Written by Widya Sawitar

User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive
 

Pada saat langit malam nan cerah tiada berawan, cadar kubah langit perbintangan pun menampakkan kesejatiannya. Taburan bintang gemintang diselingi kehadiran sang pengelana dan sang dewi malam pun menjadi suguhan yang menimbulkan decak tiada berkesudahan. Namun, kadang tampak melesat seberkas cahaya yang cukup membuat decak tadi mengalami jeda sekejap. Terlihat seolah ada bintang berkelebat. Arah maupun kapan waktu munculnya sulit ditebak. Kadang tampak banyak secara bersamaan. Umumnya terlihat sangat singkat dan sebelum kita sadari, bendanya sudah raib entah ke mana. Apa gerangan benda langit ini?

Hujan Bebatuan Panas

Terkait penampilan benda langit di atas, jaman dahulu kala masyarakat Indonesia menyebutnya sebagai bintang berpindah, bintang beralih, bintang jatuh, bahkan bintang hantu (shooting stars, falling stars). Pada budaya Jawa dikenal sebagai  Lintang Alih(an), atau Lintang Mulah Malih. Bila ukurannya besar dan cemerlang disebutlah Lintang Daru atau Lintang Andaru. Pada karya Paku Buwono V (ref.: Serat Centhini IV, p.183) ada tulisan “.. cumlorot lir lintang ngalih wiraga mawarna warna ..” Jadi ujud yang dilihat dapat ditafsirkan adalah “bintang berpindah dengan gerak sangat cepat laksana kilat serta berwarna-warni atau beragam bentuk”. Pada saat sekarang kadang ada yang menyebutnya Lintang Molah Malih, namun tidak tepat karena molah adalah gerakan adukan, mulah adalah gerak geser dan malih berarti berpindah (Uniknya, dalam kasus bintang variabel atau bintang yang berubah-ubah wajahnya, mereka istilahkan dengan kata mirip, yaitu Lintang Maliha(n) di mana dalam kosa kata bahwa maliha(n) artinya berubah-ubah atau berganti-ganti rupa atau wajahnya). Sekarang benda langit yang dijuluki bintang jatuh ini diketahui bukanlah bintang sejati, melainkan hanya merupakan salah satu penjelajah kecil di Tata Surya. Secara internasional kini disepakati dengan sebutan meteor.

Etimologi meteor dapat ditelusur dari sejarah pada bahasa Inggris di mana ada istilah metheour, di Perancis sebutannya meteore, dan pada bahasa Latin meteorum. Kata ini berakar dari Yunani, meteōron dengan asal kata meteōros yang berarti tinggi di angkasa (meta + -eōros). Di sini, -eōros berasal dari kata aeirein atau mengangkat (tinggi-tinggi ke angkasa). Kata meteor digunakan pertama kali pada abad 15 (Merriam-Webster Dictionary; Encyclopaedia Britannica – 2014-09-21). Walau demikian, ada yang mengartikan meteor sebagai angkasa atau atmosfer.

 

Gambar 1. Meteor di Langit Atapupu – Nusa Tenggara Timur. Foto diabadikan tanggal 6 Juni 2012 – 18:53 WIB menggunakan kamera Nikon D90; Lensa AT-X Pro Tokina 11-16mm; 30 Detik, ISO1000, f/2.8, Fl 11mm. Credit: M. Rayhan

 

Memang memakan waktu yang lama untuk menyakinkan masyarakat bahkan kalangan ilmiawan bahwa bebatuan benar-benar jatuh dari langit. Sejak jaman purba pastilah pemandangan seperti ini sudah sering diamati. Bagi mereka, yang ada di “atas” sana hanyalah bintang gemintang, Bulan, planet, dan Matahari. Mungkin terlihatnya meteor hanya dianggap fenomena di udara bagian atas. Atau melewati abad 17, sekedar gejala atmosfer saja layaknya fenomena kilat atau petir. Pandangan ini berubah ketika pada tanggal 26 April 1803, saat di L’Aigle – Normandy – Perancis terjadi hujan. Namun, bukan hujan air, melainkan hujan batu api di mana tidak kurang dari 3000-an serpihan bebatuan panas jatuh dari langit. Saat itu masyarakat di sana menyebutnya Rain Stones, bukan seperti istilah yang sekarang dikenal sebagai meteor shower (hujan meteor).

Pertanyaan yang muncul, dari mana asalnya dan bagaimana kejadiannya? Memang sebenarnya secara terpisah, pada tahun 1807, seorang guru besar Kimia dari Universitas Yale, Benjamin Silliman sempat meneliti batu sisa meteor yang jatuh di daerah Weston – Connecticut; meyakini bahwa meteor terkait benda dari luar Bumi. Namun, penelitian ini pun terlupakan (Wikipedia/Meteor/History). Lagi-lagi pandangan mulai berubah ketika masyarakat dunia kala itu menikmati hujan garis cahaya laksana pijaran kembang api sepanjang malam tanggal 13 November 1833 (Hujan Meteor Leonid di mana pada tampilan tahun 1998, masyarakat Indonesia pun banyak yang menikmatinya, termasuk Planetarium dan Observatorium Jakarta dan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta).

Astronom Denison Olmsted (1791 – 1859, Amerika Serikat) melakukan penelitian mendalam terkait badai meteor ini (1834) dan menyimpulkan bahwa materi pembentuknya berasal dari luar angkasa (luar Bumi). Setelah meninjau catatan sejarah, Heinrich Wilhelm Matthäus Olbers (1758 – 1840, Jerman, terkenal dengan Paradoks Olbers-nya) menganalisis bahwa kejadian ini akan berulang pada tahun 1867. Sejak saat itu, kalangan astronom mulai menyimak dan menelitinya. Perhitungan Olbers disempurnakan oleh Hubert A. Newton yang menghasilkan prediksi matematis bahwa akan terjadi proses berulang pada tahun 1866 dan terbukti benar. Sementara itu, Giovanni Schiaparelli (terkenal dengan istilah kanal di planet Mars) menyimpulkan bahwa hujan meteor ini terkait dengan komet Tempel-Tuttle yang pada saat ini diketahui benar adanya (Kini diketahui bahwa Bumi setiap 33 tahun memasuki daerah padat materi buangan komet tersebut di sepanjang lintasannya). Namun, tetap hampir semua kalangan saat itu menganggap bahwa hal ini adalah sekedar gejala atau fenomena atmosfer semata. Inilah sebabnya disebut "meteor" yang dari bahasa Yunani pada era berikutnya disetarakan dengan "atmosfer".

 

Meteoroid

Ruang di segenap pelosok Tata Surya bukanlah ruang kosong. Tidak terhitung jumlah debu dan batuan beraneka ukuran, bentuk, dan unsur di sana. Dugaannya bahwa materi ini sebagian besar adalah sisa pembentukan Tata Surya (lihat artikel: Pembentukan Tata Surya). Sebut saja materi ini sebagai Materi Antar Planet (MAP). Sebarannya layaknya debu yang beterbangan di sekitar kita. Memang pada umumnya berukuran kecil. Namun, tidak jarang mirip kerikil hingga yang bermassa 100 ton. Saat mengedari Matahari, Bumi sering melewati atau menerobos daerah yang penuh MAP. Akibat pengaruh gravitasi Bumi yang lebih kuat, materi ini masuk ke atmosfer sebelum akhirnya menuju Bumi.

Berdasarkan penelitian bahwa tidak kurang sekitar 20 juta buah MAP memasuki atmosfer dengan massa total hingga 1000 ton per hari dan sejumlah kisaran 100 ton mencapai Bumi. Pen-definisi-an meteoroid sebenarnya cukup pelik. Namun, di sini dapat dijadikan pegangan adalah yang dinyatakan oleh the International Astronomical Union (IAU), memang benar bahwa bebatuan sisa meteor berasal dari meteoroid yang terbakar di atmosfer. Adapun meteoroid didefinisikan sebagai “a solid object moving in interplanetary space, of a size considerably smaller than an asteroid and considerably larger than an atom or molecule” (Rubin, p.2).

 

Meteor

Sebelum jatuh dan sampai di permukaan Bumi, maka materi ini akan bergesekan dengan materi di dalam atmosfer, memanas bahkan akhirnya terbakar. Ujud saat terbakar itulah yang kita lihat dan kini disebut meteor, sedangkan calon atau cikal bakal meteor disebut meteoroid. Umumnya mulai berpijar di ketinggian 50 – 150 km. Melesat cepat menimbulkan fenomena seleret cahaya yang bergerak cepat, kadang panjang kadang pendek di langit mirip bintang yang berpindah atau jatuh. Kadang hanya sekedipan mata, kadang beberapa detik. Dalam kasus ini, bila terlihat cepat, maka salah satu yang dapat disimpulkan bahwa kecepatan jatuhnya besar (ngebut dalam bahasa sehari-hari). Apabila lambat, maka kecepatan geraknya pun kecil. Untuk yang berkelebat panjang, dapat jadi materinya tahan panas sedemikian proses pembakarannya lebih lama. Kalau tampak hanya sekedipan, dapat jadi materinya rentan panas sehingga mudah atau cepat terbakar habis.

 

Gambar 2. Foto jatuhnya meteor di wilayah observatorium Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA) yang diambil dengan teknik Ultra High Definition oleh tim ekspedisi ESO Ultra HD. ALMA terletak pada ketinggian 5000 meter di atas permukaan laut di wilayah tidak berpenduduk di Chajnantor Plateau – Andes – Chili. Credit: ESO/C. Malin (ESO’s videographer Herbert Zodet, ESO Photo Ambassadors: Yuri Beletsky, Christoph Malin dan Babak Tafreshi)

 

Kalau ukurannya relatif besar disebut bolide meteor (fireballs atau bola api). Berdasarkan definisi (International Astronomical Union/IAU), apa yang disebut sebagai bolide meteor adalah meteor yang kecerlangannya mengalahkan semua planet (sebut semisal lebih terang dari Venus). Biasanya meteor seperti ini bergerak lebih lambat, dan dapat disaksikan relatif lebih lama. Hal ini karena memang meteoroidnya besar. Jadi, proses pembakarannya relatif lebih lama. Selain itu, dapat pula karena materinya tahan panas. Satu hal lagi bahwa apabila ukuran materinya besar, maka ketika memasuki atmosfer seolah tertahan oleh materi yang ada di atmosfer. Ibarat kita bergerak melawan terpaan angin dari arah depan. Makin besar terpaan, tentu secara tidak sadar kita akan membutuhkan energi lebih besar untuk melawannya. Andai terpaannya lebih besar lagi, tidak menutup kemungkinan kalau kita pun dapat terjatuh. Bagi penggemar kendaraan motor pun pasti merasakan bahwa kalau semakin ngebut, maka terpaan angin akan membuat wajahnya terasa lebih panas. Sementara itu, apabila kita dapat naik meteor berjalan-jalan dari Jakarta ke Bogor, maka 1 detik sudah sampai. Jadi dampak panasnya tentu ribuan kali dibandingkan bila kita naik motor. Berdasarkan data terakhir dari American Meteor Society (berdiri sejak 1911) bahwa pada tahun 2014 dijumpai 3771 bolide meteor, tahun 2015 ada 4212 buah, dan tahun ini sudah 4072 ("Fireball Logs").

 

Gambar 3. Data tahun 1994 – 2013 mengenai lokasi jatuhnya bolide meteor. Ukuran meteoroid antara 1 meter hingga 20 meters seperti yang terjadi di Chelyabinsk. Credit: Planetary Science, NASA dan Tim Reyes, (17 November 2014). "We are not Alone: Government Sensors Shed New Light on Asteroid Hazards" (universetoday.com)

 

Meteorit

Bila meteoroid–nya besar atau dapat pula dikombinasi dengan kandungan unsurnya yang tahan panas, maka materi ini kadang tidak habis terbakar di atmosfer. Sisa ini kemudian mencapai permukaan Bumi yang disebut meteorit.

Meteor dapat jatuh di mana dan kapan saja. Ini tampak dari lokasi penemuan meteorit yang tersebar di seluruh muka Bumi. Misalnya penemuan meteorit di Hoba Barat – Namibia – Afrika. Bobotnya kisaran 55-60 ton, dengan ukuran 3x3x1 meter yang ditemukan tahun 1920. dan Greenland (36 ton). Tahun 1976 jatuh di wilayah Jilin – Tiongkok dengan bobot 1,76 ton. Sementara itu, yang bobotnya ringan (orde gram hingga 1 kg) tidak terhitung jumlahnya. Di Indonesia pun ditemui yang cukup besar, misal penemuan tahun 1801 di daerah Prambanan (800 kg) yang kini disimpan di Kraton Surakarta (diberi nama Kanjeng Kyai Pamor). Koleksi lainnya antara lain berada di Museum Geologi Bandung, Planetarium dan Observatorium Jakarta, dan LAPAN Jakarta.

 

Gambar 4. Meteorit NWA 869 chondrite (type L4-6). Credit: Wikipedia - Meteor

 

Unsur Pembentuk

Dari banyaknya meteorit yang ditemukan, maka kini mulai diketahui ragam unsur pembentuknya yang umumnya tersusun atas batuan silikat yang digolongkan jenis aerolit. Jenis ini terbagi 2 tipe. Yang pertama adalah tipe Chondrite yang merupakan meteorit yang ujudnya mirip batuan yang biasa kita temukan dan termasuk berunsur non-logam. Umumnya berusia setara dengan dugaan usia Tata Surya, yaitu kisaran 4,5 milyard tahun. Kadang ditemukan asam amino atau unsur organik lainnya. Kendati telah melewati kurun waktu sedemikian lama, kebanyakan masih memiliki karakter aslinya. Kesimpulannya bahwa batuan ini terbentuk bersamaan dengan adanya berbagai jenis debu dan remah-remah Tata Surya lainnya pada awal terbentuknya Tata Surya. Sebut saja sebagai materi purba. Mereka adalah jenis yang paling umum dari meteorit yang jatuh ke Bumi (85%).

Seperti yang juga dibahas dalam artikel Pembentukan Tata Surya, materi purba inilah yang dianggap menjadi petunjuk tentang asal-usul dan usia Tata Surya, evolusi terjadinya senyawa organik, proses keberadaan air di Bumi, bahkan hingga analisis asal usul adanya kehidupan di Bumi. Tipe kedua adalah Achondrite, kisaran 8%, yang tampak seperti basalt, yaitu batuan vulkanik berwarna gelap berstruktur bulir halus berunsur besi, magnesium, bercampur silica yang biasa ditemukan di planet kebumian (Merkurius, Venus, Bumi, Mars) dan umumnya terdapat unsur pyroxene dan olivine) atau granit (Wikipedia: Meteorite Types; Darling, p.336, Sawitar, 2014).

Jenis lainnya adalah siderite, yang merupakan meteorit yang materinya dominan tersusun atas unsur besi dan nikel. Jumlahnya kisaran 6%. Materi ini umum dijumpai pada pusat terdalam dari proto-planet. Unsur besi yang ditemukan pada jenis meteorit inipun dianggap unsur besi pada era awal terbentuknya Tata Surya. Bila mendengar cerita jaman dahulu kala bahwa senjata pusaka ada yang dibuat dari batu bintang (watu lintang, gigilang, atau hayaskara), maka hal ini kemungkinan juga sebagai awal berlangsungnya zaman besi. Dimaklumi apabila meteorit jenis ini dipakai, karena pada jaman dahulu tentu untuk menemukan besi asli dan murni sangat sulit (proses peleburan sama sekali belum dikenal). Jenis ini terdiri dari tipe ataxite, hexahedrite, dan octahedrite.

Temperatur bagian dalam planet (sebut ke arah pusat) jauh lebih tinggi dibanding dengan temperatur permukaan. Sebagai contoh, temperatur inti Bumi sekitar 4.500 – 5.000 derajat dan dalam inti Jupiter kisaran 30.000. Sebagian dari panas tersebut  merupakan sisa dari energi potensial yang dilepaskan saat terjadinya kontraksi gravitasi (proses penggumpalan dan pengerutan selama tahap proto-planet menjadi planet, yaitu proses pembentukan planet).

Peluruhan isotop radioaktif juga melepaskan panas. Sementara itu, segera setelah pembentukan planet dari ujud proto-planet, tumbukan dengan materi sisa pembentukan menjadi sangat sering terjadi dan proses ini menjadi salah satu pemicu semakin besarnya sumber panas. Kombinasi kedua proses tersebut menjadi penyebab materi planet mengalami pelelehan.

Proses selanjutnya membuat bola planet memiliki struktur berlapis dengan materi berat menuju pusat planet dan yang ringan berada di lapisan terluar. Jadi, dimaklumi apabila pada umumnya benda langit termasuk planet mempunyai pusat besi dan nikel. Atau dengan kata lain, unsur besi memang sulit diperoleh kecuali dengan proses peleburan seperti pada jaman sekarang. Atau dengan kata lain, bahwa materi purba yang kaya akan besi yang berada di MAP pada saatnya sampai ke Bumi dalam ujud meteorit (Karttunen, p.144). Kendati demikian, terbentuknya unsur besi dapat terjadi pada bintang meledak (supernova).

Jenis lain meteorit adalah campuran kedua jenis di atas yang biasa disebut siderolit atau litosiderit, dan terdiri dari 2 tipe, yaitu mesosiderite dan pallasite.

 

Senyawa Pendukung Kehidupan

Dari banyak contoh meteorit, akhirnya diketahui bahwa cikal bakal meteor atau meteoroid bukan hanya berasal dari materi antar planet biasa. Ada batuan berasal dari Bulan, Mars, asteroid, dan komet (Lihat artikel Komet: Sang Pengelana dari Tepian Tata Surya), dsb. Kini sudah lebih 2 lusin meteorit yang dinyatakan dari Mars dan salah satunya disebut ALH-84001 (Karttunen, p.422). Meteorit ini ditemukan tahun 1984 di wilayah Allan Hills – Antarctica dan mengundang kontroversi tahun 1996. Meteorit ini ditaksir berusia sekitar 4 milyar tahun dan konon ditemukan struktur kristal yang diduga kuat adalah fosil mikroba atau bakteria di mana pada meteorit ini banyak terdapat senyawa polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH) dan magnetite. Walaupun diketahui bahwa hadirnya senyawa ini dapat melalui aneka proses, tetap saja penemuan ini sangat mengejutkan. Meteorit ini digolongkan sebagai kelompok SNC (Shergottites-Nakhlites-Chassignites).

Hal ini mungkin mirip dengan yang jatuh dan meledak di atas Murchison, 400 km utara Perth – Australia, 28 September 1969. Ber-aroma layaknya methanol, yang mengindikasikan terbentuk dari materi organik. Dari penelitian ditemukan adanya 6 macam asam amino yang terkait dengan protein yang selama ini dikenal, namun 12 lainnya tidak pernah ditemukan di Bumi. Tentu hal semacam ini menjadi tantangan bagi para ahli astrobiologi.

 

Fenomena yang Mendebarkan

Sementara itu, saat terlihat berpendar di langit, meteor menampakkan warna warni yang ternyata hal ini sebagai akibat dari adanya perbedaan unsur kimiawi penyusunnya. Selain itu, apabila pembentuk meteoroid-nya tergolong materi yang rapuh, maka biasanya walaupun besar dapat jadi sebelum mencapai permukaan Bumi sudah habis terbakar, atau bahkan terkadang meledak hancur lebur di angkasa yang menimbulkan fenomena seperti kembang api raksasa (hujan meteor).

Salah satu adalah kejadian di L’Aigle, peristiwa hujan batu (rain stones) akibat meledaknya meteor saat masih di angkasa. Yang cukup spektakuler terjadi tahun 1868 di Pultusk – Polandia. Total sekitar 180 ribu meteorit dikumpulkan dengan berat total ±200 kg. Berbeda dengan yang terjadi di desa Paseka, bagian barat pegunungan Sikhote-Alin (sebelah tenggara Siberia) tanggal 12 Februari 1947 di pagi yang cerah. Induk meteor yang tergolong siderite, sesaat sebelum meledak di angkasa memiliki kecerlangan yang sama dengan Matahari. Ledakan dan pendar cahayanya terasa hingga radius 300 km. Sementara fragmen pecahan yang menimbulkan hujan batu api mencapai 15 ribu buah dengan bobot total 70 ton dan tersebar sampai radius 1 km. Pecahan terbesar (1745 kg) menimbulkan kawah berdiameter 26 m dan dalam 6 m. Kini di simpan di Moskow.

Peristiwa terakhir adalah jatuhnya super-bolide meteor hari Jum’at – 15 Februari 2013 – pukul 09.20 waktu setempat (cuaca pagi cerah), sebuah meteor besar jatuh melewati 3 kota besar di Rusia. Berawal dari kota Yekaterinburg, kemudian meteor terpecah menimbulkan bom suara di atas kota Chelyabinsk dan sebagian serpihan meteor jatuh di danau di kota Cherbakul. Ketiga kota berada sekitar 1.300 km timur kota Moskow. Tidak kurang 1.500 orang jadi korban dan ribuan bangunan rusak parah. Diperkirakan ukurannya antara 17 – 20 meter dengan bobot 11.000 ton berasal dari asteroid. Sempat terpecah pada ketinggian kisaran 25 – 30 km laksana kembang api raksasa.

Kalau melihat sejarah Bumi, nyatanya mulai banyak ditemukan kawah-kawah bentukan meteor termasuk temuan meteoritnya di segenap daratan muka Bumi. Mungkin inipun menjadi tantangan dalam telaah Astrogeologi, termasuk penelitian di Tanah Air.

 

Kawah Tumbukan

Kalau yang jatuh berukuran besar, dampaknya luar biasa. Ini tidak lepas dari kecepatan jatuhnya yang dapat mencapai 60 km/detik (Ibaratnya, kalau kita dapat jalan-jalan naik meteor dari Jakarta ke Bogor, maka 1 detik sampai). Umumnya kalau jatuh di daratan akan membentuk semacam kawah seperti yang terjadi di Arizona – Amerika Serikat, yaitu terbentuknya kawah Barringer – Arizona – Colorado yang dalamnya mencapai 200 m dengan diameter 1.250 m. Diperkirakan terbentuk sekitar 50.000 tahun yang lalu (French, p.2). Dugaannya disebabkan oleh meteoroid raksasa berjenis siderite berdiameter 30 meter dengan bobot kisaran 65 hingga 100 ton jatuh ditempat ini dan hancur berantakan tersebar sampai radius 7 km dari pusat kawah. Gelombang panas yang ditimbulkan akibat tumbukan mencapai radius 40 km. Contoh sejenis yang skalanya lebih besar terjadi pada Kawah Manicouagan – Quebec, Sudbury – Ontario (Canada), Ries (Jerman), dan Vredeport (Afrika Selatan) yang rata-rata berdiameter 150 km. Ada penemuan juga di kutub selatan, di Antarctic dengan diameter 400 km yang terbenam es (Pasachoff, p.225; French, p.1). Lebih detail tentang lokasi adanya kawah akibat jatuhnya meteor dapat dilihat pada List of impact craters on Earth atau yang dikembangkan oleh Planetary and Space Science Centre – University of New Brunswick Fredericton, New Brunswick, Canada ("Earth Impact Database").

 

Gambar 5. Kawah Barringer. Credit: Rick Kujawa – (Dasch, p.105)

 

Gambar 6. Distribusi Kawah Tumbukan. Tidak kurang 190 kawah bentukan meteor yang telah diteliti dengan diameter antara 0,02 hingga 300 km. Pada umumnya penemuan di daerah yang masih asri. Sebagian lagi tentu ada yang tertutup atau “hilang” karena faktor geologi (atau seperti terbenam di bawah laut atau es)(pada French, p.3 masih 145 kawah, PASSC sudah mengkonfirmasi hingga 190 kawah)

 

Tunguska

Meteoroid sebagian terkait asteroid dan komet. Peristiwa Tunguska di daerah lembah Sungai Tunguska Podkamennaya – daerah tengah Siberia, meteoroidnya diduga berupa pecahan komet oleh Shapley (1930). Adapun Kulik (1939, 1940) menganalisis berdasarkan asteroid yang banyak unsur besi. Menyusul kemudian Fesenkov (1949) yang kembali dengan hipotesis meteoroid jenis aerolit (batuan silikat) berlandas analisis karakter ledakan dan daya rusaknya. Adapun dugaan kuat setelah ragam penelitian adalah berasal dari komet dan hal ini dipertegas lagi setelah penelitian di lokasi dan penemuan yang diduga kuat sisa meteor atau meteoritnya bahwa itu adalah pecahan komet Encke oleh Kresák tahun 1978 yang meledak di ketinggian 10 km, menghancurkan 2150 ± 50 km2 hutan di sana (Farinella, 2001; Longo, 2007). Gema ledakan mencapai jatak hingga radius 1.000 km. Seismometer dari segala penjuru dunia mencatatnya. Dari sangat banyak kesaksian bahwa kecerlangan ledakannya bahkan mengalahkan terang Matahari.

 

Dinosaurus

Punahnya dinosaurus diduga berkait dengan jatuhnya meteor besar yang berupa asteroid berdiameter sekitar 10 km dalam ujud meteor raksasa ke Bumi 65 juta tahun yang lalu (Peralihan periode Cretaceous dan Tertiary). Jatuh di daerah Jazirah Yucatan Meksiko membentuk Kawah Chicxulub (Ekor Setan) berdiameter antara 200 – 300 km dan dalam sekitar 3 km yang menjadi sebagian dari Teluk Meksiko. Namun, sekitar 8 juta tahun sebelumnya telah didahului dengan terbentuknya kawah Manson di Ohio bergaris tengah 35 km.

Penemuan terakhir team ilmuwan internasional adalah pernah terjadi kepunahan massal seperti itu kisaran 250 juta tahun lalu yang diduga kuat juga sebagai akibat asteroid berdiameter antara 6 – 12 km (The Great Dying, julukan mereka dan terjadi pada peralihan jaman Permian – Triassic). Dari penelitian, dampak yang ditimbulkan saat itu jauh lebih parah dibanding pada saat dinosaurus musnah. Namun demikian, memang 2 kepunahan besar ini bukan semata-mata karena “tertimpa” asteroid tersebut, lebih pada dampaknya yang timbul setelahnya (sebut terjadinya perubahan iklim, hingga berlangsungnya musim dingin ekstrim yang kadang disebut musim dingin nuklir).

Contoh baik lainnya adalah 57 juta tahun lalu (era Paleocene-Eocene) di mana berlangsung kepunahan sejenis yang juga terkait dengan terbentuknya rekahan Greenland / Atlantik Utara. Dugaan kala itu bahwa bersamaan juga terjadi ledakan gunung berapi di wilayah Greenland di mana terjadi limpahan basalt pada area tersebut. Namun, dugaan kuat terakhir menunjukkan bahwa hal ini dipicu dengan tumbukan komet yang mirip kejadian Tunguska (Morgan, p.281).

 

Hujan Meteor

Fenomena unik lain adalah saat asteroid dan komet mendekati Matahari. Mengenai keterkaitan komet (lihat artikel Komet) dengan hujan meteor telah diprediksi secara matematis oleh Whipple (1950). Ada yang memotong garis edar Bumi dengan meninggalkan jejak berupa materi aneka rupa. Saat Bumi masuk jejak ini, maka terjadilah hujan meteor. Tampak seolah berasal dari 1 titik di langit (titik radian). Sebenarnya meteor datang paralel, namun karena dari jauh, maka tampak dari 1 titik. Mirip rel kereta api yang seolah bertemu di kejauhan. Titik ini biasa dikaitkan dengan rasi bintang. Misal Orionids Shower, titik radiannya di rasi bintang Orion (Lintang Waluku) yang berkaitan dengan jejak komet Halley, Leonids (Leo, jejak komet Tempel–Tuttle), dsb. Lihat tabel 1. Pada waktu normal diharapkan dapat terlihat 3 meteor/jam dan ketika hujan meteor dapat mencapai 50 buah bahkan kadang sangat banyak seperti Leonids (10.000; tahun 1966 mencapai 150.000 meteor/jam pada puncaknya yang mirip kesaksian tahun 1833).

 

Gambar 7. Hujan Meteor Leonids. Hujan meteor yang terekam di daerah rasi bintang Canis Major (Anjing Besar). Credit: Tony Hallas (Astronomy Magazine)

Tabel 1.

Hujan Meteor Yang Cukup Cemerlang

Referensi untuk tambahan data: List of meteor showers

Nama

Waktu (Puncak)

Meteor/jam

Asal

Quadrantids

1 – 4 Januari

(03)

40

(cemerlang)

Kozik-Peltier

Sumber lain:

Asteroid 2003EH1, Komet C/1490Y1, Komet C/1385U1

Eta Aquariids

1 – 8 Mei

(04)

20

(cemerlang)

1P/Halley

Lyrids

19 – 24 April

(22)

12

(cemerlang)

C/1861G1/Thatcher

Beta Taurids

24 Juni – 6 Juli

(28)

10 - 30

2P/Encke

Perseids

10 – 14 Agustus

(13)

100

(cemerlang)

109P/Swift-Tuttle

Draconids

6 – 10 Oktober

(08)

Bervariasi hingga 1.000

(cukup cemerlang)

21P/Giacobini-Zinner

Orionids

18 – 26 Oktober

(21 – 22)

20

(cemerlang)

1P/Halley

Leonids

15 – 20 November

(17 – 18)

hingga 10.000 dalam periode 33 tahun.

(cemerlang)

55P/Tempel-Tuttle

Northern Taurids

20 Oktober – 10 November

(5 – 6 November)

5

(cemerlang)

2P/Encke

Alpha Monocerotids

15 – 25 November

(21)

periode kombinasi 10 dan 50 tahun

(cemerlang)

Belum diketahui

(dugaan: komet periode panjang)

Geminids

4 – 17 Desember

(13 – 14)

120

(cukup cemerlang)

(Asteroid)

1983TB atau 3200 Phaeton

Ursids

17 – 26 Desember

(22)

10

(cukup cemerlang)

8P/Tuttle

 

Tabel 2.

Meteorit Hasil Hujan Meteor

 (Ref.: Darling, 335)

No.

Nama Meteorit

Negara

Tahun Jatuh

Massa (kg)

Jumlah Serpihan

 

01.

Campo del Cielo

Argentina

1576

70.000

ribuan

02.

Toluca

Mexico

1776

2.500

ribuan

03.

L’Aigle

Perancis

1803

37

3.000

04.

Imilac

Chile

1822

1.000

>1.000

05.

Gibeon

Namibia

1836

26.000

ribuan

06.

Pultusk

Polandia

1868

200

180.000

07.

Mocs

Rumania

1882

300

3.000

08.

Brenham

Amerika Serikat

1882

2.400

ribuan

09.

Holbrook

Amerika Serikat

1912

220

16.000

10.

Plainview

Amerika Serikat

1917

700

>1.000

11.

Sikhote-Alin

Rusia

1947

70.000

15.000

12.

Allende

Mexico

1969

2.000

5.000

 

Patroli Langit

Punahnya dinosaurus, peristiwa Tunguska, terbentuknya kawah Barringer, hingga yang terakhir di Chelyabinsk – Rusia adalah sekedar sedikit contoh bahwa jatuhnya meteor dapat menimbulkan bencana. Bagaimana kecemasan muncul tidaklah lepas dari hasil perhitungan matematis. Atas dasar analisis bahwa bila ada asteroid (contoh film layar lebarnya adalah Armageddon yang dibintangi Bruce Wilis) atau komet (film Deep Impact) jatuh di laut Atlantik, maka seluruh pantai timur Amerika Serikat akan tersapu gelombang laut sampai 200-an km ke arah daratannya. Di Eropa gelombang ini menjangkau sampai Perancis dan Portugal. Sementara dalam perhitungan lainnya, Owen Toon dan koleganya dari ARC-NASA mendapatkan bahwa bila besarnya 1 km dan jatuh di laut berkedalaman 4 km, maka efek gelombang pasang menjangkau daerah seluas laut Pasifik.

Bagaimana bila diameternya 200 m dengan kecepatan jatuh 50 km/s? Adushkin dan Nemchinov dari Rusia menghasilkan gambaran mencemaskan. Sibakan air laut dalam tempo 40 detik dapat setinggi 35 km.

Hal ini pula yang menyebabkan Ballistic Missile Defence Organization atau Strategic Defence Initiative Organitation (sandinya: Star War) mengusulkan kerjasama dengan NASA guna merancang satelit penghancur berpeluru kendali sejak awal tahun 90–an. Proyek ini dikenal sebagai Clementine-2 dengan sistem LEAP (Light Exo Atmospheric Projectiles). Wahana ini memakai teknologi pendahulunya Clementine-1 yang berhasil digunakan untuk meneliti ulang Bulan.

Contoh lain, seandainya ada meteor jenis aerolit berdiameter 6 m menghantam Bumi dengan kecepatan 20 km/detik, maka akan melepaskan energi kisaran 8x1013 joule atau sekitar 20.000 ton TNT yang setara ledakan bom atom. Sebagai pembanding bahwa energi total yang dilepas Bumi dengan cara gabungan proses vulkanik, gempa Bumi, dan pemancaran panas adalah sekitar 1,3x1021 joule per tahun (310.000 juta ton TNT per tahun)(French, p.13).

Jika berdiameter 2 km (Dasch, p.6), ibarat ledakan 100.000 megaton TNT dan ini melebihi daya rusak seluruh bom nuklir yang ada bila diledakkan bersamaan. Dampaknya, lapisan stratosfer di atmosfer akan tercemar dengan begitu banyak debu yang sanggup menghalangi cahaya Matahari sampai ke Bumi yang selanjutnya musim tanam seluruh dunia berhenti dan mengakibatkan kelaparan massal dan mengancam peradaban.

 

Kalau dibayangkan besar meteornya 12 km (sebut meteoroidnya adalah sebuah asteroid) dengan kecepatan 3 kalinya, berarti dalam kejadian tabrakan sesaat saja pada tumbukan tersebut besar energi yang dihambur akan melebihi besarnya pelepasan energi oleh Bumi dalam rentang ratusan tahun. Lumayan beruntung bahwa kejadian ini teramat sangat langka, periodenya jutaan tahun.

Saat ini sudah banyak yang diwaspadai tentang asteroid yang diduga akan berkenalan dengan Bumi, yang digolongkan sebagai kelompok PHAs (Potentially Hazardous Asteroids). Contohnya asteroid temuan Scotti tanggal 6 Desember 1997, yaitu asteroid 1997XF11 yang ditaksir akan mendekati Bumi tanggal 26 Oktober 2028. Atau yang baru-baru ini dilacak yaitu asteroid yang pada tahun 2019 konon akan “menyapa” penghuni Bumi. Mereka apabila benar berkenalan dengan kita, maka artinya dapat jatuh sebagai meteor raksasa.

 

Pelajaran dari Langit

Memang ancaman dari langit ini terasa mengerikan bagi manusia. Namun, ditilik dari fenomena Astronomi adalah sesuatu yang sangat wajar. Memang tidaklah kita dapat menutup mata apabila hal ini akan menimbulkan kecemasan. Namun, tentu akan lebih mengkhawatirkan apabila ternyata kehancuran Bumi yang kita takutkan ini justru bukan berasal dari kedatangan benda langit seperti kisah di atas, melainkan malah akibat ulah tingkah penghuninya sendiri yang justru biasanya berlangsung pelan tapi pasti.

Populasi manusia bertambah banyak dan pada satu sisi permukaan Bumi tidak bertambah. Teknologi makin maju dan pada ranah bersebelahan adalah konsekuensi di mana bahan pangan dan papan makin terkuras; polusi udara,  air, dan tanah justru seolah menjadi kesehariannya; efek rumah kaca menjadi keniscayaan; warna hijau tumbuhan pun makin tergerus; belum lagi pertikaian dan mesin perang semakin canggih sehingga senjata nuklir pun semakin populer. Inilah yang kini menjadi pola hidup manusia di sebuah kapal raksasa yang dijuluki Planet Biru, yang tidak lain adalah Bumi. Dapat jadi ancaman benda langit seperti dibahas di atas – kalau pun terjadi – hanyalah sekedar untuk menggugah kesadaran nurani terdalam kita semua. Atau, apakah ini akan menjadi sekedar gong penutup semata? Lagi-lagi hanya hati nuranilah yang sanggup menjawabnya. Salam Astronomi. –WS–

 

Daftar Pustaka

Darling, D., 2004, The Universal Book of Astronomy, John Wiley & Son, New Jersey, p.236, 333-6, 498

Dasch, P. (ed.), 2002, Planetary Science and Astronomy – Space Science Vol. 2, Macmillan Reference USA – Thomson Gale, New York, p.3-7 (Clark Chapman), 103-6 (Joel L. Schiff)

French, B. M., 1998, Traces of Catastrophe: A Handbook of Shock-Metamorphic Effects in Terrestrial Meteorite Impact Structures, Smithsonian Institution, Washington, DC, p.1-3, 97-8

Karttunen, H., et al (eds.), 2007, Fundamental Astronomy, Fifth Edition. Springer Berlin, p.144, 195-6, 421-2

Longo, G., 2007, The Tunguska Event, dalam Bobrowsky, Peter T., Hans R. (eds), Comet/Asteroid Impacts and Human Society: An Interdisciplinary Approach – Chapter 18, Springer-Verlag, Berlin, p.303–330

Morgan, J. P. et al, 2004, Contemporaneous Mass Extinctions, Continental Flood Basalts, and ‘Impact Signals’: Are Mantle Plume-induced Lithospheric Gas Explosions the Causal Link? (Earth and Planetary Science Letters 217), Elsevier, Amsterdam, p.263-284

Notkin, G., Meteorite types and classification, (Meteorwritings. Geology.com. Retrieved 2014-03-02.)

Paku Buwana V, 1989, Serat Centhini (Suluk Tambangraras) 4, Yayasan Centhini, Yogyakarta, p.183 (translated from old Javanese script by Kamajaya)

Pasachoff, J. M., 1978, Astronomy: from the Earth to the Universe, Saunders Co., Philadelphia, p.213-230

Rubin, A. E. et al, 2010, Meteorite and Meteoroid: New Comprehensive Definitions, Meteoritics & Planetary Science 45 (1), p.114–122.
Sagan, C., 1983, Cosmos, Futura, London, p.92-7, 105-7

Sawitar, W., 2014, Menjelajahi Jagad Raya, Bahan Ajar Penyuluhan Astronomi Tingkat SMP/SMA di Jakarta, Planetarium Jakarta

Yeomans, D. et al, 2009, Asteroid Impactor Reported over Indonesia, NASA/JPL Near-Earth Object Program Office. Retrieved 2009-10-30

Whipple, F. L., 1951, A Comet Model – Physical Relation for Comets and Meteors, ApJ 113, p.464-474

 

Situs: