Written by Widya Sawitar
Category:

User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive

Zeus himself set signs in heaven, marking out the constellations,
and for the whole year
he thought out which stars should most of all give men signs of the seasons,
so that all things should grow without fail.
(Ref.: Hunter)

Gambar 1 Sagittarius memanah Scorpius
Peta bintang ini ada dalam karya Johann Elert Bode, 1747-1826,
dalam bukunya “Uranographia Sive Astrorum ...”
yang terbit tahun 1801. Sebenarnya terdapat 100 rasi bintang dalam karya ini.
(Ref.: The Linda Hall Library Digital Collections dan Ridpath)

Nama Genitif : Sagittarii 
Singkatan : Sgr 
Urutan Luas : 15 
Sumber Awal : Ptolemy dalam karyanya the Almagest
Nama Yunani : Toxote

Written by Widya Sawitar
Category:
Gambar rasi Capricornus karya Johann Bode (1801).

User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive

 

From Zeus let us begin. We men never leave him unspoken:

full of Zeus are all the streets, all the meeting-places of men, full is the sea and the harbours; everywhere it is Zeus whom we all need.

(Hesiod: Works and Days; Ref.: Hunter)

 

Bintang-bintang di kubah langit malam tampak dari Bumi selalu berada pada kelompoknya masing-masing. Kelompok bintang itu disebut sebagai rasi bintang atau konstelasi. Terdapat 88 rasi bintang dan 13 diantaranya adalah tempat pengembaraan Matahari dalam setahun yang biasa juga dikaitkan dengan hari kelahiran kita, yaitu Zodiak. Zodiak juga merupakan tempat bergesernya Bulan dan planet (lihat artikel serial Rasi Bintang Dalam Denyut Budaya).

Written by Widya Sawitar
Category:

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
Taurus Sang Banteng
(bagian pertama)


Gambar 1 Taurus

Ilustrasi imajinatif rasi bintang Taurus. Di depan Taurus adalah si kembar Gemini dan di belakang adalah rasi bintang Aries. Secara resmi, gambaran banteng ternyata hanya setengah badan, tidak gambar banteng utuh dari ekor hingga kepala.
Credit: Ide: Pasachoff, p.78 (Handelman/The New Yorker Mag.) / direka dan digambar ulang oleh WS.

*Latar belakang:

Gugus galaksi Abell 1689 – NASA, ESA, E. Jullo (JPL), P. Natarajan (Yale Univ.), J.P. Kneib (Laboratoire d'Astrophysique de Marseille, CNRS, France);

*Bintang-bintang:
Gugus bintang NGC 346 di Awan Magellan Kecil – NASA, ESA and A. Nota (STScI/ESA);

*Badan banteng:
Gugus galaksi Cl 0024+17 – NASA, ESA, and M.J. Jee (Johns Hopkins Univ.)

Written by Widya Sawitar
Category:

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive

Ref.: George A. Davis Jr. (p.23)

 

Kembali membahas sejarah pemetaaan langit, maka setelah perkembangan budaya Mesopotamia, Sumeria, dan Babylonia, maka yang patut dicatat adalah pada era astronom dan ahli Matematika (juga kedokteran) Yunani yang bernama Eudoxus (390/408 – 337/340/355 SM, dari Cnidus – Laut Hitam), murid dari Archytas dan Plato (428/427 atau 424/423 – 348/347 SM) sang pendiri akademi ilmu pengetahuan di Athena (Gurunya adalah Socrates dan murid terkenalnya Aristotle). Pada era-nya bahwa Astronomi adalah cabang dari Matematika. Jadi dimaklumi apabila kala itu dalam sejarah budaya Yunani ditemui bahwa seorang astronom adalah juga seorang matematikawan (dan umumnya juga sebagai filsuf).