Written by Widya Sawitar
Category:

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Kini kubah langit malam di atas Jakarta sudah tidak lagi bertabur ribuan bintang karena dampak polusi udara dan cahaya. Namun demikian, masih dapat dilihat bintang yang terang, Bulan, dan planet. Rasi bintang yang sejak ribuan tahun lalu dipakai leluhur untuk bercocok tanam dan mengarungi samudra sebagiannya masih relatif mudah ditera.

Contoh rasi bintang Orion yang di Indonesia populer disebut Lintang Waluku (luku: alat bajak sawah) dan Crux (Lintang Gubug Penceng, Bintang Layang Layang, Lintang Pari). Tentu saja selain kondisi minim polusi, maka untuk observasi fenomena langit menjadi lebih ideal apabila cuaca cerah.

Bila melihat dengan cermat, nyatanya di kubah langit malam selain hadirnya bintang, kita dapat melihat benda langit yang mengembara di lautan bintang, yaitu Bulan dan planet. Inilah salah satu sebab mengapa mereka tidak setiap saat dapat dilihat. Mereka terus bergeser di kubah langit. Namun, tentu saja geraknya teratur berbasis lintas orbit dan periodenya masing-masing.

Yang mudah diikuti geraknya adalah Bulan. Pemunculan yang periodik menjadikan kita mengenal dimensi waktu. Apa yang dapat disaksikan tentu bergantung di mana kita mengamati, sedemikian dimensi ruang menjadi penting. Contoh lain seperti Bintang Layang Layang di mana masyarakat Jepang atau yang lebih ke lintang utara sukar bahkan tidak dapat melihatnya. Kendati kita relatif mudah melihatnya, ternyata tidak setiap malam dapat kita saksikan. Andai terlihat, kadang awal malam sudah terbit, kadang sudah nyaris terbenam. Inipun berlaku pada planet dan Bulan.

Planet bergeser di langit di wilayah Zodiak, yaitu 13 rasi atau kelompok bintang di antara 88 rasi bintang. Pun demikian Bulan dan Matahari. Hal ini karena Bulan dan semua planet nyaris bergerak mengedari Matahari pada satu bidang (bidang orbit). Ibarat keping uang logam, maka keping itulah tempat planet mengedari Matahari dengan lintasan orbit berbentuk ellips (lonjong) dan Matahari berada di salah satu titik fokusnya. Kecepatan gerak mereka berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Akibatnya, kalau diamati kubah langit dalam rentang waktu tertentu, membuat Bulan tampak bergeser menyusul planet; bahkan antar planet pun demikian.

Melihat kondisi ini, maka suatu saat, posisi mereka berdekatan. Lebih unik apabila Bulan dalam gerak gesernya menutup planet. Nama fenomenanya kadang disebut konjungsi Bulan dan planet, ada yang membayangkan sebagai gerhana planet (karena planetnya menghilang di balik Bulan), dan sebenarnya ada nama khusus fenomena ini, yaitu okultasi. Atau, terkadang planet-planet dan Bulan berkumpul di suatu lokasi yang relatif berdekatan. Inipun masih disebut sebagai konjungsi. Yang istimewa tatkala Matahari dan Bulan bersatu di kubah langit, yang peristiwanya disebut Gerhana Matahari.

Beberapa fenomena konjungsi antara Bulan dan planet pernah terjadi (yang tentu cukup unik) semisal tanggal 7 April 1994 di mana terjadi posisi berdekatan antara Merkurius, Mars, Saturnus, Jupiter, dan Bulan. Yang istimewa adalah pada tanggal 5 Mei 2000, planet yang kasat mata (5 planet) dan Bulan berkumpul dekat Matahari. Tanggal 6 – 7 November 2015 antara Mars, Jupiter, Venus, dan Bulan. Tanggal 5 – 6 November 2016 antara Venus, Mars, Saturnus, dan Bulan.

Peristiwa konjungsi adalah hal yang wajar, layaknya fenomena Gerhana Matahari yang terjadi tanggal 9 Maret 2016 dan Gerhana Bulan yang baru berlalu, yaitu tanggal 7 – 8 Agustus 2017. Namun, apabila kita bayangkan bahwa planet-planet, Bulan, dan Matahari berada pada 1 lokasi di kubah langit, maka besar kemungkinan terjadinya adalah dalam selang waktu 8,6x1046 tahun. Tentu sesuatu yang sukar kita bayangkan karena usia Jagad Raya saja berdasar penelitian terakhir baru berusia orde 13 milyard (13x109) tahun. Sebut semisal terjadi konjungsi itu di awal lahirnya Tata Surya yang kisaran 5 milyard tahun (5x109 tahun), maka baru akan terjadi lagi konjungsi itu sekitar orde 1036 tahun yang akan datang. Adapun untuk konjungsi seperti 5 Mei 2000, baru akan terulang kisaran 1000 tahun yang akan datang.

Bila Venus bergeser ke posisi di antara Matahari dan Bumi, disebut konjungsi dalam.
Bila Matahari yang berada di antara Venus dan Bumi, disebut Venus konjungsi luar.
(Ref.: Tom-Wildoner)

 

Konjungsi

Sekali lagi menyoal konjungsi. Dalam Astronomi, konjungsi merupakan kesearahan lokasi benda langit apabila diamati dari Bumi. Lebih teknisnya terkait kesamaan dalam parameter asensiorekta atau lintang ekliptika. Sifatnya pun kadang istimewa, kadang suatu yang rutin terjadi. Objek langit pun beraneka yang dapat dilibatkan, tidak sebatas Matahari, Bulan, dan planet. Sebagai contoh semisal konjungsi Bulan dan planet yang sering ditentukan berdasarkan patokan Matahari. Tatkala benda langit tersebut searah pandang lokasinya atau berkonjungsi dengan Matahari, maka terbitnya bersamaan dengan terbitnya Matahari. Jadi, tentu akan sulit bahkan tidak dapat disaksikan. Dengan kata lain, besar sudut elongasinya sebesar 0 derajat. Apabila terjadi antara Matahari dan Bulan, maka fenomena konjungsi itu berdampak pada fase Bulan di mana kala itu Bulan disebut (fase) Bulan Mati, menjelang (fase) Bulan Baru.

Apabila pada kasus terakhir konjungsinya sempurna (benar-benar searah), maka fenomena Gerhana Matahari terjadi. Sementara itu, Merkurius dan Venus, sebagai planet dalam (inferior) memiliki keunikan karena memiliki 2 posisi konjungsi, yaitu konjungsi dalam (inferior conjunction) dan konjungsi luar (superior conjunction). Adapun planet luar, yaitu Mars, Jupiter, Saturnus mengalami konjungsi (searah Matahari) dan fenomena oposisi (berlawanan arah dengan Matahari.

Kembali pada Venus dan Merkurius. Konjungsi dalam terjadi tatkala posisi planet tersebut berada di antara Matahari dan Bumi. Ada satu fenomena menarik di sini. Apabila terjadi konjungsi dalam yang sempurna, maka kedua planet ini akan melintas di depan piringan Matahari. Andai saja kita bayangkan kedua planet ini besarnya terlihat sama besar dengan ukuran piringan Matahari, maka tentu Matahari akan tertutup dan  menimbulkan fenomena Gerhana Matahari. Namun, kita semua kini mengetahui bahwa ukuran kedua planet tersebut jauh lebih kecil. Kendati demikian, tetap saja kalau diamati dengan teknik khusus akan tampak piringan Matahari tertutup sebesar ukuran planet tersebut. Jadi, apakah lalu disebut Gerhana Matahari Sebagian? Nyatanya, ada nama khusus dalam peristiwa ini, yaitu fenomena transit. Adapun konjungsi luar apabila posisi Matahari berada di antara mereka dan Bumi.

Berkaitan dengan peristiwa yang dialami planet dalam, maka mereka akan tampak semakin purnama sesaat (relatif) menjelang dan sesaat setelah konjungsi luar dengan karakter ukuran semakin kecil karena terhadap Bumi semakin jauh. Sebaliknya, wajah mereka tampak semakin sabit menjelang dan setelah konjungsi dalam dengan ukuran semakin besar karena semakin mendekati Bumi. Apabila kita lihat Venus sedemikian cemerlang sebagai Bintang Timur atau Bintang Barat, justru kala itu fasenya sabit tipis. Terbalik dengan Bulan, cemerlang tatkala purnama, redup ketika sabit tipis.

Dalam kasus di sini, dapat diingatkan kembali bahwa fenomena konjungsi di atas dengan pedoman bahwa fenomenanya apabila dilihat dari Bumi. Apabila dibayangkan di kubah langit terjadi konjungsi, seolah mereka bersatu di kubah langit, maka sejatinya tidak demikian. Jarak antar yang berkonjungsi dapat jadi sangat berjauhan. Misal piringan Bulan menutup gugus bintang tertentu, maka kini diketahui jarak Bulan dan jarak gugus tersebut. Demikian pula konjungsi Bulan dengan planet. Jadi, hanya penampakan di kubah langitlah yang membuat seolah-olah mereka bersatu atau saling mendekat satu sama lainnya. Namun, tidak berlaku penyatuan itu terhadap jarak antar mereka.

Apapun bentuk penyatuan di kubah langit, khususnya terkait dengan adanya fenomena konjungsi, maka semoga kita dapat semakin arif menyikapi berbagai isu sains, khususnya mengenai fenomena Astronomi yang sering dikaitkan dengan derap hidup manusia hingga yang bersifat takhayul. Berharap apabila makin memahami fenomena ini, di ujung akhir, dapat menimbulkan rasa syukur dengan segala kerendahan hati karena mendapat kesempatan menikmati fenomena itu sebagai salah satu karunia-Nya. Selamat menikmati bentang langit malam.

 

Observasi Konjungsi Tanggal 30 Agustus 2017

Untuk tanggal 30 Agustus 2017, fenomena konjungsi yang secara jelas adalah antara Saturnus dan Bulan. Posisi planet Jupiter relatif agak terpisah jauh. Namun, dalam satu waktu kita dapat saksikan ketiganya secara bersamaan.

Konjungsi antara Bulan dan Saturnus
(Rabu, 30 Agustus 2017 pukul 22:30 WIB; posisi Jakarta)

 

Serba Serbi Bintang, Planet, dan Bulan

Pada saat mengamati fenomena konjungsi tentu saja akan semakin semarak apabila langit cerah sedemikian beraneka objek langit dapat disaksikan. Selain Bulan yang terang benderang dan planet-planet, maka tebaran bintang di kubah langit dapat kita cermati. Pengamatan berkelanjutan pada masa dulu membuat nenek moyang kita melahirkan suatu kebiasaan sehingga muncullah budaya menera langit sekaligus melahirkan peranti navigasi dan pertanian berbasis bintang gemintang, hingga ditemukannya pedoman arah bagi para pengembara dan pelaut, termasuk mitologi yang menyertainya. Sedikit, di sini, disinggung tentang beberapa objek astronomis tatkala menyaksikan konjungsi objek langit, antara lain:

  1. Bintang
    Bila melihat langit malam bertabur bintang, seolah bintang-bintangnya menempel pada kubah berbentuk setengah bola. Tanpa alat bantu seperti binokuler/teleskop, bintang yang terlihat ±5.000 buah. Kalau disimak, susunan bintang ini relatif tetap, apalagi dalam skala rentang usia hidup kita. Oleh sebab itu, bintang-bintang yang berdekatan dikelompokkan dalam gambaran ujud tertentu. Sebagai contoh bentuk layang-layang, yaitu Crux yang bagi nelayan juga dikhayalkan sebagai ikan pari (Lintang Pari), atau di manca negara kelompok ini dianggap palang atau salib. Hal ini dilakukan manusia sejak ribuan tahun silam. Pada dasarnya, pengelompokan bintang tidak lain adalah suatu usaha untuk membuat peta langit untuk memudahkan pengenalan susunan bintang, baik untuk keperluan praktis maupun keilmuan. Kini keseluruhan bola langit dibagi 88 daerah langit atau kelompok bintang yang disebut rasi bintang atau konstelasi. Penggunaan ini diresmikan oleh International Astronomical Union (IAU) tahun 1922.
  2. Jupiter
    Jupiter adalah planet terbesar. Kita dapat masukkan 1.300 benda seukuran Bumi kedalamnya. Planetnya terbentuk dari awan gas yang mampat. Tidak ada daratan dan lautan di permukaannya. Massanya 318 kali massa Bumi (sama dengan 2/3 massa Tata Surya di luar Matahari) dengan diameter 143.000 km (11 kali diameter Bumi). Kerap dijuluki Planet Gas Raksasa. Permukaannya terdiri dari pola pita-pita gelap dan terang dan merupakan daerah badai yang berlangsung terus menerus. Selain jalur badai, ada juga pusaran-pusaran badai. Yang terkenal the Great Red Spot, mirip tornado berusia lebih dari 300 tahun. Jupiter diiringi 69 satelit dan mempunyai cincin (walaupun sangat tipis) dengan lebar kisaran 6000 km dan tebal beberapa puluh km yang terdiri dari partikel-partikel kecil yang berukuran kurang dari 10 km. Cincin Jupiter terletak ±53.000 km di atas lapisan atmosfer terluarnya.
  3. Saturnus
    Yang paling dikenal dari planet ini adalah cincinnya yang besar. Namun, Saturnus bukanlah satu-satunya planet bercincin. Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus semuanya memiliki cincin. Hanya saja cincin Saturnus yang paling besar yang terbentuk dari bermilyard partikel mulai seukuran kerikil hingga sebesar gunung. Diameter keseluruhan ±350 kali panjang Pulau Jawa dengan tebalnya hanya kisaran 10 km. Planet ke-6 ini adalah planet terjauh yang dapat dilihat kasat mata. Jadi telah dikenal bermillennia lalu. Dimaklumi juga karena Saturnus adalah planet terbesar kedua. Diameternya 9 kali Bumi, massa 95 kali, dan volume 755 kali lebih besar dari Bumi. Uniknya, massa jenis Saturnus lebih kecil dari air. Jadi, apabila kita masukkan ke wadah air yang dapat menampungnya, dia akan mengapung. Jumlah satelitnya terbanyak kedua, yaitu 62 buah. Saturnus pertama kali dikunjungi oleh wahana antariksa tahun 1979 (Pioneer 11) dan yang terakhir Cassini-Huygens (2004).
  4. Bulan
    Kehadirannya membuat interaksi yang menarik untuk ditelusur. Geraknya di antara bintang-bintang kisaran 130 ke arah timur di sepanjang Zodiak. Sang Dewi Malam akan kembali ke Zodiak yang sama tiap 27,3 hari.  Kala jelajah ini disebut 1 bulan sideris (menempuh 1 lingkaran, 3600).

Matahari juga bergeser ke timur, tampak seperti dikejar-kejar Bulan. Perubahan fase Bulan berulang secara tetap dan tergantung kepada jarak sudutnya terhadap Matahari. Bulan Mati (Bulan Baru) terjadi saat Bulan berada di arah Matahari, Bulan separuh terjadi ketika jarak sudut Matahari-Bumi-Bulan 90o atau 270o, dan fase Bulan Purnama terjadi ketika jarak sudutnya 180o (Bumi diapit Matahari dan Bulan). Tahapan ini berulang rata-rata 29½ hari yang disebut 1 bulan sinodis.

Fase Bulan adalah sebagai akibat Bulan mengedari Bumi. Oleh karena Bulan benda gelap, tidak bercahaya sendiri, maka wajah Bulan yang terang akibat cahaya Matahari pun berubah seiring posisi edarnya. Wajahnya akan jauh lebih menarik jika dilihat dengan teleskop. Bagian wajahnya yang menghadap ke Bumi selalu sama akibat kala edarnya sama dengan periode rotasinya. Rona terang dipermukaannya adalah daerah tinggi disebut terra (jamak: terrae = dataran) dan rona gelap cenderung rendah disebut mare (jamak: maria = laut). Kini diketahui bahwa dataran gelapnya ternyata bentukan lava yang mengeras yang utamanya berada di cekungan besar akibat tumbukan.

 

Referensi
conjunction - encyclopedia
conjunction - Britannica
What's a conjunction? | Astronomy Essentials | EarthSky
Tom-Wildoner