Written by Widya Sawitar

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Ref.: George A. Davis Jr. (p.23)

 

Kembali membahas sejarah pemetaaan langit, maka setelah perkembangan budaya Mesopotamia, Sumeria, dan Babylonia, maka yang patut dicatat adalah pada era astronom dan ahli Matematika (juga kedokteran) Yunani yang bernama Eudoxus (390/408 – 337/340/355 SM, dari Cnidus – Laut Hitam), murid dari Archytas dan Plato (428/427 atau 424/423 – 348/347 SM) sang pendiri akademi ilmu pengetahuan di Athena (Gurunya adalah Socrates dan murid terkenalnya Aristotle). Pada era-nya bahwa Astronomi adalah cabang dari Matematika. Jadi dimaklumi apabila kala itu dalam sejarah budaya Yunani ditemui bahwa seorang astronom adalah juga seorang matematikawan (dan umumnya juga sebagai filsuf).

Eudoxus sempat belajar tentang Matematika dan perbintangan dari imam di Heliopolis – Mesir (381 – 380 SM), selanjutnya dibawanya ke Yunani dan disebarluaskan dengan melakukan penyempurnaan. Terdapat 2 karya prosa yang dikenal luas yang terkait mitologi dan pemetaan langit, yaitu Enoptron (Cermin) dan Phaenomena (Penampakan). Kedua karya ini akhirnya hilang. Namun, ternyata sempat dijumpai karya tersebut nyaris seabad kemudian dengan versi baru dalam bentuk puisi berisi 732 bait dengan judul yang sama pada tahun 275 SM, yaitu Phaenomena yang digubah oleh Aratus (315/310 – 245/240 SM) dari Soli – Cilicia (ada yang menyatakan dari Tarsus), Yunani Selatan (kini di wilayah Turki). Karyanya ini muncul sebenarnya atas dasar permintaan dari raja Antigonus dari Macedonia tempatnya mengabdi setelah menuntaskan belajarnya di Athena.

 

Aratus dan Rasi Bintang

Karya Aratus yang disebut di atas itulah yang akhirnya tersebar luas dan menjadi cikal bakal pengetahuan pemetaan langit dalam ujud rasi bintang yang kini dianggap sebagai tinggalan budaya Yunani kuno yang sangat bernilai dan dijadikan patokan dalam kisah mitologi budaya Yunani hingga masa kini.

Hipparchus (146/190 – 127/125 SM) pada era seabad kemudian mencoba menganalisisnya dan menegaskan bahwa karya Eudoxus memang menjadi gagasan dasar dari karya Aratus walau tidak dapat dikatakan sebagai peniru, terutama karya Phaenomena-nya. Dalam kasus karya Eudoxus / Aratus, memang dapat dipertanyakan, mengapa peta langit yang dibuat Eudoxus tidak dikoreksi? Sementara itu, Bintang Utara (the North Star: lihat artikel bagian pertama) atau Kutub Langit Utara sesungguhnya relatif mudah diamati lokasinya dari tempat mereka berada. Bahkan, bagi kita yang awam sekalipun sebenarnya hal ini relatif mudah diketahui selama kita berada di agak jauh ke belahan utara. Mengapa Eudoxus tidak mengamati keanehan peta langitnya? Bagi Hipparrchus, data keduanya tidaklah akurat. Tentu hal ini dapat dimaklumi apabila muncul dugaan bahwa keduanya bukanlah astronom observasi. Selain itu, Aratus memang bukanlah ahli Matematika. Patokan keduanya rupanya akhirnya diketahui hanya berlandas catatan dari para pendahulunya hingga memakai karya yang muncul milennium sebelumnya (Ian Ridpath).

Apabila ditilik selanjutnya bahwa pemetaan langit yang kemudian dikenal dari budaya Yunani dan Mesir tidak berawal dari karya Aratus (Eudoxus) karena tidak sesuai dengan kenyataan yang ada di langit kala itu. Selain itu, yang jelas pada karya Aratus sama sekali tidak terdapat rasi bintang yang berada di belahan selatan. Apabila ditelusur era pencatatan rasi bintang oleh Eudoxus / Aratus, kemungkinan sang pembuat awal sebagai sumber penulisan dari keduanya berlokasi di sekitar 350 LU (Yunani bagian selatan, atau di utara Mesir). Daerah langit yang tidak terpetakan (langit selatan) tidaklah berpusat pada Kutub Langit pada era Aratus. Jadi faktor adanya pergeseran akibat presisi tidak dimasukkan, dan kisaran pergeseran posisi bintang-bintang ternyata sekitar 1000 tahun lebih ke masa sebelumnya, atau bahkan hingga tahun 2000 SM (penelitian akhir menunjukkan kisaran tahun 1130 SM; Duke, p.11-12). Hal ini berdasar perhitungan dan observasi berlandas observasi langit yang dilakukan Hipparchus. Inipun agak mengherankan bahwa kala waktu terbit dan terbenam telah disinggung oleh Aratus. Jadi disimpulkan bahwa karya Aratus sebenarnya bukan berlandas observasinya sendiri (juga Eudoxus). Penelitian ini masih berlangsung hingga kini, khususnya pada koreksi data posisi atau tata koordinat bintang. Apabila terdapat pula koreksi bahwa pemetaan ini berdasarkan posisi bintang kisaran tahun 400 SM, maka kemungkinan paling besar bahwa hasil ini benar berdasar observasi dari Eudoxus, bukan Aratus (Duke, p.16-17).

 

Gambar 1

Akibat presesi Bumi, maka patokan perhitungan senantiasa bergeser (pergeseran vernal equinox tiap 1000 tahun tampak pada garis putus-putus merah). Credit: Dbachmann

 

Bila diambil tahun 2000 SM, maka terlalu jauh sebelum era kejayaan peta langit Yunani, namun terlalu jauh setelah era kegemilangan pemetaan bangsa Mesir kuno. Budaya pemetaan langit era Eudoxus atau Aratus diduga dari warisan bangsa Babylonia dan Sumeria (yang bermula secara global dari Mesopotamia).

Dari penelitian lainnya, bahwa peta langit itu bersumber dari masyarakat Minoan yang tinggal di Crete dan kepulauan lain di lepas pantai Yunani, termasuk Pulau Thera (Santorini). Kemapanan kerajaan Minoan berkembang pada rentang 3000 – 2000 SM; dan sekitar tahun 1700 SM terjadi bencana letusan gunung berapi di Pulau Thera yang memusnahkan sebagian besar wilayah tersebut dan diduga pengetahuan perbintangannya turut dibawa saat sebagian masyarakatnya mengungsi ke Mesir.

Terlepas dari analisis di atas, maka pada karya Aratus, diberikan gambaran tentang rasi bintang termasuk data waktu terbit dan terbenamnya, serta terkait pula dengan pembagian Zodiak dan bentang awan Bima Sakti. Pemetaan langit pada rasi bintangnya lebih mengacu pada daerah langit di sebelah utara lingkaran ekliptika atau di utara sabuk Zodiak, yaitu daerah dekat Kutub Langit Utara (Contoh: Ursa Major, Ursa Minor, Draco, dan Cepheus). Sementara itu, Orion berfungsi sebagai patokan batas selatan langit. Hadirnya Bintang Utara dikisahkan dengan adanya bintang sirkumpolar (bintang-bintang yang tidak pernah terbenam) di seputar Bintang Utara. Pergerakan Matahari dan planet di Zodiak juga termasuk dari penjabarannya. Namun, data periode penampakan tidak disebut. Uniknya, persoalan orbit Bulan sedikit sekali dibahas.

Di antara bintang gemintang terdapat lima “bintang” lainnya, dan sangat berbeda dengan bintang umumnya karena mereka mengembara di 12 rasi bintang Zodiak. Dengan memandang lautan bintang, kita dapat menandai lokasi lima bintang tersebut waktu demi waktu. Mereka memiliki periodenya masing-masing serta kala waktu konjungsinya (maksudnya adalah dengan rasi bintang Zodiak tempat singgahnya). Dari dinamikanya, sukar untuk menjadi yakin bahwa kita dapat menentukan jejak lingkaran langit dan rasi bintang yang ada (bagi penulis kemungkinan karena adanya 5 planet yang memiliki pergerakan yang berbeda dengan bintang, jadi keseragaman putaran langit menjadi sukar dijadikan patokan)(Hunter).

Dalam Phaenomena, Aratus mengidentifikasi 48 rasi bintang dan tidak semuanya sama dengan rasi bintang yang dikemukakan pada era sekitar 4 abad kemudian oleh Ptolemy, walau jumlah rasi bintangnya sama, yaitu 48 buah. Aratus membuat batasan rasi bintang Air yang kini menjadi bagian dari Aquarius; juga rasi bintang Pleiades (di Indonesia Lintang Kartika) yang kini bagian dari Taurus. Sementara itu, rasi bintang yang dikenal kini sebagai Corona Australis hanya disebut sebagai bintang dengan formasi cincin di bawah kaki Sagittarius dan tidak disebut sebagai rasi bintang tersendiri. Aratus juga tidak menyebutkan adanya rasi bintang Equuleus (kuda kecil) yang baru muncul pertama kali pada karya Ptolemy (Wikipedia).

Masyarakat berkisah tentang tujuh bintang Pleiades (tujuh putri bersaudara),
meskipun hanya enam yang terlihat oleh mata.

Tidak ada bintang (putri) yang hilang dari langit Zeus tanpa jejak pada rentang waktu yang kita tahu, namun kisah ini sudah terungkap.

Tujuh bintang (putri) itu adalah Alcyone, Merope, Celaeno, Electra, Sterope, Taygete dan Maia (Hunter).

Ada pula nama bintang terang yang disebut seperti Arcturus (paling terang berwarna merah di rasi bintang Bootes Sang Penggembala), Aix (kini Capella, paling terang di rasi bintang Auriga Sang Penunggang Kereta Kuda Perang), Sirius (paling terang di rasi bintang Canis Major Si Anjing Besar), Procyon (sekaligus menjadi nama rasi bintangnya; artinya before the dog karena terbit mendahului Sirius; kini merupakan bintang paling terang di rasi Canis Minor Si Anjing Kecil), Stachys (Spica, paling terang di rasi bintang Virgo), dan Vindemiatrix (Protrygeter). Bintang yang terakhir disebut sebenarnya menjadi sangat unik padahal redup dan tidak mencolok mata. Kemudian akhirnya diketahui bahwa rupanya masyarakat Yunani kala itu menggunakannya sebagai patokan kalender musim; terbitnya saat fajar pada bulan Agustus menandai dimulainya panen anggur. Lagi-lagi bahwa budaya menggunakan perbintang sebagai pedoman musim telah mendarah-daging pada masyarakat tempo dulu.

Selain itu, cara pembuatan peta langit era Aratus bagaimanapun dijadikan standard pada masa kemudian, terlepas dari ketidakakuratannya. Setelah era Aratus, pekerjaan pemetaan langit ini dilakukan oleh Eratosthenes (276 – 194/6 SM) dari Cyrene – Yunani dalam karya Catasterisms yang memuat mitologi 42 rasi bintang (Pleiades masih dianggap sebagai rasi bintang tersendiri; era sekarang menjadi satu dengan Taurus) dengan tambahan identifikasi bintang utamanya (bintang terangnya). Walau demikian, ada sebagiannya yang dianggap berasal dari penulis yang jauh sebelumnya telah disebutkan, yaitu Hesiod (700 SM).

Penyempurnaan karya Aratus dilakukan oleh Germanicus Caesar (15 SM – 19), khususnya dalam identifikasi perbintangannya (Ian Ridpath). Selanjutnya dilakukan dengan bantuan pamannya, Tiberius Caesar. Juga dapat ditemukan pengembangannya pada karya Apollonius Rhodius yang tidak terpaut jauh rentangnya dengan masa Aratus. Dikenal juga sebagai Apollonius of Rhodes (Alexandria/Naucratis – Yunani) pengarang Argonautica (Argonauts) yang merupakan epik dalam bentuk puisi yang mengisahkan perjalanan Jason dan the Argonauts (pahlawan samudra dalam mitologi yang berkembang sejak tahun 1300 SM; adapun argo diartikan sebagai kapal dan Argonaut adalah pelaut) dalam mencari domba emas (Wikipedia). Era kemudian ditemukan dalam karya puisi Ovid (Romawi, 43 SM – 17) dalam karyanya Metamorphoses dan Fasti (sistem kalender). Lalu Apollodorus (Yunani, abad 1 SM atau abad 1 masehi, penulis belum mendapat datanya) dengan karya ensiklopedianya, Library.

 

Rasi Bintang pada Budaya di Arab

Setelah era Ptolemy, astronomi Yunani seolah mengalami kemunduran karena tidak ada lagi karya monumental yang lahir. Tiba saatnya terjadi penaklukan wilayah Alexandria – Mesir oleh bangsa Arab tahun 641 (Darling, p.33). Pada abad kedelapan, pusat Astronomi berpindah ke wilayah timur; dari Alexandria ke wilayah Baghdad di mana pekerjaan Ptolemy (the Syntax) diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan dikenal dengan sebutan Almagest (the Greatest) yang hingga kini populer dengan nama tersebut. Al-Sufi (AD 903-86), salah satu astronom Arab terbesar (dikenal dengan nama Latin sebagai Azophi atau Azophi Arabus) mengadaptasi karya Ptolemy pada tahun 964 dengan versinya yang dikenal sebagai Buku Bintang Bintang (Suwaru'l Kawakib atau Kitāb al-Kawākib al-Thābita atau Book of the Fixed Stars atau Uranometry) di mana nama-nama bintang sudah ditulis dengan nama Arab (Ian Ridpath dan IAC). Tertera didalamnya peta lengkap dan kompleks dari gambaran 48 rasi bintang termasuk deskripsi tiap bintangnya. Bahkan catatan tentang posisi galaksi Andromeda (sebagai nebula; the small cloud) terdapat didalamnya (Darling, p.19). Juga pertama memetakan Awan Magellan Besar (satelit dari galaksi Bima Sakti) dan baru pada abad 16 dilihat oleh Magellan. Kitab ini sebenarnya sebagai persembahan untuk Azudu'd-Dawla (949-982), pemimpin Buwayhid yang berhasil mengembangkan keastronomian di wilayah Baghdad dan sekitarnya serta membangun observatorium di Shiraz.

Al-Sufi atau nama lengkapnya Abu'l Husain 'Abdu'r-Rahman as-Sufi dilahirkan di Rayy, Tenggara Teheran – Persia tanggal 14 Muharram 291 H (8 November 903) dan wafat tanggal 13 Muharram 376 H / 25 Mei 986 (IAC). Karya Al-Sufi merupakan salah satu karya besar dunia Arab hingga abad pertengahan yang dirujuk oleh para astronom bahkan hingga kini (karya lainnya adalah "Treatise on Astrolabe" yang membahas tentang teknik observasi). Karya penulis besar selain buah tangan Al-Sufi adalah katalog bintang-bintang karya Ibn Yunus (abad 11) dan Ulugh Beg dari Samarkand (1400 - 1449) yang menjadi gubernur Turkestan dan akhirnya menjadi raja kekaisaran Mongol tahun 1447. Ulugh Beg sempat membuat observatorium pada tahun 1420 dan menjadi pusat keastronomian khususnya dalam peradaban budaya masyarakat Muslim. Kala itu dan masa setelahnya, tabel perbintangannya dijadikan acuan penelitian astronom manca Negara. Ilmuwan lainnya dapat dilihat pada List of Muslim Scientists.

Suku Badui yang diketahui dalam catatannya, memiliki nama sendiri yang justru dipakai hingga kini. Contohnya adalah Aldebaran. Selain itu, mereka juga memiliki kisah seputar bintang yang sangat berbeda bentuknya dari mitologi Yunani, dan cenderung banyak yang berupa bintang tunggal untuk merepresentasikan gambaran hewan atau orang dalam kisahnya. Sebagai contoh, bintang Alpha dan Beta Ophiuchi dianggap oleh masyarakat Arab sebagai seorang gembala dan anjing gembalanya (rasi bintangnya Ophiuchus yang adalah seorang penyembuh di mana tokoh ini terkait tokoh mitologi Aesculapius, simbol dunia kesehatan universal, termasuk gambaran memegang ular layaknya pawang ular). Sementara itu, bintang di sekitarnya dikisahkan sebagai kawanan domba. Jadi bukan rasi bintangnya yang dijadikan latar belakang ceritanya. Selain itu, bila menelusur makhluk dalam mitologi bintang atau rasi bintangnya tentu dimaklumi bahwa dalam penamaannya terkait dengan makhluk di lingkungannya, seperti nama hewan unta, rusa, burung unta, dan keluarga hyena.

Dalam hal inipun, ternyata Al-Sufi dan penerusnya pun sempat kehilangan jejak dalam nama-nama Arab kuno (mungkin mirip juga dengan kasus di budaya Nusantara). Inilah yang membuat Al-Sufi mengadaptasi nama-nama bintang dalam karya Ptolemy. Sebagai contoh, bahwa bintang yang kini disebut Fomalhaut (bintang paling terang di rasi bintang Piscis Austrinus, yaitu Alpha Piscis Austrini) dideskripsikan dalam mitos oleh Ptolemy sebagai mulut dari ikan selatan (selatan karena posisinya di belahan selatan, identifikasi ini dapat ditinjau dari kata Austrinus), maka Al-Sufi terjemahkan atau mengadaptasinya sebagai Fomalhaut (berawal dari fum al hut atau mulut ikan).

Sejak abad 10, usaha penerjemahan karya Ptolemy oleh dunia Arab ini disebarluaskan ke Eropa bersamaan dengan penaklukan Eropa oleh Arab, lalu diterjemahkan ke bahasa Latin. Kota Toledo di Spanyol menjadi pusat risetnya sampai abad 12 (termasuk ragam ilmu lainnya). Pada akhirnya juga berpengaruh pada nama bintang maupun rasi bintang yang walaupun berbahasa Latin, namun kental dengan budaya nama gabungan antara nama Yunani dan Arab.

Sebenarnya dari ranah Arab perkembangan Astronomi secara umum juga mencapai masa kegemilangannya sedemikian hasil yang mereka capai digunakan sebagai standard khususnya di Eropa sejak abad pertengahan. Karya mereka sangat patut untuk diperhitungkan. Sebut seperti hadirnya Muhammad ibn Musa al-Khwārazmī (al-Khwārizmī, abad 9, dari Khwārizm/Khiva) yang membuat tabel Astronomi (Zij) dan memperkenalkan ilmu Matematika yang disebut Algorismus/Aritmetika dan al-jebr w’muquabala atau al jabru (perbaikan dan kesetimbangan) yang kini dikenal sebagai algebra atau aljabar. Salah satu tabel yang dibuat al-Khwarazmi dilanjutkan oleh Maslamah al-Majriti (Cordoba) lalu diterjemahkan Adelard (Bath) ke bahasa Latin dan juga disebarkan di dunia Arab oleh Ibn al-Muthanna yang akhirnya menjadi pedoman hingga kini.

Juga cendekiawan al-Farghānī (Alfraganus, 800 – 870, dari Farghānā / Transoxania – Baghdad) yang menulis Kitab fi’l-harakat al-samawiyyah wa jawami’ ‘ilm al-nujum (Prinsip Astronomi) pada tahun 861. Karya al-Farghani lalu disadur Gerard of Cremona (meninggal tahun 1187) dengan judul Astronomical Compilation (Compilation Astronomica atau Liber 30 Differentiarum) dan Johannes Hispalensis (Ferrara, 1493) dengan judul Compedium. Hasil di atas khususnya tentang perhitungan trigonometri, lalu disebarluaskan oleh Johann(es) Muller (atau nama lainnya Regiomontanus, 1436 – 1476) dari Konigsberg, Georges Joachim atau Rheticus (1514 – 1576, sempat 2 tahun belajar pada Copernicus sang pencetus konsep heliosentris). Adapun Mela(n)chton (Nuremberg, 1537) mengkhususkan penelitiannya pada bagian Elements of Astronomy. Sedangkan John Napier pada abad 17 hanya mengambil topik bab ellipsoidal.

 

Peta Langit Modern

Memang pada awal sejarahnya bahwa rasi bintang atau konstelasi dibuat secara informal berbasis budaya lokal yang terjadi di seluruh dunia. Namun, perkembangan pesat dalam keastronomian pada akhirnya membuat para astronom di seluruh dunia bersepakat untuk membakukannya. Terlebih penemuan objek baru yang semakin banyak sedemikian membutuhkan suatu kesepakatan yang diterima oleh para astronom di mana pun mereka berada.

Hal di atas juga terkait bagaimana konsep tata koordinat menjadi sangat penting. Secara sederhana, semisal kita menemukan suatu objek langit di kubah langit yang tepat di atas kepala kita (zenith). Kita tidak mungkin bercerita kepada rekan kita di Kanada bahwa objek itu di atas kepalanya. Hal ini karena bagi mereka yang di Kanada, benda tersebut justru di bawah kaki (nadir). Contoh lain kalau kita sebut bendanya berada di sebelah kiri kita, maka kalau rekan kita berdiri berhadapan tentu objek tadi berada di sebelah kanannya. Jadi butuh suatu pedoman identitas koordinat atau minimal lokasi yang seragam, yang diterima oleh siapapun dan di mana saja dia berada di muka Bumi tanpa mengalami salah arah dalam menera objeknya. Jadi apabila kita sebut bendanya di suatu titik, maka para peneliti di mana pun berada pasti akan menemukan titik lokasi bendanya. Termasuk dalam hal rasi bintang, membutuhkan batas pemisah antara satu dengan lainnya secara seragam. Ibarat membutuhkan garis batas antara wilayah mana yang Jakarta Utara dan wilayah mana yang Jakarta Pusat.

 

Tabel 1

Daftar 88 rasi bintang yang dibakukan dengan singkatan 3 huruf. Catatan: Argo masih dimasukkan dan yang tertulis Corono Borealis seharusnya Corona Borealis. Ref: Ian Ridpath - IAU List

IAU mengadopsi singkatan tiga huruf dari nama-nama rasi bintang di pertemuan astronom sedunia dalam Majelis Umum (General Assembly) perdananya di Roma pada bulan Mei 1922 (IAU berdiri tahun 1919, anggotanya lebih dari 8000 astronom). Rasi bintang modern ini kalau disimak merupakan campuran rasi bintang yang digambarkan dalam budaya Yunani yang ditulis oleh Ptolemy maupun rasi bintang modern seperti yang telah dibahas sebelumnya (artikel bagian pertama). Hasil ini diterbitkan dalam the Transactions of the IAU, vol. 1, p.158. Sementara itu, The IAU Commission on Notations uniknya menyebut sebagai “88 rasi bintang utama” meskipun sebenarnya ada 89 nama dalam paparan tabel rasi bintangnya. Hal ini sebenarnya karena masih tetap dimasukkannya rasi bintang Argo (Navis) yang sebenarnya sudah dibagi menjadi rasi bintang Carina, Puppis, dan Vela.

Dalam penyingkatan disepakati untuk memakai 3 huruf, semisal Andromeda disingkat And, Draco disingkat Dra, dst. Dalam tahap ini, IAU juga membuat batas tegas antara wilayah rasi bintang yang satu dengan yang lainnya.

Pada kasus singkatan ini, pada awalnya sempat berjalan agak tersendat. Profesor Hertzsprung (sebutan ini diberikan oleh Henry Norris Russell, dari Amerika Serikat, 1877 – 1957) tidak lain adalah astronom Denmark, yaitu Ejnar Hertzsprung (1873 – 1967) yang sebenarnya pertama kali menggagas nama rasi bintang tersebut dengan singkatan dua huruf pada tahun 1922, di mana hal singkatan ini sama dengan yang diberlakukan untuk unsur kimia. Dalam pertemuan IAU di Roma tahun 1922 itulah diumumkan kesepakatan ini. Uniknya tidak dengan singkatan dua huruf, melainkan dengan tiga huruf. Walau demikian, tetap diumumkan bahwa hal ini merupakan gagasan dari Hertzsprung dan Russell. Russel pun berkomentar bahwa kesepakatan tersebut walau dengan 3 huruf tetap memberi penekanan bahwa itu adalah hasil dari Profesor Hertzsprung. Akhirnya, pekerjaan ini lebih disebut sebagai gagasan Hertzsprung-Russell, layaknya diagram evolusi bintang dari keduanya yang sangat terkenal dalam dunia Astronomi. Untuk singkatan dua huruf dapat dilihat pada Daftar Singkatan Nama Konstelasi Dua Huruf. Selain itu, Russel sendiri tidak menjelaskan tentang mengapa rasi bintang Argo tetap dicantumkan. Bagaimanapun, nama-nama yang tertera dalam daftar adalah nama-nama yang sama pada katalog bintang bernama the Revised Harvard Photometry yang diterbitkan oleh Harvard College Observatory pada tahun 1908 (Annals of the Harvard College Observatory, vol. 50). Jadi, Hertzsprung dan Russel pada dasarnya mengadopsi katalog yang sama. Juga sebagai acuan bahwa untuk rasi bintang di bagian utara diambil dari atlas dan katalog karya astronom Jerman F. W. A. Argelander (Uranometria Nova, 1843) dan Eduard Heis (Atlas Coelestis, 1872), dan bagian selatan dari karya B. A. Gould (Uranometria Argentina, charts 1877, catalogue 1879), astronom Amerika Serikat yang sekaligus saat itu menjabat sebagai direktur Observatorium Nasional Argentina yang berkedudukan di Córdoba. Eugène Delporte yang pertama menerbitkan data pemetaan 88 rasi bintang “modern” yang merupakan hasil kesepakatan dalam pertemuan di IAU Commission 3 (Astronomical Notations), dalam karyanya Délimitation Scientifique des Constellations (1930).

 

Asterism

Dalam hal peta langit yang terkait rasi bintang yang telah dibakukan, ada istilah yang disebut asterism, yaitu yang pada dasarnya adalah penyebutan kelompok bintang, yang biasanya populer di masyarakat (berbasis budaya lokal) termasuk di kalangan astronom amatir. Namun, tidak menunjuk langsung ke satu rasi bintang tertentu atau dengan kata lain tidak sama dengan rasi bintang yang telah dibakukan.

 

Gambar 2 Ursa Major dan Gayung Besar (the Plough)

Pada bagian dalam elips (dengan garis putus biru) adalah kelompok Gayung Besar atau Bintang Biduk (tampak bentuk gayung terbalik dilihat dari samping – panduan bentuk lihat garis kuning).
Ursa Major (Beruang Besar) tampak pada gambar berupa beruang terbalik. Jadi Gayung Besar adalah bagian ekor beruang. Pemakaian petunjuk arah Utara lihat arah panah berwarna merah. Sebelah kiri gambar arah barat sebaliknya sebelah kanan adalah arah timur. Posisi ini diambil pada tanggal 29 April 2017, pukul 19:30 WIB bila dilihat dari Jakarta. Credit: WS, berbasis Program Stellarium – 0.12.4

 

Sebagai contoh asterism yang populer di dunia adalah the Plough (the Big Dipper, Bintang Biduk, Gayung Besar, Bintang Tujuh atau Lintang Pitu) yang merupakan bagian dari rasi bintang Ursa Major (Beruang Besar) yang umum digunakan sebagai petunjuk arah utara (lihat gambar 2). Yang unik bahwa hingga kini memang ada yang melihatnya sebagai alat bajak (luku dorong, Plough/Plow, jadi mirip imajinasi Orion untuk Indonesia). Hal ini sebenarnya juga terjadi pada era Romawi (Plough Oxen, Triones, Teriones). Bila sebagai penunjuk arah mata angin, dikenal nama Septemtrio atau Septentrio, bahkan penyair terkenal Shakespeare pun memakainya dalam karyanya sebagai pedoman arah. Di daerah Arab, sedikit berbeda. Daerah langit ini dikenal sebagai Banat Na’ash al Kubra – the Daughters of the Great Bier (Bier : usungan/tandu jenazah).

Untuk kelompok Bintang Biduk, diduga telah dipakai sejak zaman es (EuroAsia). Di India, ke 7 bintang terang di kelompok bintang ini dianggap sebagai pengejawantahan 7 manusia bijak (Riksha, dari Rishi, Seven Sages atau Seven Poets). Namun, pada awalnya juga muncul cerita terkait 7 beruang yang pada ranah lain disebutkan terkait dengan 7 antelope ataupun 7 banteng (Persia; Hapto-iringas ‘the Seven Bulls”). Hal ini ternyata juga mirip dengan yang pernah muncul dalam budaya kuno Yunani, The Seven Wise Men. Adapun istilah the Seven Stars, terkadang untuk Bintang Biduk kadang untuk Pleiades. Adapun hewan antelope, juga ditemukan di ranah lain, yaitu India. Sebuah penanda/segel dari Rehman Dheri (dugaannya adalah tahun 3000 SM), menggambarkan sepasang kalajengking (Scorpius) di satu sisi dan 2 antelope di sisi lainnya. Dari penelitian bahwa penanda ini sebagai oposisi antara nakshatra Orion dan nakshatra Scorpius (oposisi tampak dari posisinya: saat Antares terbit, Aldebaran terbenam).

Pada budaya India, Orion dikenal sebagai Mrgasirasa. Nama yang terkait lainnya adalah Margasirsa, Mrgasira. Merupakan nakshatra ke 5. Mrga= binatang (buas); sira = kepala/ubun-ubun atau kepala antelope. Kini adalah bagian kepala Taurus – Vrsabha Rasi. Sebagian lagi bahkan meliputi Mithuna Rasi (Gemini) – tentu hal ini benar apabila bintang rujukannya adalah bintang Aldebaran. Mrgasira adalah nama bintang, sementara Margasirsa adalah bulan yang terkait dengan Margasira padamana Bulan berkonjungsi (bersanding) dengan nakshatra Margasira.

Panah dekat kepala salah satu antelope dapat jadi sebagai simbol dari pemenggalan kepala Orion Sang Pemburu pada kisah selanjutnya. Seperti diketahui secara populer bahwa hidup Prajapati disudahi oleh panah Rudra (Shiva) – Sang Pemanah – Sang Pemburu sebagai simbol pergeseran awal tahun yang ternyata pada posisi di kubah langit sudah jauh dari Orion. Jadi, penanda waktu yang dimungkinkan adalah budaya ini telah ada sejak milenium ke 4 SM, bukan kisaran tahun 3000 SM.

Apakah dalam hal ini ada kesetaraan antara Prajapati dengan figur Orion yang merupakan Sang Pemburu dalam kisah Yunani/Romawi? Penulis masih mencoba membandingkan antara satu cerita dengan cerita yang lainnya. Hal ini karena daerah Margasirsa meliputi kepala Taurus. Dalam kasus di sini gambarannya bukan kepala banteng Taurus melainkan kepala antelope atau kepala kambing. Ini terkait dengan kutukan Dewa Rudra (Siwa) kepada Prajapati (Dhaksa), bahkan akhirnya Prajapati pun dihabisinya atau dipenggal kepalanya yang kebetulan ujudnya berupa kepala kambing. Adapun Rudra/Siwa terkait nakshatra Jyestha (khususnya bintang Antares).

Sementara itu, di Tiongkok gambaran dari Bintang Biduk layaknya cedok atau centong (identik bentuk gayung). Bagi masyarakat di Benua Amerika bagian tengah dan Karibia, formasi bintang ini dipergunakan sebagai pedoman musim (musim awal badai), juga untuk panduan berburu, memancing, dan berkumpul. Kekayaan imajinasi masyarakat dunia dalam melihat langit perbintangan juga tampak di sini.

Adapun apabila secara internasional disepakati sebagai Beruang Besar, maka masyarakat Syria menggambarkannya sebagai Babi Hutan, sementara di daerah Eropa utara (Masyarakat Sami atau Lapp atau Laplander, sekitar Arctic, yaitu bagian utara Skandinavia – Norwegia – Swedia – Finlandia – Semenanjung Kola Rusia) masyarakatnya menganggap sebagai gambaran rusa kutub (Sarw). Sama dengan masyarakat Khanty dan Ket (Ostyak) dan Selkup di daerah Siberia Rusia dengan sebutan rasi bintangnya adalah Los. Masyarakat Greenland menyebutnya Tukto, masyarakat Inggris membayangkannya sebagai kereta kuda Arthur’s Chariot/Wain, untuk masyarakat Irlandia menyebutnya King David’s Chariot, yang mirip dengan masyarakat Perancis The Great Chariot; juga penduduk Anglo-Norman, yaitu Charere. Agak sedikit berbeda adalah La Roune yang berarti roda dan umumnya disebut Car of Bootes. Banyak sekali kisah tentang Ursa Major dan Bintang Biduk. Hal ini tentu dimengerti karena bintang-bintangnya relatif terang. Masyarakat Jakarta pun dengan mudah melihatnya.

Adapun asterism lainnya semisal Summer Triangle (Segitiga Musim Panas), segitiga besar di kubah langit yang dibentuk oleh 3 bintang terang, yaitu Altair (di Aquila/Elang), Deneb (di Cygnus/Angsa), dan Vega (di Lyra/Harpa). Sementara itu, penanda lainnya adalah Winter Triangle (Segitiga Musim Dingin), yang terdiri dari Betelgeuse (di Orion), Sirius (di Canis Major/Anjing Besar), dan Procyon (di Canis Minor/Anjing Kecil). Untuk di Indonesia semisal Lintang Waluku yang wilayahnya meliputi rasi bintang Orion dan Eridanus. Suku Basuto di sebelah utara Afrika Selatan memakai Magakgala di mana Orion termasuk didalamnya, dan rasi bintang ini meliputi 4 bintang terang di 3 rasi bintang yaitu Sirius di Ursa MajorBetelgeuse di OrionProcyon di Canis Minor (yang membentuk Winter Triangle) ditambah bintang Rigel di Orion. Sementara itu, bagi mereka bahwa rasi bintang Crux (Bintang Layang-layang) bersama dengan Alpha and Beta Centauri di Centaurus membentuk sepasang rasi bintang tersendiri, yaitu jerapah jantan dan betina.

Adapun penggunaan peta langit modern juga dikenal istilah nama nominatif yang merupakan nama rasi bintangnya (misal Orion) dan istilah nama genitif yang terkait nama bintang di rasi bintang bersangkutan (misal: Betelgeuse, bintang paling terang di Orion, diberi nama Alpha Orionis; sebutan Orionis inilah yang disebut sebagai nama genitif).

 

Zodiak

Adanya gerak presesi Bumi, berarti akan ada pergeseran North Star (lihat artikel bagian pertama). Akibat lainnya adalah pergeseran lokasi Matahari. Sejak dulu pun senantiasa dilakukan penyesuaian, semisal tanggal 21 Maret Matahari ada di Taurus (titik Taurus sebagai Spring Equinox, kisaran 4.000 SM). Selang 2.000 tahun (1867 SM) pindah ke Aries. Pada saat Hipparchus, dikoreksi lagi semakin mendekati Pisces. Namun, pada generasi berikutnya, yaitu Ptolemy yang terkenal dengan teori geosentris ternyata tidak dilakukan koreksi (termasuk Eudoxus dan Aratus). Mulai era inilah Zodiak yang dikenal mempunyai 2 penerapan dengan patokan masing-masing. Pergerakan benda langit sesuai dengan apa yang ada dan sebagai kenyataan yang disuguhkan di kubah langit (aplikasi tata koordinat untuk ragam kebutuhan eksplorasi ruang angkasa ataupun secara khusus Astronomi) senantiasa dikoreksi. Misal saat ini (tahun 2017) digunakan epoch 2000 (patokan posisi tahun 2000), maka tahun 2057 akan menggunakan epoch 2050. Tradisi koreksi inipun sejatinya sejak dulu dilakukan seperti apa yang telah diutarakan dan dilakukan oleh Hipparchus bermillenia yang lalu. Inilah budaya dalam Astronomi. Sementara penerapan kedua, yang tidak lagi dikoreksi seperti yang dipakai dalam Astrologi, pengetahuan yang terkait nasib atau peruntungan.

Bidang terapan yang kedua di atas, yaitu Astrologi, acap muncul dalam kolom horoskop, dan yang cukup jelas bahwa digunakan untuk berkisah tentang nasib suatu bangsa atau secara perorangan. Namun demikian, era Ptolemy tetap dijadikan era lahirnya Astrologi modern. Kedua bidang ini sebenarnya pada awal sejarahnya sama dalam pedoman perbintangannya, penerapannya saja yang berbeda. Sejak Ptolemy-lah patokannya akhirnya juga berbeda.

Gambar 3

Penentuan Zodiak berdasarkan lintasan semu tahunan Matahari (lingkaran ekliptika, lingkaran merah). Apabila saat seseorang lahir dan posisi Matahari berada di rasi bintang Pisces, maka orang tersebut dikatakan berbintang atau memiliki Zodiak Pisces (arah panah kuning). Credit: Tauʻolunga

 

Masalah Zodiak sampai sekarang masih menjadi kontroversi. Hal ini karena kenyataan peredaran benda langit saat ini jelas sudah berbeda jauh dengan era awal masehi. Misal yang lahir tanggal 22 November. Peta langit sekitar 2.000-an tahun yang lalu menunjukkan Matahari ada di Sagittarius. Saat ini ada di Libra. Artinya pedoman Zodiak melompati daerah Scorpius. Selain itu, Matahari sebelum masuk Scorpius pun tidak langsung ke Libra, melainkan ke rasi bintang Ophiuchus. Rasi inipun menjadi kontroversi. Pemetaan langit modern pada akhirnya menunjukkan bahwa lingkaran Zodiak tempat pengembaraan Matahari, Bulan, dan planet tidak lagi berjumlah 12 melainkan 13 rasi bintang. Banyak yang menganggap jumlah 13 atau angka 13 memiliki sifat unik. Apa karena hal tersebutlah sedemikian Zodiak tetap dipertahankan berjumlah 12 (sebuah pertimbangan yang berasal dari ranah astrologi, namun tidak berlaku bagi Astronomi).

Hal ini sama juga dilakukan saat Julius Caesar membagi 2 rasi Scorpius. Atau atas dasar cerita, Ophiuchus yang mengobati Orion dari sengatan Scorpius. Dapat jadi karena Ophiuchus adalah layaknya pawang ular sementara ular sering diidentikkan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan bahkan menakutkan. Inipun rasanya kurang tepat karena justru gambaran ular dalam kasus ini terkait erat dengan bidang kedokteran atau pengobatan. Selain itu, kalau dikatakan lingkaran binatang (Zoo, Zodiak) ternyata ada Libra, Virgo, Gemini, dan Aquarius. Adapun tentang Zodiak ini dapat dilihat pada tabel berikut:

 

Table 2 Zodiak

Antara pemetaan tradisional (era Eudoxus/Aratus/Ptolemy) yang banyak beredar pada kisah horoskop atau ramalan bintang terkait nasib manusia dengan kenyataan Zodiak pada epoch 2000 (dikoreksi tiap 50 tahun sekali) berdasarkan posisi benar di kubah langit. Credit: WS dan pembanding data dari Shapiro (Morehead Planetarium University of North Carolina, Chapel Hill)

 

Apabila melihat perkembangan penyebutan Zodiak, memang kadang terbentur pada pen-definisi-annya. Ecliptic-based Zodiac biasa berbasis pergeseran Matahari. Namun, seperti kita ketahui bahwa didefinisikan pula kalau daerah Zodiak sebagai tempat bergesernya planet dan Bulan. Hal ini berarti bukan “melulu” pada lingkaran ekliptika (sebut berupa garis lingkaran, bukan pita), melainkan pada akhirnya berupa wilayah tertentu (sebut sebagai pita, dengan jarak kisaran 8 derajat sebelah menyebelah dari lingkaran ekliptika).

Memang dalam Astronomi, lebih mengacu pada lingkaran ekliptika (13 rasi bintang sesuai yang ditunjukkan oleh langit di mana siapapun dapat turut untuk membuktikannya). Namun, apabila dalam hal Astrologi yang mencoba meramal nasib yang sering memakai planet dan Bulan, maka seharusnya mengacu kenyataan di langit bahwa planet dan Bulan tidak selalu di Zodiak yang terdiri dari 13 rasi bintang (masalah 12 rasi bintang tempat Matahari mengembara pun sudah berubah menjadi 13 rasi bintang sesuai dengan apa yang langit suguhkan kepada kita, dengan rentang waktu pengembaraan Matahari di setiap rasi yang hampir seluruhnya sudah berubah di mana kenyataan ini “lagi-lagi” secara garis besar dapat langsung di observasi oleh siapa saja masyarakat di dunia ini).

Dari perkembangan di atas yang mencoba memasukkan planet dan Bulan dalam persinggahannya di Zodiak, artinya jumlah rasi bintang Zodiak tidak lagi 13 buah, melainkan mencapai 24 rasi bintang. Baik bila diobservasi langsung maupun apabila kita telusuri software Astronomi (Stellarium misalnya), maka di sejumlah rasi bintang itulah baik Matahari, planet, dan Bulan mengembara di kubah langit (khusus planet Venus bahkan dapat mencapai 25 rasi bintang). Rasi bintangnya adalah: Aquarius, Cetus, Libra, Scorpius, Aries, Corvus, Ophiuchus, Scutum, Auriga, Crater, Orion, Serpens, Cancer, Gemini ,Pegasus, Sextans, Canis Minor, Hydra, Pisces, Taurus, Capricornus, Leo, Sagittarius, Virgo (Ref: the Planetarian, Vol 6, #1, Spring 1977, International Planetarium Society. Executive Editor, Sharon Shanks). Juga termasuk apabila kita hendak memakai data dari American Ephemeris ataupun Nautical Almanac.

Astrologi modern uniknya kadang memasukkan hadirnya planet Uranus (sejak 1781) dan Neptunus (tahun 1845-6), bahkan mungkin juga memasukkan atau memakai planet kerdil Pluto (temuan tahun1930 yang sejak tahun 2006 tidak lagi termasuk planet) sebagai faktor yang mempengaruhi kehidupan, maka rasi bintang yang perlu dipertimbangkan akan bertambah lagi dengan rasi bintang Bootes, Coma Berenices, Eridanus, dan Leo Minor. Data ini diperoleh hingga tahun 1977 oleh Lee T. Shapiro (Direktur Planetarium Morehead – North Carolina). Sementara itu, pada tahun 1999, berbasis data dari John Mosley dari Observatorium Griffith dan astronom Belgia, Jean Meeus, bahwa planet (tanpa planet kerdil Pluto) kenyataannya melewati 21 rasi bintang, yaitu:

 

Aquarius Capricornus Crater Leo Orion Sagittarius Sextans
Aries Cetus Gemini Libra Pegasus Scorpius Taurus
Cancer Corvus Hydra Ophiuchus Pisces Scutum Virgo

 

dan berdasar perhitungan tahun 2011 dari Luc Désamoré (Société Astronomique de Liège) bahwa kadang Venus juga melintasi wilayah Auriga (15 April –151 atau 152 SM), Canis Minor (14 Agustus 2557), Serpens (20 Februari 4428), dan Aquila (1 Maret 4428).

 

Pengantar

Terlepas dari sisi Astronomi ataupun Astrologi dengan perbedaan landas acu kala waktu Zodiak-nya maupun terapannya, bahwa budaya menera bentang langit telah mengisi nafas kehidupan keseharian manusia dan rasanya ini sudah dilakukan secara sadar maupun tidak sejak insan di muka Bumi ini menengadahkan tatapannya ke hamparan kerlap kerlip cahaya bintang gemintang. Dengan ini pula, maka pada artikel berikutnya (bagian ketiga) penulis masih berusaha untuk mencoba berkisah, secara umum maupun secara khusus yang dapat digali di ranah Nusantara walau nyatanya hanya sekedar mendapatkan sezarah cerita, terutama kasus yang terkait dengan rasi bintang Taurus (yang juga terpaksa dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama dan kedua). Semoga bermanfaat. Salam Astronomi.–WS–

 

Daftar Pustaka, Situs, dan Kamus: lihat pada artikel Rasi Bintang Dalam Denyut Budaya (Bagian Pertama).