Articles

Gerhana Matahari Total 1 Agustus 2008 yang difoto oleh Fred Espenak di Jinta, China.
Gerhana Matahari Total 1 Agustus 2008, difoto oleh Fred Espenak di Jinta, China. Terlihat adanya kilauan "Mutiara Baily" atau Baily Beads yang disebabkan oleh kontur permukaan Bulan yang tidak rata dan terlihat juga "prominence" atau lidah api Matahari. Sumber: https://www.mreclipse.com/SEphoto/TSE2008/TSE2008galleryA.html

Beragam mitos tentang gerhana di berbagai tempat di seluruh dunia sangat menarik untuk disimak sebagai pelestarian kekayaan khasanah budaya manusia pada masa lalu. Salah satunya adalah yang terkait Gerhana Matahari. Baik di India dan Indonesia terdapat kisah Raksasa Batara Kala atau Rahu yang menelan Matahari yang disebabkan rasa dendamnya kepada Sang Surya. Ketika masyarakat belahan Bumi lain berbicara tentang fenomena gerhana, muncul pula cerita tentang Naga Langit yang menelan Matahari atau Bulan. Yang tidak kalah menariknya adalah adanya adat kebiasaan masyarakat tertentu yang begitu beraneka ketika gerhana terjadi.

Sebut saja semisal memukul kentongan, bersembunyi di rumahnya, menutup rapat semua pintu dan jendela rumah, menutup sumur dan tempayan, menyelam di sungai, memukul-mukul pohon kelapa, hingga perempuan hamil yang bersembunyi di bawah tempat tidur, dsb. Hal ini sebenarnya adalah cerminan rasa ketakutan psikologis akibat kepercayaan terhadap mitos gerhana. Namun, ada pula yang justru menganggap hal ini sebagai salah satu anugrah yang dapat memperkuat kesejatian dirinya di luasnya Jagad Semesta.

Memang unik bila menyimak tingkah flora dan fauna saat Gerhana Matahari Total (GMT). Hewan malam (nokturnal) seperti tarsius, kukang, kelelawar pun terpengaruh. Atau berlaku sebaliknya, makhluk siang seketika bersembunyi takkala siang cerah mendadak gelap laksana malam. Banyak burung yang berhenti bernyanyi saat GMT. Kini banyak aspek yang para ahli lakukan untuk menanggapi peristiwa gerhana baik dari sisi iptek maupun seni budaya.

Mitos Gerhana Matahari

Mitos Gerhana Matahari

Di India dan Indonesia terdapat cerita rakyat terkait gerhana dengan tokoh Batara Kala/Rembu Culung/Rahu/Ketu, juga tradisi memukul-mukul lesung atau pohon kelapa agar gerhana cepat berlalu.

Inipun dalam cerita rakyat di Indonesia secara lisan (oral tradition) ada 2 versi. Namun bila melihat teks dalam “1981, Manikmaya I,  Dept P & K , Jakarta, p.100-104; terjemahan Sri Sumarsih”, maka bukan Batara Kala yang memakan Matahari/Bulan melainkan Rembu Culung (Wuluculung). Ref.: Sawitar, W., 2015, Astronomi dalam Cerita Rakyat Nusantara. Illustrator: Ibnu Mukti.

 

Dalam sisi science, sebenarnya gerhana merupakan gejala alam biasa yang berulang akibat sifat edar Bumi dan Bulan terhadap Matahari. Gerhana merupakan gejala saling menutupi antar benda langit. Bulan bergerak di kubah langit di antara kedua belahan langit, utara dan selatan di sepanjang daerah Zodiak. Demikian pula Matahari yang bergeser di Zodiak. Jadi suatu ketika mereka berdua saling bertemu. Dengan kata lain, pada suatu waktu Bulan lewat di depan Matahari dan menghalanginya, maka terjadilah Gerhana Matahari (saat fase Bulan Mati atau posisi konjungsi). Gerhana Matahari dapat berupa Gerhana Matahari Total (GMT), Gerhana Matahari Cincin (Annular/GMC), atau Gerhana Matahari Sebagian (Partial/GMS).

Pada saat lain, yaitu ketika Bulan sedang ber-oposisi terhadap Matahari (Bumi diapit Matahari dan Bulan) atau penampakan fase purnama, Bulan dapat memasuki bayang-bayang Bumi, sehingga terjadi gerhana Bulan. Gerhana ini dapat berupa Gerhana Bulan Total (GBT), Gerhana Bulan Sebagian (GBS), atau Gerhana Bulan Penumbra (samar/GBP).

Gerak orbit bulan dan bumi

 

Bagaimana proses terjadinya gerhana dapat dijabarkan sebagai berikut. Bulan dan Bumi tidak bercahaya sendiri. Jadi ketika mendapat cahaya dari Matahari keduanya memiliki bayang-bayang. Bentuk bayangannya berupa kerucut karena ukuran Matahari jauh lebih besar. Pada bayangan itu terdapat daerah gelap (umbra) dan bagian samar (penumbra). Ketika terjadi Gerhana Matahari, bayangan Bulan jatuh ke permukaan Bumi dan bergerak sepanjang daerah tertentu yang disebut daerah lintasan gerhana. Daerah ini terdiri atas daerah gerhana total dan daerah gerhana sebagian. Daerah GMT dilalui oleh bayangan umbra Bulan dan daerah GMS hanya dilalui oleh bayangan penumbranya. Tempat yang mengalami gerhana berbeda dari satu kejadian ke kejadian berikutnya, akibat dari sistem peredaran Bumi terhadap Matahari dan peredaran Bulan sebagai satelit Bumi.

GMT merupakan peristiwa yang mempunyai arti lebih penting dibandingkan dengan Gerhana Matahari lainnya maupun Gerhana Bulan. Hal ini karena sifat kejadiannya yang ekstrem. Tidak terbayangkan masyarakat sejak ribuan tahun lalu mendapati siang hari yang terang benderang mendadak menjadi laksana malam dengan taburan bintang di kubah langit. Memang hal ini tidaklah berlangsung lama, bahkan paling lama hanya sekitar 7 menit saja. Kini bahkan banyak sekali yang dapat dipelajari dari peristiwa GMT, antara lain: penampakan korona Matahari, prominensa (julangan lidah api di permukaan akibat letupan atau semburan), lapisan kromosfer (permadani lidah api pembentuk permukaan Matahari), dan atmosfer Matahari hingga cuaca antariksa. Terjadinya gerhana disertai pula oleh peristiwa pasang surut laut maksimum akibat letak Matahari, Bulan, dan Bumi yang praktis segaris. Fenomena lainnya yang berubah secara mendadak semisal perilaku makhluk hidup yang ada di Bumi termasuk manusianya sendiri dalam runutan budaya ketika menanggapi peristiwa unik ini. Juga dampak terhadap cuaca local/setempat yang dilalui lintasan GMT. Gerhana Matahari Total terlama hanya sekitar 7 menit, dan ini tidak lepas dari kombinasi karakter edar baik Bumi dan Bulan terhadap Matahari. Yang jelas dari sisi keilmuan dalam mekanika benda langit pun dapat diuji karena biasanya peristiwa ini telah dirunut dan diturunkan secara matematis sejak puluhan tahun sebelumnya, termasuk ketepatan kalender yang berbasis posisi Bulan. Banyak lagi dari telaah science yang dapat didapat, termasuk budaya semisal cerita rakyat terkait GMT.

Skema GMTSumber Gambar : URL https://rachmanabdul.wordpress.com/2011/12/07/gerhana-bulan-dan-matahari/

 

Untuk jenis gerhana lainnya adalah GMC, yang terjadi apabila puncak kerucut bayangan umbra Bulan tidak mencapai muka Bumi (lihat gambar). Hal itu terjadi karena jarak Bumi-Bulan berubah-ubah, sesuai lintasan edar Bulan yang berbentuk elips (kadang dekat, kadang jauh dari Bumi). Pada saat GMC, bulatan Bulan tampak lebih kecil dibandingkan dengan ukuran piringan Matahari. Namun, peristiwa ini dulu tidak disadari karena belum adanya filter Matahari. Hal ini sama dengan GMS yang hanya dapat dinikmati dengan menggunakan filter khusus. Namun, bila sekedar melihat keanehan proyeksi cahaya Matahari ketika terjadi gerhana – seharusnya peristiwa GMS dan GMT telah disadari sejak ber-milenium lalu.

Gerhana Bulan juga menarik untuk diamati dan dipelajari, misalnya untuk mengkaji ulang ketepatan perhitungan ephemeris (koordinat benda langit) termasuk kalender. Saat itu posisi Bulan, Bumi dan Matahari praktis satu garis. Jika Bulan bergerak di dalam bayangan penumbra Bumi (GBP), tanda-tanda gerhana biasanya kurang disadari secara awam. Yang biasa diamati masyarakat luas sejak dulu adalah ketika terjadi GBT atau GBS padamana saat itu Bulan masuk bayangan umbra Bumi. Peristiwanya dapat disaksikan oleh hampir setengah muka Bumi, dan biasanya berlangsung sampai lebih dari 3 jam. Hal ini karena ukuran Bulan lebih kecil dari bayang-bayang Bumi. Membutuhkan waktu panjang untuk melewati bayang-bayang tersebut. Lebih lama lagi bila mereka bertiga membentuk garis lurus. Namun sejatinya, posisi benar-benar lurus ternyata sangat jarang. Terakhir saat GBT tanggal 16 Juli 2000 (berlangsung sekitar 6 jam 18 menit) dan ini pun hanya nyaris lurus dan berikutnya nanti menjelang tahun 3000.

Dalam peristiwa Gerhana Bulan, khususnya GBT biasanya dapat dilakukan penelitian terhadap tingkat polusi udara di angkasa di atas tempat pengamatan. Dari sisi lain, tentu masih banyak lagi semisal bila dapat kita telusuri bagaimana budaya manca negara pada jaman dahulu bahkan hingga saat ini menyikapi peristiwa seperti ini. Bagi sementara kalangan, kehadiran Bulan Purnama menjadi inspirasi dan keterkaguman tersendiri, dan bagaimana sekiranya wajah Bulan yang indah ini berubah ketika gerhana. Ada 2 simpul dapat muncul, kagum dan takut. Memang harus diakui banyak inspirasi yang muncul dengan peristiwa seperti ini, dari satu generasi ke generasi berikut sepanjang hadirnya manusia di muka Bumi. Dari budaya lisan turun menurun, maupun sampai era penjelajahan angkasa luar pada era ke-kini-an. Masalah inipun sebenarnya menarik untuk ditelaah, karena bagaimana pun ini adalah alur sejarah peradaban ataupun pola pikir manusia ketika melihat langit sebagai landas laku sehari-hari. Termasuk tentang bagaimana kita belajar menangkap pesan langit malam dengan segala dinamikanya.

Kembali pada masalah mekanisme terjadinya gerhana bahwa fase Bulan berulang rata-rata dalam 29,5 hari yang disebut satu bulan sinodis (missal purnama ke purnama berikut). Tidak setiap Bulan Mati terjadi Gerhana Matahari, begitu pula tidak setiap Bulan Purnama terjadi Gerhana Bulan. Hal ini karena bidang orbit Bulan membentuk bidang miring sebesar 5,20 terhadap bidang ekliptika (bidang orbit Bumi). Perpotongan dua bidang tersebut membentuk garis nodal yang berputar ke arah barat dalam periode 18,6 tahun yang disebut periode nutasi Bulan. Kedudukan Matahari dekat sebuah titik nodal disebut musim gerhana, yang berulang setiap 173,3 hari. Kombinasi periode ini berulang setiap 18 tahun 11,3 hari yang disebut periode Saros. Setiap perulangan periode Saros, wilayah lintasan gerhana di Bumi akan bergeser tempatnya karena harga periode saros tidak bulat. Jika musim gerhana pertama jatuh pada bulan Januari, gerhana Matahari dapat terjadi sebanyak 5 kali dalam satu tahun. Jumlah maksimum seluruh jenis gerhana dalam satu tahun dapat terjadi sampai 7 kali.

Saat-saat terjadinya Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan dapat diperhitungkan jauh-jauh sebelumnya, karena sistem pergerakan Bumi mengitari Matahari dan Bulan mengelilingi Bumi telah diketahui. Adapun jadwal terjadinya Gerhana Matahari Total pada tahun-tahun yang akan datang berdasarkan perhitungan dapat dilihat pada tabel di bawah.

Tanggal

Jenis

Durasi Gerhana

Durasi Total

Daerah Lintasan Gerhana

9 – 03 – 2016

GMT

5 jam 15 menit

4 menit 9.5 detik

Gerhana Matahari Total dapat dilihat di Bengkulu, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara (Lihat peta gerhana di bawah)

1 – 09 – 2016

GMC

5 jam 48 menit

-

Benua Afrika, Madagaskar, Sumatera bagian selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah

26 – 02 – 2017

GMC

5 jam 25 menit

-

Benua Amerika bagian selatan, Benua Afrika bagian tengah/selatan.

21 – 08 – 2017

GMT

5 jam 18 menit

2 menit 40 detik

Kutub Utara, 2/3 Benua Amerika bagian utara

15 – 02 – 2018

GMS

3 jam 51 menit

-

Kutub Selatan

13 – 07 – 2018

GMS

2 jam 25 menit

-

Kutub Selatan

11 – 08 – 2018

GMS

3 jam 29 menit

-

Rusia, Kutub Utara, Eropa utara, Amerika utara, Greenland

6 – 01 – 2019

GMS

4 jam 21 menit

-

Tiongkok bagian timur, Jepang, Korea

2 – 07 - 2019

GMT

4 jam 55 menit

4 menit 32 detik

Samudra Pacific, Amerika Selatan

26 – 12 - 2019

GMC

5 jam 36 menit

-

Afrika utara/timur, Australia utara, Benua Asia (lintasan cincin melewati Nias, Sumatera tengah agak ke utara, Malaysia selatan, Singapura; untuk Jakarta hanya GMS)

Indonesia akan mengalami GMC/GMT kembali tanggal 20 April 2023 (Timor dan Papua)

 peta gmt 2016

 Gambar Peta wilayah Indonesia yang dilewati Gerhana Matahari pada tanggal 9 Maret 2016

 Garis merah adalah daerah pusat GMT. Daerah yang diapit garis biru adalah daerah yang mengalami GMT. Di luar garis biru mengalami GMS termasuk Jakarta.  

Sumber Gambar : URL https://eclipse.gsfc.nasa.gov/SEgoogle/SEgoogle2001/SE2016Mar09Tgoogle.html

 

 

Adapun contoh illustrasi Gerhana Bulan dapat dilihat pada gambar berikut:

Proses atau Tahapan Gerhana Bulan Total pada Tanggal 4 April 2015

Tahapan proses GBT

1. Bulan masuk penumbra Bumi (P1) : pukul 16:01 WIB
    Pada tahap GBP, biasanya mata awam sukar membedakan apakah sudah gerhana atau belum.
2. Bulan masuk umbra Bumi (U1) : pukul 17:15 WIB
    Relatif mudah dilihat dengan mata bugil, sebagian demi sebagian wajah Bulan bagian timur menjadi gelap.
3. Fase GBT mulai (U2) : pukul 18:57 WIB
    Wajah Bulan berwarna merah (makin besar polusi udara, makin merah gelap)
4. Tengah Gerhana (Mid) : pukul 19:01 WIB
    Waktu puncak fase GBT
5. Akhir tahap total (U3) : pukul 19:02 WIB
    Wajah Bulan mulai terang ditepiannya.
6. Bulan keluar umbra Bumi (U4) : pukul 20:44 WIB
    Wajah Bulan kembali purnama, namun cerlangnya belum kembali normal karena masih dalam tahap GBP.
7. Bulan keluar penumbra Bumi (P4) : pukul 21:58 WIB.
    Akhir tahapan GBT.  

 

Tabel Waktu Gerhana Bulan Pada Masa Mendatang

Tanggal

Jenis

Durasi Gerhana

Durasi Total

Daerah Lintasan Gerhana

23 – 03 – 2016

GBP

4 jam 20 menit

-

Papua, Samudra Pacific, Amerika

18 – 08 – 2016

GBP

34 menit

-

Indonesia timur, Australia, Samudra Pacific, Amerika

16 – 09 – 2016

GBP

4 jam 4 menit

-

Afrika timur, Asia, Australia barat, Rusia

11 – 02 – 2017

GBP

4 jam 24 menit

-

Amerika timur, Samudra Atlantik, Afrika, Eropa, Asia tengah

7 – 08 – 2017

GBS

5 jam 5 menit

-

Afrika timur, Asia, Rusia, Australia barat.

31 – 01 – 2018

GBT

5 jam 21 menit

1 jam 17 menit

Asia timur, Australia

27 – 07 – 2018

GBT

6 jam 18 menit

1 jam 44 menit

Amerika selatan, Samudra Atlantik, Afrika, Eropa, Asia termasuk Seluruh Indonesia.

Indonesia mengalami GBT berikutnya tanggal 7 September 2025.

 

Berharap cuaca cerah, sedemikian fenomena gerhana dapat disaksikan. Hal ini tentu saja termasuk mencermati wajah kubah langit dengan segala pernak perniknya (sebut salah satunya semisal Astrophotography). Fenomena astronomis ini semata hadiah sekaligus tantangan dari Yang Maha Cendekia untuk ditelaah secara ilmiah. Juga merupakan saat yang paling unik dan khas dari rentang hidup manusia untuk sejenak menggugah kembali nuraninya. Merenungkan ke-Maha Besar-an Sang Pencipta Langit dan Bumi dalam segala ragam ciptaan di Jagad Semesta berikut segala peristiwa yang menyertainya. Bagi umat Muslim biasanya melaksanakan shalat gerhana sekaligus memohon ampunan-Nya. Silakan menikmati kubah langit. Salam Astronomi.