User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive
 

Seperti yang pernah dinyatakan pada artikel BIMA SAKTI, Mitologi dalam Budaya Jawa yang membahas mitologi dalam budaya Jawa mengenai nama galaksi kita, bahwa “Penelusuran dalam topik ini yang terkait juga dengan sejarah Astronomi tentu masih menjadi medan penelitian yang terbuka luas yang seolah menjadi cakrawala yang tiada terbatas yang juga dapat terjadi karena perbedaan penafsiran terhadap naskah kuno sebagai tinggalan jejak budaya.”

Atau seperti juga artikel tentang mitologi Matahari di Nusantara (Tèkang Adityamandala), maka kali ini dicoba didongengkan serba sedikit mengenai kisah terkait mitologi Matahari, khususnya dari budaya Yunani/Romawi. Namun, sebagai catatan, bahwa mitologi terkait Matahari sesungguhnya dijumpai di hampir seluruh budaya di dunia. Hal ini tentu dimaklumi karena penampakannya yang teratur dan sangat berpengaruh pada alur keseharian pada hampir seluruh makhluk hidup apapun di Bumi termasuk manusia dengan segala budayanya (bagaimanapun, ada beberapa jenis makhluk hidup yang tidak pernah bersentuhan atau terpapar sama sekali dengan cahaya Matahari sepanjang hidupnya).

 

Gambar 1 Matahari Pagi di Kota Palu

Credit: Dididn Rosidin – POJ

 

Turunan Titan

HE′LIOS (Hêlios atau Êelios, Latin: Helius; Romawi: Sol atau Sol Invictus) adalah dewa Matahari dari Yunani, dan sering dirancukan dengan dewa Apollo. Helios merupakan putra dari pasangan Titan, yaitu Hyperion dan Theia, dan saudara dari Eos (dewi fajar) dan Selene (dewi Bulan). Anak-anak Helios adalah dewi Aeetes, Circe, Pasiphae, Phaethusa (berkas pancaran cahaya) dan Lampetia (bercahaya). Sebagai dewa Matahari, dia juga dikenal sebagai dewa penjaga kutukan dan dewa penglihatan terkait tugas hariannya. Dari nama ayahnya, Helios acap disebut Hyperionides atau Hyperion. Ada juga sebutan Euryphaëssa. Salah satu tugas kedewaannya adalah memberi cahaya baik kepada para dewa maupun manusia.

Sosok Helios biasa direpresentasikan sebagai pemuda yang tampan tanpa janggut, berjubah ungu dengan mahkota aura cemerlang laksana pendaran Matahari yang berdiri di sebuah kereta kuda. Atributnya adalah ayam jantan, cambuk, dan dunia. Tempat tinggalnya di Pulau Rhodes, di mana penduduk asli di sana menghormati dan memujanya dengan membangun Colossus of Rhodes, sebuah patung besar yang megah di mana kapal yang betapapun besarnya apabila berlayar memasuki pelabuhan akan melewati kolong di bawah kedua kakinya. Patung ini merupakan urutan ke enam dari tujuh keajaiban dunia dari tinggalan budaya kuno. Namun, beberapa ada yang mengatakan bahwa Colossus of Rhodes dipersembahkan bagi Apollo, dewa cahaya.

 

Gambar 2 Matahari Senja di Mercusuar – Pantai Anyer

Credit: WS – POJ

 

Helios dan Apollo

Pada kenyataannya, peran Helios pada suatu masa berubah menjadi kisah Apollo. Ada perbedaan mendasar bahwa Helios keturunan para Titan (para raksasa dalam ukuran dan kata inipun kini biasa digunakan untuk sesuatu yang besar), yaitu generasi kedua Titan. Dua belas Titan yang pertama adalah anak-anak dari dewi Bumi Gaia dan dewa langit Uranus. Sementara itu, Apollo adalah keturunan keluarga Olympus (anak dari Zeus dan Leto, yang memang simbolnya adalah Matahari, atau harpa, angsa, tikus dan kembaran dari Artemis. Leto adalah sepupu Helios). Adapun yang sering dikaitkan dengan pemujaan terhadap Helios adalah domba jantan putih, babi, sapi, kambing, domba, kuda terutama putih, dan madu.

Seperti halnya Cronus yang mengkudeta ayahnya – Uranus, maka para Titan dikudeta oleh anak-anak Cronus, yaitu generasi Zeus, Hades, Poseidon, Hestia, Hera, Demeter. Selain itu, Apollo oleh penulis Homer (abad 8 SM; ada pendapat abad 13 SM; yang terkenal dengan karyanya Iliad dan Odyssey;) digambarkan sebagai dewa pembawa wabah dengan busur perak dan tidak memiliki kekhasan yang terkait dengan Matahari. Apollo terkait dewa cahaya karena pada kisahnya sempat dijuluki sebagai Phoebus (shining) yang pada budaya setelahnya, yaitu pada era Romawi, pada kisahnya disebut Sol (kini populer sebutan solar untuk fenomena terkait Matahari seperti solar wind, solar eclipse, dll). Helios dirancukan dengan Apollo mungkin baru setelah abad 5 SM (penyair Euripides, 480–406 SM), karena Helios sering dijuluki sebagai Apollon, Phoibos Apollon, atau Phoebus Apollo (destroyer) yang muncul karena secara tidak langsung menewaskan anaknya sendiri yang akan dipaparkan di bawah; sekaligus terkait dengan sosoknya yang kadang dirancukan dengan dewa api dan cahaya Hephaistos (Hephaestus) dan pembawa cahaya. Mungkin penyebutan itu yang merancukan sehingga banyak yang menganggap bahwa Helios adalah sama dengan Apollo.

 

Gambar 3 Helios dengan Kereta Kudanya

Credit: (theoi.com) Koleksi British Museum, London; London E466

 

Sang Penjaga Siang

Selain Pulau Rhodes, Zeus juga memberikan Pulau Sisilia untuk wilayah kekuasaan Helios (nantinya menjadi pulau yang dianggap sakral oleh Helios). Pulau ini terbentuk dari senjata yang dilemparkan Zeus dalam pertempuran dengan para raksasa ketika mereka menyerbu istana Olympus.

Pada setiap akhir malam, adik perempuan Helios, yaitu Eos sang fajar bangkit dari peraduannya di timur dan berdiri pada kereta yang ditarik kuda Lampus/Lampos (torch/obor) dan Phaethon. Dia naik ke Olympus menyapa kakaknya, Helios.

Dibangunkan oleh ayam jantan, yang merupakan hewan sucinya, Helios bersiap-siap dan setelah disapa adiknya kemudian meninggalkan istana indahnya di ufuk timur. Setelah Helios muncul, Eos pun menjelma menjadi Hemera (hari) dan mengawal sang kakak selama perjalanannya di kubah langit dan mengembara sepanjang siang di langit dengan kereta yang ditarik 4 kuda (lihat bagian Kuda Helios di bawah) sampai akhirnya mencapai istananya nan megah di ufuk barat. Adiknya pun menjelma lagi dan kini menjadi Hespera (masyarakat yang menyambutnya di ujung dunia ini sering disebut masyarakat Hesperide) ketika tiba saatnya sang kakak sampai dengan aman di pantai barat Oceanus (maksudnya ketika saatnya Matahari terbenam, tempat terbenam ini biasa disebut Ethiops). Istana (titik terbit dan terbenam) Helios di laut tentu saja berbeda untuk setiap musimnya dan hal ini merupakan kesadaran masyarakat kala itu akan adanya titik balik utara dan selatan (tropai êelioio).

Istana megah yang berada di ufuk barat konon dibangun oleh Hephaestus, sebagai ungkapan terima kasih karena telah diselamatkan oleh Helios tatkala terjadi serangan para raksasa ke Olympus. Pada akhir siang, setelah melewati gerbang di ufuk barat, Helios membiarkan kudanya merumput dan beristirahat sejenak di Kepulauan Keberkahan. Setelah itu, Helios berlayar pulang di sepanjang lautan Oceanus yang melingkupi dunia.

Untuk kembali ke istananya di ufuk timur, Hephaestus membuatkan perahu emas untuk Helios dan kereta kudanya. Selama pelayaran malam di lautan Oceanus, Helios tidur nyaman dikamarnya (pada kisah karya Homer dan Hesiod, perjalanan malam ini tidak pernah dikisahkan).

Karena tugas sehari-harinya itulah akhirnya di sepanjang perjalanan siangnya, Helios melihat (bahkan juga mendengar, dalam beberapa kisah lainnya) dan mengetahui semua yang terjadi di Bumi, dan sering dipanggil sebagai saksi dalam suatu kejadian. Sifat ini yang membuat akhirnya Helios mendapat julukan Panoptes (the all-seeing). Namun demikian, terkadang luput juga. Sahabatnya pada saat Perang Troya, yaitu Odysseus, memiliki prajurit yang pernah melakukan pencurian beberapa ternak suci yang justru miliknya dan lebih unik lagi terjadi di pulau yang justru dianggap sakral oleh Helios, Thrinacia (Sisilia), dan Helios gagal untuk melihat kejadian tersebut. Yang memberi tahu adalah justru putrinya sendiri, Lampetia. Hal ini ternyata karena Helios mempunyai banyak sekali kawanan ternak, dan masing-masing terdiri dari 350 hewan, dan merasa tidak pernah kehilangan (atau karena tahu siapa yang mengambilnya, lalu memakluminya).

 

Phaethon

Layaknya dewa lainnya, maka pasangan Helios dan Clymene (atau beberapa orang menyebutnya Rhode) pun memiliki putra, yaitu Phaethon. Hanya saja sejak lahir, Phaethon tidak pernah kenal ayahnya karena sejak Helios di kandungan, Clymene beralih tinggal bersama Merops, Raja Ethiopia. Dia tahu bahwa dia diadopsi oleh sang Raja. Namun, ia mendesak ibunya dan akhirnya mengatakan bahwa ayah sebenarnya adalah Helios, sang dewa Matahari. Dia katakan kepada Phaethon bahwa ia dapat meyakini hal ini jika ia mengunjungi istana ayahnya dan mengajukan pertanyaan kepadanya secara langsung.

Setelah menghadap ayahnya dan menyatakan siapa dirinya, akhirnya Helios dengan penuh kasih sayang memeluknya. Helios merasa bersalah karena telah mengabaikan putranya sekian lama, kemudian bersumpah dengan (air) sungai suci Styx bahwa Phaethon boleh meminta padanya apa pun yang dia inginkan. Phaethon pun bersemangat dan spontan menjawab bahwa apa yang paling dia inginkan adalah menunggangi kereta emas ayahnya di kubah langit. Rupanya permintaan ini sangat mencemaskan Helios. Dia sangat mengerti bahwa anaknya sama sekali tidak berpengalaman untuk mengendalikannya. Karena tidak ingin membahayakan keselamatan Bumi dan anaknya, Helios memohon anaknya untuk menyebutkan permintaan yang lainnya.

Tawaran Helios tidak berhasil karena Phaethon berkeras, bahkan ingin memberi kesan kepada saudara-saudara perempuannya bahwa dia telah dewasa dan menyatakan bahwa ayahnya harus menghormati sumpahnya. Helios pun sadar bahwa dewa tidak dapat mematahkan sumpahnya terlebih bila telah bersumpah dengan (air) sungai suci Styx tanpa menderita konsekuensi yang mengerikan. Dengan berat hati dan sebenarnya sangat enggan untuk mengabulkan permintaan anaknya, akhirnya dengan terpaksa mengabulkannya.

Para Saudara Phaethon membantunya untuk naik ke kereta dengan kuda-kuda putih ayahnya. Namun, karena tidak berpengalaman dan kelewat gembira, maka tidak lama akhirnya Phaethon kehilangan kendali. Kuda-kuda ini merasa ada orang asing yang mengendalikannya dan justru merasa bebas untuk pergi ke mana pun mereka inginkan, mengingat sang penunggangnya tidak mengikuti jalan yang biasa ditempuh oleh pemiliknya (maksudnya Helios).

Terbang mengarungi langit dan pergi terlalu jauh dari Bumi, menyebabkan para penduduk di Bumi mulai menggigil bahkan membeku. Apalagi kereta Matahari tersebut beranjak begitu tinggi dan lebih tinggi lagi, maka semua tanaman pun mulai layu dan mati. Akan tetapi, tiba-tiba sang kereta Matahari ini laksana terjun bebas dan terbang terlalu dekat dengan Bumi dan mengakibatkan awal terbakarnya wajah Bumi; menghanguskan para penduduk dan lingkungan apapun yang ada. Kepanikan dan kesedihan pun melanda, bencana yang tidak terperikan telah terjadi.

Zeus mendengar tangis kesedihan dari para penduduk dan ia pun menyaksikan kuda-kuda putih menarik Matahari dengan Phaethon yang ketakutan menempel erat-erat. Kondisi ini membuat Zeus murka bukan kepalang. Gaea (sang dewi Bumi), pun cemas dengan bahaya dihadapannya lalu memohon Zeus melakukan sesuatu untuk menghentikannya. Zeus sadar bahwa apabila dia tidak bertindak cepat, maka semua bentuk kehidupan di Bumi akan terancam. Kemudian sambil menunggang elang, dia mengejar kereta Matahari dan melemparkan salah satu senjata petirnya yang mematikan ke Phaethon. Putra Helios pun tidak berdaya. Hukuman ini sangat serius. Karena keteledorannya, akhirnya Phaethon pun meregang nyawa dan akhirnya tubuhnya berjatuhan dari langit terjebur di Sungai Po dan Sungai Eridanus. Para Naiad, para peri air, pun memberi penghormatan dengan membuat rajah ukiran berupa tulisan di batu nisannya: "Di sini bersemayam Phaethon: Dengan kendaraan Helios dia berjalan; walau gagal total, nilai keberaniannya luar biasa" (dari Ovid, Metamorphoses).

Bencana ini telah diramalkan sebelumnya bahwa ada suatu masa dalam satu hari berlangsung tanpa Matahari (ketika kereta emas dibawa Phaethon), tetapi terang tidaklah berkurang. Rupanya terang yang ada ini berasal dari dunia yang terbakar begitu cemerlang akibat mendekatnya Phaethon saat mengambil dan menunggang kuda ayahnya. Ibunya, Clymene berkeliaran di seluruh Bumi mencari anggota tubuh dan tulang belulangnya. Raja Cycnus dari Liguria, sahabat Phaethon pun ikut mencari dan ikut berkabung bahkan sampai melupakan kerajaannya dan terus menangis di sepanjang sungai Eridanus hingga akhirnya ia berubah menjadi angsa. Para saudara perempuannya, para Heliades (julukan para putri Helios), yang berduka begitu dalam pun bersimpuh di tepian sungai bahkan akhirnya menjelma menjadi pohon poplar atau pohon alder yang kini banyak tumbuh di sepanjang sungai itu. Mereka senantiasa berada di tepian sungai, di mana tiada henti-hentinya meneteskan air matanya.

 

Kuda Helios

Kuda emas atau kuda Matahari Helios ditarik oleh 4 ekor kuda, yaitu Pyrois/Pyroeis, Eos/Aeos/Eous, Aethon/Aethion (Merah Menyala), dan Phlegon (Terbakar). Namun, kadang berganti. Umumnya bentuk kudanya adalah kuda bersayap, contohnya adalah kuda yang bernama Pegasus. Keunikan Pegasus pada kisah mitologi ini adalah para penunggangnya dapat berbeda dalam beberapa kisah. Tatkala sedang tidak mendapat tugas untuk menemani Zeus, dia menjadi kuda sang dewa Helios. Dalam lain cerita, penunggangnya adalah Perseus (yang berhasil memisahkan kepala Medussa, monster berambut ular yang tatapan matanya dapat membekukan siapapun yang menatapnya, saat hendak membebaskan dewi Andromeda).

Nama kuda penarik kereta lainnya adalah Lampos dan Phaethon (kedua kuda ini juga ditunggangi sang dewi fajar Eos). Juga terdapat kuda Actaeon (cahaya), Chronos, Asterope (Bermata Bintang), Bronte (guntur), Erythreos. Pada kisah lain ada penyebutan bahwa salah satu kuda bernama Phaethon dan rupanya ini merupakan penghormatan atas putra Helios yang menemui ajal akibat sambaran petir Zeus. Pada kisah lain, bahwa Lampos dan Actaeon juga menjadi kuda dari dewa Apollo. Ada juga Aethiops (Pembakar Gandum), Sterope (Kilat), Abraxas, dan Therbeeo.

 

Ragam Kisah Singkat Terkait Helios

  1. Konon ada perselisihan sengit antara dua dewa, yaitu Atreus dan Thyestes. Karena Zeus berpihak pada Atreus dan sedemikian sengit perseteruannya, sehingga Thyeste bahkan mempertaruhkan kerajaannya, Mycenae, tempat yang makmur dan berlimpah. Zeus mengirim pesan kepada Helios, bahwa ia harus berbalik arahnya pada waktu yang ditentukan, kemudian mengatakan kepada Atreus untuk membuat emosi Thyestes bergejolak sedemikian dapat membuatnya bersumpah bahwa ia akan menyerahkan klaim atas tahtanya apabila Matahari dapat bergerak mundur. Tidak percaya akan hal ini, maka Thyestes setuju. Akhirnya Helios bersama kereta kudanya ketika posisinya sedang menerangi Bumi seketika berbalik menuju peraduan dewi Eos sang fajar di ufuk timur di mana tujuh putri bersaudara (Pleiades; yang di Indonesia disebut Lintang Kartika) bersama bintang gemintang lainnya menelusur kembali perjalanan mereka menyesuaikan diri dengan arah dewa Matahari berjalan. Inilah hari, pertama dan hanya sekali itu, di mana Matahari terbenam di ufuk timur.
  2. Ketika Zeus berniat bersanding dengan seorang wanita fana bernama Alcmene sehingga dia akhirnya menjadi ayahnya Heracles (Hercules), Zeus mengijinkan Helios untuk mengambil cuti tiga hari. Dia ingin mengubah satu malam menjadi tiga kala berturutan (maksudnya 3 hari tanpa Matahari, senantiasa malam), karena dia tahu bahwa penciptaan seorang pahlawan sekaliber Heracles tidak dapat berlangsung dengan terburu-buru. Helios sebenarnya tidak senang tentang hal ini tetapi ia tidak akan pernah berpikir untuk tidak mematuhi Raja Olympus tersebut, sehingga dengan segala keengganannya dia melepas tali pengikat kuda-kudanya setelah memadamkan api surya dan menghabiskan waktu di istananya. Menggerutulah tiada putus tentang tidak dapatnya dia melakukan tugasnya dengan baik. Zeus berikutnya bersanding dengan Selene (Bulan) pergi perlahan-lahan dan Hypnos (Tidur) untuk membuat seluruh dunia mengantuk dan tidak menyadari kejadian yang aneh ini. Apakah dalam pengetahuan masa kini, sama artinya Bumi berhenti melakukan gerak rotasi selama 3 hari; ataukah fenomena alam sedemikian cuaca gelap gulita selama 3 hari berturutan? Memang tidak terbayangkan kalau Bumi tiba-tiba berhenti be-rotasi, betapa bencana dahsyat akan melanda seluruh muka Bumi. Bila gelap karena mendung atau tertutup kabut atau debu, dapat jadi karena letusan gunung atau lainnya sedemikian Matahari tidak terlihat selama 3 hari berturutan. Apakah ini berkaitan dengan misalnya kebakaran akibat gunung berapi (ingat ketika Phaethon mendekat Bumi dengan keretanya) dan kedinginannya makhluk di Bumi (akibat matahari tidak tampak atau ketika Phaethon menjauh dengan keretanya). Terlepas dari itu semua, sesungguhnya menarik juga mitologi seperti ini bila ditengok runutan sejarah kelahiran ceritanya.
  3. Berbicara tentang Heracles (Hercules), suatu hari pahlawan Yunani ini disibukkan oleh pekerjaannya. Saat dalam perjalanannya ke Erytheia untuk mengambil ternak Geryon, ia menyeberangi padang pasir Libya dan membuatnya begitu frustrasi akibat cuaca terik dan panas membakar. Akibat pancaran cahaya dari kereta Matahari Helios membuat Heracles sama sekali merasa sangat tidak nyaman. Heracles mengambil busur dan dipanahlah Matahari. Namun, ketika segera menyadari kesalahannya, maka dia secepatnya memohon maaf sebesar-besarnya kepada sang dewa Matahari tersebut. Sama-sama bersikap santun, Helios pun kemudian tergugah untuk memberi hadiah untuk Heracles berupa piala cawan emas yang justru setiap malam biasa digunakan saat berlayar mengarungi Oceanus besar dari barat ke timur (perjalanan malamnya). Akhirnya Heracles memakai cawan emas ini hingga ke Erytheia.
  4. Suatu hari, sang dewa laut Poseidon (Romawi: Neptune) berselisih dengan Helios mengenai hak kepemilikan wilayah Corinth (Korintus), sebuah wilayah yang kaya di Yunani. Pada akhirnya, terpaksa Zeus turun tangan untuk memutuskan, dan Raja Olympus ini memutuskan bahwa Helios dapat menguasai daerah Acropolis dan Poseidon akan memiliki wilayah Isthmus yang membuat sang dewa laut kecewa.
  5. Sejak Helios dapat melihat segala sesuatu yang terjadi pada siang hari, maka dialah yang memberi informasi kepada Hephaestus bahwa istrinya, Aphrodite berselingkuh dengan dewa perang Ares. Atas info ini, Hephaestus membuat jaring yang sangat halus bahkan nyaris tidak terlihat, namun kekuatannya layaknya karah baja dan menangkap dewa dewi tadi di tempat istirahatnya. Untuk menghukum Helios yang mengungkap rahasia ini, Aphrodite membuat Helios jatuh cinta dengan dewi keindahan bernama Leucothoe, dan saat berhasil justru membuat sang dewi ini menemui ajalnya. Tinggallah Helios sedih tiada tara.
  6. Dari Helios, Demeter mendapat informasi bahwa putrinya, Persephone, diculik Hades, sang dewa dunia bawah. Demeter memaksa Hades untuk mengakui bahwa memang itu adalah ulahnya. Rupanya Hades melakukannya dengan persetujuan diam-diam dari saudaranya, Zeus. Merasa gundah dan sedemikian marah, akhirnya membuat Demeter tidak mau lagi melayani Zeus dan membuat Bumi menjadi sepi dan sekarat tatkala dia berjalan menyusuri Bumi mencari Persephone.
  7. Suatu ketika para raksasa menyerang Gunung Olympus, kediaman Zeus dan para dewa dan mengancam akan menggulingkan Zeus. Para makhluk raksasa yang berambut panjang dan berjenggot ini adalah makhluk yang setengah badan ke bawah mirip ekor naga yang berfungsi sebagai kaki saat berjalan. Ada 24 raksasa ini yang tidak lain adalah anak-anaknya dewi Bumi (Gaea). Zeus diberitahu bahwa ia harus menemukan ramuan tertentu untuk menghadapi musuh-musuhnya, maka diperintahkanlah Helios dan adiknya Selene, sang dewi Bulan, untuk berhenti bersinar untuk sementara waktu. Di bawah kondisi pekatnya kegelapan dan dipandu hanya oleh cahaya redup bintang-bintang, Zeus menelusuri Bumi sampai akhirnya memperoleh tumbuhan untuk ramuannya dan membawanya ke Olympus. Tidak lama kemudian, para makhluk raksasa ini berhasil dikalahkan.
  8. Salah satu hal terburuk adalah apabila makhluk mencoba membandingkan dirinya dengan para dewa, dan Helios dalam kasus ini juga bertugas untuk mengawasi kelakuan para makhluk di Bumi yang sombong (sebagai penjaga kutuk). Meskipun ia bukan dewa sekaliber Zeus, ia berhak menghukum mereka yang tidak menghormati dewa Olympus. Seorang pemburu wanita bernama Arge sangat percaya diri dan berpikir kalau dia merupakan pelari wanita tercepat di dunia. Suatu kali, saat sedang mengejar rusa, wanita ini mengklaim dan berucap bahwa ia akan dapat menangkapnya bahkan jika rusa itu dapat berlari secepat Helios sekalipun. Untuk menghukum si wanita ini, Helios mengubah Arge menjadi rusa betina (doe).

 

Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak sekali pengaruh mitologi Yunani pada budaya manca negara, termasuk Romawi yang nyatanya sangat mirip justru karena praktis mengadaptasi hampir semua tinggalan Yunani walau ada penyesuaian sesuai karakter masyarakat kala itu. Budaya Yunani pun banyak diaplikasikan di ragam masyarakat hingga kini seperti nama hari (walau nama Romawi, namun secara umum mitologi yang ada ber-akar kuat pada tinggalan Yunani). Pengaruh inipun sampai ke budaya di Indonesia, termasuk kasus pemetaan langit. Mungkin hadirnya Batara Surya di Indonesia dapat menjadi topik unik bila hendak menyelisik kisah (dewa atau dewi) Matahari; tokh nyatanya mitologi terjadinya Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan erat berkelindan dengan ke-tokoh-an yang ditautkan dengan Matahari (lihat artikel Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan). Semoga para muda Indonesia ada yang dapat meluangkan waktu untuk ikut memberikan sumbangsihnya dalam ranah penelitian di atas berdasar budaya Nusantara. Salam Astronomi. –WS–

 

Daftar Pustaka

Cornelius, G., 2005, The Complete Guide to the Constellations, Duncan Baird, London, p.78-9, 136, 150, 155

Wilkinson, P. dan N. Philip, 2007, Mythology, Dorling Kindersley, Attleborough, p.41-3, 48-9

 

Situs