Articles

Written by Widya Sawitar
Kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan
dalam Penentuan Awal Bulan Ramadan 1439H (2018 M)
di Kompleks Mercusuar Cikoneng Pantai Anyer, Serang, Provinsi Banten
Oleh Tim Observasi
Planetarium dan Observatorium
Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

Seperti yang telah dipaparkan pada situs ini sebelumnya (Kegiatan Penelitian Bulan Sabit Usia Muda, Penentuan Awal Kalender Bulan Syaban 1439H), bahwa salah satu dari sekian banyaknya aplikasi langsung dari bidang ilmu Astronomi di kalangan masyarakat terwujud dalam bentuk penentuan waktu-waktu yang terkait erat dengan pelaksanaan ibadah keagamaan. Bagaimana pun, ibadah seperti ini banyak yang berpedoman pada kalender berbasis khususnya Bulan (bahkan kombinasi antara posisi Matahari dan Bulan, yaitu sistem luni-solar). Memang secara faktual yang tampak adalah pada umat Muslim yang terkenal dengan kalender Hijriahnya.

Di bawah ini, dapat dilihat perhitungan (hisab) yang dilakukan oleh Cecep Nurwendaya, yang merupakan salah satu anggota tim Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM sekaligus tenaga ahli dari Kementerian Agama RI, juga perbandingan dengan beberapa perhitungan lainnya dalam kegiatan Penelitian Hisab Rukyat di mana hal ini dilakukan dalam rangka penentuan awal bulan Ramadan 1439H. Hasil perhitungan ini nantinya akan digunakan sebagai pedoman kegiatan observasi (rukyat) yang rencananya akan dilaksanakan di Kompleks Mercusuar Cikoneng, Pantai Anyer, Serang, Banten. Kegiatan observasi ini merupakan ranah pencarian bukti astronomis dari perhitungan yang dilakukan.

Pada tanggal 15 Mei 2018 dalam kalender Hijriah adalah tanggal 29 Syaban 1439H, di mana pada hari itu biasa disebut sebagai hari hisab dan hari rukyat dan hari ijtimak. Namun, kali ini terjadinya ijtimak baru berlangsung setelah saatnya Matahari terbenam. Perhitungan astronomis menunjukkan bahwa Matahari terbenam apabila dilihat dari kompleks mercusuar adalah pada pukul 17:44:55,15 WIB. Artinya kondisi fase Bulan yang rencananya akan diobservasi saat Matahari terbenam ternyata belum melewati saat ijtimak yang baru terjadi pukul 18:50:28,12 WIB. Sebut sebagai sabit tua atau usianya minus 1 jam 5 menit 33 detik. Jadi, dari analisis perhitungan astronomis bahwa Anak Bulan tidak dapat diobservasi. Selain itu, Bulan pun terbenam pukul 17:45:14,93 WIB (ketika terbenam pun belum melewati tahap ijtimak).

Secara nasional, memang tetap menjadi hari rukyat seperti kesepakatan yang berlaku selama ini, dapat lihat pada fatwa di artikel Penentuan Awal Kalender Bulan Syaban 1439H. Dalam kasus di sini, mempertimbangkan aspek astronomisnya, maka Tim Planetarium Jakarta baru akan melaksanakan pengamatan keesokan harinya, yaitu Rabu, 16 Mei 2018 (30 Syakban 1439H), di mana saatnya rukyat sudah melewati tahap ijtimak.

 

 

 

Data Ephemeris berbasis titik Pelabuhan Ratu
sebagai salah satu pos observasi secara nasional.

 

OBSERVASI
RABU – 16 MEI 2018
DI MERCUSUAR CIKONENG ANYER – SERANG – BANTEN.

 

Adapun pembanding perhitungan, dapat dilihat di bawah ini (dikompilasi oleh Mila I Ikhsanti, M. Rayhan, dan tim Planetarium Jakarta) untuk lokasi di Kompleks Mercusuar Cikoneng, Pantai Anyer, Serang, Banten dengan:

Koordinat Lokasi: 060 04’ 13” LS – 1050 53’ 05” BT
Ketinggian: 1 Mdpl
Area Waktu: GMT +7 / WIB
Ijtima/Konjungsi1: Selasa, 15 Mei 2018. Pukul 18:47 WIB

 

 

 

OBSERVASI
KAMIS – 17 MEI 2018
DI MERCUSUAR CIKONENG ANYER – SERANG – BANTEN.

Adapun sehari setelahnya, yaitu pada hari Kamis tanggal 17 Mei 2018 tetap dilakukan pengamatan posisi Bulan Sabit Muda untuk konfirmasi perhitungan astronomis. Seperti hasil perhitungan dan pengamatan untuk penentuan bulan Syakban 1438H (tahun 2017, tahun lalu), bahwa ketika Anak Bulan pada saat hari hisab/rukyat/ijtimak belum terlihat, maka bulan Rajab digenapkan 30 hari. Untuk Ramadan kali ini, dari hisab tanggal 29 Syakban 1439H (hari hisab/rukyat) ternyata belum hari ijtimak. Jadi, berdasarkan hasil hisab bahwa penggenapan juga akan terjadi. Namun, untuk konfirmasi terhadap hasil perhitungan astronomis guna mendapatkan data empiris di lapangan, maka tetap dilakukan observasi hari kedua berbasis aspek astronomis, sebagai berikut:

Adapun pembanding perhitungan yang didapat adalah sebagai berikut:

 

 

 

Pada penentuan kalender Hijriah pada penentuan awal bulan Ramadan 1439H kali ini dapat dikatakan sebagai berikut:

  1. Berdasarkan hasil murni perhitungan (hisab) bahwa Anak Bulan belum tampak atau masih berharga negatif pada hari hisab dan hari rukyat (29 Syakban 1439H / 15 Mei 2018). Hari itupun belum dikatakan sebagai hari ijtimak karena saat Bulan terbenam pun belum terjadi tahap konjungsi/ijtimak. Jadi, kecenderungannya bahwa bulan Syakban 1439H akan digenapkan menjadi 30 hari sedemikian tanggal 1 Ramadan 1439H akan jatuh pada tanggal 17 Mei 2018;
  2. Berdasarkan hasil observasi (rukyat), maka penentuannya berdasarkan hasil rukyat pada hari hisab/rukyat – 29 Syakban 1439H atau 15 Mei 2018. Apabila ada kesaksian dari pengamat hilal, maka kecenderungannya akan ditolak karena berbasis hisab masih berharga negatif;
  3. Dari aspek astronomis, bahwa pelaksanaan rukyatul hilal dilakukan mulai Rabu, tanggal 16 Mei 2018 karena berbasis hisab bahwa tahap ijtimak sudah terjadi. Adapun konfirmasi hasil hisab pun dilakukan pada tanggal 17 Mei 2018.
  4. Seperti yang sebelumnya pernah dipaparkan di sini bahwa kadang terjadi, hasil perhitungan berbeda dengan hasil rukyat. Jadi, dalam kasus ini kadang terjadi perbedaan dalam penentuan awal bulan Hijriahnya (tidak dari segi perhitungan astronomisnya). Sebagai contoh: berdasar perhitungan bahwa Anak Bulan sudah di atas ufuk tepatnya berharga positif karena sudah lewat tahap ijtimak ketika Matahari terbenam di hari hisab/rukyat/ijtimak. Namun, tidak ada kesaksian pada pelaksanaan rukyat. Walhasil, yang menggunakan hasil murni perhitungan biasanya lebih awal melaksanakan ibadah puasa/Idul Fitri dibandingkan dengan yang menggunakan hasil hisab dan rukyat. Sebenarnya masalah ini juga sudah ditentukan garis kebijakannya oleh Kementerian Agama RI (lihat artikel sebelumnya terkait hisab rukyat). Mungkin hal inilah yang sering dipertanyakan oleh masyarakat luas. Bidang Astronomi sebagai ilmu (pure science atau MIPA) memang kini dapat menentukan “New Moon” dengan ketepatan yang semakin dapat diandalkan, namun tidak untuk menentukan “New Month” yang lebih ke ranah religi. Kalau pada jaman dahulu kala memang menjadi lumrah apabila seorang astronom juga sekaligus ulama besar sebagai penentu kebijakan ibadah umat, bahkan banyak juga yang kepakarannya berkombinasi semisal dengan ahli Kimia, Fisika, dan Matematika.

 

 

_____________________________
1 https://cycletourist.com/moon/