Written by Widya Sawitar
Category:
Lukisan zodiak di dinding gua. Credit: Constellations – IAU

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

These stars you can see returning in orderly succession as the years pass,
for all these images are very firmly fixed in the heaven through the moving night.

Aratus (315-245 SM) dalam karyanya “Phaenomena” (275 SM) (Ref.: Hunter)

 

Jika kita melihat bintang gemintang di kubah langit malam nan cerah, kesan yang mungkin terjadi dalam rentang usia hidup kita bahwa konfigurasi mereka tampak abadi dan tidak berubah. Perubahan pun hanya “sekedar” bahwa mereka terbit dan terbenam hari demi hari. Bila kita ikuti waktu demi waktu, mereka semua benar-benar meyakinkan kita bahwa mereka “hampir” tidak pernah berubah. Ketika melihat ke samudra perbintangan, yang jelas bahwa Anda akan melihat bintang-bintang yang sama – yang telah disaksikan oleh leluhur kita atau secara global dinikmati oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu, sejak keberadaannya.

Written by Widya Sawitar
Category:
Meteor Shower 1966. Credit: A. Scott Murrell

User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

 

“… cumlorot lir lintang ngalih wiraga mawarna warna ...”

Serat Centhini IV, p.183

(Ref.: Sawitar, 2015)

Pada artikel sebelumnya telah dibahas mengenai meteor dan juga salah satu fenomena yang menyertainya, yaitu hujan meteor. Kali ini kita coba menilik 2 peristiwa hujan meteor yang cukup spektakuler baik penampilan di kubah langit, maupun keterkaitannya dengan benda langit lain, yaitu komet yang juga cukup dikenal (lihat artikel Meteor dan Komet).

Written by Widya Sawitar
Category:
Avenue of Sphinx. Credit: Gelia/Fotolia

User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive

Seperti tema yang pernah dipaparkan pada artikel mitologi Matahari sebelumnya, yaitu yang berasal dari ranah Nusantara (Tèkang Adityamandala – budaya Jawa) dan hadirnya tokoh HELIOS, Sang Dewa Matahari pada budaya Yunani/Romawi, maka kali ini dicoba didongengkan serba sedikit mengenai kisah terkait yang berasal dari ragam budaya manca negara. Sebagian besar kisah kali ini dicoba dengan meringkas data berbasis beberapa situs yang ditulis pada akhir artikel, juga dari rujukan tambahan termasuk latar belakang Astronomi.

Written by Widya Sawitar
Category:
Meteor. Credit: ESO/C. Malin

User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive

Pada saat langit malam nan cerah tiada berawan, cadar kubah langit perbintangan pun menampakkan kesejatiannya. Taburan bintang gemintang diselingi kehadiran sang pengelana dan sang dewi malam pun menjadi suguhan yang menimbulkan decak tiada berkesudahan. Namun, kadang tampak melesat seberkas cahaya yang cukup membuat decak tadi mengalami jeda sekejap. Terlihat seolah ada bintang berkelebat. Arah maupun kapan waktu munculnya sulit ditebak. Kadang tampak banyak secara bersamaan. Umumnya terlihat sangat singkat dan sebelum kita sadari, bendanya sudah raib entah ke mana. Apa gerangan benda langit ini?

Written by Widya Sawitar
Category:
Galaksi spiral berbatang (NGC1300). Credit: NASA, ESA

User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive

Sejak dulu bangsa kita sudah melihat adanya penampakan kabut putih membentang dari langit utara ke selatan seperti selendang awan. Pada bagian tertentu terdapat daerah gelap, seperti gambaran orang sedang bertarung dengan ular besar. Diyakini bahwa itu adalah gambaran salah satu tokoh Pandawa Lima dalam kisah Mahabarata, yaitu Bima yang sedang bertarung dengan naga. Bima memenangkan pertarungan sedemikian lahirlah nama Bima Sakti untuk kabut putih itu. Lain halnya dengan bangsa di Eropa, gambarannya adalah air susu dewi Juno yang tumpah di langit sedemikian mereka menyebutnya Milky Way (Jalur Susu atau Kabut Susu). Masalah ini telah dibahas pada artikel Bima Sakti: Mitologi dalam Budaya Jawa dan Bima Sakti: Mitologi Manca Negara. Yang dipaparkan di sini, akan dibahas berbasis setelah pembuatan teleskop atau teropong bintang oleh Galileo. Sebagai catatan dalam artikel, apabila disebut “Bima Sakti” artinya lajur kabut putih membentang yang dilihat pada malam hari seperti yang disaksikan sejak dulu oleh nenek moyang kita; dan apabila merujuk pada keluarga besar bintang termasuk Matahari didalamnya, disebut galaksi Bima Sakti atau galaksi saja.