User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive
 

There is a way on high,

conspicuous in the clear heavens,

called the Milky Way,

brilliant with its own brightness.

(Ovid - Metamorphoses, pada abad pertama di Roma. Ref.: Cosmos, p.268)

 

Sejak dulu bangsa kita sudah mengenal adanya penampakan kabut laksana selendang putih tipis membentang dari langit utara ke selatan seperti awan. Pada bagian tertentu terdapat daerah gelap, seperti gambaran orang sedang bertarung dengan naga. Diyakini bahwa gambaran orang itu adalah salah satu tokoh Pandawa Lima dalam kisah Mahabarata, yaitu Bima yang sedang bertarung dengan ular besar (naga). Dalam cerita, Bima memenangkan pertarungan sedemikian lahirlah nama Bima Sakti untuk kabut putih itu (lihat artikel Bima Sakti: Mitologi dalam Budaya Jawa). Bila dilihat cermat, seakan kabut tadi terbelah menjadi 2 pita. Jadi, bila disaksikan dari ufuk ke ufuk akan dimaklumi bila pada budaya tertentu melihatnya seolah penjelmaan dari makhluk berkaki 4 seperti masyarakat di Mesir Kuno.

Lain halnya dengan bangsa di Eropa, gambarannya adalah air susu dewi Juno yang tumpah di langit sedemikian mereka menyebutnya Milky Way (Jalur Susu atau Kabut Susu). Masalah mitologi seputar galaksi kita nyatanya hadir hampir di seluruh dunia termasuk nama yang beragam (Wikipedia: Daftar Nama Bima Sakti). Hal ini dimaklumi karena penampakan kabut putih tersebut sangat jelas di kubah langit malam, termasuk yang disaksikan oleh leluhur kita di Bumi Nusantara. Tentu saja millennia lalu tidak ada polusi cahaya dan udara, tidak seperti sekarang.

Dalam tulisan singkat ini, akan disajikan serba sedikit kisah manca negara terkait bentang Bima Sakti di kubah langit. Kisah di tiap wilayah pun nyatanya juga memiliki ragam versi apalagi setelah melewati kala waktu bergenerasi, termasuk dampak tradisi lisan dan aneka tafsir terhadap ceritanya. Untuk Asia Timur dan India, kebetulan penulis berkesempatan menimba ilmu pada mereka yang berhasil pula mengumpulkan mitologi Bima Sakti (di sini diambil kisah di Jepang, Thailand, India) secara tatap muka (SoA WS-group). Semoga bermanfaat.

 

Yunani/Romawi

Mitologi Bima Sakti pun pada budaya Yunani yang berlanjut pada era Romawi sangat beragam. Galaksi tempat tinggal kita dalam bahasa latin disebut Milky Way. Ini terkait pula dengan pem-bahasa-an dari Yunani, yaitu gala (Susu). Berdasarkan Eratothenes (yang terkenal dalam perhitungan keliling Bumi) menyatakan bahwa dewi Juno, tanpa disadari telah memberi air susu kepada bayi Mercury (Merkurius). Tatkala sadar bahwa yang disusuinya adalah putranya dewi Maia, maka dicampakkanlah sang bayi sedemikian air susunya tumpah mengalir dan terejawantah di lautan bintang gemintang menjadi Milky Way. Versi lainnya, bukan bayi Mercury, melainkan Hercules. Pada kisahnya disebutkan bahwa sedemikian rakusnya Hercules yang membuat mulutnya sedemikian penuh hingga air susu tertumpah membentuk jalur Milky Way.

Mitos lain mengatakan bahwa dewi Ops membawa batu yang diselimuti mantel ke dewa Saturnus untuk menyarukan anaknya yang hendak dimakan oleh Sang Dewa Waktu tersebut. Saturnus lalu menyuruh Ops untuk menyusui anaknya. Ketika sang bayi yang sejatinya adalah sebongkah batu dipaksa dan didorong ke dadanya, akhirnya membuat air susunya tertumpah membentuk Bima Sakti.

Ada pula versi yang berkisah tentang dewa Zeus yang berkonspirasi dengan Aphrodite untuk memberi susu ke anaknya, Herakles melalui air susu dewi Hera ketika dewi ini tidur. Karena rakus, Hera terbangun dan seketika mendorong Herakles dan membuat air susunya tumpah. Di cerita lain ditekankan bahwa Hera ditipu untuk memberi air susu ke Herakles, artinya tidak pada saat Hera tidur. Kisahnya mirip Ops.

Pada cerita seperti ini dimaklumi apabila versi berkembang semakin beragam dan panjang. Konon kejadian berawal ketika dewi Alcmene yang juga istri dewa Zeus karena takutnya dengan dewi Hera, memperlihatkan anaknya di sebuah lapangan dekat Thebes (daerah tersebut dinamai Lapangan Heracles). Di sini sang bayi ditemukan oleh Hera dan Athena, dan Hera mendapat hak untuk menyusuinya kemudian membawanya kembali ke ibunya. Lainnya mengatakan bahwa Hermes (Romawi: Mercury) membawa anaknya yang baru lahir ke Olympus, dan menempatkan dia ke dekapan Hera saat tidur. Namun, ketika sang dewi terbangun, didoronglah bayi itu sedemikian air susunya tumpah membentuk jalur putih Bima Sakti.

Apabila ditilik, maka tema dari seluruh kisah Yunani/Romawi terkait gala (susu) yang tumpah, apapun latar belakang kisahnya. Hal ini juga termasuk akar kata galaxy dari bahasa Yunani Kuno, yaitu galaxiaz = gala + iaz. Umumnya galaxias, walaupun dalam alphabet Yunani – ajektif ias berasal dari iaz (urutan huruf iota-alpha-zeta).

Pada abad pertama masehi (oleh Geminus, penulis Little Astronomy), terdapat pengistilahan galaksi sebagai galaktos (milky) kuklos (circle). Inipun sekaligus menunjukkan adanya pengamatan cermat pada kubah langit yang berupa lingkaran (atau jalur) putih Bima Sakti. Dalam bukunya, Introduction to the Phenomena V, terdapat pembahasan tentang para pendahulunya seperti karya AristotleMeteorology – yang menyatakan bahwa menurut pengikut paham Pythagoras sejatinya jalur putih Bima Sakti adalah jejak perjalanan Matahari yang terbakar, Anaxagoras dan Democritus menyatakan bahwa jalur putih itu adalah cahaya bintang-bintang yang jatuh pada bayang-bayang Bumi. Pendapat lainnya, jalur tersebut sebenarnya refleksi dari cahaya Matahari. Permasalahan saat itu, mengapa daerah Zodiac tidak turut terbakar. Apabila sekedar cahaya bintang-bintang di bayang-bayang Bumi, maka posisi jalur putih tadi seharusnya turut bergeser bersamaan dengan posisi Matahari di ekliptika (Bumi bergerak, dengan demikian bayangannya pun bergeser). Apabila refleksi cahaya Matahari, maka jalur tadi pun pasti tidak berada pada posisi yang sama. Kenyataannya, hingga kini pun daerah rasi bintang Sagittarius merupakan daerah paling padat dan besar di bentang awan putih tersebut. Tidak pernah berubah posisinya. Adapun Matahari hanya pada waktu tertentu saja di rasi bintang tersebut. Selebihnya mengembara (walau setahun kemudian kembali ke rasi bintang yang sama, yang juga telah diamati bangsa Mesir Kuno sedemikian mereka membuat kalender berbasis Matahari yang kini kita pakai). Aristotle sendiri menyatakan bahwa hadirnya jalur putih tersebut semata gejala di atmosfer, tepatnya terjadi di batas terluar atmosfer (justru karena selalu tetap posisinya. Jadi apapun kelakuan Bumi, jalur itu tetap di tempatnya.). Yang tampak dan penting dari era ini adalah bahwa penjelasan mengenai jalur putih Bima Sakti tidak lagi terkait dengan mitologi (walau kala itu mitos tentang Bima Sakti sebenarnya masih banyak dijumpai. Mirip dengan budaya manca negara, termasuk di Indonesia di mana hingga kini pun masih banyak takhayul terkait fenomena Astronomi).

 

Mesir

Identifikasi dewi Hathor adalah adanya hubungan yang kompleks dengan eksistensi dewa Ra. Kadang digambarkan sebagai mata dewa tersebut, kadang disebut sebagai anaknya, bahkan ada kalanya dikisahkan sebagai ibunda dari dewa Ra. Anggapan yang terakhir muncul dari adaptasi kisah tokoh dewi sapi Mehet-Weret ("banjir besar") yang merupakan ibu dari Ra dalam mitos penciptaan yang dalam mitologinya diceritakan membopong anaknya, sang dewa Ra di antara kedua tanduknya. Sebagai seorang ibu, konon ia melahirkan Ra setiap pagi di ufuk timur dan melahapnya saat malam tiba. Namun, sebagai pendamping, dia senantiasa bersama Ra setiap hari. Apakah ini mirip dengan Hemera/Hespera yang senantiasa bersama Helios, sang dewa Matahari dalam budaya Yunani, masih perlu ditelusuri.

Kisah tentang dewi Hathor bersama dengan dewi Nut yang dikaitkan dengan Bima Sakti muncul selama kurun waktu millennium ketiga SM. Kala itu, saat awal musim gugur dan musim semi, jalur putih Bima Sakti membentang dari lokasi Matahari terbit dan terbenam. Empat kaki sapi di langit yang mengejawantahkan Nut atau Hathor, terlihat layaknya pilar penyangga langit di mana bintang gemintang menghiasi daerah perutnya yang kesemuanya merupakan jalur putih Bima Sakti di mana pada jalur ini juga dikatakan sebagai lintasan “perahu (Matahari)” dewa Ra saat berlayar (konsep ekliptika pada masa kini). Penulis agak kesulitan dalam menafsirkan ini karena sesungguhnya jalur jejak Matahari (ekliptika) dengan jalur putih Bima Sakti tidaklah berhimpit. Pada kasus tembang di Jawa lebih tepat karena “Joko Bèlèk malaku ing kali”, suatu saat memang planet Mars akan menyeberangi Bima Sakti. Adapun hadirnya fenomena 4 kaki sapi dimaklumi saat kita memandang jalur putih Bima Sakti yang seolah terbelah dua akibat adanya jalur gelap yang oleh masyarakat Jawa diidentikkan dengan naga yang dikalahkan oleh Bima. Diperkaya pula kisahnya, bahwa jalur ini merupakan jalur air (di mana perahu tadi berlayar) yang ternyata dikaitkan pula sebagai tempat berlayarnya dewi Bulan. Bagi mereka jalur air langit ini identik dengan jalur air di darat, yang tidak lain adalah Sungai Nil (Di budaya Jawa identik dengan Sungai Serayu, dapat pula dipersandingkan dengan kisah Asia Timur – silvery river). Pada kisah lain, bahwa kedua tangan dan kaki dewi Nut berada di ufuk sebagai 4 titik mata angin (cardinal point) yang tubuhnya bertaburan bintang gemintang. Ada keunikan lain, bahwa masih belum jelas bagi penulis mengenai 4 titik mata angin ini. Jalur Bima Sakti tentu hanya meliputi daerah yang sempit. Tidak menggapai 4 titik Utara Timur Selatan Barat (UTSB).

Hathor juga disukai sebagai pelindung, khususnya di daerah gurun. Di wilayah Serabit el-Khadim tempat di mana pirus ditambang (barat daya semenanjung Sinai, batu semi-mulia dengan warna buram biru kehijauan atau biru langit yang tersusun atas unsur fosfat hidroksil berasal dari tembaga dan alumunium), Hathor dikenal sebagai "Lady of Turquoise". Pada prasasti abad 31 SM, pada era raja Narmer, ada keidentikan Hathor dengan dewi sapi yang terkait kesuburan, yaitu Bat (as a human face with cow ears and horns). Mitologi di Mesir pun beragam dan begitu banyak cabangnya sesuai dengan kemapanan dan kemandirian budayanya yang terentang ribuan tahun.

 

Māori – Selandia Baru

Untuk masyarakat Māori, Bima Sakti adalah waka (kano) dari Tama-rereti. Bagian depan dan belakang kano ini ditandai dengan rasi bintang Orion (Indonesia: Lintang Waluku) dan Scorpius (Lintang Klopo Doyong), sedangkan Te Punga a Tama-rereti atau di Indonesia Lintang Gubug Penceng (Crux) adalah jangkarnya dan tali jangkarnya adalah Pointer yang di Indonesia dikenal sebagai Lintang Wulanjar Ngirim, yaitu bintang Alpha Centauri (Rigil Kent) dan Beta Centauri (Hadar). Layarnya adalah rasi bintang Te ra o Tainui yang meliputi rasi bintang modern Orion, Taurus, Centaurus, dan Crux. Sementara itu, Pleiades (Lintang Kartika) sebagai simpul busur layar disebut Matariki (Little Eyes). Penulis mencoba telusuri peta langit, dan agar mudah membayangkannya di Jakarta, dapat diambil waktu awal malam kisaran akhir bulan Mei di mana posisi Scorpius dekat ufuk timur dan Orion dekat ufuk barat (atau bila diambil masa berkembangnya kisah di atas sekitar awal Mei tahun 1006, saat masyarakat dunia melihat ledakan bintang atau supernova secara kasat mata).

Menurut legenda, ketika Tama-rereti duduk dan beristirahat di atas kano di danau, tidak disadarinya ketika malam datang, ia menemukan dirinya sudah mengapung jauh dari rumahnya. Didapatinya saat itu di kubah langit malam pun tiada berbintang, sementara langit semakin gelap gulita. Ada kisah menyeramkan yang diingatnya, yaitu bila kondisi seperti itu, maka monster laut (sebangsa ikan hiu) Taniwha akan menyerang dan mencari manusia untuk dimangsa. Jadi Tama-rereti bergerak menuju dan menyusuri sungai ke hulu di langit yang penuh dengan kerlap kerlipnya taburan kerikil dari tepi danau ke langit (penulis membayangkan bahwa hulu sungai ini menuju perbukitan atau pegunungan di mana daerah hulu tampak berlatar belakang kubah langit perbintangan). Tama-rereti selamat dan dewa langit, Ranginui, merasa senang dengan kelakuan dan kepintarannya. Pada akhirnya, ditempatkanlah kano tadi di langit sebagai pengingat bagaimana lahirnya bintang-bintang dibuat, juga lajur putih Bima Sakti khususnya pada lokasi dekat kano tadi, daerah padat bintang di Scorpius (pen.: melihat posisinya berarti juga arah rasi bintang Sagittarius, ke arah di mana letak pusat galaksi kita berada). Daerah padat awan putih tersebut kadang digambarkan juga layaknya ikan paus.

Apa yang dialami budaya Māori pun mirip dengan wilayah lain, seperti yang dikatakan oleh Elsdon Best, seorang ethnographer Selandia Baru tahun 1922 (Ref: Hyde, 1962), “Few endeavours have ever been made to collect Māori star lore, and now it is too late to rescue it. The men who knew have passed away.” Semakin banyak masyarakat yang tidak tahu lagi budaya leluhurnya. Yang tahu pun telah sangat sepuh bahkan sudah tiada. Pada sisi lainnya, juga mirip dengan Indonesia, budaya Māori pun banyak berakulturasi dengan budaya masyarakat wilayah Polinesia karena sama-sama gemar mengarungi lautan.

Menurut cerita, penemu Selandia Baru (Aotearoa) adalah Kupe. Berdasar mitologi pada era-nya bahwa hadir dewa langit (Sky Father) bernama Rangi-nui di mana semua benda langit bergerak di permukaan tubuhnya (Mirip Mesir, bintang-bintang terletak pada tubuh dewi Nut). Dikenal pula dewi Bumi (Earth Mother) bernama Papa-tua nuku. Planet disebut sebagai whetu nui atau great stars (di Indonesia pun sama saja, disebut bintang, lintang, wintang). Bintang-bintang disebutnya ra riki atau little suns dan dianggap sebagai anggota termuda dalam hirarki dewa dewi atau benda-benda langit (Yang sebenarnya dapat dipertanyakan adalah mengapa planet disetarakan dengan bintang dan bintang disetarakan dengan Matahari). Menurut cerita bahwa jalur Bima Sakti dikatakan sebagai ikan besar di langit atau ikan paus seperti kisah di atas. Ada pula yang menganggapnya sebagai tulang punggungnya Rangi-nui. Masyarakat Arawa menyebutnya jaring-jaring Taramainuku (leluhur mereka).

 

Asia Timur

Masyarakat di Asia Timur percaya bahwa jalur putih Bima Sakti adalah layaknya sungai perak di langit (Korea: Eunha, Jepang: Ginga). Dalam satu cerita, bintang Altair dan Vega dikatakan sebagai dua kekasih yang diizinkan untuk bertemu hanya sekali setahun pada hari ketujuh bulan ketujuh, ketika kawanan burung magpie dan burung gagak membentuk jembatan di atas sungai galaksi. Hari itu diperingati sebagai Qi Xi, malam ke 7 (Korea: Chilseok, Jepang: Tanabata). Berdasarkan perunutannya, kisah ini awal mulanya lahir di China.

 

Jepang

(Disarikan oleh Masami Furuya dan dikisahkan oleh Norio Kaifu – SoA WS-group)

Dalam versi Jepang (berawal dari China abad 8, kala dinasti Nara, yang diperingati setiap tanggal 7 Juli adalah kisah yang awalnya mirip legenda Joko Tarub tatkala menjumpai bidadari mandi di telaga. Bermula dari disembunyikannya baju Ori-hime (gadis penenun, adaptasi legenda China) oleh sang pemburu. Suatu saat Ori-hime berhasil menemukan kembali bajunya setelah memiliki 2 putri, kemudian Ori-hime kembali ke langit. Sang pemburu dan kedua putrinya pun akhirnya menyusul ke langit.

Dewa langit dan permaisuri, orang tua Ori-hime, menunggu sang pemburu dan anak-anaknya. Mereka sangat marah kepadanya karena ia menahan putri mereka kembali ke langit. Mereka melontar melon besar ke sang pemburu. Ketika pemburu memotong melon tersebut, memancarlah air yang deras dari dalamnya. Terpaan air tersebut menjauhkan sang pemburu dan anak-anaknya dari Ori-hime. Air ini menyembur terus laksana sungai yang lebar dan menjadi jalur putih Bima Sakti yang juga disebut Ginga.

Pada mitologi ini, Ori-hime terejawantah sebagai bintang paling terang di rasi bintang Lyra (Harpa), yaitu Vega. Sang pemburu, Hikoboshi, adalah Altair yang merupakan bintang paling terang di rasi bintang Aquila (Elang). Dua anak mereka adalah bintang-bintang redup di samping Altair.

Pada akhir cerita, mereka masih tetap diberi kesempatan bertemu sekali setahun pada malam 7 Juli. Pemburu dan anak-anak menunggu hari itu untuk menemui Ori-hime dari sisi seberang Bima Sakti. Ori-hime pun menunggu hari tersebut dari sisi lainnya dari Bima Sakti.

Kisah di atas sangat berkesan pada masyarakat di Jepang. Untuk itu, diselenggarakanlah festival terkait kisah Ori-hime dalam suatu festival yang disebut festival Tana-bata (yang artinya sama, gadis penenun dalam Bahasa Jepang era kuno. Ada pula yang dimaksud adalah malam ke 7, juga populer dengan nama Festival Bintang). Kegiatan ini sebenarnya adaptasi juga dari masyarakat China (telah ada sejak awal masehi dan populer ketika dinasti Tong) yang lalu dibawa ke Jepang oleh Ratu Kōken tahun 755. Aslinya adalah festival untuk memohon ketrampilan (Kikkōden, nama lain Qi Xi).  Kegiatan yang melibatkan pihak kerajaan di China pun diadaptasi di Jepang oleh Istana Kekaisaran Kyoto pada era Heian (794 – 1185, Heian-kyo atau Kyoto sekarang, di bawah klan Fujiwara).

Masyarakat merayakannya dengan membuat dekorasi terbuat dari bambu, ragam tenunan dan pakaian warna-warni, melukis, membuat Haiku (puisi pendek), dan ragam makanan untuk menyambut pertemuan bintang-bintang di atas dan berdoa memohon agar diberikan ketrampilan untuk menggergaji, menulis indah, dll

 

Thailand

(dikisahkan oleh tetua Mae Sa Reang District, Northern Thailand yang disarikan dan dikisahkan oleh Siramas Komonjinda – SoA WS-group)

Kisahnya berawal dari suku Lua di hutan pegunungan wilayah utara Thailand yang asri. Masyarakatnya sesekali turun ke kota untuk berdagang. Penguasa Kachin di kota sangat ditakuti kala itu dan sering meminta upeti dari daerah sekitarnya. Namun, satu saat permintaannya dianggap berlebihan. Minta, sang utusan yang seharusnya mengultimatum malah terkesan dengan seorang gadis Lua. Namun, mengingat kondisi yang tidak menguntungkan, maka hubungan ini dilarang. Pada akhirnya, Minta justru diikat di kaki gunung sebagai jawaban atas permintaan penguasa Kachin.

Minta balas dendam dan berpura-pura menerima penolakan tersebut yang membuatnya diterima baik masyarakat Lua. Dengan membujuk sang gadis memasuki gua para leluhur, Minta membakar semak-semak sebagai tanda agar masyarakat Kachin menyerang masyarakat Lua. Minta dan gadis tersebut aman di gua suci tadi dan ternyata ada yang melihatnya, yaitu para wanita tempat suci di dekat lokasi.

Api di semak-semak tadi makin besar. Banyak korban dari masyarakat Lua, selain akibat serangan pihak Minta. Salah satu yang selamat adalah seorang “dukun” yang juga mengungsi ke gua. Orang ini meletakkan kain putih tipis yang direndam air suci dan membentangkannya dari tengah hingga ke luar gua. Dengan mantera, kain tadi memanjang hingga ke langit dan kemudian memanjatnya diikuti sang gadis. Minta ketika hendak turut, terdorong ke belakang oleh para wanita dari tempat suci. Oleh the Great Spirit, Minta memang tidak diijinkan untuk naik karena mengkhianati masyarakat Lua yang sudah mempercayainya. Terpisahlah dua sejoli tadi, sementara langit seolah mengembang dan para pemanjat tetap berusaha menjauhi api yang semakin merah dibawahnya. Kain putih pun bergerak mengombak dan makin terpisahlah Minta dari lainnya. Dengan manteranya, orang tua tadi mengubah semua yang selamat menjadi bintang-bintang di tengah-tengah hamparan warna putih kain tadi yang akhirnya menjadi jalur putih Bima Sakti.

 

India

(Disarikan dan dikisahkan oleh Leena Damle – SoA WS-group)

Himawana adalah raja dari pegunungan yang berpermaisuri Mena. Mereka memiliki dua anak perempuan nan cantik, Ganga dan Uma. Raja para dewa, Indra, bermaksud mempersunting Ganga dan ternyata disetujui ayahnya. Alkisah akhirnya Ganga pergi ke langit. Sesampai di sana, Ganga menelusur langit yang bak sungai cahaya dan memurnikan segala sesuatu yang dia datangi. Lajur cahaya yang merupakan jejaknya yang melalui kubah langit kemudian dikenal sebagai Akashganga (Bima Sakti). Akash berarti cakrawala atau langit dan Akashganga berarti sungai surgawi atau langit. Bintang-bintang di Bima Sakti tidak lain adalah manik-manik penghias rambutnya.

Dalam Hindu (Bhagavata Purana), semua bintang dan planet yang kasat mata bergerak di langit layaknya lumba-lumba berenang di samudra nan luas, dan kubah langit itu disebut śiśumãra cakra (the dolphin disc). Perut lumba-lumba pengejawantahan Bima Sakti yang disebut Akasaganga yang artinya adalah Sungai Gangga di langit (mirip bangsa Mesir terhadap Sungai Nil atau di Jawa Sungai Serayu). Dalam mitologi lain, ada kepercayaan yang juga mengaitkan Bima Sakti, yaitu ketika dewa Wisnu bermeditasi bersama istrinya, Shesha di Lautan Susu (Kshira Sagara) yang diyakini ada di jalur putih Bima Sakti.

 

Mesopotamia

Tentang mitologi Mesopotamia (Irak dan sekitarnya), mungkin kita masih ingat cerita tentang mitos terkait Jupiter (Lihat artikel Berkenalan Dengan Planet Jovian) yang mengisahkan hadirnya dewi Tiamat yang tubuhnya terbagi dua akibat gempuran dewa Marduk di mana setengah badannya menjadi langit, setengah lagi menjadi Bumi.

Pada kasus Bima Sakti, disebutkan juga bahwa setengah badan ke bawah itulah yang menjadi bentang putih Bima Sakti. Ada pula tokoh lain yang disebut dalam kaitannya dengan Bima Sakti, yaitu Labbu.

Dalam mitologi disebutkan kehadiran dewa tertinggi Enki (yang berselang waktu kemudian dikenal sebagai Ea) yang yakin bahwa Apsu akan membinasakan para dewa muda. Enki menangkap dan menawannya di bawah istananya (kuil E-Abzu) dan menghukum mati Apsu. Sementara itu, Kingu, putra Apsu, marah dan melapor pada ibunya, Tiamat. Diutuslah 11 monster oleh Tiamat yang tidak lain anak-anaknya sendiri untuk balas dendam. Ujud mereka ada yang berupa ular berbisa, ular besar, ular api, naga, singa, manusia kalajengking, manusia banteng, manusia ikan, dan bentukan menyeramkan lainnya.

Tiamat menebar teror yang membuat para dewa takut. Namun, Anu (disebut kemudian Enlil, lalu era Babylonia menjadi Marduk) akhirnya membinasakan Tiamat dan anak-anaknya, kemudian menjadi raja para dewa. Dari rusuk Tiamat, diciptakanlah Bumi dan langit. Simbah air matanya menjadi sumber mata air sungai Tigris dan Euphrates. Ekornya menjadi jalur putih Bima Sakti. Sementara dari darah Kingu yang dicampur dengan tanah liat merah (pengejawantahan Bumi dari rusuk Tiamat) diciptakanlah manusia untuk berbakti pada para dewa muda (yang hendak dibinasakan Apsu pada awal cerita).

Adapun tokoh Labbu (paduan singa dan ular, ada yang menyebutnya naga laut) pada pertempuran berhasil dimusnahkan oleh Tishpak, ksatria para dewa. Tema kisah ini terdapat baik di Babylonia Kuno maupun Assyrian (ditemukan di perpustakaan raja Ashurbanipal, abad 7 SM, di kota Nineveh – kini Mosul). Ini pun bermula dari epik Gilgamesh yang telah ada kisaran 3000 SM.

Pada kisahnya terdapat syair "Dia mengangkat ekornya ...," dia di sini maksudnya sang naga di mana kibasannya menyapu sepertiga jumlah bintang-bintang di langit, dan melemparkan mereka ke Bumi. Menurut mitos ini, Enlil melukiskan naga di kubah langit. Apakah ini ditafsirkan sebagai jalur putih Bima Sakti atau penampakan komet, hingga kini masih belum ada jawaban pasti. Yang jelas dinyatakan bahwa karena kehadiran makhluk tersebut, para dewa ketakutan. Di bagian inilah, Tishpak muncul sebagai pahlawan yang lalu menciptakan badai, menyingkap permadani awan, kemudian memanah Labbu, sang naga laut.

 

Sebuah Pertimbangan

Usaha dalam mengumpulkan ragam kisah di atas terus dilakukan di manca negara. Hal seperti ini dapat dikatakan sebagai cabang Astronomi, yaitu Astronomi Budaya yang secara garis besar terbagi dalam Ethnoastronomy dan Archaeoastronomy (misal analisis yang terkait dengan penelitian bagaimana candi Borobudur didirikan atas dasar perhitungan Astronomi, arah candi yang berdasar bintang di langit, penentuan kalender kala itu, dll). Secara internasional dapat disimak dalam kegiatan kerjasama antara UNESCO dan IAU (UNESCO Astronomy and World Heritage).

Adapun pada ranah Asia Pacific dipelopori oleh Prof. Kaifu dari NAOJ (the National Astronomical Observatory of Japan) yang melakukan kunjungan tahun 2008 ke negara-negara Asia-Pacific untuk merealisasikan proyek Stars of Asia (SoA) dalam rangka IYA2009. Mengajak negara-negara Asia Pacific untuk membuat buku tentang mitologi dan legenda yang terdapat di negara masing-masing. Tentu ini akan menjadi tonggak penting dalam kajian di atas. Dalam hal ini, perwakilan Indonesia dikomandani oleh DR. Hakim L. Malasan dari Prodi Astronomi dan Observatorium Bosscha ITB dan kebetulan penulis (sebagai Editorial Board) pada tahun 2009 berkesempatan turut menggarapnya bersama rekan-rekan dari 14 negara Asia Pacific. Kami sepakat menyadari bahwa betapa banyak kisah langit yang sebenarnya dapat diangkat ke permukaan.

Penelusuran dalam topik ini yang terkait juga dengan sejarah Astronomi tentu masih menjadi medan penelitian yang terbuka luas yang seolah menjadi cakrawala yang tiada terbatas yang juga dapat terjadi karena perbedaan penafsiran terhadap naskah kuno sebagai tinggalan jejak budaya. Demikian pula ranah peleburan antara pengetahuan perbintangan (sebut Astronomi) dan peramalan kondisi hingga nasib insan dalam arti luas terkait alam perbintangan (sebut Astrologi) yang senantiasa timbul dan nyatanya sukar dihindari karena justru berkelindan dengan sejarah sosial–budaya Nusantara maupun manca negara.

Tiada bosan penulis berharap, khususnya kepada para muda di Indonesia dapat memberikan sumbangsihnya dalam ranah penelitian di atas berdasar budaya Nusantara. Tulisan ini ibaratnya tidak lebih dari tarikan nafas pertama dari bayi yang baru lahir; yang kelak sang bayi ini menjadi tumbuh berkembang bergenerasi kemudian. Semoga. Salam Astronomi. –WS–

 

Daftar Pustaka

Evans, J., 1998, The History and Practice of Ancient Astronomy, Oxford Univ. Press, New York, p.92-5

Hyde, V., 1962, Godzone Skies: Astronomy for New Zealanders, Canterbury University Press, Christchurch, p.9-10

Sagan, C., 1983, Cosmos, Futura, London, p.193-207, 268

Wilkinson, P. dan N. Philip, 2007, Mythology, Dorling Kindersley, Attleborough, p.144-6, 299

SoA WS-group, 2009, Stars of Asia (Draft), Mitaka, Tokyo

 

Situs