Written by Widya Sawitar

User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

 

“… cumlorot lir lintang ngalih wiraga mawarna warna ...”

Serat Centhini IV, p.183

(Ref.: Sawitar, 2015)

Pada artikel sebelumnya telah dibahas mengenai meteor dan juga salah satu fenomena yang menyertainya, yaitu hujan meteor. Kali ini kita coba menilik 2 peristiwa hujan meteor yang cukup spektakuler baik penampilan di kubah langit, maupun keterkaitannya dengan benda langit lain, yaitu komet yang juga cukup dikenal (lihat artikel Meteor dan Komet).

Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya bahwa fenomena hujan meteor terkait dengan komet telah diprediksi secara matematis oleh Whipple (1950), walau sebenarnya praduga ini telah terjadi jauh sebelumnya. Keterkaitan ini dimaklumi karena karakter komet yang membubuskan materi gas dan debu tatkala mendekati Matahari, serta lintasannya banyak yang berpotongan atau tumpang tindih dengan lintasan orbit Bumi, minimal mendekati Bumi sedemikian pada jarak tertentu dapat saja materi bubusan komet masuk wilayah yang terpengaruh oleh gravitasi Bumi.

Beberapa contoh hujan meteor juga telah disajikan sebelumnya (tabel hujan meteor pada artikel Meteor). Misal Orionids Shower yang titik radiannya di rasi bintang Orion (Lintang Waluku) yang berkaitan dengan jejak komet Halley dan Leonids yang titik radiannya di rasi bintang Leo yang terkait dengan adanya jejak tinggalan materi dari komet Tempel–Tuttle.

Penelusuran kali ini adalah untuk serba sedikit mengulas 2 hujan meteor yang cukup menyita perhatian, yaitu utamanya hujan meteor Leonid (Leonids) dan juga Perseids. Dalam pembahasannya memang tidak dipisah karena sejarah pengamatan dan penelitiannya seiring sejalan dalam alur waktunya.

 

Sejarah Pengamatan

Berdasarkan catatan kuno di Korea (Yang, 2005; Ahn, 2003) bahwa pada era Samguksa-gi yang mencakup periode tiga kerajaan (57 SM – 935 M), Goryeosa dari dinasti Goryeo/Koryo (918 – 1392), dan Joseonwangjosillok dari dinasti Joseon/Choson (1392 – 1910) ditemukan catatan akan terlihatnya 3.861 meteor dan 31 fenomena hujan meteor. Pada catatan dinasti Goryeo dikonfirmasi tercatat 705 meteor (deskripsi meliputi hari, waktu, awal dan akhir penampakan, kecerlangan, warna, bahkan hingga suara) di mana 15 diantaranya hujan meteor. Berdasarkan penelitian bahwa puncak Perseids, Eta Aquarids/Orionids, North-Taurids, dan Leonids tercatat pada naskah kuno untuk kurun waktu pencatatan dari 3 dinasti besar tersebut di atas (kurun 1000 tahun). Bahkan kecenderungan variasi intensitas dari hujan meteor yang disebut dalam kurun itu juga dicatat. Hasil ini ternyata setara dengan catatan yang ada di Tiongkok (dinasti Sung dan Ming, tercatat 1.638 meteor; termasuk di kekaisaran Mongolia – dinasti Yuan) dan Jepang untuk kurun waktu yang sama. Memang untuk catatan dari Jepang dalam hal deskripsi kejadian tidaklah selengkap yang ada di Korea dan Tiongkok. Dengan adanya catatan seperti ini, dapat disimpulkan bahwa fenomena terlihatnya meteor dan hujan meteor dapat dikatakan merata di banyak Negara, kalau tidak dapat dikatakan di seluruh dunia.

Meteor sebagai salah satu benda langit dengan penampilannya yang khas “rasanya” dimaklumi apabila telah disadari keberadaannya sejak manusia melihat kubah langit malam. Minimal di Indonesia juga telah tercatat, baik komet dan meteor dalam kisah menjelang runtuhnya kerajaan Majapahit (abad 15) serta dalam Serat Centhini (abad 18). Selain catatan dari Asia di atas, maka dalam karya puisi Virgil dari Romawi dalam bukunya Georgics (30 SM) juga menegaskan akan hadirnya benda ini. Adapun fenomena yang lebih spektakuler, yaitu hujan meteor kisahnya diawali tahun 868 di mana tahun itu sempat terlihat sebuah komet yang cukup cemerlang dan sempat memunculkan dugaan bahwa komet ini akan mempengaruhi Bumi, atau kemungkinan benda seperti itu akan jatuh ke Bumi, atau dapat jadi adanya hujan meteor akibat adanya sang bintang berekor itu. Terlebih saat tahun 899 terjadi hujan meteor, juga tahun 902 yang sempat direkam oleh para astronom dari Tiongkok, Mesir, dan Itali “Bintang-bintang jatuh seperti hujan” istilahnya kala itu (mungkin termasuk munculnya istilah bintang jatuh atau falling star). Kekhawatiran pun berlanjut dan pertanyaan apakah tampilan dua benda ini saling berkaitan mulai mendapat tempat dalam ranah penelitian (Dick,1998). Terlepas dari hal ini, bahwa kejadian tahun 902 dikonfirmasi terkait dengan Leonids. Uniknya ketika Johannes Kepler (yang terkenal dengan Hukum Peredaran Planet) wafat pada tanggal 15 November 1630, selang dua hari kemudian terjadi hujan meteor yang spektakuler. Fenomena pun akhirnya sempat dikaitkan dengan wafatnya tokoh tertentu. Mungkin hal ini seragam dalam hal bahwa kejadian astronomis senantiasa menimbulkan beragam spekulasi, ibarat peristiwa gerhana, yang tidak jarang membuat ketakutan karena sering dikaitkan dengan adanya wabah penyakit atau bencana alam. Tentu pula sebagai sesuatu yang sangat dimaklumi apabila pandangan ini muncul pada kurun ribuan tahun yang lalu.

Mengenai jatuhnya meteor yang cenderung banyak dalam selang waktu bersamaan, mungkin salah satu dapat merujuk pada komentar Musschenbroek tahun 1762, “Regarding falling stars … these stars are observed shooting across especially in the month of August following a hot period, at least it has been so in Belgium, Leyden and Utrecht.” Dari komentar ini bahwa pengertian modern tentang hujan meteor sudah diamati dan dapat diamati oleh masyarakat luas secara bersamaan di beragam lokasi (Hughes, 1995, p.31)

Pada tahun 1799, tanggal 11-12 November, giliran peneliti meteor dari Amerika Serikat mendapati hujan meteor yang menerangi langit malam. Hal ini ditegaskan oleh peneliti Jerman, Alexander von Humboldt dan koleganya, Bonpland yang kebetulan saat itu berada di Cumana, sebelah timur Caracas – Venezuela. Tidak kurang 4 jam terus menerus, meteor berjatuhan, baik yang biasa maupun yang bolide meteor (fireball meteor). Setelah mengumpulkan data lokasi para pengamat, diketahui bahwa fenomena ini diamati dari Amerika bagian selatan hingga Jerman dan Greenland. Dari peneliti dan masyarakat lokal di Cumana, rupanya diketahui bahwa hujan meteor seperti yang terjadi kala itu pernah terjadi pada tahun 1766, yaitu 33 tahun sebelumnya. Sementara dari catatan di Inggris, bahwa kejadian serupa terjadi tahun 1797 (artinya dua tahun sebelum puncak Leonids).

 

Era 1833 – 1866

Kejadian perekaman hujan meteor ini terjadi lagi pada tahun 1833 dan rupanya lebih spektakuler dan didukung dengan perangkat penelitian yang semakin berkembang. Berdasarkan kesaksian bahwa langit benar-benar cemerlang laksana pesta kembang api dan berlangsung antara tanggal 12 hingga 13 November dengan durasi kisaran 9 jam. Prediksi kala itu, sekitar 240.000 meteor jatuh dari langit dan suatu keberuntungan di mana lokasi titik sebar meteor dikatakan sangat jelas berasal dari arah rasi bintang Leo (titik radiannya).

Penelitian sumber sebaran diawali oleh astronom Amerika Serikat Denison Olmsted (1791-1859). Inilah awal mula diketahuinya fenomena hujan meteor yang terlihat dari satu titik di langit. Istilah kala itu bukan sekedar hujan (shower) melainkan badai (storm). Sejak saat itu bahwa hujan meteor ini lebih dikenal sebagai Hujan Meteor Leonid (Leonids) yang sebelumnya hanya disebut Hujan Meteor November. Penelitian bahwa asal muasal fenomena ini bersumber dari hadirnya komet mulai mendapat tempat. Berdasarkan kesaksian bahwa fenomena tahun 1799 kembali terulang, karena setahun sebelum tahun 1833 juga terjadi hujan meteor dengan intensitas cukup tinggi  yang disaksikan oleh masyarakat Eropa bagian timur dan wilayah Timur Tengah. Dapat jadi karena pendapat Olmsted bahwa periode terjadinya hujan meteor terkait mendekatnya komet ke Matahari yang dinyatakan setiap 182 hari.

Hujan meteor lainnya, yaitu Perseids pun mulai diteliti di mana sejak Lambert-Adolphe-Jacques Quetelet, direktur Observatorium Brussels pada tahun 1836 hingga 1839 serta Herrick (1838) menyimpulkan bahwa fenomena hujan meteor pada bulan Agustus yang titik radiannya di rasi bintang Perseus adalah hujan meteor tahunan. Titik radian ini secara rinci diteliti dan dipetakan oleh J. Locke (1834), G. C. Schaeffer (1838), dan S. C. Walker (1843).

Adapun H. W. Olbers pada tahun 1837 menganalisis perbedaan karakter tampilan antara Perseids yang bersifat konstan dan terjadi berkala tiap tahun serta cenderung jenis bolide meteor dan yang satunya adalah Leonids yang memiliki variasi beragam dengan puncak intensitas 33 tahun sekali. Dugaan Olbers kala itu bahwa Perseids berasal dari mendekatnya asteroid. Kala itu juga semakin diyakini bahwa fenomena hujan meteor bersumber dari benda di luar Bumi, bukan lagi semata gejala atmosfer layaknya gejala cuaca. Adapun mereka hadir (jatuh dari langit) lalu berinteraksi dengan atmosfer pun menjadi pemikiran saat itu. Berdasarkan penelitian, bahwa catatan atau perekaman tentang fenomena ini telah ada sejak kejadian tanggal 26 Juli 830.

 

Gambar 1. Ukiran kayu yang dibuat tahun 1889 yang menggambarkan terjadinya badai meteor Leonid tahun 1833. Credit/ Courtesy: Seventh-Day Adventist Church (Bible Readings for the Home Circle). Gambarnya sendiri dibuat oleh Karl Jauslin (1842-1904) dan diukir oleh Adolf Vollmy (1864-1914). Credit: Dick, p.3

 

Pola Berulang?

Sementara itu, pada tahun 1866, Ernst Tempel dan Horace Tuttle secara terpisah menemukan sebuah komet yang cukup redup. Setelah diteliti sifatnya, termasuk karakter lintasan orbitnya, diketahui komet ini memiliki periode yang cukup pendek, yaitu kisaran 33,17 tahun. Pada akhirnya, kesimpulan ini digunakan untuk memprediksi terjadinya hujan meteor serupa yang pernah terjadi. Diawali dengan analisis dari Quetelet yang menyatakan bahwa ini terkait dengan adanya benda langit yang menghambur memasuki atmosfer; yang lalu diteruskan perhitungannya oleh Hubert Newton pada tahun 1863. Newton pun memiliki prediksi matematis yang sama terhadap hadirnya komet temuan Temple dan Tuttle, yaitu 33,25 tahun. Dari beragam perhitungan ada kesepakatan bahwa diperkirakan hujan meteor tersebut akan berulang lagi pada bulan November 1866. Perkiraan ini benar adanya dan kali itu yang mendapat giliran menikmatinya adalah penduduk di Eropa. Secara cermat kala itu ditentukan titik radiannya, yang dengan beragam penelitian akhirnya dipastikan bahwa hujan meteor ini yang dikenal sebagai Leonids terkait dengan komet tersebut. Komet ini sendiri diberi nama sesuai nama penemunya, yaitu komet Tempel-Tuttle. Memang badai meteor ini berulang setiap 33 tahun, namun setiap tahunnya pun terjadi dengan taraf hujan meteor. Inilah yang disimpulkan oleh Olmsted, Quetelet, Newton, dan Hoffleit.

Setelah kejadian ini merebaklah penelitian keterkaitan antara komet dengan meteor tahunan tersebut, termasuk Perseids yang antara lain oleh John Couch Adam (perumus matematis adanya planet Neptunus) dari Inggris, Giovanni Schiaparelli (yang kala itu menjadi direktur Observatorium Milan dan terkenal dengan istilah canali di planet Mars) dari Itali (bersama dengan Angelo Secchi), Le Verrier (secara terpisah juga merupakan perumus matematis adanya planet Neptunus) dari Perancis, serta Oppolzer dan Peters dari Jerman. Adapun hujan meteor lain yang terkait komet adalah Perseids, yaitu dengan komet 1862 III atau 109P/Swift-Tuttle, yang disimpulkan oleh hasil perhitungan Newton, Schiaparelli (untuk lintasan materi sebagai sumber Perseids; istilah hujan meteor Perseid atau Perseids juga untuk pertama kali disebut olehnya), dan Oppolzer tahun 1867 (untuk lintasan orbit komet), sebagai berikut:

 Tabel 1. Kesetaraan lintasan orbit Perseids (1866) dan komet 1862 III yang mengawali kesimpulan bahwa keduanya saling terkait. Credit: Hughes, p.34

 

Selain itu, masih belum ada kesepakatan kapan intensitas maksimal dari Perseids. Denning tahun 1923 menyatakan setiap 11,72 tahun. Untuk fenomena tahunannya, rata-rata kisaran 80 meteor akan terlihat setiap jam, kecuali tahun 1862, 1863, 1921, dan 1992 mencapai 250 meteor per jam. Sangat sedikit tahun 1911 dan 1912. Ada keunikan pada tahun 1991, yaitu mencapai 350 meteor per jam, namun berlangsung sangat singkat. Juga tahun 1992 yang bahkan kurang dari 1 jam saja. Kedua fenomena terakhir populer disebut sebagai fenomena semburan (outburst).

Adapun komet sumber Perseids, yaitu 109P/Swift-Tuttle ditemukan oleh Lewis Swift dari Marathon – New York tanggal 16 Juli 1862 dan secara terpisah oleh Horace Tuttle dari Observatorium Harvard – Massachusetts. Dari ragam penelitian bahwa komet ini memiliki periode 130 tahun, inklinasi orbit sekitar 1130, jarak perihelion 0,975 AU dan aphelion 47,6 AU. Eksentrisitas (kelonjongan bentuk orbit) 0,962 (elips sangat lonjong) dan sumbu panjang 24,33 AU (lihat gambar 4). Terkait ke-konstan-annya, maka diduga materinya (meteoroid) tergolong tua dengan posisi lintasan yang stabil, tidak banyak berubah.

Kembali ke Leonids, bahwa fenomena yang diprediksi akan terjadi tahun 1899 ternyata sedikit meleset karena tidak terjadinya konsentrasi hujan meteor yang spektakuler walau tetap masih banyak dilihat beberapa malam. Sebenarnya hal ini telah diduga sebelumnya. Pada 1890, astronom Irlandia George Johnstone Stoney (1826-1911) dan astronom Inggris Arthur Matthew Weld Downing (1850-1917) merupakan peneliti pertama yang mencoba menganalisis lokasi debu di lintasan orbit Bumi. Mereka mempelajari karakter debu yang dihamburkan komet 55P/Tempel-Tuttle pada tahun 1866 untuk memprediksi fenomena Leonids untuk tahun 1898 dan 1899. Namun, perhitungan menunjukkan bahwa sebagian besar debu akan jauh dari lintasan orbit Bumi.

Hasil yang sama secara independen diperoleh Adolf Berberich dari Königliches Astronomisches Rechen Institut (Royal Astronomical Computation Institute) di Berlin, Jerman. Nyatanya, memang tidak terjadi badai seperti kejadian tahun 1833. Bahkan komet Temple-Tuttle sejak kejadian tahun 1866 seolah menghilang tidak lagi teramati. Namun, aktifitas hujan meteor masih relatif tetap tinggi hingga perekaman tahun 1902. Uniknya, intensitas tinggi juga terjadi setahun sebelumnya. Berarti terjadi 3 kali badai meteor dalam selang hanya 3 tahun, namun pada setiap kejadian bahwa intensitas jatuhnya meteor memiliki rentang waktu proses berlangsungnya yang panjang (distribusi sebarannya). Bandingkan tahun 1799, seolah semua meteor tercurah hanya dalam tempo 4 jam, dan tahun 1833 selama 9 jam. Ketidakhadiran fenomena ini sempat dikomentari pada tahun 1925 oleh Charles Olivier “ .. the worst blow ever suffered by astronomy in the eyes of the public ..,” dan bagi Steven Dick, “This is a public relations problem which astronomers can still sympathize with today,” (Dick, p.8).

 

Gambar 2. Salah satu foto spektakuler pada kejadian tahun 1966. Terekam lebih dari 40 meteor besar dengan durasi pemotretan kisaran 10 menit yang diabadikan oleh A. Scott Murrell (leonid.arc.nasa.gov/history)

 

Walau dikatakan badai meteor, kini diketahui ada 2 kategori, yaitu normal storm dan fireball storm (cenderung besar, terang, gerak lambat, lintasan cahayanya panjang – bolide meteor)(Dengan kejadian unik tahun 1991 dan 1992, maka ada kategori lainnya, yaitu outburst, yang juga sempat terjadi tahun 2000).

Berdasarkan perhitungan bahwa hal ini akan berulang tahun 1932, namun yang dinanti tidak datang. Hanya sekedar hujan meteor dengan puncaknya kisaran 240 meteor setiap jam. Dianalisis oleh Lovell tahun 1954 bahwa kemungkinan besar komet tersebut terganggu lintasannya karena terlalu dekat dengan planet Uranus (termasuk gangguan ketika komet mendekati Neptunus tahun 1899).

Kembalinya Temple-Tuttle

Setelah nyaris satu abad menghilang, maka tahun 1965 komet ini kembali teramati. Hujan meteor yang cukup banyak mulai terjadi tahun itu dan berhasil dinikmati oleh penduduk Eropa. Berdasarkan perhitungan komet ini akan mendekati Bumi tahun 1966 hingga jarak 0,0032 satuan astronomi. Kala itu ditaksir bahwa masyarakat Eropa akan menikmati kembalinya badai meteor tahun 1966 karena lintasan Bumi dekat jalur materi bubusan komet dan sekaligus dekat sumbernya. Namun, sedikit meleset karena ternyata yang mengalami dan menikmatinya adalah masyarakat di bagian tengah dan barat Amerika Serikat pada malam tanggal 17 November 1966. Badai meteor kali ini setara dengan kejadian tahun 1799 dan 1833.

 

Gambar 3. Jumlah meteor teramati pada kejadian November 1993 dan 1994 berbasis data yang menggunakan panjang gelombang radio oleh Ilkka Yrjola dan Kuusankoski (Finlandia). Pada tahun 1994 tampak intensitas tinggi untuk waktu dan lokasi tertentu. Adapun tahun 1993 tampak merata dilihat dari berbagai posisi di Bumi (variation of sporadic activity). Ref.: leonid.arc.nasa.gov/history

Gambar 4. Lintasan orbit jejak materi cikal bakal Leonids dan Perseids (meteoroid streams). Ref: Brown, p.13

 

Giliran pada tahun 1966, puncak penampilan badai ini berlangsung sekitar 2 jam saja dan tidak kurang 40 meteor terlihat setiap detik atau kisaran 150.000 meteor setiap jam yang terlihat. Kala itu penelitian sudah berhasil memakai peranti seperti plat fotografi yang telah dikembangkan oleh Whipple dua dekade sebelumnya dari grup Universitas Harvard (the Baker Super Schmidt Cameras, yang dimodifikasi oleh James G. Baker tahun 1950-an); juga yang berbasis teknologi radar (astronomi radio) yang dikembangkan oleh Bernard Lovell dari Jodrell Bank.

Pada tahun 1981, Donald K. Yeomans dari Jet Propulsion Laboratory (NASA) mencoba menelusuri sejarah Leonids dan evolusi atau dinamika orbit komet Tempel-Tuttle. Hasilnya menunjukkan tentang posisi relatif lintas orbit Bumi dan Tempel-Tuttle, kemudian diprediksi di mana Bumi akan memasuki daerah jejak komet tersebut yang kerapatannya besar. Cukup jelas bahwa ternyata daerah padat tersebut berada di belakang dan di sisi luar jalur komet. Uniknya bahwa jejak jalur Bumi menerobos arus materi meteoroid semburan komet tadi justru di daerah yang diketahui tidak menampakkan aktifitas yang tinggi. Namun, diketahui kemudian bahwa kondisi seperti ini nyatanya tetap dapat menyebabkan badai meteor.

Adapun pada tahun 1985, E. D. Kondrat'eva dan E. A. Reznikov dari Kazan State University berhasil mengidentifikasi kapan semburan besar komet tersebut yang dianggap sebagai penyebab terjadinya badai meteor Leonid yang berlangsung beberapa kali sebelumnya. Tahun 1995, Peter Jenniskens meramalkan bahwa fenomena outburst pada hujan meteor Alpha Monocerotid berasal dari jejak komet yang sama. Sebagai antisipasi tahun 1999 untuk Leonids, Robert H. McNaught, David Asher, dan astronom Finlandia Esko Lyytinen mencoba mengaplikasi semua perumusan di atas untuk memprediksi sekiranya kejadian seperti apa yang akan terjadi nanti.

 

Kembalinya Badai Meteor

Curah tinggi jatuhnya meteor mulai berlangsung lagi setelah era kembali teramatinya komet tahun 1965, yaitu pada kejadian tahun 1994 (lihat gambar 3). Astronom Peter Jenniskens mencoba meneliti kejadian tanggal 18 November di mana 2 bulan sebelumnya diketahui bahwa Perseids pun di bulan Agustus memiliki intensitas yang sangat tinggi. Uniknya, keduanya memiliki karakter mirip, banyak ditemukan bolide meteor. Tahun 1995 dan 1996 juga dilaporkan bahwa intensitas ini semakin tinggi dan setahun kemudian, tanggal 10 Maret 1997, para astronom kembali melihat komet 55P/Tempel-Tuttle yang merupakan sumber Leonids sedemikian dapat dihitung bahwa komet ini akan berada pada titik terdekatnya dengan Matahari (perihelion) pada tanggal 28 Februari 1998. Artinya, puncak penampilan Leonids kala itu diduga akan berlangsung tahun 1998 atau 1999.

Giliran David Asher dan Mark Bailey dari Armagh Observatory, dan Vacheslav Emel'yanenko dari Ural Universitas South, Chelyabinsk, Rusia mencoba meneliti fenomena Leonids yang puncaknya tanggal 17 November 1998. Fenomenanya spektakuler karena banyaknya bolide meteor (tipe fireball storm). Beberapa kadang meledak di atmosfer dan terkadang disertai desis. Penulis pun bersama Himpunan Astronomi Amatir Jakarta turut mengamatinya dan setuju dengan yang mereka utarakan.

Karena dinamika orbitnya mirip dengan komet Halley, maka Temple-Tuttle dikelompokkan sebagai komet jenis Halley (periode pendek). Hanya saja inklinasi orbitnya yang besar, maka partikel komet ini (meteoroidnya) saat berjumpa dengan Bumi ibarat beradu kepala sedemikian kecepatannya dapat 71 km/detik. Pada kecepatan seperti itu, maka satu partikel ukuran 1 cm akan memiliki energi kinetik sama dengan truk “ngebut” di jalan tol. Keunikan tahun 1998 adalah puncaknya terjadi 16 jam sebelum waktu yang diperkirakan. Ada analisis menyatakan bahwa Bumi masuk daerah padat materi yang relatif berukuran besar, namun dengan wilayah sempit. Kemungkinan besar bahwa partikel tersebut menempati orbit yang agak berbeda dengan jalur materi utama (meteoroid stream) yang ukurannya relatif lebih kecil. Adanya 2 aliran materi ini diduga telah terbentuk ratusan tahun yang lalu. Pertanyaan yang belum terjawab adalah bagaimana mungkin aliran ini dapat stabil mempertahankan koherensinya dan kerapatan spasial yang tinggi begitu lama (minimal sejak diteliti telah ratusan tahun)? Hal ini masih dalam tahap penelitian.

 

Cara Mengamati

Seperti yang pernah ditulis pada artikel Fenomena Langit 2016 (September – Desember), yaitu bagaimana cara menikmati hujan meteor seperti di atas? Tentu paling nyaman adalah fenomenanya kita harapkan terjadi pada saat kita sedang masa liburan atau minimal malam Minggu. Selain itu berharap fase Bulan tidak besar (salah satu penyebab polusi cahaya dalam observasi meteor); atau bahkan saat pengamatan berharap bertepatan dengan fase Bulan Mati atau Bulan Baru. Namun, sayangnya fenomena astronomi dapat terjadi kapan saja. Bagi yang sekolah atau bekerja, menikmati fenomena seperti ini semalaman di mana esok paginya tidak libur tentu terpikir akan terkantuk-kantuk esok paginya. Setelah melalui pertimbangan ini, maka kita lanjutnya langkah berikutnya, yaitu:

  1. Cari lokasi observasi atau pengamatan yang asri (bebas polusi udara dan polusi cahaya, tentunya mencari informasi cuaca terkait target lokasi), aman (minimal seizin yang punya tempat dan urusan ronda atau rekan penjaga malam), dan nyaman (minimal basecamp untuk urusan menyimpan peralatan dan perbekalan, urusan logistik, kamar mandi, dan ibadah);
  2. Setelah urusan lokasi usai, barulah siapkan tempat yang nyaman untuk kerja observasi;
  3. Tetaplah duduk atau tiduran dengan posisi yang Anda sukai di lokasi;
  4. Jangan lupa memakai baju hangat atau jaket karena kita mengamat di udara terbuka sambil bergadang semalaman (kalau bawa bantal tentu urusan tidur malah menjadi prioritas, hilangkanlah godaan seperti ini);
  5. Menyiapkan cemilan dan minuman hangat tidak ada salahnya (yang jelas kalau banyak mengonsumsi, rasa kantuk pun dapat terjadi secara linier; makin penuh lambung, makin cepat mengantuk .. biasanya);
  6. Jangan lupa mencari informasi, sekiranya benda langit apa saja yang dapat disimak kala itu selain hujan meteornya itu sendiri, khususnya terkait peta langit (dapat mengunduh free-software astronomi yang bersifat mobile);
  7. Jangan lupa pula, .. doa.

 

Langkah berikutnya adalah:

  1. Adaptasi mata dengan pekatnya malam. Hanya melihat nyala handphone sekali dan sedetik dua detik saja sudah menghilangkan kesempatan melihat meteor 2 hingga 3 menit berikutnya, itupun bagi yang sudah terbiasa atau berpengalaman mengamat langit. Sebaiknya pakai fasilitas night mode. Adapun senter (flashlight) darurat, utamakan dengan filter warna merah;
  2. Apabila itu semua sudah, mulailah melihat sekitar dua-pertiga langit di hadapan kita dihitung dari ufuk (cakrawala, horizon, atau kaki langit) ke arah puncak (zenith). Kalau terlatih, kita masih dapat melihat secara menyapu pandang kiri kanan secara runut. Bila belum terbiasa, lihatlah satu lokasi langit tersebut secara tetap (layaknya untuk pengambilan foto, yang berminat menjadi astrofotografer dapat mencobanya).
  3. Setelah itu, biarkan mata mengembara sehingga penglihatan periferal kita yang melihatnya, seperti mata orang sedang menerawang atau melamun. Tidak difokuskan seperti kita melihat sesuatu laksana memasukkan benang ke lubang jarum (dengan melihat terlalu fokus seperti ini biasanya gagal untuk melihat meteor yang lemah cahayanya di medan penglihatan yang luas). Selebihnya, silakan hitung berapa meteor yang sanggup Anda lihat.
  4. Apabila, suatu ketika pada jadwal dan segala persiapan apapun baik tenaga dan dana yang sudah Anda rancang dengan sangat baik – nyatanya cuaca berubah dan tidak mendukung, inilah uji kesabaran. Sederhana saja, kalau kaum muda berkomentar, “belum rejekinya,” atau anggap saja Anda belum diberi karunia untuk menikmati hamparan langit-Nya dalam fenomena seperti ini.

 

Silakan menikmati dan menyibak cadar langit malam. Semoga kita dapat semakin arif menyikapi berbagai isu sains, khususnya mengenai fenomena Astronomi. Hal ini karena justru ujungnya pada suatu ranah tertentu adalah ”feel amazement” – rasa syukur dengan segala kerendahan hati karena mendapat kesempatan untuk merasakan dan menikmati fenomena itu sebagai salah satu karunia-Nya. Salam Astronomi. –WS–

 

Daftar Pustaka

Ahn, Sang-Hyeon, 2003, Meteors and Showers a Millennium Ago, Mon. Not. R. Astron. Soc. (MNRAS) 343: 1095–1100,

Arlt, Rainer; Rendtel, Jürgen, 2006, A New Working List of Meteor Showers, WGN, Journal of the International Meteor Organization, vol. 34, no. 3, p.77-84

Brown, P. G.; Jones, J.; Rendtel, J., 1999, Evolution of Two Periodic Meteoroid Streams: the Perseids and Leonids (PhD Thesis, The University of Western Ontario – Canada, chap.1 dan 2)

Darling, D., 2004, The Universal Book of Astronomy, John Wiley & Son, New Jersey, p.236, 333-6, 498

Dick, S. J., 1998, Observation and Interpretation of the Leonid Meteors Over the Last Millennium, Journal of Astronomical History and Heritage, Vol. 1, No. 1, p.1-20

Guliyev, A. S.; Kokhirova, G. I.; Poladova, U. D., 2014, Comet Outbursts and the Meteor Showers, dalam The Meteoroids 2013, Proceedings of the Astronomical Conference held at A.M. University, Poznań, Poland, Aug. 26-30, 2013, Eds.: T.J. Jopek, F.J.M. Rietmeijer, J. Watanabe, I.P. Williams, A.M., University Press, p.263-265

Hughes, D. W., 1995, The Perseid Meteor Shower, Earth, Moon and Planets 68: 31-70, Kluwer Academic Pub., Netherland

Notkin, G., 2014, Meteorite types and classification, (Meteorwritings. Geology.com. Retrieved 2014-03-02.)

Rubin, A. E. et al, 2010, Meteorite and Meteoroid: New Comprehensive Definitions, Meteoritics & Planetary Science 45 (1), p.114–122.

Sawitar, W., 2015, Astronomi dalam Cerita Rakyat Nusantara, Makalah pada Seminar Astronomi dalam Budaya Nusantara (SINDARA) di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (30/05/2015)

Whipple, F. L., 1951, A Comet Model – Physical Relation for Comets and Meteors, ApJ 113, p.464-474

Yang, Hong-Jin; Park, Changbom; Park, Myeong-Gu, 2005, Analysis of Historical Meteor and Meteor Shower Records: Korea, China, and Japan, Icarus, Volume 175, Issue 1, (Abstract)

 

Situs:
Asteroid Impactor Reported over Indonesia
Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA)
Blast from the Past - Armagh Observatory
Earth Impact Database
Encyclopaedia Britannica
IMO Meteor Shower Calendar 2017
leonid.arc.nasa.gov/history
Meteor Data Center - Tabel Hujan Meteor
Meteorite types and classification
Merriam-Webster Dictionary
Monthly Notices of the Royal Astronomical Society (MNRAS)
SAO/NASA Astrophysics Data System (ADS)
Smithsonian Institution
Tabel Seluruh Hujan Meteor
universetoday.com
Wikipedia the free encyclopedia (Meteoroid dan List of Impact Craters on Earth)