Articles

Foto bersama tim OSN DKI Jakarta bidang astronomi tahun 2013 (terdiri dari guru pendamping, mentor observasi, dan siswa) dalam sesi pelatihan simulasi test observasi benda langit. Credit: Ronny Syamara.

Planetarium dan Observatorium Jakarta sejak tahun 2003 terlibat aktif dalam pembinaan/pelatihan siswa yang berkompetisi dalam kegiatan olimpiade sains, khususnya dalam bidang Astronomi. Sementara itu, kegiatan Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Astronomi baru dimulai tahun 2005 (OSN sejak tahun 2002, lihat tabel 1) dan Planetarium dan Observatorium Jakarta mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah untuk test babak Pengolahan Data (Analisis Data) dan Observasi.

Pada perkembangannya, keterlibatan dalam pembinaan bukan hanya dalam bidang Astronomi. Pembinaan juga menangani bidang Geografi, Kebumian, dan Fisika baik untuk tingkat nasional maupun internasional. Tentu saja terbatas dalam materi yang spesifik.

 

Olimpiade Sains Nasional

Pelaksanaan pembinaan di atas sempat menjadi salah satu kegiatan tahunan di Planetarium dan Observatorium Jakarta. Sejak tahun 2008, kegiatan tahunan kembali ke induk instansi di Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Namun, pelaksanaannya masih dilakukan di Planetarium dan Observatorium Jakarta. Sejak tahun 2013, pembinaan hingga tahap OSN dilaksanakan di sekolah, kecuali untuk persiapan materi yang khusus seperti pengenalan bintang dalam ujud simulasi langit yang hanya dapat dilakukan di ruang pertunjukan (Teater Bintang) Planetarium (kecuali tahun 2016). Adapun pembinaan materi kompetisi yang bersifat observasi dilakukan di dua lokasi. Pertama, di Planetarium dan Observatorium Jakarta khususnya untuk pengenalan instrumentasinya. Kedua, di luar kota untuk praktek observasinya karena langit kota Jakarta yang sudah tidak lagi mendukung untuk syarat observasi (terkait polusi udara dan cahaya). Materinya khusus tentang pengenalan bintang (rasi bintang dan aplikasi Tata Koordinat yang terkait pula dengan presisi instrumentasi observasi atau penggunaan teleskop), serta obyek langit yang redup lainnya.

 

Gambar 1. Peta Langit

Salah satu bentuk lembaran test untuk olimpiade Astronomi adalah memetakan langit. Gambar ini adalah daerah langit yang sangat akrab di Indonesia. Dalam olimpiade Astronomi, para siswa ditugaskan untuk menyebutkan baik nama bintang, daerah rasi bintang, kecerlangan bintang, dll. Pada sisi lain, dalam budaya Nusantara pada daerah tersebut dapat dilihat antara lain: Lintang Wusu, Wanok, Jemparing, Naya, Dhanu, Klopo Doyong, Kala Sungsang, Banyak Angrem, Sangkal Putung, Manggakala, Ketonggeng, Merchika, Tula, Tularasi, Waluka, Sitra, Traju, bahkan kisah Lintang Bima Sekti nitih kuda dhawuk. Barangkali alumni OSN/APAO/IAO/IOAA dimana pun berada, ada yang berkenan mengingat-ingat kembali medan bintang di atas? Masih ingatkah di mana letak pusat galaksi kita pada gambar ini? Bahkan ada yang mengatakan bahwa bintang merah terang pada medan bintang tersebut dijuluki Lintang Joko Belek yang populer selama ini untuk julukan planet Mars. Apa nama bintangnya? Belum lagi dongeng pertarungan antara the Hunter dengan the Scorpion. Juga pergeseran acuan musim dari daerah ini ke Lintang Waluku akibat presesi Bumi (pergeseran titik vernal equinox yang sekaligus terkait dengan penentuan kalender Masehi yang sehari-hari kita pakai dan tanggal 5 hingga 14 Oktober 1582 tidak pernah ada dalam sejarah di Italia, Perancis, Spanyol, dan Portugis). Banyak sekali kisah dari daerah langit di atas pada budaya leluhur kita yang sayangnya saat sekarang sudah makin menghilang. Credit: Stellarium

 

Dalam ajang OSN, tidak jarang pengetahuan medan langit perbintangan para siswa DKI Jakarta kalah dengan siswa daerah lain. Hal ini dapat jadi karena tidak terbiasa dengan langit yang bertabur bintang. Naluri navigasi berbasis benda langit dari para siswa relatif sulit terbentuk. Dalam kasus ini, peran Planetarium dan Observatorium Jakarta dalam simulasi langit menjadi sangat khusus dan jelas, minimal untuk memperkenalkan navigasi perbintangan secara utuh (Hal yang sama untuk pembelajaran para kadet atau taruna TNI-AL yang belajar navigasi di Planetarium Loka Jala Çrana – Kompleks Akademi Angkatan Laut Bumi Moro Surabaya Utara). Sebagai contoh, bahwa sebagian besar masyarakat (baca: siswa) di daerah Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta dalam kehidupan sehari-hari untuk menuju ke suatu tempat senantiasa menggunakan arah mata angin. Misal, kalau hendak ke lokasi tertentu kita harus berjalan ke utara (lor). Pada simpang empat belok ke timur (ngetan), simpang empat kedua belok ke selatan (ngidul). Sementara masyarakat atau siswa Jakarta hanya bermodalkan belok kiri dan kanan. Sementara itu, budaya pranatamangsa berbasis benda langit masih terasa kental bukan saja di Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta. Jadi naluri orientasi arah mata angin untuk siswa Jakarta di suatu tempat praktis tertinggal selangkah dalam observasi atau navigasi bintang.

Selain itu, kita semua mencermati bahwa perkembangan dunia Astronomi – bidang ilmu yang begitu universal – tidak mengenal batas wilayah geografis. Bila kita membahas semisal Bulan, maka Bulan yang dilihat oleh setiap makhluk di dunia adalah benda yang sama. Apapun perhitungan yang kita lakukan tentang gerak orbitnya seharusnya dapat dibuktikan oleh semua penggiat Astronomi dimanapun di dunia. Selain itu, derasnya informasi Astronomi membuat kita semua terpacu dalam mengolah data, yang tentunya dengan harapan makin luasnya wawasan kita terhadap keilmuan ini maupun aneka ragam kegiatan yang dapat dilakukan, serta terbentuknya jaringan instansi ke-astronomi-an yang semakin mapan. Selain itu, bahwa adanya keterkaitan yang erat antara Astronomi dengan bidang ilmu lainnya semakin jelas dan tidak terelakkan semisal dengan bidang Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, hingga Sosial-Budaya (EtnoAstronomi dan Arkeoastronomi), dan iptek ke-antariksa-an.

 

Tim OSN Astronomi DKI Jakarta Tahun 2015 sedang melakukan praktek penggunaan teleskop dan latihan observasi benda langit. Credit: Ronny Syamara.

 

Mengenai kegiatan ke-astronomi-an, Planetarium dan Observatorium Jakarta telah menawarkan banyak ragamnya tahun demi tahun guna meningkatkan pemahaman masyarakat. Selain pembinaan yang terkait dengan ajang olimpiade, kegiatan lainnya adalah lomba bertema Astronomi baik berupa lomba karya tulis, cepat tepat, ataupun kegitan lomba Astronomi yang formatnya mirip dengan yang dilakukan pada ajang olimpiade.

 

Lomba Astronomi

Kegiatan lomba secara mandiri dalam skala provinsi telah dilakukan oleh Planetarium dan Observatorium Jakarta sebanyak 2 kali. Pertama tahun 2007 (format: lomba karya tulis dan cepat tepat) dan kedua tahun 2014 dengan mengambil tema “Astronomi Membuka Misteri Jagad Raya” yang bentuk lombanya sama dengan yang dikompetisikan pada ajang resmi olimpiade tingkat nasional maupun internasional. Tujuan kegiatan ini antara lain agar para siswa tidak kaget dengan suasana lomba sekaliber OSN. Selain itu, agar para peserta semakin luas wawasan ke-astronomi-annya dan memiliki semangat kompetitif dalam meraih prestasi dan sekaligus nantinya dapat berprestasi dalam ajang nasional dan internasional. Juga secara tidak langsung membuat para guru pembinanya dapat semakin aktif membina kader muda di sekolah tempat para siswanya belajar. Hal ini agar kesinambungan keilmuannya dapat berkelanjutan. Tentu saja, seandainya berhasil berprestasi hingga tingkat internasional, bukan saja menimbulkan kebanggaan bagi para siswa saja – melainkan juga bagi keluarga, guru, sekolah, provinsi, bahkan bangsa dan negara.

Khususnya mengenai kegiatan lomba yang pernah dilakukan oleh Planetarium dan Observatorium Jakarta, hal ini dengan pertimbangan antara lain:

  • muatan keilmuan yang diusung oleh Planetarium dan Observatorium Jakarta adalah bidang Astronomi, walau bukan dalam kapasitas riset Astronomi seperti halnya pada level Prodi/KK Astronomi maupun Observatorium Bosscha ITB,
  • adanya muatan Astronomi di kurikulum sekolah, dari tingkat SD hingga SMA,
  • adanya ajang Olimpiade Sains Nasional bidang Astronomi dan tingkat internasional (APAO/IAO/IOAA, sejak tahun 2003), khususnya untuk siswa SMA,
  • adanya muatan Astronomi di bidang lain seperti dalam Ilmu Pengetahuan Sosial untuk tingkat SD dan sebagai muatan dalam bidang Kebumian untuk tingkat SMA,
  • dapat dikatakan semua muatan silabus bidang Fisika SMA adalah bahan utama dan mendasar untuk mempelajari Astronomi, termasuk sebagian besar muatan bidang Matematika.

Adapun Lomba Astronomi tahun 2014 yang mengambil format mirip OSN dan olimpiade tingkat internasional (tingkat kesulitan tentu lebih rendah) ditujukan untuk tingkat SMA dan yang sederajat di Provinsi DKI Jakarta. Diselenggarakan selama 2 hari dan dibagi dalam 4 sesi test, yaitu: Teori, Pengolahan Data, Simulasi Langit, dan Praktek Observasi. Pembuatan soal dan penjurian dilaksanakan oleh Planetarium dan Observatorium Jakarta, Prodi Astronomi ITB (TPOA, yang menangani tingkat nasional dan internasional), HAAJ, Forum Guru Astronomi Jakarta, dan Forum Pelajar Astronomi (FPA, alumni siswa peserta OSN dan ajang internasional). Pemenang pada lomba ini (juara I, II, III) adalah:

  • Vika Vernanda                           (SMAN 48 Jakarta Timur),
  • Muhammad Rafif Rabbani         (SMAN 81 Jakarta Timur),
  • Fahmi Imam Alfarizki                  (SMAN 35 Jakarta Pusat),

dan Muhammad Rafif Rabbani pada OSN Bidang Astronomi tahun 2015 berhasil memperoleh medali emas. Sementara itu, Vika Vernanda dan Fahmi Imam Alfarizki hanya sampai tingkat OSP (tidak lolos ke tingkat OSN).

Sementara itu, yang baru saja berlangsung tanggal 17 April hingga 11 Mei 2016 adalah tahap II pelatnas sebagai persiapan ajang IOAA 2016 yang rencananya akan berlangsung di India (setelah ini diseleksi lagi dan pelatihan kembali). Dari 17 siswa yang ikut, 3 diantaranya berasal dari Provinsi DKI Jakarta, antara lain:

  1. Elyada Eben Ezer                        (SMAN 8 Jakarta Selatan),
  2. Muhamad Reyhan Respati          (SMAN 47 Jakarta Selatan),
  3. Muhammad Rafif Rabbani           (SMAN 81 Jakarta Timur),

yang sebelumnya juga memperoleh medali emas (Reyhan, Rafif) dan perak (Eben) pada OSN 2015 bidang Astronomi.

 

Lomba Ke-antariksa-an

Selain pembinaan olimpiade dan lomba yang ada di Planetarium dan Observatorium Jakarta, terdapat juga bimbingan teknis atau pendampingan untuk para siswa yang mengikuti lomba ke-astronomi-an di instansi lain. Sebagai contoh, lomba karya tulis antariksa yang diselenggarakan oleh LAPAN tahun 2009 di mana Adli Rahmat Renhoran dari SMAN 54 Jakarta berhasil menjadi juara pertama dengan judul Kisah dari Secercah Cahaya Mercusuar di Tengah Lautan yang Gelap. Atau dalam ajang LPIR 2009 yang diselenggarakan oleh LIPI di mana Dessy Eprilya dari SMAN 38 Jakarta mendapat penghargaan sebagai Presentasi Terbaik LPIR 2009 dengan judul penelitian Implementasi Kamera Digital untuk Mengidentifikasi Satelit di Jupiter, dan beberapa siswa lainnya dalam ajang sejenis.

Berharap kegiatan ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan para generasi muda tentang bidang ilmu Astronomi dalam menyongsong masa depan yang semakin menantang dan kompetitif, khususnya dalam lomba ekplorasi ruang angkasa, baik di Indonesia ataupun dunia internasional.

 

Tabel 1.

Tuan Rumah dan Juara Umum OSN untuk Tingkat SMA

Sumber data: Wikipedia dan TPOA-Astronomi ITB

 

TAHUN

LOKASI

WAKTU

JUARA UMUM

I

2002

D. I. Yogyakarta

10 September

Jawa Tengah

II

2003

Balikpapan – Kalimantan Timur

15 – 19 September

Jawa Tengah

III

2004

Pekanbaru - Riau

24 – 29 Agustus

DKI Jakarta

IV

2005

DKI Jakarta

04 – 09 September

DKI Jakarta

V

2006

Semarang – Jawa Tengah

04 – 09 September

Jawa Tengah

VI

2007

Surabaya – Jawa Timur

03 – 08 September

Jawa Tengah

VII

2008

Makassar – Sulawesi Selatan

08 – 14 Agustus

Jawa Tengah

VIII

2009

DKI Jakarta

03 – 09 Agustus

DKI Jakarta

IX

2010

Medan – Sumatera Utara

01 – 07 Agustus

DKI Jakarta

X

2011

Manado – Sulawesi Utara

11 – 16 September

Jawa Tengah

XI

2012

DKI Jakarta

02 – 07 September

Jawa Tengah

XII

2013

Bandung – Jawa Barat

02 – 07 September

Jawa Tengah

XIII

2014

Mataram – Nusa Tenggara Barat

01 – 07 September

DKI Jakarta

XIV

2015

D. I. Yogyakarta

17 – 23 Mei

Jawa Tengah

XV

2016

Palembang – Sumatera Selatan

15 – 21 Mei

Jawa Tengah

XVI

2017

Pekanbaru - Riau

-

-

 

Tabel 2.

Perolehan Medali OSn Bidang Astronomi untuk Semua Siswa SMA DKI Jakarta

(Distribusi Medali: 5 emas, 10 perak, 15 perunggu)

Sumber data: TPOA-Astronomi ITB dan FPA

TAHUN

EMAS

PERAK

PERUNGGU

TOTAL MEDALI

2005

2

3

3

8

2006

3

3*

2*

8

2007

1

2

2

5

2008

1

1

2

4

2009

1

1

3

5

2010

1

1

4

6

2011

1

1

3

5

2012

1

4

1

6

2013

2

2

2

6

2014

0

2

2

4

2015

2

1

1

4

2016

1

1

1

3

TOTAL

16

22

26

64

* Data masih dalam konfirmasi