Written by Widya Sawitar

User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Atas dasar perhitungan astronomi, pada hari Senin malam tanggal 7 Agustus 2017 akan terjadi Gerhana Bulan Parsial (GBP) atau Gerhana Bulan Sebagian (GBS). Proses GBS dimulai pada hari Senin malam tanggal 7 Agustus pukul 22:50:02 WIB dan berakhir pada hari Selasa tanggal 8 Agustus pukul 03:50:56 WIB. Peristiwa GBS ini praktis dapat disaksikan oleh semua pengamat di wilayah Indonesia. Namun demikian, tahapan gerhana yang relatif dapat mudah diamati oleh awam adalah pada hari Selasa dinihari antara pukul 00:22:55 WIB hingga pukul 02:18:10 WIB. Saat inilah Bulan memasuki bayang-bayang utama (umbra) Bumi. Wajah Bulan, yang seharusnya dalam fase purnama, sebagian menjadi gelap. Hal ini membuat wajah Bulan di bagian tepinya menjadi agak cekung. Sebagai catatan: penampakan fenomena langit pada artikel ini berpedoman dengan sekiranya yang dapat disaksikan dari kota Jakarta, termasuk perhitungan waktu kejadiannya (WIB).

Peristiwa GBS aman dilihat dengan mata telanjang tanpa alat bantu semisal binokuler (kèkeran) atau teleskop (teropong). Karena tidak berbahaya bagi kesehatan mata. Namun demikian, tatkala melihat dengan alat bantu optik dan mengamati Bulan dalam fase purnama cukup menyilaukan. Jadi, tidak pula disarankan berlama-lama terlebih cuaca sangat cerah. Bagi sebagian, dampak terlalu silau juga membuat tidak nyaman. GBS ini termasuk dalam kategori seri Saros 119 dan merupakan gerhana ke 62 dari total 83 kali gerhana dalam seri tersebut. Dalam hal ini, gerhana seri Saros 119 yang berikutnya atau yang ke 63 akan terjadi sekitar 18 tahun lagi (20 Agustus 2035, tidak terlihat dari sebagian besar wilayah Indonesia, dari wilayah Sumatera pun hanya mengalami Gerhana Bulan Penumbral).

Dalam astronomi, fenomena gerhana adalah peristiwa yang sangat wajar dan biasa terjadi. Hal ini dilihat dari sifat Bulan yang mengedari Bumi, sementara Bumi mengedari Matahari (tentang Bulan, dapat disimak pada Bulan, Satelit Bumi). Baik Bumi dan Bulan sama-sama tidak memancarkan cahaya sendiri, hanya mendapat cahaya utamanya dari Matahari. Dengan demikian, akan dimengerti kalau baik Bumi dan Bulan memiliki bayang-bayang, baik bayang-bayang utama yang disebut umbra maupun bayang-bayang samar (penumbra). Jadi dapat dimaklumi juga apabila permukaan Bumi terkena bayang-bayang Bulan – terjadilah gerhana Matahari. Atau berlaku sebaliknya, Bulan memasuki bayang-bayang Bumi sedemikian terjadi gerhana Bulan.

 

Mengapa tidak setiap bulan terjadi gerhana?

Bila ditinjau lintas edar Bulan, maka gerhana Bulan akan terjadi saat Bulan Purnama. Atau sebaliknya, peristiwa gerhana Matahari akan berlangsung saat fase Bulan Mati.

Melihat posisi edar Bumi (terkait bidang orbit Bumi) dan Bulan (dengan bidang orbitnya) yang membentuk kemiringan 5,2o (tidak berhimpit), maka akan dimengerti bahwa tidaklah setiap bulan akan terjadi gerhana.

Bila kedua bidang orbit itu membentuk sudut atau kemiringan, maka akan terdapat garis potong antara kedua bidang tersebut. Garis potong ini disebut garis nodal. Ternyata akhirnya diketahui bahwa garis nodal ini berputar secara teratur (periodik) setiap 18,6 tahun ke arah barat (periode nutasi Bulan). Apabila arah Matahari dekat sebuah titik nodal disebut musim gerhana yang berulang setiap 173,3 hari. Sementara itu, perpaduan antara periode nutasi dan periode fase Bulan (periode sinodis, yaitu 29,5 hari di mana bentuk wajah Bulan dari fase semisal Purnama ke Purnama berikutnya) menyebabkan gerhana serupa akan berulang setiap 18 tahun 11,3 hari. Periode inilah yang biasa disebut periode Saros.

Jadi dari keseluruhan kombinasi baik lintasan edar Bumi dan Bulan, kaitannya dengan adanya pencahayaan dari Matahari, maka suatu saat akan terjadi peristiwa gerhana seperti GBS yang akan terjadi tanggal 7 hingga 8 Agustus 2017. Jika ditilik posisi terjadinya gerhana bila susunan Matahari – Bumi – Bulan berada pada satu garis lurus. Namun demikian, posisi benar-benar lurus ternyata sangatlah jarang. Terakhir saat terjadi Gerhana Bulan Total tanggal 16 Juli 2000 dan ini pun hanya nyaris lurus dan berikutnya nanti menjelang tahun 3000. Termasuk dalam hal ini adalah terjadinya beragam gerhana seperti gerhana total, parsial (sebagian), dan penumbra. Selain itu, bila musim gerhana bermula pada awal tahun, maka akan dimungkinkan terjadi 5 kali gerhana Matahari. Atau kombinasi gerhana Bulan dan gerhana Matahari sebanyak maksimal 7 kali (Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan).

 

Gambar 1
Tahap Gerhana Bulan Sebagian Tanggal 7 – 8 Agustus 2017
(2017 Aug 07)

 

  1. Bulan masuk penumbra Bumi (P1)    : pukul 22.50:02 WIB (7 Agustus 2017).
    Biasanya mata awam sukar membedakan apakah sudah gerhana atau belum.
  2. Bulan masuk umbra Bumi (U1)          : pukul 00.22:55 WIB (8 Agustus 2017).
    Mulai relatif mudah dilihat dengan mata telanjang.
  3. Tengah Gerhana    (Mid)                   : pukul 01.20:27 WIB (8 Agustus 2017).
  4. Bulan keluar umbra Bumi (U4)          : pukul 02.18:10 WIB.
    Wajah Bulan kembali Purnama, namun kecerlangannya belum kembali normal karena masih dalam tahap gerhana Bulan penumbra.
  5. Bulan keluar penumbra Bumi (P4)    : pukul 03.50:56 WIB,
    dan berakhirlah gerhana.

 

Gambar 2
Wilayah Bumi yang Dapat Mengamati GBS
(2017 Aug 07)

 

Astrofotografi

Walaupun kejadian biasa, namun tetap menarik untuk disimak. Banyak yang dapat dilakukan dan salah satunya adalah mengabadikannya dengan kamera foto. Bagi peminat fotografi khusus dalam merekam peristiwa astronomis dapat disebut sebagai astrofotografi, termasuk dalam memotret GBS.

Sekedar catatan, bahwa pada umumnya kamera tidak dilengkapi motor penggerak untuk menyesuaikan gerak harian benda langit dari timur ke barat (terbit terbenamnya benda langit akibat gerak rotasi Bumi dari barat ke timur). Jadi tempo pengambilan gambar (kala pemotretan) harus diperhatikan guna menghindari citra menjadi kabur. Kala pemotretan (shutter speed) dapat dihitung berdasarkan panjang fokus dan ukuran sensor. Secara sederhana kala pemotretan dapat dihitung dengan rumus:

dimana F adalah panjang fokus kamera dalam milimeter dan crop factor adalah perbandingan ukuran sensor terhadap sensor full frame. Misal pengambilan gambar menggunakan kamera dengan sensor full-frame (crop factor 1) maka rentang pemotretan terpanjang (toleransi agar citra Bulan tidak bergeser pada hasil bidikan kamera) adalah sebesar 500/200 detik atau 2,5 detik. Lewat rentang waktu ini, citra Bulan akan kabur. Selain kamera dengan sensor full-frame, saat ini banyak juga digunakan kamera dengan sensor APS-C (Advance Photo System-Classic) yang mana jenis sensor ini memiliki crop factor lebih dari 1 (umumnya 1.5x). Sehingga dengan lensa yang sama dengan sebelumnya, panjang fokus 200mm, perhitungan rentang terpanjang kala pemotretan menjadi 500/(1,5x200) detik atau 1,6 detik.

Sementara seberapa besar citra Bulan yang terekam dirumuskan dengan d (diameter Bulan dalam film) = F/110. Dalam kasus kamera 200 mm di atas artinya bahwa diameter Bulan yang terekam di film adalah sebesar 200/110 mm atau 1,8mm.

Untuk peristiwa GBS, dapat dicoba menggunakan filter untuk mendapatkan kontras. Dapat dengan filter hijau-kuning dengan ND 0,1 atau 0,2.

Secara umum, kamera yang digunakan adalah jenis Single Lens Reflector (SLR). Perlu diperhatikan adalah ukuran kecepatan film antara ASA/ISO 25 sampai 400, tergantung tahap fase wajah Bulan atau gerhana. Jangan lupa memakai tripod untuk mencegah getaran saat pemotretan. Untuk eksperimen lain, saat ingin merekam citra kawah Bulan – jangan pada saat Bulan besar atau purnama. Yang tidak kalah pentingnya dalam pemotretan seperti ini adalah masalah kesehatan. Pertama, bahwa peristiwa ini berlangsung malam hingga menjelang waktu Subuh. Kedua, berada di tempat terbuka. Dapat saja cuaca cerah sepanjang malam, namun angin dapat saja cukup kencang, dsb. Juga, kesabaran dalam pemotretan. Jangan kecewa kalau ternyata cuaca tidak memungkinkan untuk memotret ataupun sekedar pengamatan.

 

Penelitian

Dalam peristiwa Gerhana Bulan, khususnya Gerhana Bulan Total biasanya dapat dilakukan penelitian terhadap tingkat polusi udara di angkasa di atas tempat pengamatan. Sementara pada fenomena Gerhana Bulan secara umum, peristiwa ini dapat digunakan sebagai pengecekan terhadap sistem kalender yang khususnya menggunakan Bulan sebagai pedomannya (kalender Qomariyah atau kalender Bulan). Pada sisi lain, tentunya masih banyak lagi. Misal bila dapat kita telusuri bagaimana budaya manca negara pada zaman dahulu bahkan hingga saat ini menyikapi peristiwa seperti ini. Bagi sementara kalangan, kehadiran Bulan Purnama menjadi momen tersendiri, dan bagaimana kesannya sekiranya wajah Bulan berubah saat terjadinya gerhana. Ada dua spontanitas yang biasanya terlahir dari penghuni Bumi, kagum dan takut. Memang harus diakui banyak inspirasi yang muncul dengan peristiwa seperti ini, dari satu generasi ke generasi berikut sepanjang hadirnya manusia di muka Bumi. Dari budaya lisan turun temurun, maupun sampai era penjelajahan angkasa luar saat ini. Masalah inimpun sebenarnya menarik untuk ditelaah, karena bagaimana pun ini adalah alur sejarah peradaban ataupun pola pikir manusia ketika melihat langit sebagai landas laku sehari-hari. Termasuk tentang bagaimana kita belajar menangkap pesan langit malam dengan segala dinamikanya.

 

Peta Langit Malam

Bila kita sudah siap sejak awal malam hari Senin tanggal 7 Agustus, maka pada pukul 18:30 WIB, apabila kita arahkan pandangan kita ke ufuk timur yang cukup lapang akan tampak Sang Dewi Malam Rembulan yang sudah menampilkan rona wajah bulat purnamanya. Pada kisaran ketinggian yang sama dihitung dari ufuk Selatan, tampak pula Lintang Gubug Penceng (Lintang Pari atau Bintang Layang-layang) yang secara internasional disebut kelompok bintang atau rasi bintang Crux di mana para anggota Pramuka sudah sangat fasih menggunakannya sebagai kompas atau pedoman arah, tentu juga para leluhur kita pada masa yang lampau.

Masih dengan ketinggian yang sama dengan Bulan dihitung dari ufuk, dan juga dekat Bintang Layang-layang, tampak 2 bintang terang yang dikenal nenek moyang kita sebagai Lintang Wulanjar Ngirim (Alpha dan Beta Centauri).

Masih pada waktu yang sama, apabila melihat ke arah antara ufuk Tenggara dan Selatan, lalu hitung ketinggian sekitar 70 derajat (ufuk = 0 derajat, puncak langit = 90 derajat), maka kita seolah-olah melihat ada 2 bintang cemerlang. Jangan salah! Yang berwarna merah memang sebuah bintang, tergolong bintang maharaksasa dengan radius sekitar 360 kali jari-jari Matahari, dan kecerlangannya mencapai lebih dari 6000 kali Matahari. Nama bintangnya adalah Antares di mana nama ini berasal dari kata Anti Ares (Ares adalah nama dewa perang bangsa Yunani yang diadaptasi bangsa Romawi menjadi Mars, lalu dijadikan nama planet yang terkenal dengan warna merahnya yaitu Mars). Namun demikian, Antares tergolong bintang dingin dengan temperatur permukaan yang hanya berkisar 2800 oC saja (bandingkan: Matahari sekitar 6000 oC). Lokasinya berada di jantung seekor kalajengking. Kelompok bintang yang susunannya mirip kalajengking ini tidak lain adalah rasi bintang Scorpius, salah satu Zodiak. Dalam budaya Nusantara dikenal sebagai Lintang Klopo Doyong (pohon kelapa yang miring; sebutan bila posisi ke seluruhan rasi ini baru saja terbit). Sementara itu, yang terang kedua, ketinggian yang sama dihitung dari ufuk Tenggara, berwarna cenderung kuning gading cemerlang, sebenarnya bukanlah bintang, melainkan Sang Balerina, Si Cantik Planet Saturnus yang populer dengan kehadiran cincin yang melingkari tubuhnya (tentang Jupiter dan Saturnus, dapat dilihat pada tulisan Berkenalan Dengan Planet Jovian).

Sementara itu, di belakang ekor kalajengking Scorpius terdapat rasi bintang Sagittarius dengan formasi bintang terangnya mirip rumah (teko atau kemah), yang merupakan daerah langit yang paling padat dengan bintang. Bila kita melihat ke arah rasi ini, ibaratnya kita sedang mengarah pandang mata kita ke arah pusat keluarga besar perbintangan tempat tinggal kita yang disebut galaksi Bima Sakti (Milky Way)(tentang rasi ini, dapat dilihat pada tulisan Sagittarius Sang Pemanah).

Apabila kita arahkan pandangan kita ke belahan berlawanan, ke arah langit belahan barat, maka tampak bintang sangat cemerlang (kisaran ketinggian 45 derajat: pertengahan antara ufuk barat dengan puncak langit). Nyatanya itu adalah planet terbesar di Tata Surya yang memiliki 69 satelit, yaitu Jupiter. Dengan kondisi langit dan kondisi tempat observasi ideal, sebenarnya juga dapat disaksikan planet terdekat Matahari, yang rona wajahnya seperti Bulan, yaitu Merkurius.

Benda langit di atas akan terus bergerak akibat rotasi Bumi. Bergeser ke arah barat. Jadi pada kisaran pukul 22:30 WIB, rasi bintang Crux dan Jupiter praktis sudah terbenam di ufuk Barat. Bulan semakin tinggi, dan planet Saturnus sudah berada di belahan Barat di ketinggian sekitar 50 derajat. Adapun rasi bintang Scorpius bagian kepalanya sudah mendekat ufuk barat dengan bagian ekor ke arah puncak langit (posisi kalajengking terbalik – Lintang Kala Sungsang sebutannya).

Berharap cuaca cerah, sedemikian peristiwa Gerhana Bulan Sebagian ini dapat kita saksikan, termasuk dalam mencermati wajah kubah langit malam dengan segala pernak pernik yang bertabur menghiasinya. Fenomena astronomis ini semata hadiah sekaligus tantangan dari Yang Maha Cendekia untuk ditelaah secara ilmiah. Juga merupakan saat yang paling unik dan khas dari rentang hidup manusia untuk sejenak menggugah kembali nuraninya. Merenungkan ke-Maha Besar-an Sang Pencipta Langit dan Bumi dalam segala ragam ciptaan di jagad semesta berikut segala peristiwa yang menyertainya. Bagi umat Muslim biasanya melaksanakan shalat gerhana sekaligus memohon ampunan-Nya. Salam Astronomi. –WS

 

Software
Stellarium 0.12.4

 

Situs
app.photoephemeris.com
https://eclipse.gsfc.nasa.gov/lunar.html
https://starcircleacademy.com/2012/06/600-rule/
2017 Aug 07
2035 Aug 19
Berkenalan Dengan Planet Jovian
Bulan, Satelit Bumi
Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan
Sagittarius Sang Pemanah