya sepanjang malam akan tampak. Venus transisi jelang Matahari terbit. Adapun komet, dapat terlihat saat transisi pada senja ataupun fajar. Yang menjadi masalah adalah istilah Panjer Rina dikaitkan posisi barat yang sebenarnya tidak mungkin terjadi. Ada kemungkinan justru Panjer Rina di sini adalah bintang sore (tampak sore dalam kondisi langit ideal). Bila berada di timur, ada kemungkinan pem-bahasa-annya adalah Panjer Esuk, walau dalam kasus lain bahwa Panjer Rina sama dengan Panjer Esuk. Rasanya masih butuh penelitian lebih lagi.

 

Jadi, leluhur kita di Nusantara ketika menamai fenomena langit tidaklah acak dan serampangan atau sekedar asal-asalan. Argumen di atas tentu sudah menjadi mindset mereka sejak dahulu kala. Kitalah yang hidup dalam jaman yang konon katanya serba canggih ini justru semakin tidak melihat dengan jeli. Betapa mereka peka dengan bentang langit, baik kubah langit pada siang hari maupun malam hari. Uniknya, termasuk rekan astronom tadi. Betapa membaca kisah Bima Sakti, secara teknis sangat peka dalam melihat fenomenanya padahal Beliau sangat jauh dari budaya di Indonesia, bahkan tidak pernah tinggal di sini, hanya sekedar singgah berkunjung karena suatu pekerjaan.

 

Sebagai tambahan saja bahwa selain hal di atas, leluhur kita pun sudah sangat cermat dalam penentuan nama hari (kita pakai hingga kini) ataupun musim apapun aplikasinya. Khususnya tentang musim, secara garis besar yang dikenal dulu ada 4, yaitu kemarau, labuh, hujan, mareng. Namun, kini untuk mudahnya saja (termasuk muatan di sekolah) bahwa mulai Oktober hingga Maret adalah musim hujan, sedangkan April hingga September musim kemarau. Sedemikian, banyak yang kadang bingung mengapa Agustus hingga November (musim semplah/labuh/putus asa) kadang hujan kadang panas, bahkan sering angin ribut. Atau sebaliknya, Maret hingga Mei (musim pengarep-arep/mareng) pun nyatanya masih saja kerap hujan deras disertai angin kencang berseling panas terik.

 

Yang jelas bahwa sejatinya masing-masing punya kemasan ceritanya sendiri. Memang beberapa kisah atau argumennya mungkin membuat kita tersenyum. Namun, coba tengok semisal kisah Matahari yang konon dimakan raksasa. Kita tidak harus melihatnya secara harfiah. Namun, kenyataannya bahwa Gerhana Matahari akibat tertutup sesuatu – nyatanya sudah ada dalam pikiran mereka. Jadi, termasuk adanya gambaran Bima di bentang langit – yang berarti mereka sudah sangat awas melihat pemetaan jalur putih galaksi kita dan menyadari daerah gelap-terang di lajur itu tidak pernah berubah kendati melewati kurun bergenerasi, kecuali sekedar terbit dan terbenam dan lokasinya tergantung pranatamangsa-nya. Kemasan cerita dapat beragam dalam kurun millennia, nyatanya mekanisme fenomena astronomi yang sama masih terus dibahas oleh para astronom hingga kini walau dengan pembahasaan yang berbeda.

 

Harus penulis akui bahwa untuk menelusur hingga ke budaya yang berkembang ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu banyak kendala, khususnya bahasa yang kebanyakan dalam bahasa Jawa Kuno atau Kawi termasuk dalam hal sosial– budayanya. Banyak kisah yang biasanya tersembunyi dalam serat, macapat, atau tembang, cerita rakyat, cerita kepahlawanan, figur mitologi, maupun astrologi. Pun diakui bahwa sumber bahasan sebagiannya dari penerjemahan atau pe-latin-an bahasa asal oleh penulis lain yang secara nisbi memudahkan untuk menyelisik informasi yang terkait Astronomi atau ilmu perbintangan (Sanskrit/Kawi: Jyotisa) dengan bantuan kamus, lalu mencoba menganalisisnya berlandas acu Astronomi. Adapun para narasumber senior yang dulu banyak membantu kini dapat dikatakan telah berpulang. Pada akhirnya, sekecil zarah pun yang tertuang dalam artikel ini, semoga masih dapat bermanfaat. Sekali lagi mohon maaf, apabila pem-bahasa-an dalam tulisan ini campur aduk antara Bahasa Indonesia – Inggris – Jawa (di tengah himbauan untuk mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), yang pada ranah tertentu sekaligus menunjukkan bahwa sebuah argumen keilmuan dapat diperkaya dengan alun waktu pembelajaran yang niscaya tidak akan pernah tuntas kecuali atas panggilanNya. Salam Astronomi. –WS–

 

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih kepada Prof. Norio Kaifu dari National Astronomical Observatory of Japan (NAOJ) yang sejak bertemu tahun 2008 telah memberi banyak masukan melalui ragam pertanyaannya tentang beragam mitologi di Indonesia (bukan hanya sekedar pada kasus di atas). Pada periode 2009 – 2012, Beliau sebagai President-elect International Astronomical Union (IAU), menjadi President pada periode 2012 – 2015, dan kini posisinya sebagai penasehat. Juga kepada Dr. Hakim Luthfi Malasan, di mana ketika permasalahan Bima Sakti ini mencuat, Beliau sebagai Direktur Observatorum Bosscha ITB yang menggagas pertemuan di atas.

 

Daftar Pustaka

  • Sawitar, W., 2005, in W. Sutantyo, P. W. Premadi, P. Mahasena, T. Hidayat, and S. Mineshige (eds), Proceedings of the 9th APRIM
  • Sawitar, W., 2008, in S. Zhang, Y. Li, Q. Yu, G. Liu (eds), Proceedings of the 10th APRIM
  • Sawitar, W., 2009, Stars and the Universe: The Ancient Cultures of Indonesia, “Asia Stars Workshop” at National Astronomical Observatory of Japan (NAOJ) – Mitaka – Tokyo
  • Sawitar, W., 2015, Astronomi dalam Cerita Rakyat Nusantara, Makalah Seminar Astronomi dalam Budaya Nusantara (SINDARA) di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

 

Kamus yang digunakan:

Alwi, H. et al, 2005, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Balai Pustaka, Jakarta

Echols, J.M. dan H. Shadily, 1996, Kamus Inggris – Indonesia (cetakan xxiii), Gramedia, Jakarta

Maharsi, 2012, Kamus Jawa Kawi Indonesia, Pura Pustaka, Yogyakarta

Padmosoekotjo, S., 1967, Sariné Basa Djawa (cetakan ii), P.N. Balai Pustaka, Jakarta

Prawiroatmodjo, S., 1991, Bausastra Jawa – Indonesia, Gunung Agung, Jakarta

Suparlan, Y. B., 1988, Kamus Kawi – Indonesia, Penerbit Kanisius, Yogyakarta

Winter Sr, C. F. dan R. Ng. Ranggawarsita, 1990, Kamus Kawi – Jawa, Gadjah Mada Univ. Press

Wehmeier, S., 2000, Oxford Advance Learner’s Dictionary, 6th Edition, Oxford Univ. Press, Oxford