Written by Widya Sawitar
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
SEJARAH PENEMUAN DAN KEDEKATANNYA DENGAN KITA

Collision of a big asteroid or comet could be fatal,
the immediate devastation caused by the explosion
being only one of the consequences.
The collision would eject a lot of dust to the atmosphere
cooling the climate for several years.
The mass extinction 65 million years ago
seems to have been caused by such an event.
As the comet Shoemaker-Levy hitting Jupiter in 1994 showed,
such collisions are still possible.
(Karttunen, H. (eds), 2007, p.418)

Written by Widya Sawitar
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

The investigation of the surface properties of the minor bodies in the outer Solar System
constitutes a major topic in modern planetary science,
since they represent the “vestiges” of the leftover planetesimals
from the early accretional phases of the outer proto-planetary disk.
(Perna, D. et al, 2010, A&A 510, A53, p.1(7))

 

Selama ini, banyak yang telah mengetahui kehadiran Tata Surya dengan beragam anggotanya. Sebut saja yang populer, yang pertama adalah  Matahari sang Surya sebagai bintang induknya (sebut saja sebagai kepala keluarga Tata Surya), kedua adalah planet si pengembara semisal Bumi, dan ketiga adalah satelit sang pengiring planet seperti Bulan. Banyak fenomena alam terkait Matahari, Bumi, dan Bulan yang telah diketahui. Yang keempat, yang juga sering menjadi perhatian adalah anggota Tata Surya yang dikelompokkan sebagai komet si bintang berekor dan yang kelima adalah meteor sang bintang jatuh. Serba sedikit tentang mereka semua sudah beberapa artikel yang telah dimuat pada situs ini. Namun, nyatanya selain keberadaan 5 kelompok anggota ini, masih banyak ragam lagi jenis anggota Tata Surya yang menghiasi setiap sudut ruangnya. Salah satunya adalah benda yang relatif berukuran kecil yang diberi nama Chiron (baca: ki – ron; lihat artikel Chiron: Komandan Para Centaur) yang tidak termasuk pada 5 kelompok di atas. Kini akan dibahas walau serba sedikit tentang benda-benda kecil lainnya. Katakan saja sebagai Penjelajah Kecil di Tata Surya di mana objek inipun banyak kelompoknya tersendiri yang berbeda satu dengan lainnya.

Written by Widya Sawitar
Category:
Ilustrasi Fenomena Konjungsi Bulan dan Planet

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Kini kubah langit malam di atas Jakarta sudah tidak lagi bertabur ribuan bintang karena dampak polusi udara dan cahaya. Namun demikian, masih dapat dilihat bintang yang terang, Bulan, dan planet. Rasi bintang yang sejak ribuan tahun lalu dipakai leluhur untuk bercocok tanam dan mengarungi samudra sebagiannya masih relatif mudah ditera.

Written by Widya Sawitar
Category:

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
Sezarah Sejarah

A guest star appeared in the middle of Nanmen …
large as half  a seat-mat, fluctuating multiple colours.
(Catatan tentang ledakan bintang tahun 185: Qibin, 1988; p.7)

Ibn al-Athir wrote:
In that year (396H), at the New Moon of (the month) Shu’ban,
a large star similar to Venus appeared to the left side of the Qibla (ke arah kota Mekah) of Iraq.
Its rays on the Earth were like the rays of the Moon,
and it remained until the middle of (the month) Dhü al-Qa’da
when it disappeared.
(Goldstein, 1964, Evidence for a Supernova of A.D. 1006, AJ70:1;p.107)

Written by Widya Sawitar
Category:
Gerhana Bulan Sebagian. Credit: Fred Espenak

User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Atas dasar perhitungan astronomi, pada hari Senin malam tanggal 7 Agustus 2017 akan terjadi Gerhana Bulan Parsial (GBP) atau Gerhana Bulan Sebagian (GBS). Proses GBS dimulai pada hari Senin malam tanggal 7 Agustus pukul 22:50:02 WIB dan berakhir pada hari Selasa tanggal 8 Agustus pukul 03:50:56 WIB. Peristiwa GBS ini praktis dapat disaksikan oleh semua pengamat di wilayah Indonesia. Namun demikian, tahapan gerhana yang relatif dapat mudah diamati oleh awam adalah pada hari Selasa dinihari antara pukul 00:22:55 WIB hingga pukul 02:18:10 WIB. Saat inilah Bulan memasuki bayang-bayang utama (umbra) Bumi. Wajah Bulan, yang seharusnya dalam fase purnama, sebagian menjadi gelap. Hal ini membuat wajah Bulan di bagian tepinya menjadi agak cekung. Sebagai catatan: penampakan fenomena langit pada artikel ini berpedoman dengan sekiranya yang dapat disaksikan dari kota Jakarta, termasuk perhitungan waktu kejadiannya (WIB).