Written by Widya Sawitar

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 
Sezarah Sejarah

A guest star appeared in the middle of Nanmen …
large as half  a seat-mat, fluctuating multiple colours.
(Catatan tentang ledakan bintang tahun 185: Qibin, 1988; p.7)

Ibn al-Athir wrote:
In that year (396H), at the New Moon of (the month) Shu’ban,
a large star similar to Venus appeared to the left side of the Qibla (ke arah kota Mekah) of Iraq.
Its rays on the Earth were like the rays of the Moon,
and it remained until the middle of (the month) Dhü al-Qa’da
when it disappeared.
(Goldstein, 1964, Evidence for a Supernova of A.D. 1006, AJ70:1;p.107)

Riwayat hidup bintang mirip manusia. Ada proses kelahiran, menjalani kehidupan dengan aneka ragam kisahnya yang terkadang singkat terkadang sangat panjang, lalu perlahan menjadi tua dan padam bahkan menghilang. Kematian bintang pun dapat menyajikan sesuatu yang begitu indah dalam tampilan walau kenyataannya fenomena ini sekaligus dapat menjadi proses yang sangat menakutkan. Letupan nova misalnya, tidak terbayangkan apabila Matahari menjalani tahap nova di mana diawali dengan ditelannya planet dalam radius hingga planet Mars karena tubuh Matahari yang membengkak. Selanjutnya meletup dalam menjalani tahapan menuju Kabut Planet. Dari sekian banyak foto Kabut Planet, dapat dikatakan semua menampilkan gambaran penuh warna dan ragam bentuk yang begitu indah. Tentu akan membuat kita semua berpikir ulang tentang keindahan itu, atau justru disitulah letak keindahannya karena alam perbintangan dalam setiap tahapnya menunjukkan kesejatian dalam kesetimbangannya yang taat azas sesuai kaidah alam ujudnya.

Dalam peristiwa yang jauh lebih spektakuler, yaitu supernova di mana ledakannya begitu dahsyat dalam rentang waktu sangat singkat menghamburkan semua atau hampir semua bagian tubuhnya ke segala penjuru langit. Bahkan dalam sejarah tercatat pula bahwa beberapa peristiwa ledakan bintang dapat diamati dengan mata telanjang bahkan pada siang hari sekalipun (Sawitar; 1991, 1995).

Masyarakat Tiongkok telah mendata kejadian langit sejak abad 14 SM. Salah satunya diukir pada tulang belikat binatang. Mereka menulis tentang adanya  “bintang baru”; On the Jisi day, the 7th day of the month, a big/great new star appeared in the company of the Huo star; on the Xinwei day the new star dwindled. Huo atau Ho Star adalah Antares (a Sco). Namun, banyak catatan tentang hadirnya “bintang tamu” (Ke-Xing, guest star) seperti pada manuscript kuno tentang ledakan tahun 185: A guest star appeared in the middle of Nanmen … large as half  a seat-mat, fluctuating multiple colours (Qibin; 1988, p.7 dan Murdin & Murdin; 1985, p.5).

Penamaan guest star kadang diperuntukkan bagi komet tanpa ekor (arah ekor komet segaris pandang), meteor (barangkali yang besar atau bolide meteor), nova, dan supernova. Kadang disebut Bei star pada kasus supernova tahun 1175 dan 1230, walau umumnya sebutan ini biasa diperuntukkan bagi komet. Untuk kasus SN 1572 (Tycho) dan SN 1604 (Kepler) disebut Zhoubo Star (a noble star which very brilliant).

 

Gambar 1 Nebula Kepiting (Visual)

Sebaran materi hasil SN1054 dengan bentangan 6 tahun cahaya berhasil dipotret dengan Hubble Space Telescope. Warna jingga yang dominan menunjukkan keberadaan unsur hidrogen. Bagian pusatnya berwarna biru-putih cemerlang adalah lokasi ditemukannya pulsar. Sementara biru di bagian luar adalah petunjuk unsur oksigen netral, warna hijau adalah sulfur terionisasi sekali, dan warna merah adalah oksigen terionisasi 2 kali. Gambar ini merupakan gabungan 24 foto dalam kurun waktu Oktober 1999, Januari 2000, dan Desember 2000. Credit: NASA, ESA, J. Hester and A. Loll (Arizona State University)

Ada beberapa istilah dalam manuscript Tiongkok terkait hadirnya benda langit yang baru. Sebagai contoh hadirnya komet yang tampak dengan ekornya (Hui-hsing: broom star atau sweeping star, biasanya fenomena ekor dari komet juga digambarkan.). Lainnya, komet yang tidak berekor (Po-hsing: bushy star – karena hanya tampak berkabut cenderung bentuk lingkaran atau rayed star). Sementara itu, yang biasa terkait dengan nova (jamak novae) atau supernova (jamak supernovae) adalah K’o-hsing/Ke-Xing yang berarti guest star atau visiting star atau bintang tamu (Marschall; 1988, p.50 dan Zhao, Strom, and Jiang; 2006).

 

Sejarah Istilah Supernova

Telaah sejarah ini, sebagian besar penulis sarikan dari jurnal ilmiah berjudul Who Really Coined the Word Supernova? Who First Predicted Neutron Stars? karya Osterbrock, D. E. yang dipaparkan pada pertemun American Astronomical Society ke 199 dan dipublikasikan pada Bulletin of the American Astronomical Society, Vol. 33, p.1330 pada bulan Desember 2001 (2001AAS...199.1501O), dengan beberapa tambahan.

Jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut di atas adalah Wilhhelm Heinrich Walter Baade

1893 – 1960, astronom Amerika Serikat kelahiran Jerman yang mengawali karir penelitiannya di Observatorium Hamburg sebelum tahun 1931 pindah ke Amerika Serikat, yang terkenal dengan klasifikasi populasi bintang dan pengelompokan bintang variabel Cepheids. Sebagian hidupnya bekerja di Observatorium Mount Wilson dan Palomar. Juga menjadi penemu asteroid yang kini disebut (1920) Hidalgo dan (1949) Icarus (Darling, p.51)

dan Fritz Zwicky

1898 – 1874, astronom Swiss kelahiran Bulgaria yang bekerja di Amerika Serikat di Observatorium Palomar. Terkenal dengan penelitian Astrofisikanya yang menelaah evolusi bintang tahap akhir khususnya ledakan bintang, karakterisasi galaksi kompak (galaksi yang memiliki kerapatan bintang yang tinggi), dan materi antar galaksi. Salah satu karyanya adalah “Catalogue of Selected Compact Galaxies and of Post-Eruptive Galaxies” yang acap disebut “the Red Book” di mana didata 31.350 galaksi dan 9.700 gugus bintang (Darling, p.534).

Mereka berdualah yang menggunakan kata atau istilah tersebut pertama kali, serta mendalilkan bahwa sisa ledakan bintang dapat berupa bintang neutron yang dipresentasikan dalam makalahnya “Supernova dan Radiasi Kosmik,” yang dipaparkan oleh Zwicky pada pertemuan American Physical Society di Stanford pada bulan Desember 1933. Abstrak dari makalahnya kemudian diterbitkan dalam jurnal ilmiah the Physical Review pada awal tahun 1934, dan merupakan paduan dari dua karya makalah mereka.

Awal konsep pengistilahan tersebut bahwa terdapat jenis khusus dalam penggolongan novae, yaitu novae cemerlang (much more luminous novae) yang berbasis konsep penyebutan oleh Knut Lundmark tahun 1923. Hal ini telah dikemukakan Lundmark sejak tahun 1920 dengan istilah novae raksasa (giant novae) dan secara independen oleh Heber D. Curtis (1921). Sementara itu, Edwin Hubble (1929) menyebut mereka sebagai nova istimewa (exceptional novae) dan Baade (1929) yang dinyatakannya dengan hauptnovae (kepala novae, secara sederhana ibarat rajanya para nova).

Menurut Zwicky (1940), ia dan Baade mencoba memperkenalkan istilah supernova dalam seminar dan kuliah Astrofisika di Caltech tahun 1931. Namun, Lundmark (1933) mengatakan bahwa sebenarnya dialah yang pertama menerbitkan kata super-novae dalam makalahnya (31 Desember 1932; baru terbit tahun 1933). Namun, karena dia bekerja di Observatorium Lick dan Mount Wilson selama musim gugur dan musim dingin 1932-1933, maka klaimnya dianggap bahwa ia sebenarnya sudah terlebih dahulu mendengar adanya istilah itu sebelum menulisnya karena dia bekerja di tempat yang sama dengan Baade serta Zwicky. Terlebih bahwa analisis makalah Baade dan Zwicky lebih lengkap dalam menjabarkan bagaimana fenomenanya terjadi, dikatakan bahwa supernova adalah ledakan bintang akibat mekanisme runtuhnya sebuah bintang (gravitational collapse) yang akhirnya melahirkan bintang neutron sebagai tinggalannya (terbit tahun 1933, sekaligus pertama kali memperkenalkan istilah bintang neutronneutron star; dan menurut reporter lokal, mereka sempat dikatakan “rather mad”). Mekanisme yang dipaparkan mereka berdua dianalisis berdasarnya jumlah energi (nuklir) yang dilepaskan saat ledakan. Analisisnya sebenarnya secara terpisah juga dikembangkan oleh Bohr dan Lev Landau (Copenhagen, Denmark, 1932). Uniknya bahwa unsur neutron baru diketemukan tahun 1932 oleh Chadwick dari Cavendish Laboratory di Cambridge – Inggris (Shapiro-Teukolsky, 1986, p.26 dan Sawitar, 1991).

Banyak Fisikawan percaya bahwa Landau (1932) juga secara terpisah telah memperkenalkan konsep ini (dalam hal mekanismenya), namun sebenarnya makalahnya adalah tentang suatu kondisi bintang berdasarkan telaah teori relativistik dari bintang-yang-terdegenerasi (Persamaan Gas Ideal pada kondisi ini tidak lagi berlaku, termasuk kondisi materi yang tidak lagi patuh pada konsep Larangan Pauli) dan dalam analisisnya sama sekali tidak menyebutkan adanya istilah neutron, bintang neutron, atau faktor kerapatan yang luar biasa besar sedemikian hukum fisika yang mapan dikenal kala itu banyak yang dilanggar.

 

Gambar 2 Pulsar di Nebula Kepiting

Foto close-up hasil bidikan Hubble Space Telescope. Gelombang radiasi serta terjangan bak tsunami yang diakibatkan semburan partikel bermuatan senantiasa terjadi di sekitar pulsar (titik terang sebelah kanan dari 2 titik terang di pusat gambar, yang merupakan bintang neutron yang berotasi sangat cepat dan dengan massa setara Matahari, namun hanya memiliki radius beberapa km saja). Tampak semburan gas berwarna merah. Yang berwarna biru adalah pendaran akibat aliran jet elektron berlintasan spiral yang mengikuti garis medan magnet dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, yaitu ±300.000 km/detik (lihat skema di bawah). Credit: NASA and ESA; Acknowledgment: J. Hester (ASU) and M. Weisskopf (NASA/MSFC)

 

Gambar 3 Skema Lokasi Pulsar di Nebula Kepiting.

Credit: STScI/Hubble Space Telescope

 

Freeman Dyson (1971) dalam materi kuliah yang diterbitkan membahas tentang kemungkinan adanya bintang neutron dan pulsar di mana menyebutkan (mengakui) bahwa konsep ini berawal dari pandangan Baade dan Zwicky (1934). Hampir semua peneliti Fisikawan dan Astrofisikawan menyebutkan hal yang senada.

Penamaan Supernova

Apabila ditilik penamaannya, maka ada perbedaan antara yang ditemui di galaksi kita dengan yang di luar bima Sakti. Pemberian nama supernova di galaksi luar (extragalactic supernovae) atas dasar tahun ditemukan dan berlabel abjad. Misal ledakan bintang di Awan Magellan Besar (AMB, 23 Februari 1987) dinamakan SN1987A. Ini berarti supernova (SN) pertama (A, abjad pertama) yang ditemukan tahun 1987. Jadi, apabila tahun itu dijumpai supernova lagi, maka yang berikut disebut SN1987B, SN1987C, dst. Sedang yang ada di galaksi kita (galactic supernovae) diberi nama mirip kasus di galaksi luar, namun dengan label rasi bintang- sesuai dengan arah lokasi ditemukannya supernova tersebut. Kadang diberi nama khusus, terutama sebelum era SNI1885A. Contoh SN437 Gem, SNI1203 Sco di mana label  Gem dan Sco merupakan singkatan nama rasi bintangnya, yaitu Gemini dan Scorpius. Selain itu SN1054 Tau dikenal sebagai CM Tau, SN1572 Cas sama dengan supernova Tycho atau B Cas, SN1572 Cas, lainnya SNI1604 Oph di arah Ophiuchus seperti yang diceritakan di atas.

Penelitian supernova sebenarnya dapat dikatakan bergairah ketika kejadian SN1885A. Tanggal 20 Agustus 1885 sebuah nova, yang lalu dinamai S And, dilihat Hartwig di Galaksi Spiral Andromeda. Setelah Hubble dapat menentukan jarak galaksinya, baru disadari bahwa nova S And bukan nova sederhana melainkan supernova. Tidak lama berselang ditemukan kasus serupa untuk nova A Cen di NGC5253 yang kemudian dinamai SN1895. Inilah salah satu cikal bakal munculnya objek langit supernova (Sawitar, 1995).

 

Sejarah Pendataan Penampakan Tahun 1054

Mungkin mirip di Jawa, hampir semua benda langit diberi nama lintang, apakah itu bintang, planet, komet, rasi bintang, dll. Identifikasi dalam balutan sejarah terkadang memang dibutuhkan waktu yang tidak singkat dan penuh kehati-hatian. Li Qibin bersama lebih dari 200 astronom lainnya mencoba meneliti tidak kurang dari 150 dokumen terkait fenomena penampakan supernova. Ternyata memang terdapat banyak kandidat bintang tamu yang adalah supernova (lihat Tabel 1 di bawah).

Dalam sejarah, menggambarkan fenomena ini di langit terkadang membantu penelusuran, semisal cemerlang seperti Bulan, Venus atau bahkan Venus pada siang hari, Jupiter, Saturnus, a big star. Namun, kadang membingungkan semisal seperti “seat mat, corn measurer, grain measurer, melon, peach, orange, pellet, a lamp” atau cahayanya “shined two feet away”, atau lokasinya “approximately several inches southeast of Thien-kuan” yang tercatat pada kasus SN1054 Tau. Thien-kuan atau Tianguan, kini adalah bintang Zeta Tauri (di ujung tanduk Taurus yang sebelah selatan). Dalam kasus SN 185, istilah untuk pendaran cahayanya “as large as half a yan” merujuk yan yang biasanya ditujukan untuk alas duduk (bamboo/seat mat). Dari perunutan waktu pengamatan, kadang dinyatakan bahwa supernova ini terlihat di dekat ufuk. Jadi, akan dimaklumi apabila semakin terang benda langitnya, maka semakin dekat batas ufuk bendanya akan semakin tampak membesar. Hal ini seperti piringan Bulan atau Matahari yang terlihat semakin membesar ketika hendak terbenam akibat refraksi dan dispersi oleh atmosfer (Qibin, 1988; p.2-4).

Sebagai contoh bintang tamu di tenggara Tien-Kuan/Tianguan tanggal 4 Juli 1054. Menurut catatan, bintang tamu itu lebih terang dibanding Jupiter atau bahkan Venus, istimewanya bahkan dapat dilihat pada siang hari untuk kurun 23 hari. Cahayanya menghilang setelah rentang 2 tahun. Ternyata dalam penelitian modern bahwa objek ini adalah supernova yang dinamai SN1054 Tau. Sekitar 7.500 tahun lalu bintang ini meledak dan baru setelah rentang 6.500 tahun cahayanya sampai ke Bumi. Diamati bukan saja oleh masyarakat Tiongkok, namun juga didata oleh masyarakat Jepang, Korea, Anasazi (cikal bakal bangsa Indian Hopi di New Mexico), dan Timur Tengah. Memang agak aneh kalau masyarakat Eropa dan Rusia tidak mendata peristiwa ini. Diduga manuscript di Rusia musnah saat serbuan bangsa Mongol, sementara di Eropa saat itu terkenal dengan “masa kegelapan”. Kemungkinan besar ini terkait doktrin saat itu, bahwa apapun yang terkait dengan langit hanya untuk kalangan tertentu saja di mana masyarakat takut untuk melaporkan bahkan untuk sekedar mencatatnya (Kasus ini terulang nyaris 6 abad setelahnya, yaitu pada saat paham heliosentris mengemuka sedemikian ilmuwan sekaliber Galileo pun tidak luput dari hukuman).

Penduduk Anasazi dari Chaco Canyon termasuk masyarakat yang sangat memperhatikan dinamika langit dengan cermat (mirip pada budaya Maya, Inca, dan Aztec di Amerika Tengah. Lihat artikel Rasi Bintang Dalam Denyut Budaya (Bagian Pertama)). Salah satu tinggalannya yang sangat terkenal adalah (monument) tonggak Matahari di Fajada Butte di wilayah pusat Chaco Canyon yang merupakan peranti untuk pedoman penggunaan kalender Matahari yang menandakan titik balik Matahari saat dimulainya musim dingin. Terdapat celah antara 2 lempeng di mana di tengah kedua lempeng tersebut terdapat spiral.  Saat berkas Matahari tepat masuk kolom spiral tadi, maka itulah tanda masuk musim dingin. Atau yang lainnya adalah sebuah bentuk persegi panjang di dinding Casa Rinconada’s Great Kiva untuk penanda musim panas. Ada pendapat bahwa Great Kiva merupakan observatorium bintang sederhana.

Great Kiva (Wikipedia)
A kiva is a room used by Puebloans for religious rituals and political meetings, many of them associated with the kachina belief system. Among the modern Hopi and most other Pueblo peoples, kivas are square-walled and underground, and are used for spiritual ceremonies.

Ada banyak fenomena serupa di seluruh cekungan (basin) Chaco Canyon dan San Juan hingga ke wilayah barat laut. Hingga kini masih menjadi fokus penelitian karena banyak ditemukan tinggalan yang menggambarkan aneka benda langit.

Jika kita melihat rasi bintang Taurus (baca artikel Rasi Bintang Dalam Denyut Budaya (Bagian Ketiga) Taurus Sang Banteng), maka salah satu objek yang menarik adalah Nebula Kepiting. Ragam teori menunjukkan bahwa ini adalah sisa supernova yang terlihat tahun 1054.

Berdasarkan catatan dari masyarakat Indian (Anazazi dan wilayah tetangganya, mereka menggambarkan bahwa kala itu ada bintang muncul dengan terang cahayanya kisaran 6 kali kecerlangan planet Venus bahkan dapat disaksikan pada siang hari untuk total waktu kisaran 23 hari (apabila dianalisis modern, andai saja jaraknya hanya 50 tahun cahaya, maka diperkirakan seluruh planet di Tata Surya akan musnah).

 

Gambar 4 Pencil Nebula

Nama lainnya NGC 2736 yang merupakan bagian dari sisa materi supernova (SNR / Supernova Remnant) yang lebih besar, yaitu SNR Vela. Disaksikan pertama kali oleh Sir John Herschel (putra William Herschel sang penemu Uranus) tahun 1840. Hubble Heritage Team menggunakan Advanced Camera for Surveys pada bulan Oktober 2002 untuk mengamatinya. Yang terekam melingkupi bentangan sekitar ¾ tahun cahaya. Adapun keseluruhan diameter SNR Vela kisaran 114 tc. Jaraknya ke kita sekitar 250 pc (1 pc = 3,26 tc). Pada pusat SNR Vela ditemukan pulsar dan diduga ledakan supernovanya terjadi 11.000 tahun yang lalu. Memang tidak dijumpai tinggalan kesaksian masa lalu walau diperkirakan kecerlangannya hingga 250 kali lebih terang dibanding Venus. Berdasarkan perhitungan, kecepatan lontar materi awal ledakan hingga 35,2 juta kilometer per jam. Kini gerak mengembangnya materi SNR di daerah Pencil Nebula mencapai 640.000 km/jam. Credit: NASA and The Hubble Heritage Team (STScI/AURA). Acknowledgment: W. Blair (JHU) and D. Malin (David Malin Images)

Dengan karakternya tersebut dimaklumi apabila fenomena ledakan bintang ini disaksikan oleh beragam budaya di seluruh dunia. Penulis pun yakin bahwa peristiwa ataupun fenomena ini dapat disaksikan di wilayah Nusantara, terlebih terjadi pada musim kemarau. Selain itu bahwa adanya Lintang Kartika yang ada di rasi bintang Taurus tentu merupakan wilayah langit yang senantiasa menjadi perhatian. Namun, penulis belum mendapat satu pun bukti tertulis ataupun tinggalan yang menunjukkan adanya kesaksian kejadian tersebut.

Tidak ada salahnya menelusuri jejak sejarah Nusantara. Pada era terjadinya ledakan bintang tahun 1054, kira-kira budaya Nusantara mana yang dapat dianggap mapan. Pertama dapat ditelusuri dari tinggalan era kerajaan Kadiri (Kediri/Panjalu, 1042 – 1222) khususnya saat raja Sri Samarawijaya (wilayah barat: Panjalu dengan ibukota Daha/Dahanapura/Kota Api yang kini menjadi kota Kediri) dan Mapanji Garasakan (wilayah timur: Jenggala dengan ibukota Kahuripan). Keduanya adalah putra Airlangga yang saling berebut takhta sedemikian kerajaan Panjalu/Pangjalu era Airlangga dibagi dua pada bulan November 1042 menjadi wilayah barat dan timur (Wikipedia: Kerajaan Kadiri dan Airlangga).

Alternatif lain adalah dapat jadi tercatat pada era kerajaan Sunda Galuh saat raja Dharmaraja yang berkuasa tahun 1042 hingga 1064/5. Atau jamannya Rakeyan Darmasiksa (1033 – 1183, Prabu Sanghyang Wisnu; belum jelas bagi penulis). Kemungkinannya adalah era ayahnya, Darmakusuma; pra 1157 atau kakeknya karena Darmasiksa berkuasa tahun 1175 – 1297 (?). Alternatif yang paling mungkin adalah yang pertama, yaitu saat Raja Dharmaraja (Sang Mokténg Winduraja) yang merupakan putra dari Sri Jayabhupati (menantu raja Dharmawangsa Teguh, raja terakhir kerajaan Medang; juga mertua dari raja Kadiri, Airlangga). Lainnya adalah era Sriwijaya, era raja Sangrama-Vijayottunggawarman (1025 – 1178, berbasis prasasti Tanjore, tahun 1030 pada candi Rajaraja, Tanjore, India)(Wikipedia: Sriwijaya). Memang pada tahun 1030 dikisahkan bahwa raja dari dinasti Chola – India (Rajendra Chola I) berhasil menaklukkan Sriwijaya bahkan menawan rajanya. Apabila dimungkinkan adalah alternatif bahwa fenomena ini diamati oleh penghuni cikal bakal Kerajaan Tanjungpura/Tanjompura di Kalimantan Barat yang diduga merupakan pelarian dari Sriwijaya ketika terjadi serbuan dari Kerajaan Chola. Dalam sejarah pernah menjadi bagian (provinsi) Kerajaan Singasari dengan nama Bakulapura (Bakula= Pohon Tanjung/Tanju) atau taklukan Majapahit tatkala era Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada di mana wilayah ini menjadi pusat pemerintahan di Kalimantan (Wikipedia: Kerajaan Galuh, Kerajaan Sunda, Kerajaan Sunda Galuh, Darmasiksa, Kerajaan Tanjungpura, Tanjung).

Barangkali, ada para muda yang berminat menelusuri kemungkinan adanya prasasti atau tinggalan pada era tersebut di atas di mana – mungkin – dapat dijumpai catatan fenomena ledakan bintang yang apabila melihat fenomenanya “rasanya” juga akan dengan mudah diamati oleh nenek moyang kita. Mengapa ditelusuri dari era kerajaan Nusantara yang cukup mapan (minimal terdapat dalam prasasti), karena umumnya tinggalan yang cukup tertib dan tersistematis dilakukan oleh pihak kerajaan, baik tinggalan artefak maupun manuscript. Atau mungkin, para peneliti lain (antropologi, arkeologi, budaya, dll.) dapat turut membantu penelitian tinggalan seperti ini.

Dengan kekhasan penampakan, maka dimaklumi kalau di ranah kesaksian objek langit, benda yang tiba-tiba muncul di kubah langit – apalagi bila cemerlang yang sebelumnya tidak ada – kadang disebut sebagai bintang tamu (guest star). Berdasarkan catatan di Tiongkok bahwa kemunculannya salah satunya berdasarkan astrolognya kala itu, Yang Wei-te, di mana hal ini konon terkait dengan nasib dari Kekaisaran Dinasti Sung dan kaisarnya sendiri, yaitu konon akan semakin baik dan bijak bestari. Dijumpai 4 catatan kesaksian serupa di seluruh Tiongkok (Shapiro-Teukolsky, 1986; p.22). Di daerah Mesa bagian barat di Chaco Canyon, terdapat semacam dinding atau panel disebut Peñasco Blanco yang terlukis adanya sebuah bintang besar, bulan sabit, dan telapak tangan. Adapun tentang bintang besar dan Bulan yang berdekatan berdasarkan telah kilas balik posisi benda langit serta perkiraan tanggal pembuatan lukisan tersebut, maka dimaklumi karena kala itu memang posisi SN1054 dekat dengan Bulan. Mungkin dapat kita bayangkan fokus mereka tatkala melihat Bulan ternyata ada bintang yang tiba-tiba muncul dan berlangsung dalam rentang waktu penampakan yang lama. Pastilah akan menjadi satu fenomena langit yang menimbulkan ragam penafsiran, termasuk dalam ranah mitologi.

Uniknya bahwa beberapa tahun setelahnya terlihat komet Halley dan inipun sangat jelas dilihat oleh masyarakat di Chaco Canyon (masyarakat Chacoan). Terkait penampakan komet, berkembang takhayul yang umumnya membuat takut masyarakat di sana (mirip di budaya Nusantara). Ini pun terjadi di wilayah Mesa barat (Peñasco Blanco), di mana pada satu panel digambarkan adanya 3 lingkaran konsentris berdiameter kisaran 30 cm dengan surai (sebut laksana lidah api) berwarna merah ke suatu arah.

Memang kenyataannya bahwa kita sekarang tidak dapat menanyakan alasan masyarakat Chacoan menggambar kedua fenomena itu seperti apa yang dijumpai pada tinggalannya tersebut. Untuk menarik kesimpulan adanya korelasi antara tinggalan dengan kedua fenomena tadi harus diakui masih bersifat spekulatif, namun menilik rentang masa hadirnya mereka di wilayah tersebut terkait perkembangannya dengan membandingkan jejak rekaman di manca negara “rasanya” kesimpulan bahwa gambaran pada tinggalannya terbukti sesuai dengan apa yang senyatanya mereka saksikan.

 

Ledakan Bintang dalam Ragam Budaya

Selama ini yang memang sangat populer dalam manuscript kuno adalah yang berasal dari Tiongkok (termasuk Korea dan Jepang), masyarakat Mesir dan Indian Amerika, serta wilayah Timur Tengah karena mereka pada dasarnya pengamat langit yang handal dan memiliki ragam sistematika pencatatan yang akurat (sebenarnya tidak kalah dengan apa yang dilakukan oleh nenek moyang kita dengan pranatamangsa-nya. Namun, belum tersosialisasi secara global). Sebut sebagai mitologi berbasis data Astronomi yang baik. Namun, ada pula yang terdapat pada mitologi tanpa catatan Astronomi yang lengkap, khususnya pada kasus pendataan waktu dan lokasi objeknya di kubah langit sedemikian banyak penafsiran yang muncul. Di sini mungkin dapat menjadi gambaran akan hal tersebut (disarikan kisahnya dari Hamacher – 2014, disertai analisis tambahan).

Salah satunya berasal dari literatur tentang tradisi lisan pada budaya di Australia (Aborigin) yang kemungkinan dapat dijadikan landas acu penelusuran pencatatan penampakan supernova, salah satunya, adalah kisah yang menyangkut kehadiran bintang terang di kubah langit, yaitu dalam cerita The Fisherman Brothers, yang berasal dari masyarakat Yolngu di wilayah Arnhem Land di bagian utara Australia. Dikisahkan, ada dua bersaudara, Nuruguya-mirri (sulung) dan si bungsu Napiranbiru. Mereka memancing ikan dengan menaiki kano. Namun, petaka menimpa keduanya tatkala ada badai sedemikian hancurlah kanonya. Nuruguya-mirri, sang kakak mencoba menolong adiknya, Napiranbiru, menuju pantai. Namun, naas pun menjemput di mana justru sang kakaklah yang akhirnya tenggelam. Untuk menghormati keberanian dan tanggung jawab dari Nuruguya-mirri, masyarakat sekitarnya mengadakan upacara. Ketika berlangsung acara tersebut pada malam hari, masyarakat melihat di kubah langit, “ … a bright star shining, new and sparkling ... .“ Masyarakat menganggap, sang “bintang baru” yang terlihat tidak lain adalah pengejawantahan dari Nuruguya-mirri. Tatkala Napiranbiru beranjak tua dan menjelang ajalnya, dia memohon dalam doanya kepada Roh Agung agar dipertemukan atau disandingkan dengan kakaknya di langit.

The brothers are now two bright stars close together on the bank of the sky-river, called Milnguya (Milky Way). A nearby faint star is the brothers‘ little campfire. These stars have been shining in the sky “ ... for longer than anyone can remember ... ”. Pada kasus di sini, bintang yang mana yang dimaksudkan ternyata masih penuh tafsiran. Seperti kita ketahui bahwa bentang Bima Sakti sangat luas. Adapun penyebutan, di tepi Sungai Langit (Bima Sakti) tentu harus dicari data waktu berawalnya kisah tersebut (sekiranya pada bulan atau pada musim apa, misalnya). Kemudian, mereka berlokasi di mana sedemikian bentang Bima Sakti yang mana yang (kira-kira) menjadi fokus mereka terkait hadirnya kedua bintang tadi. Mungkin mirip tatkala masyarakat kita melihat Lintang Kartika terkait Lintang Waluku, atau ketika harus ditentukan pranatamangsa berturutan yang mana yang sesuai dengan musim tanam, dsb.

Dari literatur lain dari kisah masyarakat yang berdekatan ditemukan kisah setema di mana yang dimaksud dua bersaudara ini (kemungkinan besar) adalah berupa ikan dan kano yang tampak terejawantah sebagai nebula gelap (nebula absorpsi) di bentang Bima Sakti (sebagian dari ular besar atau naga yang bertarung dengan satu tokoh Pandawa Lima, yaitu Bima). Nebula gelap ini berada di wilayah rasi bintang Serpens (ular besar, dekat bintang Theta Serpens) dan sang kakak adalah nebula gelap di dekat rasi bintang Sagittarius. Sementara kano-nya, dibentuk oleh empat bintang yang berlokasi dekat bintang paling terang di Scorpius, yaitu Antares (Alpha Scorpii).

Kisah lain diperoleh dari Bolivia yang direkam masyarakat setempat dalam seni lukis batuan datar (petroglif) yang umumnya terkait festival tahunannya. Salah satunya ada gambaran empat lingkaran yang diapit dua lingkaran besar. Dari wajah kubah langit kemungkinan bahwa 4 bintang tadi adalah bintang-bintang dengan formasi palang/salib di batas wilayah antara rasi bintang Carinae dan Vela. Sementara dua yang besar adalah gambaran bintang Canopus (Alpha Carinae) dan lokasi ledakan bintang Vela (Lihat gambar 4 di atas). Wilayah di langit ini disebut oleh masyarakat lokal sebagai Lakha Manta (Gerbang ke Neraka). Kini diketahui bahwa pada posisi tersebut terdapat Nebula Gum. Sebagian masyarakat tersebut menceritakannya dengan adanya dua anjing langit sedang mengejar burung (unta) dan kemudian berhasil menangkap sang burung di wilayah rasi bintang Vela. Kisah ini masih spekulatif dan masih terus diteliti karena penduduk daerah bersangkutan kini sudah kehilangan benang merah mitologi nenek moyangnya.

Di daerah Irak juga diduga terdapat artefak yang terkait supernova “ .. bintang raksasa (milik) dewa Ea di rasi bintang Vela (sang dewa Ea). Sang Putri Suci di wilayah utaranya (rasi bintang Puppis) … .” Kalau melihat kisah ini, sekarang diduga bahwa lokasi bintang raksasa tersebut di batas antara kedua rasi bintang tersebut, yaitu lokasi dijumpainya sisa ledakan bintang Vela. Apabila melihat tinggalannya kisaran 6000 tahun lalu, maka berdasar penelitian bahwa ledakan ini terjadi lebih dari 11.000 tahun lalu. Tentu ada ketidakcocokan penafsiran penampakan supernova Vela. Namun demikian, tentu tinggalan budaya seperti ini masih menyediakan tempat bagi penafsiran lain.

Kisah dari Burzahom – India pun dapat ditelusuri semisal tinggalan neolitik masyarakatnya (dekat wilayah Srinagar) yang menggambarkan kehadiran dua benda langit di atas sang pemburu (karya budaya antara 3000 – 1500 SM). Ada tafsiran kedua benda tersebut adalah Bulan Purnama dan supernova. Akhirnya dicoba menelusuri kejadian dalam rentang waktu tersebut oleh para astronom dan kandidat yang mungkin adalah yang terkait supernova HB9 (identifikasi: SN HB9, kisaran 5.000 – 2.000 SM). Inipun masih spekulatif.

Sementara itu, dari ranah Selandia Baru dijumpai pula kisah Mahutonga, sebuah bintang (tunggal, sendirian) dalam kisah masyarakat Maori (Aotearoa). Mahutonga berarti bintang selatan yang awalnya tidak terlihat. Penafsiran bahwa ini adalah bintang tunggal atau sendirian pun agak unik. Dapat jadi dia muncul sendiri dan tidak layaknya bintang-bintang yang telah lama diketahui (yang oleh masyarakat Tiongkok disebut bintang tamu). Analisis lokasi menunjukkan adanya keterkaitan antara bintang ini dengan Lintang Gubug Penceng (Bintang Layang Layang) atau Crux (mereka lebih menggambarkannya sebagai cakar elang), lebih rinci dan lebih tepatnya adalah juga dekat bintang Alpha Centauri (wilayah langit ini memang lekat dengan mitologi masyarakatnya, lihat artikel BIMA SAKTI, Mitologi Manca Negara). Jadi, adalah memungkinkan penelusurannya ke wilayah yang justru menjadi perhatian mereka. Berdasar penelitian, bahwa kandidat yang paling mungkin adalah fenomena supernova tahun 185 (SN185). Namun, bila menilik akar-katanya bahwa nama terkait Mahu adalah budaya proto-Polinesia, yaitu kisaran 1.000 tahun sebelum mereka sebagian ber-migrasi ke Selandia Baru menjadi masyarakat Maori pada kisaran tahun 1.280 SM. Masih butuh data yang lebih lengkap lagi untuk memastikan kesimpulan ini.

 

Tabel 1

Sejarah Pencatatan Supernova
(Qibin, 1988; Murdin & Murdin, 1985; Untuk pembanding dapat dilihat pada situs Wikipedia)

 
Kandidat Keterangan
Abad 4 SM Pada periode Jianping dinyatakan bahwa kanselir (Ping) Dong wafat dan digambarkan kala itu terlihat adanya xing bo (bushy star atau bintang besar) di arah (yu) Hegu (bagian dari rasi bintang Aquarius, lihat tahun 1248 di bawah) pada tanggal 24 April. Manuscript ini terdapat pada laporan tahunan kerajaan dinasti Han (202 SM – 23 M). Catatan ini hingga sekarang masih dalam penelitian (Stephenson, Green; 2005, p.223), apakah objek ini benar supernova atau komet, atau lainnya.
SN64, SN70 Belum ada konfirmasi untuk SNR
SN185

(Zhao, Strom, and Jiang, 2006)
Sisa supernovanya kini dinamai RCW86, berupa sebaran materi dengan diameter sudut lebih besar dari piringan Bulan, yaitu 45” dan berjarak kisaran 9.100 tahun cahaya. Lokasinya pada arah Alpha Centauri antara rasi Circinus dan Centaurus. Catatan pada buku “the Astrological Annals” dalam “Houhanshu – History of the Later Han Dynasty” saat raja Lingdi dari dinasti Han dinyatakan: “a guest star appeared in the midst/middle of (rasi bintang) Nan-men; it was as big/large as the half of a bamboo/seat mat and showed the five colours in turn (maksudnya warna berubah-ubah), now beaming, now lowering. It diminished in brightness little by little and finally disappeared about July of the following year (meredup dalam rentang 6 bulan di tahun berikutnya atau setelah nyaris 20 bulan; Qibin, 1988; Murdin & Murdin, 1985). Tanggal kejadian 7 Desember 185 dan dapat dilihat untuk kurun waktu kisaran 20 bulan hingga pertengahan tahun 187. Kesaksian peristiwa ini juga tertulis di era Romawi di mana catatan Herodias (250) adalah salah satunya, shone continuously by day.

Berdasarkan gambaran dari buku Tiongkok tersebut bahwa kecerlangannya mencapai magnitudo semu minus 8 (minus 7,0 ± 2 hingga minus 8 ± 2; berdasarkan beberapa literatur bahwa supernova paling terang dalam kurun 2 milenia adalah SN1006 dengan magnitudo minus 7,5, maka berdasarkan data analisis ini justru SN185 yang terlihat lebih cemerlang dengan kasat mata). Nam-men atau Southern Gate kini identik dengan bintang Alpha-Beta Centauri. Dari analisis lain sempat disebut beragam identifikasi semisal Alpha-Beta Orionis, Alpha Lyrae, Alpha Scorpii, Beta-Sigma Centauri, Alpha-Epsilon Centauri, Epsilon-Xi2 Centauri, Alpha-Xi2 Centauri, Bintang Tujuh/Biduk (sebagian dari Ursa Major). Di Indonesia, bintang Alpha-Beta Centauri terkait mitologi Lintang Wulanjar Ngirim dan Lintang Gubuk Penceng (Crux).

Sisa supernovanya (RCW86 atau G315.4-2.3, Cen XR-1) relatif mudah dideteksi dengan panjang gelombang radio dan sinar-X. Penelusuran ini dipertegas dengan pendeteksian secara cermat menggunakan wahana XMM-Newton Observatory (ESA) dan Chandra X-Ray Observatory (NASA)( Situs ESA: Space Science: New Evidence links stellar remains to oldest recorded Supernova). Dari data ESA/NASA 2014, lokasi benarnya di sekitar Alpha Centauri.
 SN369 Dalam penelitian masih terkendala karena identik dengan SN386 (lihat bawah)(Wikipedia: SN 386). Mekanisme ledakan ganda menjadi salah satu alternatif, karena dari lokasinya praktis sama penggambarannya dengan SN386.

 

Gambar 5 Supernova N49

Fenomena supernova yang terjadi di satelit galaksi kita, Awan Magelan Besar. Disebut N49 atau DEM L 90 yang diduga berawal dari bintang yang sangat masif (massa besar). Efek ledakannya di kemudian waktu menjadi pemicu memadatnya materi yang ada di sekitarnya dan melahirkan bintang-bintang generasi berikutnya. Dapat jadi Matahari dan keluarganya terbentuk dengan mekanisme yang sama. Pada pusat materi dijumpai adanya pulsar di mana selain putaran rotasinya luar biasa cepat (periode 8 detik), juga memiliki medan magnet yang sangat kuat (1.000 trilyun kali kuatnya medan magnet Bumi). Sifatnya yang demikian, pada akhirnya objek ini dikategorikan sebagai “magnetars”. Keunikan lainnya adalah sebagai pemancar sinar gamma (soft gamma-ray repeater) dan sinar X. Foto diambil oleh team the Hubble Heritage (Juli 2000) dengan Wide Field Planetary Camera 2. Struktur sebaran materinya masih dalam penelitian terkait karakter kerapatan materi disekitarnya. Credit: NASA and The Hubble Heritage Team (STScI/AURA). Acknowledgment: Y.-H. Chu (UIUC), S. Kulkarni (Caltech), and R. Rothschild (UCSD)

 

Kandidat Keterangan
SN386 Merupakan supernova tipe dua (SNII) dan pada lokasi ledakan kini dijumpai objek langit dengan identifikasi G11.2-0.3 yang diduga kuat adalah sebagai kandidat pulsar (65 ms X-Ray Pulsar yang memiliki pulsar wind nebula). Arahnya ke lokasi rasi bintang Sagittarius dengan jarak 16.000 tahun cahaya. Tercatat pada era dinasti Chin di Tiongkok (24 Maret – 22 April 369); a guest star seen in the Western Wall of the Purple Palace (dari catatan penelitian, berada di antara rasi bintang Draco – Ursa Major – Lynx, meredup dari tanggal 19 Oktober hingga 17 September 369). Namun, apakah SNR ini benar terkait dengan catatan kuno tentang kejadian tahun 369 atau 386 masih terkendala.
SN393 Posisi tepatnya masih dalam penelitian. Sisa supernovanya kini diduga kuat adalah RX J1713.7-3946 (ditemukan oleh Pfeffermann dan Aschenbach tahun 1996 berdasar data ROSAT All Sky Survey) atau identifikasi lainnya G347.611+0.204 berjarak 3.600 tahun cahaya arah rasi bitang atau konstelasi Wei (Tail of the Dragon, yang kini Scorpius) yang memancarkan radiasi sinar X rendah (soft X-rays). Tergolong supernova tipe II atau Ib atau Ic. Namun, masih ada kandidat lain sisa supernova yang ditemukan pada lokasi tersebut, yaitu G348.7+0.3, G348.5+0.1, dan G347.3-0.5. Dengan durasi penampakan selama kisaran 8 bulan, dipastikan bahwa apa yang dicatat adalah benar supernova, hanya saja sisanya yang masih menjadi bahan diskusi hingga kini (catatan tambahan: Wang, Qu, Chen: 1997; p.L59-61 dan 1998; p.262).
SN396 Masih diteliti, karena saat itu terlihat adanya komet di posisi yang sama, walau ditulis dalam manuscript bahwa sebelum terlihat komet  ada a big yellow star selama 50 hari yang 6 bulan kemudian bintang ini muncul kembali. Kemungkinan besar ini adalah nova (karena setelap meredup menghilang, kemudian cemerlang kembali), bahkan diperkirakan ledakan ini merupakan ledakan kedua seperti yang tercatat tahun 393.

Dalam catatannya, Ibn Al-Athir menjelaskan (Berdasarkan terjemahan teks asli berbahasa Arab dari Ridwan yang disertakan dalam apendiks Goldstein (1964)): Pada awal bulan Sya’ban, sebuah bintang besar seperti Venus terlihat di bagian kiri kiblat Irak (maksudnya arah kiblat bagi masyarakat di Irak). Sinarnya menerangi daratan seperti sinar Bulan dan bertahan sampai pertengahan bulan Dzulkaidah lalu menghilang (kisaran 3 bulan).

Atau pada catatan Ibn Al-Jawzi, pada apendiks Goldstein (1964): Pada tahun 396 terjadi peristiwa munculnya bintang yang besarnya seperti Venus dan sinarnya mengembang sangat terang di sebelah kiri kiblat. Sinarnya di permukaan Bumi seperti sinar Bulan. Dia tampak di Jum’at malam pada awal bulan Sya’ban dan bertahan sampai pertengahan bulan Dzulkaidah. Setelah itu menghilang.
 SN437 Kini dikenal juga dengan nama Geminga (dialek Milan – bahasa Lombard – Milan Itali) yang berarti nothing there. Identifikasi lainnya adalah PSR B0633+17 dan PSR J0633+1746. Jarak kisaran 815 tahun cahaya. Sejak dideteksi satelit SAS-2 (NASA) dilanjutkan COS-B (European Space Research Organitation), karakternya masih menjadi bahan pertanyaan selama kisaran 2 dekade. Baru saat satelit ROSAT (Maret 1991) berhasil mendeteksi adanya pancaran sinar-X (soft/weak x-ray emission), dapat disimpulkan bahwa benda ini adalah sebuah pulsar yang terbentuk dari supernova yang meledak kisaran 300.000 tahun yang lalu yang cahaya ledakannya sampai ke pengamat di Bumi pada tahun 437 (Murdin & Murdin, 1985, p.162-3 dan wikipedia: Geminga).
SN483? Belum ada konfirmasi untuk SNR
SN837a, b (827?) Hanya selang 1 bulan. Kemungkinannya adalah nova. Deskripsi lokasi memang tidak jelas karena memberi tafsiran tempat yang sangat luas, termasuk pada manuscript Tiongkok, masih dalam penelusuran karena pada kenyataannya di daerah rasi bintang yang di sebut (Dongjing, di bawah kaki si kembar Gemini) kini dijumpai sisa ledakan supernova dengan katalog SNR IC443 (atau G189.1+3) dan sementara itu di rasi bintang Duanmen (sebagian wilayah Virgo) diduga deskripsinya adalah nova. (Stephenson, Green; p.226-7)
SN900/902 Belum ada konfirmasi untuk SNR

 

Gambar 6 Supernova N63A

Sisa ledakan supernova dengan identifikasi N63A di Awan Magelan Besar berjarak 160.000 tahun cahaya. Ditaksir bintang awalnya bermassa 50 kali massa Matahari. Bubusan materi ledakannya menumbuk materi yang terbentuk sebelumnya. Struktur keseluruhannya laksana gelembung-gelembung yang terus membesar (biasanya pada bintang sangat masif, sebelum terjadinya ledakan, dalam evolusinya memiliki angin bintang yang masif juga). Makin jelas strukturnya dengan memakai observasi berbasis panjang gelombang inframerah dan radio (wilayah warna kehijauan). Daerah kuning adalah daerah padat sedemikian angin bintang atau pun ledakannya tidak menghancurkan gumpalan materi di sana (tampak pada citra Hubble berbasis optik/visual). Data diambil pada tahun 1997 dan 2000 dengan Hubble's Wide Field Planetary Camera 2. Adapun unsur yang tampak adalah sulfur (merah), oksigen (biru), dan hidrogen (hijau). Credit: NASA, ESA, HEIC, and The Hubble Heritage Team (STScI/AURA). Acknowledgment: Y.-H. Chu and R. M. Williams (UIUC).

 

Kandidat Keterangan
SN1006 Berdasarkan catatan Ali ibn Ridwan atau Abu’l hasan Ali ibn Ridwan Al-Misri – astrolog dan astronom muslim Persia dan Mesir (988-1061), tampak benda langit yang sangat terang setara kecerlangan Bulan kuartir atau Bulan separuh (30 April 1006; Murdin & Murdin, 1985). It was a large nayzak, round in shape and its size two and a half the size of Venus (Goldstein, 1964).

Berdasarkan terjemahan teks asli berbahasa Arab dari Ali ibn Ridwan yang disertakan dalam apendiks Goldstein (1964): Kejadian tersebut tampak di Zodiak Scorpius di seberang (maksudnya posisi oposisi) Matahari dan ketika Matahari pada derajat ke-15 rasi bintang Taurus, dan nayzak itu di derajat ke-15 rasi bintang Scorpius. Itu adalah nayzak yang besar, bentuknya bundar, setara dengan 2,5 atau 3 kali Venus. Cahayanya itu menerangi horizon dan sangat berkerlip. Kuantitas kecerlangannya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan seper-empat kecerlangan Bulan. Dan itu terus terlihat dan bergerak pada rasinya seiring gerak harian (artinya diam terhadap bintang-bintang, yang membedakannya dengan penampakan komet atau meteor) hingga Matahari mencapai rasi bintang Virgo dan menghilang tiba-tiba (artinya terlihat hingga nyaris 1 tahun).

Juga tercatat di Biara Abbey Saint Gall – kini Swiss, oleh biarawan Hepidannus. Dikisahkan benda ini meredup baru setelah lewat 3 bulan. Demikian pula ketika era dinasti Song di Tiongkok (dinasti Songshi / Sung Shih, tatkala raja Zhenzong, epoch Jingde), tertulis kejadian berawal dari tanggal 1 Mei 1006 di mana terang objeknya menyamai cahaya Bulan separuh dan meredup gradual. Diberitakan saat itu bahwa ini pertanda buruk yang membuat masyarakat Ibu Kota Tiongkok (Kaifeng / Kaifong) menjadi panik.  Ketika terlihat lagi bulan Desember, direktur dari Biro Astronomi kerajaan, Zhou Keming (Chou K’o-ming, juga seorang astrolog) justru mengatakan pertanda kemakmuran yang membuatnya diberi jabatan sebagai kepala pustakawan istana dan pengawal putra mahkota.

Sementara itu, pada manuscript di Jepang dijumpai catatan bahwa pada hari kedua, bulan ke empat dari periode kekuasaan Kwanko (1 Mei 1006) “a guest star” tampak di selatan Chhi-Kuan (bagian dari rasi bintang Lupus, dekat bintang Beta Lupi atau Sung Shih) secemerlang planet Mars sepanjang malam. Berdasarkan penelitian kilas balik dari posisi planet Mars bahwa planet ini – di rasi bintang Scorpius – memang kala itu dekat dengan posisi supernova tersebut. Jadi dimaklumi apabila kecerlangan planet Mars dijadikan pembanding untuk mendeskripsikan terangnya supernova yang berwarna biru-putih (Ichidaiyoki). Adapun uniknya di Korea, penampakan ini dikatakan sebagai penampakan komet (hui). Namun, terlepas dari kisah ini, bahwa penamaan bintang dan rasi bintang di Jepang dan Korea kala itu mengadaptasi budaya Tiongkok (Goldstein, p.109).

Dengan perbandingan lokasi dengan yang tercatat termasuk penggambarannya di Jepang, maka lokasinya di perbatasan antara rasi Lupus dengan Centaurus. Hanya saja tentang warna, di Tiongkok dikatakan kuning (konon sangat terkait kekuasaan politik saat itu di sana), sementara di Jepang dikatakan berwarna biru-putih seperti gambaran Ridwan dari Mesir. Apabila kal itu dekat Matahari lalu dapat terlihat lagi, maka berdasarkan kecerlangannya diperkirakan rentang waktu dapat terlihatnya minimal hingga 2 tahun. Pencatatan ini juga dijumpai di Itali, Perancis, Syria, Irak, hingga Amerika bagian utara.

Berdasarkan data kini (Situs National Optical Astronomy Observatory –Press release, no. NOAO 03-04 – March 5, 2003), Frank Winkler dan teamnya di Cerro Tololo Inter-American Observatory di Chile yang melibatkan Middlebury College dan Space Telescope Science Institute (yang menangani teleskop Hubble) yang berasosiasi dengan Association of Universities for Research in Astronomy (AURA) dan the National Science Foundation bahwa lokasi supernova sekitar 7.100 tahun cahaya pada arah rasi bintang Lupus, dengan tipe SNIa. Perkiraan kecerlangannya hingga m = minus 7,5 (10 kali kecerlangan Venus) dan merupakan supernova paling terang yang dapat diamati dari Bumi secara kasat mata dalam kurun 2 milenia terakhir (walau dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa SN185 lebih terang sedikitnya ½ magnitudo; Marschall, 1988). Dari data yang didapat, maka kecerlangan sejati cahaya ledakannya setara dengan 5 milyard kali terangnya Matahari.

Berdasarkan penelusuran catatan yang ditulis Ali ibn Ridwan,  Walter Baade (1957, teleskop di California), dan Frank Gardner dan Doug Milne (1965, dengan teleskop radio di Parkes Australia), akhirnya Sidney van den Bergh (2005, dengan teleskop di Cerro Tololo – Chile) menemukan sebuah sumber pemancar radio di lokasi terkait yang lalu dinamakan PKS 1459-41. Berdasarkan penelitian bahwa usia sumber kisaran 1000 tahun. Jadi, ini bersesuaian dengan catatan penampakan ledakan pertama tahun 1006. Penemuan ini dipertegas lagi dengan deteksi sinar-X menggunakan wahana antariksa Einstein.

Keunikan lain, supernova ini kembali tercatat di Tiongkok sebagai Zhoubo Star pada tahun 1016. Mekanisme ledakan kedua pada supernova dikonfirmasi berdasarkan penelitian Jianmin tahun 1965. Namun demikian, apakah benar catatan ledakan tahun 1016 tersebut? Masih belum ada konfirmasi dan kesimpulan pasti.

 

Gambar 7 Supernova N63A Berbasis Ragam Panjang Gelombang
Gabungan citra berbasis visual (hijau), sinar-X (biru), dan radio (merah). Temperatur materi pada daerah biru kisaran 10 juta 0C sebagai dampak adanya gelombang kejut yang dihasilkan akibat terjadi ledakan. Credit: X-ray: NASA/CXC/Rutgers/J.Warren et al.; Optical: NASA/STScI/U. Ill/Y.Chu; Radio: ATCA/U. Ill/J.Dickel et al.

 

Kandidat Keterangan
SN1054 Kehadiran supernova ini tercatat di Tiongkok pada peta langit yang diukir di lempeng batuan (suzhou star map). Berdasarkan manuscript, terlihat pertama kali pada pagi hari tanggal 4 Juli 1054 (sebelum terbit Matahari). In the first year of the period Chih-ho, the fifth moon, the day chi-ch’ou, a guest star appeared approximately several inches southeast of Thien-kuan. After more than a year it gradually became invicible (Murdin & Murdin, 1985. p.4). Pada manuscript lainnya (Qibin, 1988): A guest star appeared at several inches to the southeast of the Tianguan. After more than a year it gradually faded away (4 Juli 1054). A guest star appeared at the Mao (7 Juli 1054). Yang Weide (Yang Wei-te), the Royal Astronomer (the Director of the Astronomical Bureau) said: I saw a guest star appeared which was yellow with some colour (27 Agustus). The Royal astronomer said: the guest star disappeared (19 Maret + 17 April 1056). Dengan kesaksian beragam manuscript (Buku Rekaman Kejadian Tiongkok era Dinasti Sung, Sung Shih), rentang penampakan di langit malam tidak kurang dari 653 hari (tentu secara kasat mata)(Brandt, Williamson, 1979; p.S1).

Dengan penafsiran kecerlangan yang digambarkan oleh Sung-Hui Yao (like as Venus – in daylight with reddish-white rays shining around. It lasted for 23 days), maka ditaksir magnitudo semu minimalnya minus 4 atau kisaran 4 kali lebih terang dibanding bintang paling terang pada malam hari, yaitu Sirius. Pada puncaknya ditaksir minus 6 atau sekitar 4 kali lebih terang dibanding Venus (Darling, 2004 dan Brandt, Williamson, 1979; p.S1).

Mao tidak lain adalah Pleiades, sekaligus unik karena posisi Mao cukup jauh dari posisi yang umum ditunjuk, yaitu dekat ujung tanduk Taurus, sementara Pleiades ada di punggung Taurus. Inipun dapat diperkirakan berdasarkan kesaksian dari masyarakat Jepang (manuscript atau teks Mei Getsuki dan Ichidai),  “.. in the orbit of Orion .. as bright as the planet Jupiter,“(Juni 1054) atau “It shones like a comet (sebut cemerlang seperti komet tanpa ekor) in T’ien Kuan (bintang Zeta Tauri) and was as large as Jupiter.” Adapun penyetaraan dengan Jupiter menjadi agak berbeda, tidak seperti Venus (Brandt, Williamson, 1979). Hal ini kemungkinan besar bahwa kecerlangan ledakan belum mencapai puncaknya (Juli) seperti pada kesaksian lainnya; seperti pada petroglif yang dijumpai di daerah Navaho Canyon dan White Mesa (Arizona) dan Chaco Canyon National Park (New Mexico).

Kini taksiran jaraknya sekitar 6.100 – 6.500 tahun cahaya dan sisa ledakannya kini dikenal sebagai Crab Nebula yang oleh Messier dikatalognya diberi indeks M1. Diameter sebaran materinya kini kisaran 10 tahun cahaya dengan kecepatan pengembangan materi masih cukup tinggi, 1.800 km/s (atau 2 detik busur per tahun apabila diamati pada kubah langit dari Bumi). Keunikan yang dijumpai bahwa kecepatan pengembangannya kini diketahui cenderung dipercepat, dan ini berarti ada mekanisme tertentu yang membuatnya seperti yang teramati sekarang. Hal ini terjawab ketika ditemukan pulsar di pusat ledakan tanggal 9 November 1968 oleh (Susan) Jocelyn Bell (Burnell) dari Observatorium Arecibo.
SN1069 Belum ada konfirmasi untuk SNR
SN1087 Belum ada konfirmasi untuk SNR
SN1181 Supernova ini banyak dicatat di Tiongkok. Tampak di langit kisaran 6 bulan; “A guest star appeared at the Kui mansion, trespassed against the Cuanshe and disappeared on the Guiyou day of the first month of the following year. It lasted for 185 days” (6 Agustus 1181, dinasti Song, raja Xiaozong). Catatan juga ditemukan di Jepang yang mencatat peristiwanya tanggal 7 Agustus 1181 “a sign of abnormality ..”. Lokasinya di arah rasi bintang Cassiopeia. Sisa supernovanya kini diidentifikasi sebagai 3C58 (kode untuk pulsar, sumber radio nomor 58 dalam katalog ke 3 Cambridge) berjarak sekitar 25.000 tahun cahaya. Dalam penelitian tetap menjadi misteri karena berdasarkan penelusuran dengan panjang gelombang visual ternyata di lokasi tersebut tidak dijumpai apapun “no optical remnant visible”.
SN1203? Terdata pada era dinasti Song (Kaisar Ningzong) tanggal 28 Juli (Qibin, 1988) di arah rasi bintang Wei (bagian dari rasi bintang Scorpius). Digambarkan sebesar planet Saturnus dengan warna biru-putih.
SN1244? Terdata pada era dinasti Song (Kaisar Lizhong) tanggal 14 Mei (Qibin, 1988) di arah rasi Wei (bagian dari rasi bintang Scorpius, ada yang menyatakan di arah rasi bintang Aquilla). Digambarkan sebesar planet Venus, maka berarti supernova cukup cemerlang.
SN1248? Terdata pada era dinasti Song (Kaisar Lizhong), namun tidak ada catatan kapan waktunya secara rinci (Qibin, 1988) di arah rasi bintang Hegu (bagian dari rasi bintang Aquarius, dekat bintang paling terang). Digambarkan sebesar planet Venus, maka artinya cukup cemerlang.
SN1408? Ada 3 catatan tentang hadirnya bintang tamu, yaitu tanggal 14 Juli, 10 September, dan 24 Oktober. Yang pertama dari manuscript Jepang (Noritoki Kyo) yang sayangnya rentang waktu penampakannya dan lokasi di kubah langitnya tidak disebutkan. Yang kedua, manuscript Tiongkok (Sichuan Tongzhi) dan dinyatakan bintangnya memang cemerlang biru sebesar cangkir (zhan), namun dinyatakan pula memiliki semacam jejak cahaya dan penampakan singkat dan ini lebih mirip dengan karakter meteor. Kandidat ketiga, pada era Yunglo di Tiongkok (Kaisar Taizong): “At night in the zenith at the south-east of Niandao …” digambarkan bintangnya sebesar cangkir berwarna kuning dan tidak bergeser relatif terhadap latar belakang bintang lainnya, disebutnya Zhoubo (Earl of Zhou; bintang kemilau/suci)(Stephenson, Green p.222-3)
SN1572 Pada leaflet Mount Wilson Observatory karya Hubble berjudul Novae or Temporary Star (1928; p.56) dinyatakan “bright novae or temporary stars occur …, but it was not until 1572 that … famous nova in Cassiopeia which rivalled Venus .. easily be seen in broad daylight. But brilliant novae are rare.” Jadi kala itu, masih dianggap sebagai nova. Kini diketahui bahwa objek ini adalah supernova, dan dikenal sebagai Supernova Tycho. Memang, saat Tycho Brahe (1546-1601, Denmark) menyaksikannya pada bulan November 1572, masih dia golongkan sebagai nova (julukannya Tycho’s Star). Tampak kasat mata hingga 16 – 18 bulan lamanya dengan warna jingganya dan puncak kecerlangan seperti Venus bahkan beberapa saat bahkan tampak pada siang hari (Pasachoff, p.29 dan Walker, p.206, 339). Kini diketahui jaraknya kisaran 7 – 8 ribu tahun cahaya dan sebagai sumber pemancar berpanjang gelombang radio dengan indeks 3C 10, dan pemancar sinar-X (weak X-ray) dengan indeks 2U 0022+63 (Darling, p.499)
SN1604 Supernova ini diidentifikasi juga sebagai Kepler’s Star, Kepler’s Supernova, atau SN Oph 1604 karena ditemukan sebagai “a new star” oleh Johannes Kepler (1571-1630) di arah rasi bintang Ophiuchus pada bulan Oktober 1604 (Pasachoff, p.33). Kala itu memiliki kecerlangan semu minus 2,2, bersaing dengan kecerlangan Venus atau Jupiter. Penelitiannya dituangkan pada bukunya, De Stella Nova tahun 1606. Kini diketahui sebagai supernova tipe Ia atau SNIa (Darling, p.274). Setelah era ini, maka terjadinya ledakan bintang yang kasat mata baru terjadi lagi pada tahun 1987 dan ini pun terjadi di satelit galaksi kita, yaitu di Awan Magelan Besar, di arah Nebula Tarantula (Karttunen, p.288-9). SN1987A tergolong SNII yang merombak pandangan para ahli tentang evolusi bintang tahap akhir. Teramati kasat mata tanggal 23 Februari dan istimewanya karena tidak berada di galaksi kita. Akankah terbentuk pulsar?

 

Tabel 2
Kronologis Penelitian Supernova

Tahun Penemuan Penelitian
1006 SN1006 Lup
1054 SN1054 Tau
1920 Kepastian Nebula Kepiting ≡ sisa SN1054
1930 Model bintang dengan elektron terdegenerasi (Chandrasekhar)
1932

Penemuan partikel neutron (Chadwick),

Bintang dengan pusat neutron (Landau)

1933 Definisi supernova (Baade, Zwicky)
1936 Di NGC3184 dijumpai 3 supernova
1939

Emisi partikel neutrino sebagai tanda awal keruntuhan pusat bintang (Gamov, Schoenberg),

Supernova sebagai Standard Candle atau indikator penentu jarak (Wilson),

Pembedaan klasifikasi tipe supernova menjadi tipe I (SNI) dan tipe II (SNII) (Minkowski),

Paper pertama tentang SN berbasis pengetahuan “modern” (Bertaud, Hubble, Zwicky)

1942 Teori proses SN (Gamow, McVittie, Schatzman)
1950

Peluruhan nuklir/inti atom penyebab SNI (termonuklir) (Borst),

Sisa supernova (SNR/Supernova Remnant) merupakan sumber pemancar radio (Hanburry, Brown, Hazard)

1954

Proses fisi/penggabungan spontan partikel Cf254 penyebab SN (Baade, Burbidge, Fowler, Hoyle, Christy),

SN merupakan sumber sinar kosmik (Hayashi, Gordon, Shklovskii)

1957 Nukleosintesis (reaksi inti) dalam SN, dan fotodisintegrasi partikel besi (Fe) sebagai pemicu keruntuhan pusat bintang (Burbidge, Burbidge, Fowler, Hoyle, Cameron)
1960

Termonuklir penyebab SNI (Hoyle, Fowler),

Telaah sinar kosmik melalui mekanisme shock wave atau gelombang kejut (Colgate, Johnson)

1961 Permodelan SN (Chiu, Colgate, Gordon, Shklovskii)
1965 Pendefinisian tipe SNII, SNIII, SNIV, SNV (Zwicky)
1966 Model penimbunan energi pada proses neutronisasi (Colgate, White)
1979 Pendefinisian tipe SNIIL dan SNIIP (Barbon, Ciatti, Rosino)
1987 SN1987A di Awan Magellan Besar memunculkan revolusi teori bahwa SNII dapat terjadi pada bintang maharaksasa biru. Sebelum kejadian ini bahwa sebagai standard adalah berbasis bintang berusia tua maharaksasa merah. Setelah era ini maka penelitian supernova semakin beragam. Termasuk penemuan supernova di galaksi luar setelah era kemajuan alat deteksi dengan rentang panjang gelombang yang beraneka, termasuk SN1993J yang berupa maharaksasa jingga.

 

Apabila kita bayangkan bahwa sebuah bintang maharaksasa dengan massa yang sedemikian besar, maka akan dimaklumi andai kita semua berpikir akan ke mana massa yang terhambur tersebut? Yang terpikir bahwa materinya akan berhamburan ke segala arah. Namun, apakah semuanya akan hancur lebur. Nyatanya, tidak semua ledakan bintang menghabiskan materinya. Jadi, selain ada hamburan materi ke segala penjuru akibat supernova (atau kini dikenal juga objek hipernova), maka ada pula sebagian dari obyek ini yang justru pada inti bintangnya memadat atau sebut saja sebagai sisa materi ledakan yang kemudian membentuk objek langit yang disebut bintang neutron.

Keberadaan bintang seperti yang telah dibahas pada awal artikel inilah yang telah diramalkan secara matematis oleh Baade dan Zwicky tahun 1933-4. Apabila tinggalan ledakan berupa bintang neutron ini ternyata melakukan gerak rotasi yang teramat cepat, maka akan dapat melontarkan pancaran energi dalam ujud sinyal radio. Dari mekanisme ini, maka lahirlah benda langit yang kemudian disebut pulsar (pulsating radio source). Baik keberadaan bintang neutron maupun pulsar, baru terbukti pada tahun 1967 (kisaran 3 dekade setelah teorinya dipublikasikan) oleh Hewish dan Bell, yaitu pulsar di pusat ledakan supernova di rasi bintang Taurus yang terlihat tahun 1054. Materi sebaran sisa ledakan supernova ini dikenal dengan Kabut Kepiting (Crab Nebula), yang disaksikan oleh banyak budaya di dunia. Selain pulsar radio, dikenal pula pulsar sinar X yang ditemukan pada sistem bintang ganda dan baru ditemukan pada tahun 1974 oleh Taylor dan Hulse yang sekaligus memperkokoh keabsahan teori Einstein.

 

Klasifikasi Supernova

Supernova ada beberapa jenis, kali ini dibahas sekedar garis besar awal sejarah klasifikasinya. Berdasarkan ada tidaknya unsur hidrogen (H) pada spektrum dan bentuk kurva cahayanya, supernova dibedakan antara satu dengan lainnya. Secara klasik ada 2 tipe yaitu tipe satu (SNI) dan tipe dua (SNII). Dalam klasifikasi ini secara sederhana bahwa SNI tidak terdapat unsur H dan bintang sumbernya adalah bintang populasi II (usia lanjut), sementara SNII terdapat unsur H dengan bintang sumber adalah bintang populasi I (muda).

Tentu saja dalam hal klasifikasi di mana pemahaman terhadap proses evolusi bintang semakin mapan, maka proses peng-klasifikasi-an pun semakin beragam. Keberadaan SNI yang banyak dijumpai di galaksi bentuk ellips sekaligus menunjukkan bahwa massa bintang sumbernya kecil. Sebaliknya untuk SNII memiliki massa bintang sumber yang besar (masif). Dalam hal mekanismenya juga ternyata berbeda. Tentu ini terkait dengan jejak evolusi yang berbeda antara bintang bermassa kecil dengan yang masif. Pada SNI ditekankan pada proses termonuklir dan kerap dijumpai pada kasus evolusi bintang ganda. Sementara pada SNII lebih pada mekanisme timbulnya gelombang kejut akibat proses keruntuhan pusat bintang (gravitational core collapse)(Sawitar, 1991)

SNI yang terjadi pada bintang tunggal dipicu dengan proses deflagrasi unsur carbon (C). Energi ledak yang timbul berkecenderungan layaknya proses konveksi (subsonik). Apabila massa pusat bintang mencapai suatu batas harga tertentu, maka akan menimbulkan ledakan yang menghancurkan bintang (SNI) atau sebatas membubuskan semua selubungnya membentuk bintang katai putih (White Dwarf). Terjadinya ledakan sebenarnya karena adanya lompatan kerapatan massa yang besar antara pusat (sangat padat) dan selubung bintang (sangat renggang). Yang unik, proses deflagrasi C dapat melahirkan beragam unsur seperti oksigen (O), neon (Ne), magnesium (Mg), S, Si, Ca, dan Ni. Pada saatnya akan terjadi peluruhan dari Ni membentuk Co, kemudian terbentuk unsur Fe. Inilah yang tampil sebagai karakteristik dalam kurva cahaya SNI.

 

Gambar 8 Grafik Kecerlangan Beragam Tipe Supernova
(https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Comparative_supernova_type_light_curves.png)

 

Apabila terjadi seperti yang banyak dijumpai, maka umumnya SNI terbentuk dari sistem bintang ganda dan prosesnya lebih karena adanya proses termonuklir (detonasi). Ada beberapa skenario untuk SNI. Pertama terjadi pada sistem bintang ganda dekat melalui proses akresi (perpindahan massa) di mana salah satu bintangnya adalah bintang katai putih tipe C/O. Akibat tambahan massa dari bintang pasangannya, maka kerapatan dan temperatur di pusat bintang C/O membesar. Hal ini sebenarnya akan memicu keruntuhan pusat bintang karena tekanan di pusat mendadak mengecil (terpakai untuk reaksi nuklir) yang membuatnya mendekati batasan massa yang disebut Limit (Massa) Chandrasekhar, yaitu kisaran 1,44 kali massa Matahari. Namun demikian, sebelum batas massa ini tercapai akan terjadi reaksi nuklir susulan (pembakaran C) sedemikian ketika mencapai kondisi mendekati limit tersebut, bintang pun dapat meledak sebagai SNI.

Skenario kedua adalah “tabrakan” antara dua bintang katai putih, dan yang ketiga adalah terjadinya proses akresi (perpindahan massa dari pasangannya) yang menyebabkan terjadinya ledakan namun tidak dari pusat bintang melainkan di batas antara pusat dengan selubung. Memang kesemuanya menghancurkan bintang dengan keseragaman sifat. Hingga kini masih terkendala, mengapa ada keseragaman tersebut. Namun demikian, dengan sifat SNI serba sama di mana pun dijumpai akhirnya membuatnya dijadikan lilin penentu jarak (standard candle atau lilin kosmik), khususnya dalam memahami struktur Jagar Raya secara makro (bidang telaah Astronomi – Kosmologi). Ibarat lampu 100 watt diletakkan di beragam jarak. Lampu tetap 100 watt, namun kita sebagai pengamat akan melihat perbedaan intensitas yang tampak, terang atau redup. Keseragaman ini juga terjadi pada bintang variabel Cepheid walau secara rata-rata lebih redup dibanding SNI. Sangat berguna untuk memperkirakan jarak antar galaksi, dinamika alam semesta hingga penelusuran usia dan besarnya alam raya (Sutantyo, 1984).

 

Crab Nebula (Nebula Kepiting)

Kembali kita tengok tinggalan supernova yang secara sejarah banyak menjadi perhatian masyarkat beragam budaya di dunia, yaitu sisa supernova SN1054. Sejak pertama kali digunakannya teleskop Astronomi oleh Galileo Galilei tahun 1609, maka banyak yang mulai patroli langit termasuk pemetaan bintang maupun pencarian benda langit yang unik seperti komet ataupun yang sebelumnya tidak diketahui.

Salah satunya pada tahun 1731 oleh astronom amatir dari Inggris, yaitu John Bevis (1695 – 1771) yang juga tertarik mencari sisa ledakan supernova setelah mengetahui catatan demi catatan khususnya setelah kejadian supernova tahun 1572 (Tycho) dan 1604 (Kepler). Penemuan kembali sisa ledakan SN1054 ini merupakan yang pertama sejak dipakainya teleskop. Hasil ilustrasi peta langitnya dituangkan dalam sebuah jurnal atau buku berjudul Uranographia Britannica. Salah satu dari 16 nebula yang berhasil diketahuinya berada pada posisi yang dulu tercatat sebagai posisi supernova tahun 1054. Inilah catatan awal perburuan terhadap sisa supernova pada era “modern”.

Ketika demam pencarian penampakan komet Halley (diprediksi secara matematis oleh Edmund Halley, dan sebagai penghormatan kepada jasanya disebutlah kemudian sebagai komet Halley), maka Charles Joseph Messier (1730-1817, dari Perancis yang terkenal dengan katalog Messier-nya yang terdiri dari 110 objek temuannya) sempat melaporkan temuannya bahwa dia telah berhasil menemukan komet tersebut pada tahun 1758 dan pada posisi di rasi bintang Taurus. Rupanya yang ditemukan sejatinya adalah materi sisa ledakan SN1054 (objek ini dikatalogkan sebagai M1). Adapun komet Halley sendiri pertama kali berhasil diamati secara kasat mata oleh seorang petani Perancis yang juga astronom amatir, Palitzch, tatkala memandang langit saat malam Natal tahun 1758, empat bulan setelah penemuan Messier. Sementara itu, saat menyadari kesalahan penemuannya, baru komet tersebut dicari lagi dan baru berhasil pada tanggal 12 Januari 1759 (Shapiro, Teukolsky; p.23-24, Darling; p.330, dan Sawitar; 1995).

 

Gambar 9 Komposisi Pulsar di Nebula Kepiting

Foto ini merupakan gabungan antara bidikan dengan menggunakan panjang gelombang sinar-X (biru, Chandra X-Ray Observatory) dan optic/visual (merah, Hubble Space Telescope). Credits for X-ray Image: NASA/CXC/ASU/J. Hester et al. Credits for Optical Image: NASA/HST/ASU/J. Hester et al.

 

Giliran tahun 1844, Third Earl of William Parson Rosse (1800-1867) dari Irlandia mengamati dan membuat ilustrasi bentuk sisa materi ledakan tersebut (nebula) yang menyerupai buah nanas dengan teleskop reflektornya yang panjangnya 17 meter dengan diameter 1,8 meter pada observatoriumnya sendiri yang dibuat tahun 1845. Diulangi tahun 1848, yang dia sendiri menganggap bentuknya seperti kepiting. Bentuk kepiting inilah yang hingga kini menjadi sebutannya, Crab Nebula atau Nebula Kepiting (Shapiro, Teukolsky; p.24-25 dan Darling; p. 427-8). Adapun foto pertama Nebula Kepiting dilakukan oleh Vesto Slipher tahun 1892, termasuk penelitian karakter spektrumnya (salah satunya adalah bahwa nebula tersebut masih terus mengembang membesar dengan kecepatan 1800 – 2000 km per detik).

 

Alternatif Evolusi Tahap Akhir Supernova.

Selain tersisa bintang neutron dan pulsar, ternyata berdasarkan teori bahwa ledakan supernova pun dapat melahirkan objek langit lain yang disebut Lubang Hitam (Black Hole). Dengan suatu mekanisme tertentu membuat bagian inti bintang mengerut sangat cepat sedemikian menjadi sangat mampat. Hal ini menyebabkan gravitasinya sedemikian kuat, bahkan cahaya sekalipun tidak bisa lepas darinya.

Apabila kita dapat melompat di permukaan Bumi dengan kecepatan 11,2 km/detik, maka kita akan terlepas dari pengaruh gaya gravitasi Bumi dan akan melayang entah ke mana. Dalam kasus Lubang Hitam, walaupun cahaya kecepatannya 300.000 km/detik, maka cahaya tetap akan kembali ke permukaan Lubang Hitam. Ibarat kita melompat dengan kecepatan kurang dari 11,2 km/detik, maka kita akan jatuh ke permukaan Bumi lagi. Kemampatan Lubang Hitam dapat kita andaikan apabila Matahari kita ciutkan sedemikian radiusnya hanya tinggal 3 km saja tanpa mengurangi massa dan energinya.

Bila benda ini merupakan anggota bintang ganda, maka keberadaannya relatif mudah dideteksi dari pancaran radiasi, khususnya radiasi sinar X yang sangat kuat akibat interaksi antar keduanya.

Pada saatnya, apabila objek langit di atas sudah benar-benar kehabisan bahan bakar nuklirnya, maka mereduplah bintang tersebut, mendingin, akhirnya melahirkan objek langit disebut bintang katai hitam atau katai gelap. Dapat dikategorikan sebagai salah satu kandidat Materi Gelap (Dark Matter).

Pada kasus SN1054 telah diketahui bahwa dipusatnya ditemukan pulsar, yaitu Crab Pulsar atau identifikasinya PSR 0531+21 atau NP0532 (lihat tabel di atas, sebagai bintang variabel, identifikasinya CM Tauri). Termasuk pulsar milidetik (periode putaran rotasinya 33,085 milidetik atau dalam rentang waktu 1 detik, bintang neutron-nya berotasi sebanyak 33 kali). Hasil ini diperoleh astronom dari Observatorium Arecibo dan Observatorium Steward (Darling; p.128).

 

Sebuah Pertimbangan

Dalam menyelisik tinggalan seperti yang telah diuraikan di atas tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar, terlebih menyangkut ragam tinggalan budaya yang tidak dapat lagi bercerita kepada kita, kecuali ragam simbol yang tertuang didalamnya dan ragam penafsiran pada era ke-kini-an. Semoga tulisan ini, walaupun teramat singkat dan sangat dangkal, masih dapat bermanfaat, minimal menambah wawasan ke-astronomi-an kendati hanya se-zarah sekalipun. Dalam kesempatan lain, penulis masih menimbang dan berkeinginan untuk mencoba berkisah lebih dalam, khususnya mengenai klasifikasi supernova berbasis mekanisme ledakannya atau hal lain yang menyangkut fenomena ledakan bintang yang sangat unik ini. Satu pemikiran, bahwa fenomena alam ini terjadi di pelosok alam semesta. Semakin maju peranti observasi, semakin banyak temuan baru.

Tentu mereka, para supernova ini, bukan sekedar penghias langit semata dalam konteks ciptaan-Nya. Seolah mereka sekedar gejolak sesaat dari suatu rantai evolusi alami yang seolah tiada berujung. Apakah ini tidak memiliki arti bagi kita dalam alam semesta yang terasa sedemikian luas, gelap, dingin, atau entah apapun pandangan kita ketika kita berusaha menyelisik lebih masuk ke dalam kekedalaman jagad semesta ini? Proses dalam konteks fenomena supernova itu sendiri seolah tidak peduli pada kondisinya; tampak sekedar tampilan fenomena yang bersifat mekanistik semata, meledak kemudian ya sudah. Tokh terjadi kapan pun dan di mana saja secara “seolah tidak berpola sama sekali; seolah suka-suka”. Pada akhirnya, harus diakui bahwa selebihnya, terserah pada kita, bagaimana kita manfaatkan Astronomi atau sains secara umum khususnya dalam fenomena seperti ini sebagai basis, baik berlandas ranah ujud ataupun dataran spirit dan kita coba aktifkan fungsi transendental kita untuk memahami karya-Nya, yang salah satunya adalah supernova. Salam Astronomi. – WS–


Ucapan Terima Kasih
Kepada Sdri. Mila Izzatul I. dan Sdr. M. Rayhan yang telah menerjemahkan teks berbahasa Arab dari Ali ibn Ridwan, Ibn Al-Athir, dan Ibn Al-Jawzi dalam Goldstein (1964).

 

Daftar Pustaka
Brandt, J. C. and R. A. Williamson, 1979, The 1054 Supernova and Native American Rock Art, JHA – Archaeoastronomy No. 1, p.S1-3
Darling, D., 2004, The Universal Book of Astronomy, John Wiley & Son, New Jersey, p.51, 128, 330, 427-8, 534
Goldstein, B. R., 1964, Evidence for a Supernova of A.D. 1006, the AJ 70:1; p.107-9
Hamacher, D. W., 2014, Are Supernovae Recorded in indigenous Astronomical Traditions? The JAHH 17(2), p 161-170
Hubble, E., 1928, Novae or Temporary Stars, Leaflet – Mount Wilson Observatory, p.56
Karttunen, H. (eds.), 2007, Fundamental Astronomy – 5th edition, Springer, Berlin, p.80, 198, 250-260, 279, 288, 283-305, 329, 331-6, 364, 378, 385, 394, 403, 406, 417,
Kasen, D. and S. E. Woosley, 2009, Type II Supernovae: Model Light Curves and Standard Candle Relationships, Astrophysical Journal 703:2, p.2205-2216
Murdin, P. dan L. Murdin, 1985, Supernovae, Cambridge Univ. Press, Cambridge, p.4-5, 14-16, 18, 48, 162-3
Marschall, L. A., 1988, The Supernova Story, Princenton Univ. Press, New Jersey, p.41-67
Nicholson, I., 1967, Mexican and Central American Mythology, Hamlyn, London
Osterbrock, D. E, 2001, Who Really Coined the Word Supernova? Who First Predicted Neutron Stars? The American Astronomical Society, Vol. 33, p.1330 (2001AAS...199.1501O)
Pasachoff, J. M., 1980, Astronomy: From the Earth to the Universe, Saunders Co., Philadelphia, p.351-367
Pedersen, O., 1993, Early Physics and Astronomy: A Historical Introduction, Cambridge University Press, Cambridge, p.11, 40
Qibin, L., 1988, A Recent Study on the Historical Novae and Supernovae, in G. Borner (ed.), Proceedings of High Energy Astrophysics: Supernovae, Remnants, Active Galaxies, Cosmology, Springer-Verlag, Berlin, p.2-25
Sawitar, W., 1991, Beberapa Aspek dalam Mekanisme Ledakan Supernova Tipe II, Tugas Akhir S1.
Sawitar, W., 1995, Supernova, dalam Majalah Angkasa, No.1 – Oktober 1995, Dinas Penerangan TNI-AU, Jakarta, p.76-80
Sawitar, W., 2001, Sekilas Mengenal Lubang Hitam, Makalah – Seminar dan Talk Show di ITB yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Astronomi ITB dalam rangka World Space Week dan 50 Tahun Pendidikan Astronomi di Indonesia (11/10/2001)
Sawitar, W., 2014, Menjelajahi Jagad Raya, Bahan Ajar Penyuluhan Astronomi Tingkat SMP/SMA di Jakarta, Planetarium Jakarta
Sawitar, W., 2015, Astronomi dalam Cerita Rakyat Nusantara, Makalah pada Seminar Astronomi dalam Budaya Nusantara (SINDARA) di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (30/05/2015) (bahasan Supernova)
Shapiro, S. L. and S. A. Teukolsky (eds.), 1986, Highlights of Modern Astrophysics: Concepts and Controversies, John Wiley & Sons, New York, p.22-6
da Silva, L. A. L., 1993, The Classification of Supernovae, Astrophysics and Space Science 202, p.215-236
Stephenson, F. R. and D. A. Green, 2003, Was the Supernova of AD1054 Reported in European History? Journal of Astronomical History and Heritage 6(1), p.46-52
Stephenson, F. R. and D. A. Green, 2005, A Reappraisal of Some Proposed Historical Supernovae, JHA 36, p.217-229
Sutantyo, W., 1984, Astrofisika: Mengenal Bintang, Penerbit ITB, Bandung,
Turatto, M., S. Benetti, and E. Cappellaro, 2003, Variety in Supernovae, Proceedings of the ESO/MPA/MPE Workshop – Garching, Germany: ESO Astrophysics Symposia “From Twilight to Highlight – The Physics of Supernovae,” edited by W. Hillebrandt and B. Leibundgut, Springer-Verlag, p. 200-9
Walker, C., 1996, Astronomy: Before the Telescope, British Museum Press, London, p.206, 339
Wang, Z. R., Q. Y. Qu, and Y. Chen, 1997, Is RX J1713.7-3946 the Remnant of the AD393 guest star? Astronomy and Astrophysics 318, p.L59-L61
Wang, Z. R., Q. Y. Qu, and Y. Chen, 1998, The AD393 Guest Star and the SNR RX J1713.7-3946, in K. Koyama et al (eds.), The Hot Universe, IAU, p.262
Zhao, F. Y., R. G. Strom, and S. Y. Jiang, 2006, Chinese Journal of Astronomy and Astrophysics, Vol. 6,  No. 5, p.635-640


Situs: