Articles

 

Kembali kita mencoba berkenalan dengan planet. Sebelumnya telah diulas serba sedikit tentang Tata Surya, Matahari, dan planet kebumian (Lihat artikel: Selintas Tata Surya dan Berkenalan Dengan Matahari dan Planet Kebumian). Kini perkenalan kita adalah terhadap planet Jovian.

 

Secara garis besar, planet Jovian adalah Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Julukan lainnya adalah planet gas raksasa atau planet keluarga Jupiter. Sesuai julukannya, maka ukurannya memang sangat besar dibandingkan dengan planet kebumian. Adapun sebutan planet gas karena tidak dijumpainya daratan dan lautan di permukaannya. Selain itu, atmosfernya juga tebal. Mengingat sifat fisik ini, maka dimaklumi apabila kerapatan materinya kecil bahkan Saturnus lebih kecil dari air.

Keunikan lain bahwa ternyata semuanya memiliki cincin. Namun, yang relatif mudah dilihat dari Bumi adalah cincin Saturnus karena selain lokasinya dekat, diameternya juga sangat besar mencapai kisaran 350 kali panjangnya Pulau Jawa, serta lebar cincinnya yang sekitar 120.000 km. Jumlah satelit dari keluarga planet ini banyak dibandingkan dengan jumlah yang terdapat pada planet kebumian. Rekor terbanyak dipegang Jupiter dengan jumlah 67. Adapun unsur yang dominan adalah hidrogen, helium, metana, dan amoniak.

 

Jupiter

Simbol planet ini adalah petir. Asal muasal simbolnya adalah dari huruf hieroglyph yang melambangkan burung elang (Jove's bird). Ada pula pendapat bahwa simbol itu adalah huruf awal nama dewa tertinggi Yunani Zeus, yaitu Z (Abjad Yunani: zeta). Menurut keyakinan, dewa inilah penyebab hujan petir atau badai. Istana sang dewa konon berada di puncak Gunung Olympus. Adapun bagi masyarakat Romawi, dewa ini bernama Jupiter – sang penguasa langit dan segala kekuatan yang ada. Selebihnya, hampir semua karakter Jupiter nyaris identik dengan Zeus.

Sebagai planet, Jupiter yang terbesar sehingga kita dapat memasukkan 1.300 benda seukuran Bumi ke dalamnya. Menurut para ahli bahwa sang raksasa ini adalah sebuah planet yang terbentuk dari awan gas yang sangat besar. Tidak ditemui daratan dan lautan di permukaannya. Batas antara atmosfer tidak setegas seperti batas antara muka air laut atau daratan dengan atmosfer di Bumi. Yang membatasi adalah perbedaan kerapatan yang signifikan antara atmosfer dengan permukaannya.

Selain ukurannya, ternyata jumlah massanya juga besar sekitar 318 kali massa Bumi, artinya sama besar dengan 2/3 massa Tata Surya di luar Matahari. Dengan diameter 143.000 km (11 kali diameter Bumi), maka sering disebut Si Gendut dari Tata Surya.

Wajahnya relatif mudah diingat, mirip panganan burger, bersalur-salur warna warni yang sebenarnya akibat banyaknya badai di permukaannya. Pengamatan dengan teleskop memperlihatkan bahwa pola ini terbentuk atas pita-pita gelap dan terang dan merupakan daerah badai yang berlangsung terus menerus. Selain jalur badai, ada juga daerah pusaran badai yang terkenal dengan sebutan the Great Red Spot (Bintik Merah Raksasa) mirip tornado yang telah diketahui berlangsung terus menerus tanpa putus sejak 300-an tahun yang lalu. Tidak terbayangkan apabila di Bumi terjadi tornado yang berlangsung sekian lama.

Planet raksasa ini mempunyai 67 satelit (data 2016) yang setia mengelilinginya. Mungkin kita gemar menikmati indahnya Bulan Purnama dan itupun Bumi hanya punya satelit satu-satunya, yaitu Bulan (inipun setiap tahun menjauh kisaran 4 cm yang suatu saat dapat saja melepaskan diri dan kita tidak melihatnya lagi). Walhasil, tidak terperikan uniknya apabila Bumi memiliki 67 satelit. Betapa ramainya kubah langit malam. Hilang satu, masih ada 66 buah Bulan Purnama lagi. Belum lagi fenomena gerhana – transit – dan okultasi yang bakal sering terjadi.

Selain itu, Jupiter pun mirip Saturnus, yaitu mempunyai cincin walaupun tipis dengan lebar kisaran 6.000 km. Tebalnya beberapa puluh kilometer saja yang terbentuk dari partikel-partikel kecil yang berukuran kurang dari 10 kilometer serta hanya dapat diamati dari dekat. Cincin ini terletak sekitar 53.000 km di atas lapisan atmosfer terluar.

Satelit Jupiter, yaitu Io, memiliki aktifitas vulkanik dan tektonik yang sangat aktif. Dapat dikatakan setiap hari ada banyak gunung meletus. Ibarat kalau kita ingin memetakan permukaannya, maka harus senantiasa memperbaharui data peta tersebut hanya dalam kurun setiap beberapa bulan saja. Satelit lain, yaitu Europa memiliki samudra air yang diduga kandungannya setara dengan jumlah air yang ada di Bumi.

Bila kita runut mitologinya pun unik, yang sebenarnya karena Jupiter termasuk planet terang setelah Venus sedemikian banyaklah kisah tentangnya yang tercipta. Sejak bermillennia lalu manusia sudah mengamatinya dengan cermat. Pada era Sumeria-Mesopotamia-Babylonia (kisah Enuma Elish atau Epic of Creation) dikenal adanya dewa Marduk sebagai pengejawantahan planet tersebut. Alkisah pada waktu dulu hadir dewa Apsu (air tawar) dan dewi Tiamat (air laut) yang ditemani dewa Mummu (kabut). Pasangan dewa itu melahirkan 2 dewa: Anu (dewa langit) dan Ea (dewa Bumi, kebijaksanaan, dan air). Suatu ketika, karena gaduhnya para dewa muda, Apsu murka dan hendak melenyapkannya. Namun, Ea berhasil meredamnya dengan mencabut nyawa Apsu dan Mummu.

 

Gambar 1. Jupiter

Aurora di kutub Jupiter (warna biru terang) berhasil diabadikan dengan Imaging Spectrograph yang ada pada teleskop angkasa Hubble (21 April 2014), sebelum tugas pencitraan ini diambil alih oleh wahana antariksa Juno yang sedianya akan dikirim ke sana. Tujuannya adalah untuk menentukan bagaimana mekanisme pembentukan cahaya kutub tersebut terkait aktifitas angin Matahari yang tersusun dari partikel bermuatan, termasuk interaksi medan magnet Jupiter yang sangat kuat (20.000 kali dibanding Bumi) dengan lingkungan sekitarnya. Juga terlihat the Great Red Spot. Credit: NASA, ESA, and J. Nichols (University of Leicester); Acknowledgment: A. Simon (NASA/GSFC) and the OPAL team (Hubble's Outer Planet Atmospheres Legacy)

 

Tidak lama berselang lahirlah putra Ea yang diberi nama Marduk (Anak Matahari). Dewi Tiamat masih marah dan dendam, lalu minta pertolongan Kingu (Naga/Monster Laut) untuk melenyapkan Ea dan anaknya. Marduk justru menawarkan diri untuk melenyapkan Tiamat, neneknya sendiri dengan syarat akan dijadikan dewa tertinggi. Para dewa setuju dan salah satu ujiannya adalah memusnahkan konstelasi yang diciptakan para dewa, kemudian menyusunnya kembali. Keberhasilannya membuat Marduk mendapat julukan Herder of Stars (Penggembala Bintang).

Dikisahkan akhirnya Marduk berhasil membunuh Kingu dan Tiamat. Pada saat terakhirnya, Tiamat sempat menangis dan dari kedua bola matanya mengalirlah air matanya membentuk Sungai Tigris dan Euphrates. Tubuh Tiamat yang terbagi dua, salah satunya dijadikan langit (ada yang mengaitkan dengan hadirnya bentangan putih Bima Sakti di kubah langit) dan lainnya menjadi Bumi. Dari tubuh Kingu dibentuklah alam semesta, dan dari darahnya diciptakanlah manusia. Marduk kemudian menentukan pusat kekuasaannya di kota Babylon (Kuil Esagil pada era kemudian).

 

 

Gambar 2. The Pizza Planet – Io

Io, salah satu dari 4 satelit Galileo. Kuat gravitasinya sekitar 1/6 kali Bumi (mirip Bulan). Tampak permukaannya penuh bintik-bintik yang merupakan gunung vulkanik yang sangat aktif melontarkan lahar yang didominasi unsur belerang. Julukannya, the Pizza Planet. Aktifitas ini sebenarnya akibat adanya gaya pasang surut Jupiter yang sangat kuat. Lontaran ledakan dapat mencapai ketinggian lebih dari 400 km dengan kecepatan kisaran 3.000 km/jam. Daerah paling aktif disebut Culann Patera. Credit NASA/JPL

 

Penokohannya sebagai dewa tertinggi dan pencipta alam semesta inilah yang pada masa kemudian, pada masyarakat Yunani dikenal bukan sebagai Marduk, namun dewa Zeus. Bila Marduk disebut beristri dewi Sarpanitu, maka Zeus memiliki banyak pasangan antara lain Io, Europa, Callisto, dan Ganymede yang pada era modern dijadikan nama 4 satelit yang terbesar dari planet Jupiter, yang ditemukan oleh Galileo Galilei tahun 1609.

Kala pergeseran/edar Marduk yang berkisar 12 tahun, menjadi gagasan bangsa Babylonia untuk memetakannya di langit yang kemudian melahirkan konsep Zodiak yang terdiri dari 12 wilayah langit atau rasi bintang.

Pada era Proto-Indo-Eropa disebut Dyeu-pater (Dyeus-paterFather Sky-God atau Father Day-God) yang di Yunani kala itu juga disebut Dias atau terkadang Phaethon (blazing). Ditemukan pula penyebutan lain pada era penaklukan Romawi terhadap Estruria, Itali bagian selatan (Estrucan), yaitu Tinia (the Sky God atau Thunderer) yang lalu menjadi Diospiter (the Father of the Sky). Di Jerman Kuno sebelah utara (Norsemen: Skandinavia, dll) disebut Thor dan pada era awal Romawi lebih populer dengan nama dies Jovis. Pelatinan nama ini akhirnya memunculkan nama Jupiter atau pada masa modern adanya sebutan untuk kelompok planet Jovian (kini dapat disebut sebagai planet keluarga Jupiter).

Pada budaya di China, Korea, dan Jepang dinamai the wood star (Muxing, Fu Star) terkait dengan 5 unsur utama. Di India sebutannya Brihaspati (guru spiritual para dewa, atau Guruthe Heavy One – yang teragung). Pada daerah Asia Tengah – Turki, disebut Erendiz atau Erentuz (dari kata eren dan yultuz yang berarti bintang). Konsepnya mirip Babylonia awal, khususnya terkait Zodiak.

Bagaimana di budaya Nusantara? Tentu sebagai benda langit yang cemerlang, nenek moyang kita pun telah mengamatinya walau tidak menjadi fokus utama (bandingkan dengan Venus atau rasi bintang sebagai standard kesehariannya). Julukannya adalah Wrahaspati, Wrespati, Respati, Brihaspati (Sanskrit-Jawa), Boraspati (Sumatera Utara), Mustari (Arab), Mastri. Peng-abadi-annya adalah sebagai nama hari, yaitu Kamis yang secara internasional sama dengan Thor’s day (Thursday). Uniknya, justru dewanya termasuk dewa yang utama, yaitu Batara Guru.

 

Saturnus

Simbol untuk Saturnus diduga awalnya adalah gambaran sabit pada jaman dahulu kala, sebagai pengejawantahan Saturnus sebagai dewa terkait pertanian (kala pembenihan tanaman) dan juga dewa waktu.

Bagi masyarakat Assyro-Babylonian, sang pengelana ke 7 (dalam hal kecepatan bergesernya di kubah langit, planet ini menempati urutan ke 7) atau planet ke 6 Saturnus merupakan pengejawantahan dari dewa Ninurta, saudara laki-laki Nergal (Mars, sang dewa perang). Pada Epic of Anzu (abad 7 SM), dewa ini terkait penentu nasib/takdir, kematian/maut, dan perbintangan (lebih ke arah peruntungan atau nasib manusia).

Alkisah berawal dari sang burung Anzu yang iri hati dengan Enlil, bapaknya para dewa. Selain itu, sangat menginginkan buku takdir yang dimiliki dewa tertinggi tersebut. Suatu ketika, saat Enlil mandi, dicurilah buku itu dan hal ini membuat semua dewa gundah, putus asa sekaligus marah. Dewa Ea memanggil dewi Bumi (Yunani: Gaea) agar melahirkan seorang pahlawan untuk merebut kembali bukunya. Tidak berapa lama lahirlah Ninurta yang akhirnya berhasil mengambil buku tersebut. Memang agak unik, karena pada era kemudian terdapat dewa dan dewi terkait Bumi, Ea dan Gaea.

Agak berbeda dengan masyarakat Yunani, Saturnus dikenal sebagai Cronus yang melenyapkan bapaknya sendiri, Uranus. Alkisah berawal dari hadirnya dewi Bumi – Gaea – yang menciptakan Uranus sang dewa langit – dari tubuhnya sendiri. Dari keduanya lahirlah raksasa bertangan seratus dan bermata satu, Cyclopes dan tujuh Titan. Uranus benci mereka semua, lalu menjebloskannya ke dunia bawah. Gaea sebagai ibunya dendam, maka diutuslah anaknya Cronus untuk melenyapkan Uranus. Misi berhasil dan sebagian tubuh Uranus dibuang ke laut (pada kisah lanjutan, bahwa dari peristiwa inilah lahir Aphroditeborn of the foam, yang identik di Romawi dengan Venus. Kisah proses kelahiran yang sama dengan hadirnya tokoh Batara Kala pada budaya Nusantara).

Cronus pun sebenarnya tidak kalah bengis. Tatkala diramalkan oleh bapaknya bahwa salah satu putranyalah yang akan menggantikan tahta Uranus dan bukan dirinya, maka karena gundah dan marah dia melahap semua anaknya yang baru lahir. Salah satunya ternyata berhasil disembunyikan dan diselamatkan oleh Rhea, istrinya sendiri. Sang anak inilah yang dikenal sebagai Zeus yang akhirnya menjadi dewa tertinggi sesuai ramalan Uranus. Identitas Saturnus sendiri pada era selanjutnya adalah gabungan antara dewa Cronus dan dewa Cronos (dewa waktu). Jadi, Saturnus selanjutnya dikenal sebagai dewa peruntungan/takdir dan dewa waktu (ibarat Batara Kala pada Budaya Nusantara, sekaligus menampakkan perbedaan alur mitologinya).

Pada ranah Roma, terkait dewa pertanian (ibarat di Indonesia, dewi Sri) dan status raja Roma era awal. Kini dikenal adanya Festival Saturnalia terkait December solstice, saat Matahari masuk rasi bintang Capricorn yang dikuasai Saturnus.

Jika berkesempatan datang ke Planetarium dan Observatorium Jakarta dan mengikuti kegiatan Peneropongan Umum, pada kala tertentu kita dapat mengamati ragam benda langit di observatorium yang berlokasi di lantai paling atas. Salah satu yang dibidik dengan teleskop yang tersedia adalah Saturnus (tidak setiap waktu dapat disaksikan). Satu hal menarik yang dimiliki planet ini dan membuatnya menjadi begitu istimewa dan sangat indah adalah keberadaan cincin yang sangat jelas kelihatan mengelilingi tubuhnya. Galileo dengan teleskopnya tahun 1609 menyebutnya planet bertelinga dan kini sering pula dijuluki Permata dari Tata Surya atau Sang Balerina.

Cincin Saturnus terletak pada bidang ekuator dengan lebar mencapai kisaran 120-an ribu km (diameter keseluruhan lingkaran cincin sekitar 350 kali panjangnya Pulau Jawa). Selain itu, karena kedudukan sumbu rotasinya membentuk sudut sekitar 27 derajat terhadap bidang orbitnya, maka posisi ini mengakibatkan penampakan cincinnya selalu berubah-ubah apabila dilihat dari Bumi. Kadang kita melihat cincinnya dari atas, kadang-kadang hilang hanya tampak garis membelah planet, kadang tampak dari bawah. Unsur utamanya es air (93%). Penemuan terakhir diketahui bahwa ada lagi sebentuk cincin pada jarak 12 juta km dari planet ini dengan kemiringan sekitar 270 dari bidang ekuatornya. Lebih unik karena adanya satelit yang posisinya justru di dalam cincin seperti Pandora dan Prometheus. Mereka dijuluki Shepherd Moon (Satelit Penggembala).

 

 

Gambar 3. Saturnus

Kemiringan atau inklinasi bidang ekuator dengan bidang orbitnya membuat kita dapat melihat dari Bumi ragam posisinya. Yang paling bawah menunjukkan Saturnus pada kondisi musim gugur di belahan utara, sedangkan gambar paling atas menunjukkan musim dingin. Gambar diambil antara Oktober 1996 hingga November 2000. Credit: NASA and The Hubble Heritage Team (STScI/AURA); R.G. French (Wellesley College), J. Cuzzi (NASA/Ames), L. Dones (SwRI), and J. Lissauer (NASA/Ames)

 

Cincinnya yang lebar sebenarnya terdiri dari 9 cincin utama yang tersusun atas partikel es ragam unsur. Ada semacam celah pada cincin tersebut yang relatif mudah dilihat dari Bumi yang disebut Cassini Division. Ditera pertama kali oleh Giovanni Cassini tahun 1675 dengan teleskop di Observatorium Paris, dengan perbesaran teleskop 90 kali (lensa obyektif 2,5 inci).

Saturnus cukup besar ukurannya, 80% ukuran Jupiter dan merupakan planet gas raksasa. Ada kesamaan antara Saturnus dengan Jupiter, yaitu komposisi atmosfernya dan sama-sama mempunyai satelit yang banyak. Saturnus memiliki 62 satelit.

Kekhasan lainnya adalah apabila kita bayangkan ada kolam air yang dapat menampung Saturnus, maka planet ini akan mengapung karena kerapatannya lebih kecil dari air. Selain itu, perbedaan jejari ekuator dengan kutub cukup besar. Radius ekuator 60.268 km, radius kutub hanya 54.364 km (bentuk oblate spheroid akibat tubuhnya yang dominan gas dan rotasinya sangat cepat sekitar 35.500 km per jam; Bumi kisaran 1.670 km per jam).

Walau dikatakan sebagai planet gas, diyakini bahwa bagian pusatnya terbentuk dari gabungan besi dan nikel, serta batuan berunsur silicon dan oksigen. Inti planet ini diselubungi lapisan berturut ke arah luar metallic hydrogen, hidrogen dan helium cair, baru permukaannya yang kaya akan unsur kristal amoniak. Sementara unsur di atmosfer yang banyak antara lain amoniak, acetylene, etana, propane, phosphine, dan metana. Juga dijumpai ammonium hydrosulfide (NH4SH), air, dan senyawa hidrokarbon lainnya dalam jumlah yang tidak terlampau banyak.

Satelit terbesarnya, yaitu Titan, memiliki diameter lebih besar dari planet Merkurius, serta memiliki atmosfer yang tebal. Julukannya adalah Bumi Purba karena berdasarkan penelitian bahwa kondisi Titan sekarang mirip dengan Bumi jaman dahulu kala.

 

Uranus

Simbol Uranus digambarkan sebagai gabungan simbol Matahari (lingkaran dengan titik di tengahnya) ditambah tombak Mars (posisi tegak) yang merupakan pengejawantahan Uranus, personifikasi dari langit dalam mitologi Yunani yang didominasi oleh cahaya Matahari dan kekuatan Mars. Namun, ada juga ditemukan simbol lainnya, yang merupakan inisial nama penemunya, Herschel, dengan garis tegak memotong tengahnya yang berujung lingkaran kecil di bawah.

Dalam mitologi, berawal dari hadirnya dewa langit Yunani – Ouranos. Perunutan dari budaya proto-Greek, Worsanos. Kalau lebih jauh lagi ke belakang ditemukan istilah uorso atau oureo (urinate), yang pada Sanskrit identik dengan varsa (rain) yang akhirnya muncul Ouranos (rainmaker) atau Sanskrit menjadi Varuna (dewa langit dan air). Semua terkait air. Pada masyarakat Romawi identik dengan Caelus. Bersama dewi Bumi, yaitu Gaea melahirkan para Titan dan leluhur hampir semua dewa. Uniknya, Uranus dicipta oleh Gaea karena suatu kebutuhan yang akhirnya menjadi pasangannya. Dalam kisah lain, Aether yang menjadi ayahnya, sang dewa cahaya langit dan angkasa. Ada pula cerita bahwa Uranus adalah putra Nyx, sang penguasa malam. Memang sangat banyak versi, tergantung masanya.

Penulis belum menemukan kesetaraannya dalam budaya di Nusantara. Namun, kisah seperti ini dapat diselisik salah satunya dari cerita Manikmaya dalam kisah wayang. Bagaimana alam semesta berawal dari ketiadaan (Awang Uwung, Sunya, atau Sunyata). Yang akhirnya melahirkan Manik (Batara Guru) dan Maya (Batara Ismaya) yang terkait langit dan Bumi. Namun, bila kita telusuri bahwa Uranus adalah putra dari Saturnus, maka hal ini menjadi penelusuran yang sulit karena hadirnya Batara Kala (pada mitos lain, Batara Kala sering disalahartikan dengan tokoh penyebab khususnya Gerhana Matahari yang dalam manuscript bahwa yang membuat gerhana sebenarnya Rembu Culung atau nama lainnya Wuluculung, raksasa jahat yang menolong Batara Indra mengambil Tirta Pawitra atau Tirtha Amrta – air kehidupan abadi).

 

Gambar 4. Uranus

Penemuan cincin tahun 2003 yang berhasil dipotret dengan Advanced Camera for Surveys (bagian dari teleskop angkasa Hubble). Cincin terluar (R/2003 U 1) diduga berasal dari hamburan debu dari satelit yang juga belum lama ditemukan, yaitu Mab (Mab adalah nama yang ada dalam karya Shakespeare, Romeo and Juliet). Radius cincin sekitar 2 kali cincin yang awal ditemukan. Selain itu tampak beberapa satelit yang dijumpai berbasis misi wahana Voyager, yaitu Puck (tokoh dalam karya Shakespeare juga, yaitu dalam  A Midsummer Night's Dream). Oleh karena banyak yang ditemukan dengan wahana ini atau juga karena Herschel berasal dari Inggris, akhirnya banyak nama satelit Uranus yang diberi nama sesuai karakter dalam karya sang penulis tersebut, semisal Ariel dari judul the Tempest (lainnya: Miranda, Caliban, Sycorax, dll), Juliet (Romeo and Juliet), Rosalind (As You Like It), Ophelia, (Hamlet), Cordelia (King Lear), Desdemona (Othello), Portia (The Merchant of Venice), Cupid (Timon of Athens), dll. Credit: NASA, ESA, and M. Showalter (SETI Institute)

 

Kembali pada masalah wujud Tata Surya, bahwa planet ke 7 ini ditemukan oleh Sir William Herschel, astronom amatir Inggris bulan Maret 1781. Setelah diteliti, sebenarnya planet ini telah terdeteksi bahkan terdapat pada katalog buatan Hipparchos tahun 128 SM, yang disarikan pada karya Almagest-nya Ptolemy abad 2 Masehi. Berdasarkan catatan mereka, Uranus digambarkan sebagai bintang, bahkan demikian pula saat John Flamsteed tahun 1690 yang telah menggunakan teleskop, pun dikatalogkan sebagai bintang di rasi bintang Taurus. Uniknya Pierre Lemonnier, telah mengamati lebih dari 10 kali sejak tahun 1750 hingga 1769, tetap menganggap bintang. Ada kemungkinan karena secara visual sangat tersamar dengan bintang dan sangat redup. Pergeserannya di lautan bintang juga sangat lambat. Herschel pun pertama kali mengkatalogkannya sebagai komet (26 April, nebulous star or perhaps comet karena perubahan lokasinya terlihat setelah pengamatan beberapa hari secara simultan). Kepastian baru diperoleh setelah melewati beberapa uji perhitungan pada tahun 1783.

Uranus berjarak ±2,9 milyard km dari Matahari, yang membuat pergerakannya lambat sekali dan satu kali mengedari Matahari ditempuh dalam waktu 84 tahun. Uniknya bahwa sumbu rotasinya praktis berada pada bidang orbitnya (sebut saja tiduran), sedemikian saat mengedari Matahari posisi geraknya menggelinding sedemikian masing-masing kutub secara bergantian mendapatkan cahaya Matahari selama 42 tahun (21 tahun malam terus menerus dan saatnya nanti akan mengalami siang hari selama 21 tahun pula), dan setiap tahun Uranus mengalami dua musim dingin dan dua musim panas. Bila Bumi, karena sedikit condong sumbu rotasinya, maka geraknya laksana gasing dan yang sepanjang tahun memperoleh cahaya Matahari adalah daerah ekuatornya (khatulistiwa).

Uranus tidak sebesar Saturnus. Massanya hanya kisaran 14,5 kali massa Bumi dengan jejari ekuator 25.900 km dan kutubnya 25.300 km. Seperti Jupiter dan Saturnus, Uranus juga merupakan planet gas dan bercincin. Namun, cincinnya sangat sempit kurang dari 100 km berjarak 42.000 km dari permukaan planet. Jumlah satelit ada 27 buah dan salah satunya bernama Miranda yang sangat unik; setengah bagian terbentuk dari bongkahan es dan setengah lagi bongkah batuan layaknya 2 benda yang digabung.

Sebenarnya, julukan planet gas menjadi tidak tepat melihat kondisi atmosfernya yang sangat dingin (minus 224,2 0C), membekukan semua unsur di sana seperti air, metana, amoniak, dan sedikit senyawa hidrokarbon. Merupakan atmosfer paling dingin di Tata Surya. Kini dalam pengelompokan planet berbasis kondisi fisiknya lebih dikenal istilah Planet Es Raksasa sebagai pembanding planet gas.

 

Neptunus

Simbolnya adalah trisula, senjata andalan Neptune – Sang Dewa Penguasa Lautan. Konon apabila ditancapkan ke Bumi akan menimbulkan gempa.

Pada era Yunani dikenal sebagai Poseidon, sang dewa penguasa lautan, putra dewa Cronos dan dewi Rhea. Ketika hampir semua wilayah ditaklukan Romawi, pada abad 2 SM, dewa ini menjadi bernama Neptune, dewa yang menguasai bukan saja lautan melainkan semua air. Neptune memiliki saudara, yaitu Jupiter (Zeus), Pluto (Hades, dewa dunia bawah), Juno (Hera, ibu tiri Heracles atau Hercules), Ceres (Demeter, dewi pertanian), dan Vesta (Hestia, dewi rumah tangga). Awal penamaan planet ini masih belum jelas, apakah dari nuptus (tabir, menutup) atau nuptiae (perkawinan antara langit dan Bumi). Bila terkait air, diketahui istilah neptu (substansi uap), nuptu (yang lembab), dan banyak lagi akar kata ini termasuk dari India, Avestan (Indo-Iran), Jerman, Irlandia, dll. Kita di Indonesia mengambil namanya dari istilah latin, Neptunus. Barangkali dewa ini dapat disetarakan dengan Dewa Baruna sang penguasa lautan di budaya Nusantara. Namun, bila menilik kemiripan atau adaptasi kata, khususnya dari Sanskrit, bahwa Uranus disebut Varuna. Jadi, ada kemungkinan bahwa Baruna berasal dari Varuna dan ini adalah nama Uranus, bukan Neptunus.

 

Gambar 5. Neptunus

Neptunus yang diabadikan dengan komponen Hubble Wide Field Camera 3 (WFC3/UVIS ) yang ada pada teleskop angkasa Hubble. Tampak titik-titik putih yang merupakan satelit yang pergeseran di lintas edarnya terekam dalam pemotretan, termasuk satelit terbesarnya Triton (kiri bawah). Secara resmi (2016) Neptunus memiliki 27 satelit. Namun, dari penelitian lanjutan bahwa diduga beberapa benda temuan lain di keluarga Neptunus ini juga merupakan satelit sedemikian jumlahnya kemungkinan kisaran 30 buah. Illustration Credit: NASA, ESA, and Z. Levay (STScI) Credit: NASA, ESA, and the Hubble Heritage Team (STScI/AURA)

 

Dalam salah satu kisah di Yunani, benua Atlantis pun dibuat oleh Poseidon sebagai rumah pasangan abadinya Cleito. Putra-putranya mengusai laut Mediterania. Masyarakat Atlantis ingin memerdekakan diri dan tidak lagi mau tunduk pada Poseidon. Pada akhirnya, oleh dewa ini, benua tersebut ditenggelamkan. Kisah penenggelaman seperti ini mirip ketika Zeus menganggap manusia ciptaannya yang pertama menjadi takabur dan sombong, maka dibuatlah banjir besar untuk memusnahkannya.

Sebagai planet ke 7, ditemukan oleh 3 serangkai Adam (Inggris) – LeVerrier (Perancis) – Galle (Jerman) tahun 1845-6. Secara fisik hanya dapat diamati dengan menggunakan teleskop dan dari pengamatan diperoleh bahwa planet ini akan tampak sebagai piringan yang berwarna biru kehijauan mirip Uranus. Warna ini akibat dari senyawa metana yang banyak di atmosfernya. Neptunus mengorbit Matahari pada jarak kisaran 30 sa (4.500 juta km) dengan periode orbit 165 tahun. Oleh karena jarak yang jauh sekali dan relatif tidak terlalu besar, maka inilah yang menyebabkan sulitnya diamati secara kasat mata.

Planet gas/es ini memiliki massa sekitar 17,2 kali massa Bumi dengan kerapatan 1,64 gr/cm3. Intinya diduga memiliki temperatur yang relatif tidak terlalu tinggi, sekitar 6.800 0C. Bagian terluarnya memiliki atmosfer yang terdiri dari molekul hidrogen, metana, dan etana yang beku. Suhu di sini sangat dingin mencapai minus 200 0C. Selain itu juga mempunyai cincin tipis dan diiringi 2 buah satelit besar dari total 14 satelit yang diberi nama Triton dan Nereid. Triton memiliki arah edar yang berlawanan (retrograde) dengan arah edar satelit lainnya, namun eksentrisitasnya nol dan diduga berasal dari asteroid yang terperangkap (mirip hadirnya satelit Mars, Phobos dan Deimos). Ada pula yang menganggap pernah terjadi benturan dengan satelit lain yang kini menjadi Pluto (yang sempat dianggap planet , 1930 – 2006). Nereid memiliki ukuran jauh lebih kecil dari Triton, dan mengitari Neptunus dengan periode 359 hari. Orbitnya sangat aneh, berbentuk ellips yang sangat eksentrik atau sangat lonjong.

 

Tabel 1. Wahana Antariksa Voyager 1

Wahana ini diluncurkan pada tanggal 5 September 1977 dari Cape Canaveral menggunakan roket Titan IIIE. Uniknya, justru Voyager 2 yang terlebih dahulu diluncurkan, yaitu 20 Agustus 1977. Namun, walaupun diluncurkan lebih belakangan, wahana ini mencapai Jupiter dan Saturnus lebih cepat dan dengan lintasan lebih pendek.

(Ref.: Wikipedia the Free Encyclopedia)

 

TANGGAL

KETERANGAN

05 September 1977

Peluncuran.

10 Desember

Memasuki daerah Sabuk Asteroid.

19 Desember

Menyusul Voyager 2.

08 September 1978

Keluar dari Sabuk Asteroid.

06 Januari 1979

Memulai meneliti Jupiter.

22 Agustus 1980

Sampai di lingkungan Saturnus.

14 Desember 1980

Menuju tepian Tata Surya.

14 Februari 1990

Berhasil memotret Keluarga Matahari dari jauh, kecuali Merkurius dan Mars (berada sangat dekat piringan Matahari pada arah pandang wahana), juga Pluto yang terlalu lemah cahayanya.

17 Februari 1998

Menyusul Pioneer 10 pada jarak 69,4 au atau sekitar 10 milyard km. Kecepatannya kisaran 1 au per tahun.

2007-8

Beberapa sistem tidak lagi dioperasikan, untuk hemat energi.

25 Agustus 2012

Melewati heliopause pada jarak 121 au dan menuju ruang antar bintang.

07 Juli 2014

Konfirmasi diperoleh bahwa wahana sudah berada di ruang antar bintang.

 

Dari uraian di atas, serba sedikit kita telah berkenalan dengan planet Jovian. Masih banyak temuan baru akan sifat mereka terutama dengan adanya ragam misi antariksa. Belum lagi data yang sudah diperoleh masih banyak yang tersimpan dan belum sempat diolah. Mungkin dalam kisah lainnya akan kita bahas tentang penelitian planet-planet yang berbasis wahana antariksa. Salam Astronomi. –WS–

 

Daftar Pustaka

Cornelius, G., 2005, The Complete Guide to the Constellations, Duncan Baird, London, p.149-159

Darling, D., 2004, The Universal Book of Astronomy, John Wiley & Son, New Jersey

Maass, A., 1924, Tijdschrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde, Albrecht & Co., Batavia, Deel LXIV, p.147, 150, 435-6

Pasachoff, J. M., 1978, Astronomy: from the Earth to the Universe, Saunders Co., Philadelphia

Sawitar, W., 2009, Stars and the Universe: The Ancient Cultures of Indonesia, “Asia Stars Workshop” at National Astronomical Observatory of Japan (NAOJ) – Mitaka – Tokyo, 11-14 Mei 2009

Sawitar, W., 2016, Menjelajahi Tata Surya, Bahan Ajar Penyuluhan ke Sekolah tingkat SD, Planetarium dan Observatorium Jakarta

Wilkinson, P. dan N. Philip, 2007, Mythology, Dorling Kindersley, Attleborough, p.26-7, 30, 50, 78-9, 90-1, 141, 269, 270, 274

 

Gambar simbol planet

Credit: Lunar and Planetary Institute / NASA

 

Situs

  • NASA (Solar System Exploration)
  • Wikipedia the free encyclopedia
  • Hubble Space Telescope (HST)/Space Telescope Science Institute (STScI)