Written by Widya Sawitar

User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive
 

ABSTRAK

Bersama dengan langkah maju keastronomian global, ternyata makin disadari bahwa pada ranah Nusantara pun banyak ditemukan pengetahuan tentang ilmu ini. Di sini akan disinggung sedikit beberapa temuan itu dengan mencoba menyelisik utamanya di budaya Jawa. Tampak bahwa budaya Astronomi yang ada tidak lepas dari tata laksana kehidupan sehari-hari, baik bagi masyarakat agraris hingga para petualang samudera. Adapun masa transisi dapat disebut pada rentang saat dibangunnya Observatorium Mohr di Batavia, Observatorium Bosscha di Lembang hingga RI berdiri. Sementara itu, secara formal pendidikan tinggi Astronomi di Indonesia disepakati dimulai pada tanggal 18 Oktober 1951, yaitu 6 tahun setelah kemerdekaan dan 8 tahun sebelum induknya (ITB) lahir yang kini Prodi Astronomi ITB merupakan satu-satunya prodi Astronomi di Indonesia. Giliran tahun 1964 dibangunlah Planetarium Jakarta yang digagas oleh presiden pertama RI. Tentu pada tahap selanjutnya, dunia Astronomi pun diperkenalkan pada jenjang yang lebih dasar. Ini tidak lepas dari keunikan karakter Astronomi yang berkelindan dengan ragam keilmuan dari ilmu murni hingga sosial–budaya, yang dalam aplikasinya menyangkut banyak lagi keilmuan yang tidak dapat terpisah bahkan hingga dataran religi.

Kata Kunci: Budaya Astronomi – Pendidikan Astronomi – Jejaring keastronomian

1. PENDAHULUAN

Artikel ini bermula dari permintaan Himpunan Mahasiswa Departemen Fisika UI Depok kepada penulis untuk mengisi acara talkshow dalam rangka kegiatan Pesta Rakyat Fisika 2016 (15/10/2016). Ada ragam tema unik dari panitia yang muncul dalam kegiatan ini. Penulis mendapat topik talkshow yang sekaligus saja dijadikan judul paparan di sini, yaitu “Sejarah Perkembangan Astronomi di Indonesia” dengan tema Celestial Bodies As A Tool For Navigation (artikel ini adalah pengembangan materi talkshow tersebut). Namun, pada silabusnya juga menyangkut budaya leluhur hingga terkait pula dengan masalah bagaimana akhirnya pada suatu ranah dapat dinyatakan bahwa Astronomi sebagai salah satu terapan dari Fisika pada era ke-kini-an. Acara inipun sekaligus untuk pengantar kegiatan observasi yang bertema Lost Among the Stars. Uniknya, keseluruhan kegiatan yang mereka selenggarakan mengusung tema Beyond Happiness Within Infinity. Semua tema “rasanya” menyangkut kesan terhadap hamparan alam semesta.

Kata pertama kepada panitia kala itu adalah meng”iya”kan saja. Namun, setelahnya ternyata membuat dahi siap untuk berkerut karena pada dasarnya sangat menyadari sepenuhnya bahwa sejatinya topik ini melingkupi medan embara yang sangat luas. Sekedar mencoba menjawab sisi definisi Astronomi saja membuat imajinasi melantur ke sana sini. Belum bila dimulai dengan landas acu budaya leluhur. Bagi mahasiswa, layak untuk mendapat kuliah satu semester, bahkan lebih. Eksistensi candi Borobudur terkait astronomi pun dapat menjadi skripsi atau cobalah menyelisik kasus nama galaksi kita, Bima Sakti, atau bagaimana komet diwakili oleh tokoh Semar hingga tokoh Petruk yang disetarakan dengan hadirnya sang bintang Kejora planet Venus, dll. (lihat artikel BIMA SAKTI, Mitologi dalam Budaya Jawa dan HELIOS, Sang Dewa Matahari). Belum lagi membahas navigasi bintang yang dipakai masyarakat maritim (tentu juga oleh masyarakat agraris). Bagi penulis, ada satu hal yang cerdik, yaitu tema keseluruhan, beyond happiness within infinity yang tentu menerjemahkan ini mau tidak mau harus mengembara ke semua aspek yang sedapat mungkin dan sebanyak mungkin harus dilihat sedemikian konteks happiness dapat diejawantahkan dalam sikap harfiah bahagia, atau dapat jadi menimbulkan suatu kekaguman, terkait ke-terpesona-an, ataupun sesuatu yang penuh misteri yang membuat bergolaknya rasa penasaran tanpa terjatuh dalam ranah yang menakutkan terlebih disandingkan dengan kaidah infinity (tiada berhingga, hamparan yang seolah tiada berufuk, namun konsisten dengan suatu keterbatasan) atau sebutlah sebagai beyond imagination.

Kembali bila menilik budaya Astronomi, maka era budaya tradisional di Bumi Nusantara dapat dikatakan mulai menapak ke tatanan ilmiah matematis saat dibangunnya observatorium Mohr di Batavia pada era Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Mungkin kini sudah tidak tersisa.

Adapun setelah era lahirnya Republik Indonesia, Astronomi semakin maju lebih karena mendapat tempat secara legal formal dalam kurikulum dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi yang pada gilirannya era kini bahwa pendidikan Astronomi pun akhirnya secara formal maupun non formal, secara profesional maupun amatir terus bergulir dan “semoga” semakin berkiprah.

Penelusuran di atas diawali dengan mencermati pengertian dan budaya Astronomi di Nusantara (sebut sebelum RI lahir), dilanjutkan dengan bahasan mengenai beberapa tonggak Astronomi yang cukup penting di Indonesia. Terakhir adalah mencoba untuk menjawab sebuah pertanyaan ataupun sebuah tantangan pada masa mendatang, sejauh mana kita menyadari akan kebutuhan terhadap keilmuan ini untuk masa depan, untuk generasi mendatang? (walau landas acu analisisnya dalam menjawab pertanyaan ini teramat sangat sempit seperti yang ditulis di artikel ini. Namun, semoga tidak kehilangan benang merahnya saat menjawabnya).

 

2. SELAYANG PANDANG ASTRONOMI

Sebagai disiplin ilmu, Astronomi tidak mengenal batas wilayah geografi karena obyek telaah dan metodologinya bersifat universal. Sebagai ilmu alam dasar, Astronomi mempelajari fenomena fisis yang melibatkan entitas terkecil dalam ranah partikel elementer (sebut Fisika Teoritik atau Astrofisika Energi Tinggi) hingga ke entitas terbesar yang tidak lain alam semesta dengan segala isi dan fenomenanya (sebut Kosmologi). Selain itu, masyarakatnya dituntut untuk berinteraksi bersosialisasi yang menggiringnya ke dalam medan akulturasi sosial–budaya. Pun menyimpan nuansa seni, keindahan, dan harmoni (apapun ujud yang terhampar). Imajinasinya menelusuri jejak ilmu bermilyard tahun ke masa silam – kekinian – maupun ke masa depan yang dibarengi bahasa Matematika dan keimanan (apapun aplikasinya). Paduan sejati yang begitu indah antar ragam ilmu eksakta dan sosial–budaya (sebut Astronomi Budaya). Maka, tidak salah kalau Astronomi disebut sebagai ujung tombak iptek. Dapat jadi, bahasan ini sekedar memperkenalkan sezarah aspek dari gagasan mengenai Astronomi; sebagai sebuah undangan untuk kontemplasi, untuk minimal lebih mengagumi dan menghirup dalam–dalam aroma samudra karunia yang begitu indah (minimal aromanya dahulu, belum sampai ke kedalaman samudra layaknya lakon Dewa Ruci) (ref: Sawitar, 2012).

Kadang kalau mengingat bahwa dalam Astronomi dibahas tentang Jagad Raya, maka kerap malah ikut bertanya (mungkin terasa jahil), dapatkah kita melongok keluar jendela di tepi alam semesta: “Ada apa di luar sana?” dalam pemahaman jagad terbatas bertepi (dapat kita berkhayal jagad semesta adalah rumah tinggal kita bersama; yang namanya rumah seharusnya punya jendela). Di sisi lain, betapa sulit mendeskripsikan ilmu ini laksana berjalan pada malam pekat di bawah kubah langit perbintangan. Makin menelusur, makin terasa indah. Namun, semakin penuh misteri dan sukar terucap layaknya mendeskripsikan keindahan itu sendiri dan tiap insan punya tuturan dalam ranah spiritnya masing–masing. Pada dataran lainnya bahwa alam raya senantiasa memperlihatkan dinamikanya dan senantiasa berubah (bagi para mahasiswa Fisika mungkin dapat mengingat tentang prinsip entropi, “Makhluk apa ini?”). Namun, yang pasti, alam semesta akan menemukan kesetimbangannya sendiri tanpa campur tangan manusia. Saripatinya adalah perubahan, perubahan alam maujud yang terhampar maupun alam pikir baik positif maupun negatif yang tergantung pada sisi pandang yang memikirkannya.

Tidak dipungkiri bahwa seiring sejalan dengan jejak peradaban, lahirlah beragam mitos seputar jagad semesta. Berawal dari budaya lisan turun temurun, generasi demi generasi hingga era kini. “Selalu ada rasa terpesona saat kita memandang langit malam yang bertabur bintang dan rasa ini telah membangkitkan berbagai inspirasi yang artistik maupun spiritual sepanjang peradaban manusia. Namun, ketika kita paksa pandangan kita untuk menerobos lebih dalam dan mengikuti bentangannya, alam semesta kita menampakkan dirinya sebagai sosok yang maha luas, dingin, gelap, dan (rasanya menjadi) terlalu jauh untuk punya hubungan apapun dengan kita.” (ref.: Premadi, 2007) Apa benar demikian? Tidak bisa disangkal bahwa Astronomi yang kini kita pahami tidak dapat lepas dari suatu tahapan, tahap mitos, yang pada akhirnya justru menjadi cikal bakal lahirnya Astronomi sebagai ilmu. Mau tidak mau akhirnya harus diakui pula bahwa Astronomi adalah sketsa budaya manusia. Kiranya Astronomi dapat dijadikan media perenungan untuk menapak jalan menuju jendela sains secara terintegrasi dan sekaligus secara arif dan rendah hati dalam menyikapinya. Hal ini harusnya juga menggiring ke kesadaran bahwa apa yang dipelajari, dengan ragam teknik, adalah cara masyarakat membangun pengetahuan dan terapannya tentang langit, yang akhirnya melahirkan pola pikir yang seragam secara massal (kolektif) lalu membentuk karakter unik dari sebuah budaya – yang di Bumi Nusantara minimal dapat dilihat dari 2 sisi yang berdampingan secara harmonis, yaitu budaya yang berlandas acu ranah agraris maupun bahari (baik dari sisi Etnoastronomi maupun Arkeoastronomi dalam bidang Astronomi Budaya).

Dalam hal kasus deskripsi Astronomi di sini (ref.: Sawitar, 2014), tidak ada salahnya menyimak 2 kamus bahasa yang menyatakan bahwa Astronomi adalah – pertama: the scientific study of the sun, moon, stars, planets, etc.; kedua: ilmu tentang matahari, bulan, bintang, dan planet-planet lainnya; ilmu falak (Adapun falak di sini diartikan sebagai: 1. lengkung langit; lingkaran langit; cakrawala. 2. pengetahuan mengenai keadaan (peredaran, perhitungan, dsb) bintang-bintang). Interpretasi terhadap pem-bahasa-an ini tentu dapat berbeda dan akhirnya dapat dinyatakan bahwa untuk menjawab apa itu Astronomi akan tergantung dari sisi pandang dari pihak yang ditanya. Lainnya, the science of space beyond Earth’s surface and lower atmosphere. Namun, untuk keber-minat-an kadang dapat kompromi dengan cara unik semisal melihat dan bedah film semacam Star Trek, Star Wars, Gravity, Interstellar, dll; bahkan dalam ranah budaya mitologi dapat dibandingkan antara film Percy Jackson and the Lightning Thief dan Clash of the Titans, atau semacam Thor. Semoga pembaca dapat melihat perbedaan mencolok dari definisi yang ditulis pada 2 kamus di atas.

Sejak jaman purba, hampir semua makhluk termasuk manusia apapun budayanya tentu melihat Matahari, Bulan, bintang, dan planet yang sama. Harus diakui dalam alun waktu bahwa wajah langit tidak selalu menyenangkan. Selalu ada 2 sisi yang relatif bertolak belakang, kagum atau takut. Masing-masing mengembara dalam benaknya. Disinilah uniknya, manusia terbatas dimensinya, seberapa besar tubuhnya yang ternyata dapat berkelana jauh ke segala sudut jagad, yang ujung pengembaraannya itu justru menggiringnya pada pengukuran tentang kesejatiannya. Jadi, di satu sisi pada masa kekinian, Astronomi mempelajari itu semua berlandas pengamatannya dalam ranah ujud lalu diolah dalam bahasa Matematika (observational science), namun diujungnya mendapati kembalinya-sesuatu yang membuatnya feel amazement dalam ranah spirit. Uniknya lagi, secara fakta, manusia (astronom) tidak dapat bereksperimen dengan obyek penelitiannya. Katakan, manusia pasrah dengan yang langit berikan dalam ujud cahaya (sebut gelombang elektromagnetik) atau ragam partikel seperti zarah Matahari, meteorit, gas–debu komet, partikel neutrino dari supernova, dsb.

Bila hendak diungkap lagi bahwa Astronomi adalah ilmu yang mempelajari tentang alam semesta, dan setiap manusia berhak untuk belajar Astronomi karena pada dasarnya manusia adalah bagian dari alam semesta yang justru dipelajari dalam Astronomi. Ujung-ujungnya, mengapa dirinya ada di jagad ini? Namun, bila merenung dan berpikir lebih mendalam (sekedar rasan-rasan) – betapa “SESUATU” butuh waktu yang sedemikian panjang untuk menyiapkan jagad yang luas tak terukur ini demi kehadiran kita di zarah semesta bernama Bumi. Silakan, kalau mau sejenak merenung.

Kini tinjau kesepakatan internasional. Sejak tahun 1919 dikenal wadah bagi Astronomi yang disebut International Astronomical Union (IAU). Rencana strategisnya antara lain (ref.: Menuju Terbentuknya Jaringan Pendidikan Astronomi di Indonesia, Prodi Astronomi  ITB, 2011):

  1. Because astronomy combines science and technology with inspiration and excitement, it can play a unique role in facilitating education and capacity building and in furthering sustainable development throughout the world;
  2. A challenging science in itself, astronomy provides an exciting gateway into physics, chemistry, biology and mathematics;
  3. The need to study the faintest celestial objects has driven advanced developments in electronics, optics and information technology; and
  4. The quest to explore the Universe satisfies the deepest cultural and philosophical yearnings of our species and can stimulate a sense of global citizenship.

Sungguh menarik, Pendidikan Tinggi Astronomi termasuk di ITB menyebut bahwa tulang belakang dalam memperoleh deskripsi ilmiah dalam menjelaskan fenomena di alam semesta adalah Fisika. Kaidah Fisika harusnya bersifat universal, berlaku di seluruh jagad. Jadi Fisika adalah elemen ilmu dasar yang esensial di Astronomi. Sementara itu, dalam memahami aliran logika dan formulasinya, khususnya secara aplikasi, pemahaman Matematika menjadi keharusan. Tentu tidak lepas dari adanya laboratorium di mana pemahaman konsep dan pembentukan ketrampilan/kreatifitas menjadi bagian tidak terpisahkan. Selain itu, uniknya, Astronomi dapat didekati secara profesional maupun amatir (based on hobby), formal dan non-formal. Jadi, bila melihat ini semua, tidaklah salah kalau dikatakan Astronomi dalam frontier ilmu pengetahuan.

 

3. SEZARAH BUDAYA ASTRONOMI DI NUSANTARA

Sejak dulu telah ada usaha di Bumi Nusantara untuk memetakan langit, termasuk di Solo dan Yogyakarta dan sekitarnya (yang menjadi fokus penulis). Ditemukan banyak kosa kata dan kisah yang terkait dengan langit dan kadang unik karena banyak simbol tersembunyi termasuk kala waktu kehadirannya(1). Kalau ditelusur cermat, banyak kesamaan antara nama dan ceritanya dengan kisah manca negara. Satu sebab adalah akulturasi budaya, semisal nama rasi bintang Aquarius yang di India disebut Kumbam (Sanskrit), maka di Bali disebut Kumba, sedangkan di Jawa Tengah disebut Pusuh  Kadang untuk mengidentifikasinya cukup sulit. Semisal rasi bintang Cancer di mana di India dan Bali disebut Karkadam, Rekata, atau Karkatha (berarti kepiting), sementara itu di Jawa Tegah ada sebutan Lintang Wuluh/Puyuh atau Lintang Yuyu (kepiting). Namun, apabila merujuk kamus kosa kata(2), Lintang Wuluh adalah Lintang Kartika (Pleiades), sama dengan masyarakat Tengger, Jawa Timur. Pada Serat Centhini (VIII/p.39)(3), Lintang Wuluh pun Pleiades. Pada sisi lainnya bahwa, sayangnya, hampir tidak ada peta langit yang rinci. Namun, ada gambar yang dapat membantu di Pura Mangkunegaran – Surakarta (Solo) – Jawa Tengah, termasuk gambar Zodiak di langit-langit Pendapa Ageng yang disebut Kumudawati (Kemudowati Teratai Putih). Dibuat Atmasupama (1937) yang mengacu pancawara (siklus 5 hari kalender Jawa) dan saptawara (siklus 7 hari, sama dengan sekarang). Konsepnya Hindu-Jawa. Secara bersamaan, penggunaan kata Lintang(4) mendominasi lebih pada pelajaran moral atau astrologi. Konon yang dinaungi Lintang Jadi (Zodiak Arab ke 10, Al Qudaiy, Judai, Jadiyan) berkarakter leksanane gunung cilik (seperti gunung kecil atau bukit, interpretasi terhadap hal ini penulis sukar untuk menjabarkannya). Melihat kasus ini, maka dapat dikatakan bahwa terjadi akulturasi dengan budaya Arab yang lalu lahirlah budaya Arab-Jawa setelah sebelumnya Jawa-Bali-India (Hindu-Jawa) (ref.: Sawitar, 2015).

Banyak tinggalan dalam ranah kosa kata (semisal Lintang Waluku yang terkait dengan musim atau pranatamangsa, Lintang Gubug Penceng yang biasa digunakan untuk pedoman arah atau kompas, dan banyak lagi) dan aneka cerita terkait nama benda langit termasuk nama hari atau yang terkait kalender seperti Pawukon. Contoh lainnya adalah Lintang Kartika atau Lintang Guru Desa, akrab di Solo dan Yogyakarta sebagai simbol tarian sakral di Istana Mataram. Tarian ini diciptakan oleh Raja Mataram Panembahan Senopati, dikenal sebagai Bedhaya Ketawang (Tarian Langit). Juga diketahui bahwa nama galaksi kita disebut Bima Sakti yang kisahnya pun populer. Mungkin dapat dikatakan, studi kasus yang sekedar sezarah contoh ini dapat menggambarkan betapa kompleks kisah langit yang penuh imajinasi demi mendapat benang merahnya. Penulis harus akui bahwa kendala bahasa menjadi menu utama dan khusus yang justru karena tidak “telaten” melestarikan budaya orangtua dan leluhur; sadar malah setelah memasuki usia. Beruntunglah terdapat kamus. Namun, tidak jarang antara kamus yang dipakai pun ada perbedaan untuk kata yang sama walau sebenarnya hal seperti ini dapat merujuk pada sejarah bahasa itu sendiri. Semoga nanti ada yang berminat menelusur jejak ini untuk memperkaya khazanah budaya Astronomi Nusantara.

Seperti yang pernah diungkapkan (lihat artikel Bima Sakti jilid 2BIMA SAKTI, Mitologi Manca Negara) bahwa usaha dalam mengumpulkan ragam kisah seperti kasus di atas terus dilakukan di manca negara, termasuk di negara-negara Asia Pacific yang berusaha membuat buku mitologi/legenda terkait Astronomi yang ada di negara masing-masing dan tentu kerjasama ini menjadi tonggak penting keastronomian (14 negara terlibat).

 

4. BEBERAPA TONGGAK SEJARAH ASTRONOMI DI INDONESIA

Era budaya tradisional di atas mulai beralih ke tatanan ilmiah saat dibangun observatorium Mohr di Batavia pada era VOC, yaitu tahun 1765. Observatorium ini adalah milik pribadi Johann Mauritz Mohr, 1716 – 1775, ilmuwan Belanda yang tinggal di Batavia. Lokasinya di lahan miliknya di Mollenvliet (kini Glodok, Jakarta Barat). Gerbang masuknya di Jalan Mollenvliet Barat yang kini Jalan Gajah Mada, melewati jalan penghubung khusus yang apik laksana masuk istana kerajaan pada umumnya yang disebut torenlaan di mana masyarakat lokal menyebutnya Gang Torong. Kala itu merupakan bangunan tertinggi di Batavia dengan dana pembangunannya yang berlipat dibanding kebutuhan membangun Buitenzorg (kini istana Bogor). Saat itu lokasinya berdampingan dengan wihara Kim tek I atau Cin te Yuen/Jinde Yuen (kini wihara Dharma Bhakti, Glodok). Penulis agak merenung juga saat mengetahui bahwa observatorium ini mengalami kekosongan kegiatan sejak Mohr wafat tahun 1775, dan giliran tahun 1780 rusak parah akibat gempa kuat melanda Batavia dan bahkan sebagian besar bangunan di Batavia pun mengalami kerusakan yang sama (artinya, ternyata Jakarta pun dapat mengalami gempa kuat. Tentu hal ini dapat dipelajari dan dicari konfirmasinya kepada pakar yang mendalami masalah gempa di Indonesia), (tapak observatorium ini masih ditelusuri beberapa rekan yang salah satunya: Pelacakan Tapak Observatorium Tertua di Indonesia).

Babak selanjutnya adalah perkembangan keastronomian yang yang diawali oleh minat keastronomian yang besar dari Karel Albert Rudolf Bosscha. Beliau hanya sekedar seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, namun tiada keraguan sama sekali untuk berkenan mendanai berdirinya observatorium untuk riset Astronomi di Lembang tahun 1923. Nama observatorium ini akhirnya disebut Bosscha Sterrenwacht (kini Observatorium Bosscha. Ref.: Observatorium Bosscha) sebagai penghormatan kepada Beliau. Adapun yang membangun adalah Nederlands-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV, Perhimpunan Bintang Hindia Belanda) dan usai tahun 1928. Publikasi Astronomi internasional pertamanya adalah tahun 1933.

Adapun secara formal pendidikan tinggi Astronomi di Indonesia sebenarnya telah bergulir dengan diselenggarakannya kuliah bertajuk Astronomi pada tahun 1949 oleh direktur Observatorium Bosscha kala itu, DR C. H. Hins(5). Mengingat bahwa yang kini menjadi FMIPA ITB, yaitu Faculteit Exacte van Wetenschap(6), telah diresmikan tanggal 6 Oktober 1947 (bagian dari Universiteit van Indonesie, kini UI. Ref.: FMIPA - ITB ), maka ”rasanya” atau “seharusnya” sejak saat itu topik kuliah terkait Astronomi pun sudah ada karena hadirnya Observatorium Bosscha yang telah berdiri dan mapan sejak tahun 1928. Sedangkan sebagai salah satu mata kuliah FMIPA yang eksplisit terkait Astronomi yang disebut mata kuliah Ilmu Bintang (Sterrenkunde) baru dilaksanakan pada tahun 1951. Dosennya adalah DR G. B. van Albada dan DR Elsa van Dien(7). Dari sejarah (juga diskusi dengan para alumni, “dll”), akhirnya disepakati bersama bahwa awal pendidikan tinggi Astronomi di Indonesia dimulai pada tanggal 18 Oktober 1951 (Ref.: Program Studi Astronomi FMIPA ITB). Hal ini karena ada 2 peristiwa penting, yaitu peristiwa pengukuhan DR G. B. van Albada sebagai Mahaguru (Guru Besar / Profesor) Astronomi pertama di Fakultet Ilmu Pasti dan Alam, Universiteit van de Republik Indonesia Serikat, dan bersamaan pada hari yang sama Observatorium Bosscha diserahkan oleh NISV ke Pemerintah RI (di bawah FIPIA UI).

Sementara itu, baru pada tanggal 2 Maret 1959, ITB diresmikan oleh Presiden Soekarno dan Astronomi masuk ke dalam Departemen Ilmu Pasti dan Alam. Mulai tahun 1972, Departemen Astronomi masuk dalam Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) yang sejak tahun 1982 sebutan departemen menjadi jurusan dan kembali menjadi departemen tahun 2001 (Ref.: Buku Kenangan, 50 Tahun Pendidikan Tinggi Astronomi di Indonesia: 1951 – 2001, p.1-4).

Giliran tahun 1964, dibangunlah oleh founding father Indonesia, yang tidak lain presiden pertama RI, Bung Karno, sebuah tempat simulasi bintang yang kala itu disebut Projek Gedung Planetarium. Pendanaannya oleh Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI). Sekarang nama resminya Planetarium dan Observatorium Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta yang hingga kini menjadi satu-satunya planetarium besar untuk publik di Indonesia (Ref.: profil–sejarah; planetarium.jakarta.go.id). Pertunjukan planetarium atau Teater Bintang dibuka untuk umum pertama kali pada tanggal 1 Maret 1969 yang lalu dijadikan hari ulang tahunnya. Salah satu tujuan pendiriannya adalah menghilangkan takhayul terkait benda langit.

Dengan demikian, kini Indonesia memiliki sebuah observatorium besar untuk riset di Lembang, sebuah planetarium besar di Jakarta, dan sebuah prodi Astronomi di Bandung. Betapa kerja yang sangat berat untuk menjangkau informasi keilmuan yang mencakup wilayah Indonesia yang sedemikian luas dan sedemikian banyak penghuninya. Tantangan tersendiri tentunya.

 

5. PENDIDIKAN FORMAL ASTRONOMI

Sebagai ilmu, Astronomi dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan dasar dan eksakta tertua. Namun, perkembangan pengetahuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan tentang Bumi dan Antariksa (IPBA) atau Astronomi di Indonesia ternyata hingga kini relatif masih belum mapan bila dilihat dari pemahaman siswa atau masyarakat luas. Hal ini terasa karena kurangnya informasi. Padahal selama ini pada pendidikan dasar dan menengah telah diajarkan IPA/IPBA yang merupakan cakupan Astronomi (ref.: Sawitar, 2012).

Peran pendidikan formal sebenarnya tidak diragukan, minimal memperkenalkan istilah dalam kajiannya. Salah satu kendala yang mungkin mengganggu adalah persoalan seputar kurikulum. Pada kurikulum pra-1968 dikenal adanya Ilmu Bumi Alam dan Falak (Ilmu Falak, Kosmografi) untuk SMA bagian B. Pada tahun 1968 Ilmu Bumi Alam dan Falak menjadi program inti untuk jurusan Paspal. Pengajarnya adalah guru Ilmu Bumi (Ilmu Bumi lalu menjadi Geografi). Namun, terjadi penurunan peringkat di kurikulum 1975 di mana Geografi menjadi Sub Bidang Studi Geografi yang tidak memuat Astronomi. Memang ada Sub Bidang Studi IPBA tetapi menjadi program pilihan yang peringkatnya sama dengan Menggambar dan Bahasa Asing. Ada perkembangan baik di kurikulum 1984, yaitu Geografi jadi pelajaran inti. Masalah pasang surut ini, dalam kasus yang mirip adalah kurikulum 1994 yang berlangsung di (kala itu) IAIN. Mata kuliah Ilmu Falak dari 8 SKS (1985) menjadi 2 SKS saja. Pada kurikulum 1994, Astronomi dialihkan dari Geografi ke Fisika. Di satu sisi menggembirakan, tetapi peralihan ini menimbulkan kesenjangan informasi akibat pengajar punya landasan berbeda. Selain itu, pada akhirnya tokh tetap bahasan Astronomi secara tersurat hanyalah sebagian kecil dari muatan Fisika.

Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006, pendidikan Astronomi di sekolah tingkat menengah dilakukan pada pelajaran Fisika untuk SMP dan Geografi untuk SMA dan berdasar studi kasus tentang proses pembelajaran IPBA terdapat kesimpulan bahwa sumber materi Astronomi yang dapat diaplikasikan di kelas sulit didapat. Dapat diambil contoh kasus budaya leluhur terkait penentuan kalender dan musim, semua melibatkan kecermatan observasi pada siang dan malam (sebut 24 jam sehari dalam kasus tertentu). Pada kasus modern era sekarang, bagaimana penempatan 24 satelit GPS ditentukan di angkasa nyatanya memiliki kaidah yang sama (bidang Astronautika, persoalan tata koordinat, dan mekanika benda langit). Jadi, kapankah kita dapat memuat silabus observasi seperti yang telah dilakukan oleh leluhur kita dan oleh pakar satelit komunikasi? Juga semisal membuktikan bahwa Matahari tidak selalu terbit tepat di titik timur? Bagaimana menganalisis bahwa teman-teman kita di kutub utara dan kutub selatan tidak pernah mengenal arah timur dan barat (Matahari dapat dikatakan berputar paralel sejajar dengan tanah kita berpijak, tidak seperti yang kita amati di Indonesia yang terbit lalu ke arah puncak lalu terbenam)?

Selain hal di atas, penempatan Astronomi untuk tingkat SMA di pelajaran Geografi juga tidak tepat. Pendidikan calon guru Geografi berbasis ilmu sosial bukan pengetahuan alam, dan belum tentu mendapat dasar Astronomi (sebut berbasis Matematika dan Fisika Lanjut) saat pendidikannya. Pada saat Konferensi Nasional Pendidikan IPBA di Lembang – Bandung pada tanggal 17 September 2012 yang diselenggarakan oleh Kemendikbud dalam rangka akan diterapkannya kurikulum 2013, penulis yang kebetulan diminta menjadi salah satu narasumber bersama rekan-rekan lainnya mencoba mengulas juga silabus Fisika. Mencoba menganalisisnya dan menjelaskan bahwa apapun yang tertuang di dalam silabus Fisika dari kelas X hingga XII, semuanya – tidak terkecuali – adalah materi yang dipakai dalam bidang Astronomi. Mungkin bagi siswa SMA yang mempelajari Fisika, sebagai contoh, tentu diperkenalkan adanya istilah Prinsip Larangan Pauli atau lainnya semisal Persamaan Gas Ideal, dan nyatanya 2 contoh ini adalah pengetahuan dasar di Astronomi. Sementara sekedar catatan untuk guru Fisika, semisal besarnya tekanan sebanding dengan besarnya temperatur. Sementara itu, dalam benda langit tertentu, dua kondisi tersebut tidaklah berlaku. Bahwa tekanan hanya ditentukan oleh kerapatan massa, Prinsip Larangan Pauli pun tidaklah hadir. Juga semisal kita bayangkan tentang konsep kelengkungan ruang-waktu, alam semesta yang mengembang, cahaya yang terhambat perjalanannya atau terbelokkan, dll. tentu mau tidak mau harus memasuki ranah Matematika, baik Geometrid an Trigonometri. Pem-bahasa-an scalar dan vector bagi guru Fisika, penulis sangat yakin bahwa istilah itu tentu sudah menjadi menu kesehariannya di kelas. Namun, ketika memasuki topik unik di atas dalam Astronomi, rasanya wajib meningkatkan wawasan ke istilah tensor, semisal memahami persamaan relativitas Einstein dan bukan sekedar E=mc^2 yang mudah dihafal. Belum bila membahas reaksi inti (ataupun nucleosynthesis yang melahirkan unsur selain hidrogen) di pusat Matahari, mau tidak mau konsep Kimia, Fisika, dan Matematika menjadi keharusan di mana istilah eksitasi, ionisasi, rekombinasi, ataupun reaksi fusi nuklir, dan banyak lagi, tentu sudah menjadi bahasan guru bidang Fisika hari demi hari di kelas, termasuk proses terkait lainnya. Contoh lain seperti konsep kecepatan suara (sonic, subsonic, supersonic) di dalam pusat bintang saat membahas ledakan bintang (supernova; yang juga diamati dan ditelaah Galileo, Kepler, dan Tycho lebih 400 tahun lalu). Rasanya, lagi-lagi, hal seperti ini tidak menjadi topik yang didalami para guru yang mengambil pendidikan bidang Geografi.

Untuk pendidikan Astronomi di Indonesia saat ini terpusat di perguruan tinggi di  Program Studi Astronomi ITB; dan menjadi mata kuliah wajib/pilihan di Universitas Perguruan Indonesia (UPI) – Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA di mana dicantumkan perkuliahan IPBA yang dikelompokkan sebagai Mata Kuliah Keahlian Program Studi wajib dengan beban 3 SKS di semester II (2006/2009). Yang terkait adalah Pengantar Fisika Bumi dan Antariksa (2 SKS/V) dan Astrofisika (3 SKS/VII)(ref.: Utama, 2012). Dulu, di Departemen Fisika UI pun sempat menjadi kuliah pilihan, khususnya bidang Astrofisika. Kini, beberapa pakar (dosen) di Departemen Fisika UI sudah memilih obyek telaahnya terkait Astronomi semisal membahas gaya gravitasi pada bintang neutron atau hingga ke black hole (lubang hitam) dengan segala aspeknya, juga penelitian pada ranah partikel elementer hingga menelusur ke era awal keterjadian Jagad Raya (Big Bang), dsb. Sesuatu yang tentu sangat melegakan bagi pemerhati bidang Astronomi.

Dalam kasus di atas, Planetarium dan Observatorium Jakarta pun telah menyadari kekurangan tersebut sejak tahun 1992. Oleh sebab itu, dicoba mencari masukan melalui Seminar Astronomi Sehari (1992), Seminar Ilmu Falak (1994), dan ragam kegiatan lainnya seperti penataran guru, seminar – workshop untuk guru dan siswa, lokakarya sesuai tema, dll. dengan melibatkan beragam instansi terkait dengan target peserta khususnya guru yang menangani bidang IPA atau Fisika. Pertimbangan lain dalam menyelenggarakan kegiatan ini salah satunya adalah apabila hanya mengandalkan pendidikan formal tidaklah cukup untuk mengejar ketertinggalan.

Pada ranah lain, bahwa seperti hanya Biologi, Kimia, dan Fisika bahkan ilmu sosial, mereka punya wadah untuk bereksperimen (laboratorium). Bagaimana dengan Astronomi? Kendala ini dapat dikurangi dengan memberi wadah bagi siswa untuk memperluas wawasan, minimal menumbuh-kembangkan rasa penasaran dan bagus bila termotivasi untuk belajar mandiri; serta dapat melihat keterkaitan dengan disiplin ilmu lain. Masalah teknis lapangan memang butuh kajian lebih dalam. Wadah ini dapat berupa ekstrakurikuler, Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), “kelompok diskusi astronomi” dipandu guru Fisika atau lainnya, atau melalui Pramuka.

Hadirnya Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) sebagai wadah Astronomi Amatir dibentuk tahun 1984 oleh drs. Darsa Sukartadiredja, yang kala itu menjabat sebagai kepala Planetarium dan Observatorium Jakarta. Harus diakui bahwa aktifitas HAAJ sangat membantu sosialisasi Astronomi (Ref.: planetarium.jakarta.go.id; penjelajahangkasa.com). Keaktifan dalam penyuluhan ke sekolah berbuah hasil dengan terbentuknya jaringan keastronomian di KIR SMA yang diberi nama FOSCA (Forum of Scientist Teenagers) tahun 2008 (kini se-Jabodetabek). Sedangkan keterlibatan HAAJ pada kancah Olimpiade Astronomi di Jakarta maupun hingga untuk level pembinaan tingkat internasional makin terasa sejak 2005, yang dengan sinerginya Planetarium dan HAAJ, akhirnya melahirkan wadah Forum Pelajar Astronomi (FPA, Juli 2009) yang para anggotanya merupakan alumni peserta Olimpiade Sains bidang Astronomi tingkat provinsi DKI, nasional (OSN), dan internasional (IAO/IOAA/APAO). Kini, sejauh mana kiprah HAAJ, FOSCA, FPA dengan visi dan misi yang dimilikinya dalam usaha memaksimalkan kinerja peranti keastronomiannya? Di mana posisinya dalam derap keastronomian masa mendatang?

 

6. TANTANGAN KE DEPAN

Sebenarnya banyak peranti ke-astronomi-an di Indonesia yang dapat ditilik. Yang menjadi fokus dan harus diperjuangkan adalah jaringan kerja. Bagaimana membangun jejaring keastronomian yang dinamis bergerak bersama demi menatap masa depan yang lebih baik. Bagaimana mengejawantahkan keinginan yang tertuang dalam pikiran “Astronomi dalam frontier ilmu pengetahuan”. Anggap saja uraian ini sebagai mimpi dalam melihat keastronomian secara menyeluruh, walau tetap banyak keterbatasan dan ketertinggalan dari pengetahuan penulis sendiri.

Melihat perkembangan eksplorasi antariksa, maka akan terasa semakin deras dan membanjirnya informasi baik bagi ilmuwan maupun publik. Bahkan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pun perlu mencanangkan tahun 1992 sebagai Tahun Antariksa Internasional (Indonesia baru tahun 1996, Tahun Dirgantara). Yang menarik, PBB menyiratkan 3 pokok pikiran:

  1. Memonitor sumber daya alam dan lingkungan Bumi;
  2. Pendidikan mengenai antariksa; dan
  3. Penyuluhan kepada masyarakat tentang kegiatan keantariksaan sekaligus manfaatnya.

Betapa ragam ilmu terlibat dalam menyikapinya. Hal ini ditindaklanjuti pada tahun 1999 dengan adanya resolusi 54/68 bahwa tanggal 4 – 10 Oktober dirayakan sebagai World Space Week yang merupakan himbauan untuk tiap negara agar aktif dalam perayaannya dengan menyelenggarakan beragam kegiatan yang melibatkan masyarakat luas. Hal ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat umum dan pengambil keputusan secara global tentang pentingnya kegiatan keantariksaan untuk tujuan damai. Yang jadi pertimbangan, Astronomi masuk dalam deklarasi. Atau resolusi IAU tahun 2003 di mana Astronomi direkomendasikan masuk di kurikulum dari jenjang SD hingga SMA setara seperti Fisika, Matematika, Kimia, dan Biologi. Yang terakhir adalah International Year of Astronomy (IYA2009). Adapun Indonesia, setapak maju ketika disahkannya Undang Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, tepatnya tanggal 6 Agustus 2013.

Yang patut disimak juga adalah instansi yang terkait. Bagaimana di Indonesia? Seberapa banyak peranti keastronomian yang dapat dirajut untuk satu target di depan dalam rangka eksplorasi angkasa? Jadi, dalam hal ini memang sudah tidak lagi bertanya masalah komitmen dunia Astronomi. Namun, tidak ada salahnya untuk mengubah pertanyaan menjadi bagaimana meningkatkan apresiasi – komitmen – konsistensi – kontribusi masyarakat umum kepada Astronomi, atau secara global keantariksaan? Sebenarnya banyak instansi yang dapat berfungsi sebagai sumber informasi Astronomi yang tidak mungkin disebut satu per satu. Namun, garis tegas yang dapat diambil di sini bahwa keastronomian ternyata merambah ke setiap sektor kehidupan disadari ataupun tidak. Sekarang, setelah didata semua elemen, apa langkah ke depan? Jejaring apa yang akan dibuat? Pemikiran inilah yang sudah sepatutnya dikedepankan dengan mengadakan kajian serius. Konsolidasi antar instansi sudah selayaknya diprioritaskan.

Seperti yang pernah diungkap bahwa semua itu tiada lain adalah dalam usaha kita untuk mendorong terungkapnya dimensi ataupun fenomena yang masih sangat banyak tersembunyi, untuk menalar realita sebatas domain kerjanya sebagai makhluk yang secara mutlak punya keterbatasan. Selebihnya, terserah pada kita, bagaimana kita manfaatkan sains sebagai basis baik berlandas ranah ujud ataupun dataran spirit dan kita aktifkan fungsi transendental kita untuk menggapai Yang Maha Mulia yang ilmuNya tidak tertampung bahkan dalam alam semesta yang maha luas ini.  Pada tahap ini, semoga kita dapat makin arif menyikapi berbagai isu sains khususnya Astronomi dan justru mungkin saja segala ujaran jadi tidak bermakna karena justru ujungnya, pada satu ranah tertentu adalah feel amazement – rasa syukur dengan segala kerendahan hati karena mendapat kesempatan untuk merasakan penjabaran dan indahnya Science melalui Astronomy (Earth & Space Science) sebagai tahapan pencarian sebanyak mungkin bekal di Jagad Buwana (Bumi) dan ber”cermin” pada Widiyuta ing waudadi, wintang ing widik – bintang di laut, bintang di langit – untuk menuju Jagatkamuksan yang keindahan tamannya tak tertandingi oleh taman manapun di ranah ujud jagad semesta. Wartya Wiyata Wicitra Withing Wintang Widik Widik (Berita baik nan indah bermula dari kerlap kerlip semburat cahaya bintang gemintang). Salam Astronomi.–WS-

 

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada P. W. Premadi, Norio Kaifu, Hakim L. Malasan yang senantiasa memberi ide pada tema di atas; juga kepada staf Planetarium dan Observatorium Jakarta, Prodi dan KK Astronomi ITB, Observatorium Bosscha ITB, Himpunan Astronomi Indonesia, dan HAAJ.

 

CATATAN KAKI

  1. Mulyono, 1989; Purwadi, 2007. Sebagai contoh di Jawa, angka tahun disandikan dengan kata. Misal pada saat transisi budaya lama dengan ajaran Islam, saat itu pertunjukan wayang oleh Sultan Alam Akbar (Raden Patah, Demak) sengkalannya sirna suci caturing dewa (1440 Ç/1518 M). Saat Majapahit runtuh konon dikenal batasan tahunnya sirna ilang kertaning bumi (0–0–4–1), artinya tahun 1400 Ç/1478M.
  2. Bausastra Jawa – Indonesia, p.329. PuyuhGemak dan ada yang sama seperti Puyuh Tarung (Gemak Tarung), atau dari budaya Aceh Puyuh Mölôt yang terkait Scorpius. Awal penelusurannya: μ dan ξ (xi) scorpii, namun rentang jarak keduanya sangat jauh. Kemungkinan adalah μ dan ζ (zeta) scorpii (keduanya bintang ganda di ekor Scorpius).
  3. Serat Centhini, karya monumental Paku Buwana V dari Surakarta, satu generasi setelah Yasadipura I.
  4. Kata Wintang penulis temukan di 2 naskah: Suluk Wujil (bentuk puisi, kuplet 94: kang wintang sumamburat) dan Serat Ajisaka (Durma 7: bumi wintang widik-widik). Bintang di Serat Centhini 3, 249: Asmaradana 31 (walau keseluruhan yang dipakai: Lintang). Banyak nama lain untuk bintang yang antara lain: dawata, graha, manggarang, najam, payuwaha, sadali, sasa, samita, susup/sususup/susususup, tarang, tari, tindra, toyadha, tranggana, turasa, uchu/hucu, uyut, wayuwa, widiyuta, bahkan juga kartika (berbeda dengan Lintang Kartika). Layaknya Matahari yang punya 90 nama (lihat artikel Tèkang Adityamandala).
  5. Pada tahun 1948, DR Hins merupakan satu-satunya staf di Observatorium Bosscha, seperti yang dituturkan oleh DR Elsa van Dien yang tahun tersebut datang ke Bosscha untuk riset selama 3 tahun dan menyatakan bahwa observatorium kala itu di bawah Fakultas Matematika dan Fisika. Unik juga bahwa salah satu mahasiswa yang ikut belajar di Bosscha kala itu adalah J. Drost dari Departemen Fisika yang sempat menjadi kepala sekolah SMA Kanisius (Canisius College) Jakarta saat penulis menempuh pendidikan SMA dan penulis pun berkesempatan menjadi moderator Beliau pada saat seminar pendidikan tinggi Astronomi tahun 2001 di Aula Barat kampus ITB. Hidayat (2001), p.45-47.
  6. Kemudian menjadi Faculteit Natuur van Wiskunde en Wetenschap, Fakulteit van wiskunde en Natuurwetenschap te Bandung – FMIPA Bandung, berubah lagi Faculteit Definite Sciences and Natural Sciences (FIPIA), akhirnya kini FMIPA ITB.
  7. Keduanya bekerja di Observatorium Bosscha sebagai peneliti dan tanggal 1 Agustus 1950 keduanya menjadi suami-istri.

 

Daftar Pustaka

Van Albada – van Dien, E., 2001, The Bosscha Observatory 1948 – 1958, dalam T. Hidayat et al (eds.), Buku Kenangan: 50 Tahun Pendidikan Tinggi Astronomi di Indonesia, Penerbit ITB, Bandung, p.45-7

Hidayat, T. et al (eds.), 2001, Pengantar dari Penyusun: Buku Kenangan 50 Tahun Pendidikan Tinggi Astronomi di Indonesia, Penerbit ITB, Bandung, p.1-4

Premadi, P. W., 2007, Alam Semesta dan Eksistensi Manusia: Sebuah Undangan Untuk Kontemplasi. Kuliah umum di ITB

Radiman, I., 2001, Kata Pengantar Pidato Pengukuhan DR G. B. van Albada sebagai Guru Besar Pertama di Bidang Astronomi di Fakultet Ilmu Pasti dan Alam, dalam T. Hidayat et al (eds.), Buku Kenangan: 50 Tahun Pendidikan Tinggi Astronomi di Indonesia, Penerbit ITB, Bandung, p.5-9

Sawitar, W., 2012, Jaringan Keastronomian, dalam P. W. Premadi, D. Herdiwijaya, K. Vierdayanti (eds.), Prosidings Seminar Pendidikan Astronomi dalam Rangka 60 Tahun Pendidikan Tinggi Astronomi di Indonesia, Observatorium Bosscha ITB, Bandung, p.65-66

Sawitar, W., 2012, Pendidikan IPBA: Memberdayakan Peranti IPBA dalam Membangun Jejaring Pendidikan yang Terintegrasi dan Berkelanjutan. Disampaikan pada acara Konferensi Nasional Pendidikan IPBA di Lembang – Bandung (17/09/2012) yang diselenggarakan oleh Kemendikbud

Sawitar, W., 2014, Apa itu Astronomi? Materi Talkshow di acara Pesta Rakyat Fisika HMD Fisika UI – Depok

Sawitar, W., 2015, Astronomi dalam Cerita Rakyat Nusantara, Makalah pada Seminar Astronomi dalam Budaya Nusantara (SINDARA) di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (30/05/2015)

Utama, J.A., 2012, Geliat Astronomi di Kampus Bumi Siliwangi, dalam P. W. Premadi, D. Herdiwijaya dan K. Vierdayanti (eds.), Prosidings Seminar Pendidikan Astronomi dalam Rangka 60 Tahun Pendidikan Tinggi Astronomi di Indonesia, Penerbit Observatorium Bosscha ITB, Bandung, p.31-34

Wiramihardja, S. D., 2012, Sejarah Pendidikan Tinggi di Indonesia, dalam P. W. Premadi, D. Herdiwijaya, K. Vierdayanti (eds.), Prosidings Seminar Pendidikan Astronomi, Observatorium Bosscha ITB, Bandung, p.13-18

 

Situs