Articles

Saat ini harus diakui bahwa kubah langit malam di kota metropolitan Jakarta sudah tidak begitu indah. Hal ini disebabkan karena atmosfer di atas kota Jakarta sudah tercemar oleh gemerlapnya lampu-lampu kota yang sangat terang, sehingga suasana malam hari pun terlihat seperti siang hari (sebut sebagai polusi cahaya). Selain itu, juga kualitas udaranya pun semakin mengkhawatirkan (sebut sebagai polusi udara minimal akibat jutaan kendaraan bersliweran tiap hari).

Kondisi di atas tentu berbeda apabila kita pergi agak jauh dari kota Jakarta, ke tempat yang tingkat polusinya rendah apalagi daerah yang masih asri serta tidak padat penduduknya. Hamparan pemandangan yang sangat indah di langit terasa membangkitkan kedekatan terhadap kita yang mau memahami alam semesta dan kesejatian diri. Kita akan melihat beribu-ribu bintang di langit yang sudah sejak jaman dahulu dijadikan pedoman bagi para nelayan di laut serta para pengembara. Juga dijadikan pedoman bagi para petani untuk menentukan kapan mereka mulai menanam dan memanen padi di sawah. Tidak kalah penting adalah jembatan spirit untuk memahami karya ciptaNya.

Bila melihat dengan cermat, nyatanya di kubah langit dapat disaksikan beragam benda langit selain bintang yang antara lain Matahari, Bulan, planet, meteor dan hujan meteor, komet, hingga satelit buatan manusia yang berjalan perlahan di samudra perbintangan, dll. Bahkan kini, dengan bantuan alat sederhana pun dapat dinikmati wajah Matahari yang kerap dihiasi bintik-bintik hitam tanda keaktifannya yang sedang tinggi, kawah Bulan beragam ukuran, nebula, gugus bintang, dsb. Pemunculan benda-benda langit dan berbagai fenomena alam lainnya yang berulang secara teratur atau berkala menjadikan kita dapat mengenal dimensi waktu, yang selanjutnya menjadi penting dalam pengamatan dan memahami fenomena alam secara umum dalam dimensi ruang alam semesta.

Adapun planet sebagai benda langit akan tampak berpindah bergeser di lautan bintang. Perubahan letak planet yang menunjukkan gerak balik atau retrograde yang lalu diteliti oleh Kepler turut mendukung berlakunya kebenaran teori heliosentris Copernicus yang akhirnya dianut setelah pembuktian paralaks oleh Bessel.

Semua planet termasuk Bumi beredar mengelilingi Matahari pada lintasan orbitnya masing-masing. Praktis semua planet bergerak dalam satu bidang (sebut bidang orbit planet). Ibarat keping uang logam, maka keping itulah tempat planet bergerak mengedari Sang Surya. Dulu dianggap bahwa lintasan edar atau orbit planet berbentuk lingkaran, namun dibuktikan bahwa orbit itu berbentuk ellips dan Matahari berada di salah satu titik apinya. Bumi dan tujuh planet lainnya bersama Matahari membentuk satu tatanan yang selanjutnya dikenal sebagai keluarga Matahari atau Tata Surya. Kecepatan gerak orbit dari planet berbeda, semakin dekat ke Matahari semakin cepat. Adapun arah edar atau revolusi planet semua sama, yaitu apabila dilihat dari atas arahnya berlawanan dengan arah gerak jarum jam.

 

Konjungsi

Dari sifat edar di atas, maka pergerakan planet di kubah langit terlihat saling susul menyusul atau kadang antar mereka posisinya saling berdekatan. Uniknya bahwa bidang orbit Bulan pun hampir sebidang dengan bidang orbit planet. Walhasil, baik planet maupun Bulan terkadang dapat berkumpul di suatu lokasi yang relatif sangat berdekatan. Secara sederhana, berkumpulnya mereka di kubah langit itulah yang disebut fenomena konjungsi.

Fenomena konjungsi memang hal yang wajar terjadi. Namun, peristiwa seperti ini senantiasa dinanti-nanti baik kalangan profesional maupun amatir. Sebagai contoh seperti yang terjadi pada tanggal 7 April 1994 di mana planet Merkurius, Mars, Saturnus, Jupiter, dan Bulan tampak sangat berdekatan di langit. Yang sangat istimewa adalah tanggal 5 Mei 2000, semua planet yang kasat mata berkumpul dekat Matahari dan Bulan. Pada tanggal 7 November 2015 lalu, terjadi lagi konjungsi antara planet Mars, Jupiter, Venus, dan Bulan. Keberulangan fenomena ini wajar layaknya fenomena lain seperti gerhana Matahari dan gerhana Bulan. Namun, apabila kita berimajinasi atau membayangkan bahwa semua planet (kecuali Bumi tentunya), Bulan, dan Matahari berada pada 1 lokasi di kubah langit, maka besar kemungkinan terjadinya adalah dalam selang waktu 8,6 x 1046 tahun. Berdasarkan penelitian, peristiwa seperti tahun 2000 akan terjadi lagi kisaran 900 hingga 1000 tahun lagi.

 

TABEL 1. FENOMENA KONJUNGSI

TGL. JAM (WIB) KONJUNGSI JARAK BUSUR
29 Sept. 05:18 Bulan - Merkurius 4,80
06 Okt. 18:11 Bulan - Saturnus 3,60
11 – 12 Okt. 05:23 Merkurius - Jupiter 10
29 Okt. 18:47 Venus - Saturnus 30
23 Nov. 18:14 Merkurius - Saturnus 3,50
25 Nov. 05:00 Bulan - Jupiter 2,70
30 Nov. 18:07 Bulan - Saturnus 3,60
05 Des. 18:44 Bulan - Mars 30
23 Des. 02:09 Bulan - Jupiter 30
28 Des. 05:19 Bulan - Saturnus 40

 

 Keterangan:

Lebar piringan Matahari atau Bulan kisaran 0,50

 

Gerhana

Seperti yang pernah ditulis sebelumnya (Lihat artikel Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan), bahwa peristiwa gerhana akan terjadi lagi pada tanggal 16 September 2016, yaitu Gerhana Bulan Penumbra. Kontak pertama terjadi pada pukul 23:54 WIB dan berakhir tanggal 17 September pukul 03:53 WIB. Sayangnya secara awam, gerhana ini tidak terasa, bahkan lebih banyak yang tidak menyadari bahwa terjadi gerhana. Namun, untuk ranah penelitian (profesional) menjadikannya tetap sangat berarti. Selain itu, bila kita sedikit meluangkan waktu mencermati kisah gerhana, tentu banyak hal sebenarnya yang dapat kita petik pelajarannya.

 

Hujan Meteor

Ruang antar planet dan segenap pelosok Tata Surya bukan ruang kosong. Di sana banyak materi aneka jenis, baik debu atau batuan beragam ukuran dengan jumlah tak terhitung. Sebarannya layaknya debu yang beterbangan di sekitar kita. Bila materi ini kena pengaruh gravitasi Bumi, maka masuk ke atmosfer lalu jatuh ke Bumi dengan kecepatan tinggi. Hanya saja materi ini harus terlebih dahulu bergesekan dengan materi di atmosfer, kemudian panas dan berpijar atau terbakar. Saat inilah nenek moyang kita menyebutnya sebagai bintang jatuh.

Setelah diteliti ternyata cikal bakal meteor atau meteoroid bukan hanya dari materi antar planet biasa. Ada batuan Bulan, Mars, asteroid, komet (Lihat artikel Komet: Sang Pengelana dari Tepian Tata Surya), dsb.

Pada waktu tertentu/berkala tiap tahun, Bumi berpapasan dengan sekelompok materi sedemikian hal ini menimbulkan peristiwa hujan meteor (meteor shower). Arah datangnya seolah berasal dari satu titik di langit disebut Titik Radian (pola sebaran mungkin ibarat letusan kembang api di udara). Sebenarnya hal ini akibat perspektif belaka. Ibarat kita melihat rel kereta api yang seolah bertemu di satu titik di kejauhan.

Saat hujan meteor bisa puluhan sampai ribuan meteor berjatuhan setiap jam. Peristiwa ini berkenaan dengan penjelajah kecil lain yaitu asteroid dan komet. Yang menarik darinya adalah saat melihatnya. Sedapat mungkin di daerah yang bebas polusi udara dan polusi cahaya. Yang tidak kalah penting, bahwa fenomena ini paling baik diamati dengan kasat mata.

Sebuah fenomena alam yang sebenarnya tiap tahun dapat kita amati, bahkan dalam setahun dapat terjadi 12 kali hujan meteor. Seperti yang baru saja terjadi, yaitu antara tanggal 10 hingga 14 Agustus lalu dan puncaknya antara tanggal 11 dan 12. Hujan meteor tahunan ini dikenal sebagai Hujan Meteor Perseid. Penamaan Perseid karena titik radiannya berada di rasi bintang Perseus.

Bagaimana cara menikmati hujan meteor ini? Tentu saat liburan atau malam Minggu adalah saat yang dapat dipertimbangkan. Namun, sayangnya fenomena dapat terjadi kapan saja. Bagi yang sekolah atau bekerja, menikmati fenomena ini semalaman di mana esok paginya sekolah atau bekerja akan jelas menyita energy dan dapat membuat kita terkantuk-kantuk. Setelah pertimbangan ini, maka

  • Cari lokasi observasi yang asri, aman, dan nyaman;
  • Tetaplah duduk atau tiduran dengan posisi yang Anda sukai di lokasi;
  • Jangan lupa memakai baju hangat atau jaket karena kita mengamat di udara terbuka sambil bergadang semalaman;
  • Menyiapkan cemilan dan minuman hangat tidak ada salahnya;
  • Tidak ada salahnya mencari informasi, sekiranya benda langit apa saja yang dapat disimak kala itu khususnya terkait peta langit.

Langkah berikutnya adalah:

  1. Adaptasi mata dengan pekatnya malam. Hanya melihat nyala handphone sekali dan sedetik dua detik saja sudah menghilangkan kesempatan melihat meteor hingga 3 menit berikutnya, itupun bagi yang sudah terbiasa atau berpengalaman mengamat langit. Sebaiknya pakai fasilitas night mode. Adapun senter (flashlight) darurat, utamakan dengan filter warna merah;
  2. Apabila itu semua sudah, mulailah melihat sekitar dua-pertiga langit di hadapan kita dihitung dari ufuk (cakrawala, horizon, atau kaki langit) ke arah puncak (zenith). Kalau terlatih, kita masih dapat melihat secara menyapu pandang kiri kanan secara runut. Bila belum terbiasa, lihatlah satu lokasi langit tersebut secara tetap (layaknya untuk pengambilan foto, yang berminat menjadi astrofotografer dapat mencobanya).
  3. Setelah itu, biarkan mata mengembara sehingga penglihatan periferal kita yang melihatnya, seperti mata orang sedang menerawang atau melamun. Tidak difokuskan seperti kita melihat sesuatu laksana memasukkan benang ke lubang jarum (dengan melihat terlalu fokus seperti ini biasanya gagal untuk melihat meteor yang lemah cahayanya di medan penglihatan yang luas). Selebihnya, silakan hitung berapa meteor yang sanggup Anda lihat.

 

TABEL 2. HUJAN METEOR

 

Nama Waktu (Puncak) Meteor/Jam Asal
Draconids

6 – 10 Oktober

(8)

Bervariasi hingga 1.000

(cukup cemerlang)

21P/Giacobini-Zinner
Orionids

18 – 26 Oktober

(21 – 22)

20

(cemerlang)

1P/Halley
Northern Taurids

20 Oktober – 10 November

(5 – 6 November)

5

(cemerlang)

2P/Encke
Leonids

15 – 20 November

(17 – 18)

Bervariasi hingga 10.000 dalam periode 33 tahun.

(cemerlang)

55P/Tempel-Tuttle
Alpha Monocerotids

15 – 25 November

(21)

Bervariasi dengan periode kombinasi 10 dan 50 tahun

(cemerlang)

Belum diketahui

(dugaan: komet periode panjang)

Geminids

4 – 17 Desember

(13 – 14)

120

(cukup cemerlang)

(Asteroid)

1983TB atau 3200 Phaeton

Ursids

17 – 26 Desember

(22)

10

(cukup cemerlang)

8P/Tuttle

 

 

Silakan menikmati dan menyibak cadar langit malam. Semoga kita dapat semakin arif menyikapi berbagai isu sains, khususnya mengenai fenomena astronomi. Hal ini karena justru ujungnya pada suatu ranah tertentu adalah ”feel amazement” – rasa syukur dengan segala kerendahan hati karena mendapat kesempatan untuk merasakan dan menikmati fenomena itu sebagai salah satu karunia-Nya. Salam Astronomi. –WS–

 

Daftar Pustaka

Bakich, M., 1995, The Cambridge Guide to the Constellations, Cambridge Univ. Press, Cambridge

Darling, D., 2004, The Universal Book of Astronomy, John Wiley & Son, New Jersey

Sawitar, W., 2015, Konjungsi Planet dan Bulan, Sinopsis materi kegiatan peliputan fenomena konjungsi di Planetarium dan Observatorium Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, tanggal 6 – 7 November 2015

 

Situs

Wikipedia the free Encyclopedia