Articles

Written by Widya Sawitar

Seperti tema yang pernah dipaparkan pada artikel mitologi Matahari sebelumnya, yaitu yang berasal dari ranah Nusantara (Tèkang Adityamandala – budaya Jawa) dan hadirnya tokoh HELIOS, Sang Dewa Matahari pada budaya Yunani/Romawi, maka kali ini dicoba didongengkan serba sedikit mengenai kisah terkait yang berasal dari ragam budaya manca negara. Sebagian besar kisah kali ini dicoba dengan meringkas data berbasis beberapa situs yang ditulis pada akhir artikel, juga dari rujukan tambahan termasuk latar belakang Astronomi.

Heliopolis – Mesir

Heliopolis (nama lainnya Iunu atau Onu – Kota Pilar) merupakan kota di wilayah Yunani yang lokasinya berada di daerah Mesir. Kota ini adalah salah satu kota kuno yang diduga telah berkembang sejak abad 26 SM dan merupakan ibukota dari nome (provinsi) ke 15 yang terletak pada bagian dataran rendah Mesir yang kala itu Mesir dibagi 2 wilayah, yaitu Upper dan Lower Egypt, dan berturutan terbagi dalam 22 dan 20 nome. Dalam perkembangan berikutnya, Heliopolis menjadi pusat pemujaan dewa Matahari, yaitu dewa Re.

Heliopolis pada masanya lebih dikenal sebagai pusat aktifitas keagamaan dibandingkan dengan pusat pemerintahan. Selama kurun waktu antara tahun 1539 – 1075 SM, kuil pemujaan terhadap Re merupakan kuil terbesar kedua setelah kuil Amon di Thebes. Para pendetanya konon memiliki pengaruh sangat besar dalam hampir semua sendi kehidupan. Kekuasaan pendeta seperti ini rupanya telah berlangsung cukup lama, yaitu khususnya sejak periode dinasti ke 5 (2465 – 2325 SM), ketika pemujaan terhadap dewa Re menjadi kultus negara.

Sayangnya, kebesaran kota ini kini hanya laksana dongeng semata karena hanya tertinggal puing reruntuhannya saja yang masih tersisa. Satu-satunya monumen yang masih ada adalah sebuah tugu dari era Sesostris I, tugu tertua yang pernah ada. Juga terdapatnya pasangan tugu yang didirikan oleh Thutmose III di Heliopolis, yang sekarang lebih dikenal sebagai Cleopatra’s Needles di mana salah satunya diletakkan di tepi sungai Thames di London dan yang lainnya di Central Park di kota New York.

Gambar 1 Dewa Re. Credit: britannica.com/topic/Atum

 

Sementara itu, dalam kepercayaan kuno di Mesir, juga dikenal adanya dewa yang disebut Atum yang merupakan salah satu representasi dari Matahari dan dewa pencipta. Diduga sebagai dewa masyarakat lokal di wilayah Heliopolis. Mitos Atum yang telah ada ini perlahan digabung dengan hadirnya dewa Matahari Re, sedemikian lahirlah pada masa kemudian dewa Re-Atum. Ketika dibedakan dari Re, karakter asli Atum adalah sang pencipta yang bersemayam di Nun, air primordial tatkala awal keterjadian semesta yang serba “kacau”. Namun, akhirnya karakter ini menjadi sama dengan Re di mana Re pada akhirnya menjadi dewa yang lebih dominan disebut.

Pada proses penciptaan awal semesta, Re muncul yang lalu dari tubuhnya dilahirkanlah para dewa lainnya. Dari lubang hidungnya lahir dewa Shu (dewa udara kering) dan dari mulutnya lahir dewi Tefnut (dewi udara basah). Adapun Re memiliki 3 ujud, yaitu  Khepri saat fajar; Aten yang merupakan piringan Matahari tatkala di puncak langit (maksudnya, tengah hari, kemungkinan terkait penampilannya yang paling tegar seolah menjadi sentral di kubah langit); dan sebaliknya Atum yang merupakan pengejawantahan Matahari terbenam dan dipersonifikasikan sebagai sosok tua yang berjalan memakai tongkat yang akan meregenerasi ulang setiap malam hari (Wilkinson, p.226-8).

Re terkadang disebut sebagai Ra, Pra, atau Chnum-Re; kadang ada sebutan Nebertcher (the lord without limit). Tatkala terbenam, dikisahkan Re ditelan oleh dewi Nut (dewi langit) dan akan dilahirkan kembali keesokan harinya (hal ini mirip dengan mitologi Helios dari Yunani). Diyakini, dewa ini menempuh perjalanan melintasi kubah langit dengan perahunya (Matahari). Sedangkan pada malam hari, perjalanannya melintasi daerah dunia bawah di mana akan terlahir kembali saat pagi hari setelah harus bertarung dan mengalahkan ular jahat Apopis/Apophis/Apepi.

 

Gambar 2. Gambaran lain dari Dewa Matahari Re (Ra) di mana gambaran elang menjadi ujudnya. Credit: Judie Anderson (britannica.com/topic/Re)

Pada awalnya gambaran umum dewa Matahari adalah terkait bentuk burung elang dan hal ini juga dikaitkan dengan tokoh Horus. Namun, saat era dinasti keempat (2575 – 2465 SM), Re statusnya meningkat menjadi tokoh sentral dan berada pada posisi terdepan (layaknya Zeus di Yunani; unik juga bahwa salah satu binatang tunggangan Zeus yang diandalkan adalah burung elang). Banyak penggabungan karakter antara dewa Re dan dewa-dewa lainnya, yang pada akhirnya melahirkan nama-nama dewa seperti Re-Harakhty, Amon-Re, Sebek-Re, dan Khnum-Re. Aspek dewa lainnya akhirnya mempengaruhi karakterisasi terhadap dewa Re oleh masyarakat; penampilannya yang berkepala elang sebagai Re-Harakhty berasal dari kesebandingan Re dengan Horus.

Pengaruh Re tersebar dari wilayah Onu (Heliopolis), yang merupakan kota pusat pemujaannya ke seluruh Mesir. Sejak dinasti keempat, raja disebut sebagai "Anak Re," dan kemudian nama Re menjadi bagian dari nama takhta Mesir. Sebagai ayah dari dewi Ma’at, Re adalah sumber utama dari hak dan keadilan dalam kosmos. Ini juga terkait dengan gambaran dewi Ma’at yang menjadi dewi kebenaran dan keharmonisan alam semesta. Dewi ini merupakan kekuatan kosmik ke empat (anak ke empat), setelah Heka (daya kreasi dan magic), Sia (daya persepsi), dan Hu (pronouncement).

 

Gambar 3 Avenue of Sphinx
Deretan patung ini mengarah ke kuil utama di reruntuhan Kuil Agung Amun. Credit: Gelia/Fotolia (britannica.com/topic/Re)

 

Di Thebes, oleh penguasa dinasti ke-11 (1980 SM), Re dikaitkan dengan Amon/Amun sebagai Amon-Re, yang selama lebih dari satu milenium menjadi dewa utama dari kerajaan para dewa, sebagai raja para dewa, dan pelindung raja. Perkembangan kepercayaan terhadap kuasa dewa Matahari adalah selama rentang waktu berkuasanya Kerajaan Baru, yaitu Kekaisaran Mesir (abad 16 – 11 SM, dinasti ke 18 – 20). Pemujaan pada Matahari sempat mengalami perubahan selama kurun Amarna (pertengahan dinasti 18, raja Akhenaten yang nama sebelumnya Amenhotep IV) yang dianggap sebagai dinasti yang gagal (1353 – 1336 SM), yaitu penyederhanaan yang radikal pada kultus Matahari. Selama Kerajaan Baru, keyakinan tentang Re diselaraskan dengan yang terkait tokoh dewa Osiris, sang penguasa dunia bawah. Kisah tentang duet 2 dewa ini konon masih terpampang pada makam kerajaan kuno Mesir. Dalam satu sisi, mungkin karena berkembangnya budaya Mesir dengan rentang eksistensinya yang bermilenia, sedemikian dewa terkait tokoh Re sedemikian banyaknya. Bahkan, karena begitu banyaknya, muncul ungkapan bahwa “Re memiliki banyak nama (the secret name of Re) sehingga para dewa pun tidak sanggup mengingat semuanya”

Tutankhamun
Akhenaten (Horizon of Aten), salah satu pimpinan (firaun) era Kerajaan Baru yang sangat fanatik, mencoba untuk mendudukkan Aten (piringan Matahari kala tengah hari – saat transit atas), sebagai satu-satunya dewa yang patut disembah dan mengesampingkan peranan dewa dewi lainnya (bukan berarti monoteis, karena tetap banyak dewa dewi lainnya). Bahkan, dia mengesampingkan dan meninggalkan ibukota lama, Thebes, di mana di sana Re dipuja sebagai Amun (the hidden god). Kemudian dia mendirikan ibukota baru, el-Amarna (juga dikenal dengan nama Akhenaten; sebagai penghormatan kepada Aten). Demikian pula nama anaknya yang diberi nama Tutankhaten (Living Image of Aten). Namun, kegagalan dinasti Akhenaten pada akhirnya membuat terjadinya reformasi besar dan kotanya ditinggalkan oleh masyarakat, dan kembali ke Thebes. Putranya pun mengganti namanya menjadi Tutankhamun (Living Image of Amun) seperti yang akhirnya nama ini lebih dikenal dalam sejarah Mesir (Wilkinson, p.228).

 

Perahu Mesir era 69-30 SM

Pada tahun 1950, Kamal el-Mallakh seorang arsitek dan arkeolog yang bekerja sebagai Inspektur Kepurbakalaan di Giza, menduga bahwa ada benda berharga di sisi selatan Piramida Besar Khufu. Hal ini dipicu dengan penemuan artefak berupa 41 lempengan besar batu kapur di lubang sisi timur dan 40 buah di lubang sisi baratnya.

Pada tanggal 26 Mei 1954, tim akhirnya mulai menggali sisi selatan. Penggalian mulai berhasil dengan ditemukannya sebuah dayung besar diikuti penemuan sebuah perahu. Melihat kondisi bahwa sebelumnya lubang tersebut kedap udara (tidak terhubung dengan dunia luar), maka kondisi benda ini tampak lestari walau usianya ribuan tahun.

Perahu itu dengan susah payah dikeluarkan komponen demi komponennya. Segala sesuatunya berjalan lambat, nyaris 4 tahun prosesnya. Sejak tahun 1958 dimulailah merekonstruksi ulang kapal tersebut yang dipimpin oleh Hag Ahmed Youssef Moustafa, pakar kepurbakalaan. Tidak kurang 1224 potongan disusun dan mulai kelihatan hasilnya setelah lebih dari 10 tahun. Dalam rekonstruksi ulang ini tidak digunakan paku sama sekali, tali yang digunakan juga berasal dari serat tanaman.

 

Gambar 4 Perahu Mesir Kuno. Ref.: solarnavigator.net

 

Kapal ini memiliki panjang 43,3 m dan lebar 5,9 m. Terdapat ruang muat dengan lebar 1,48 m. Ruang kabinnya cukup besar dengan panjang 9 m. Terdapat pula kanopi terbuka yang disangga oleh tiang-tiang dan satu lagi kanopi yang lebih kecil terletak pada bagian depan yang kemungkinannya adalah untuk sang kapten. Kapal digerakkan oleh lima pasang dayung ditambah dengan satu pasang lagi di buritan untuk bertindak sebagai kemudi. Bobot keseluruhan kisaran 45 ton.

Pada naskah kuno disebutkan bahwa firaun pada akhir hidupnya di Bumi, jiwanya akan naik ke langit menggunakan “perahu Matahari” dan menyatu dengan Sang Dewa Re. Argumen adanya kapal ini di piramida adalah dapat jadi hanyalah sekedar simbol. Atau dapat saja bahwa keberadaan kapal ini memang merupakan komponen dari upacara ritual pemakaman sang firaun. Berdasar dari ritualnya bahwa ada proses pemindahan jasadnya dari sungai (Nil) ke piramida tempat akan dimakamkannya. Sementara beberapa ahli mengklaim bahwa ada bukti terkait perahu tersebut yang benar-benar pernah digunakan di sungai. Hal ini tampak dari keberadaan serutan cedar dan akasia yang ditemukan baik pada kapal maupun yang tersebar di dekat sungai di daerah terkait. Sementara itu, ukuran perahunya juga dianggap memiliki karakter yang tepat untuk menjadi biduk di sungai sesuai sifat sungai Nil.

Kasus penemuan ini sama dengan yang pernah terjadi sebelumnya, yaitu pada tahun 1893 di mana Jaques de Morgan berhasil menemukan enam kapal dekat lokasi piramida dari Kerajaan era tengah (Senwosret III) di Dashur. Pada tahun 1987, perahu yang ditemukan pada lubang sisi barat Piramida Besar diperiksa dan dikonfirmasi bahwa penemuan kapal ini adalah sama karakternya dengan yang pertama ditemukan.

Pada tahun 1991, arkeolog Amerika David O'Connor lagi-lagi menemukan 12 perahu pada lubang dekat lokasi makam Khasekhemwy (dinasti II) di Abydos (Shunet el-Zebib), Menariknya, dalam tiap perahu terdapat batu bata terbuat dari lumpur dan bentuknya perahu (layaknya miniatur kapal). Dalam periode ketika kayu diyakini kala itu menjadi komoditi yang langka dan berharga di Mesir, maka diharapkan bahwa penemuan ini akan memberikan banyak wawasan tentang pengaruh kekuasaan atau hubungan luar negeri di awal sejarah Mesir. Dua kapal lagi ditemukan di Abydos pada tahun 2000, menjadi total empat belas kapal. Diduga kapal ini telah ada 300 tahun sebelum Piramida Besar Khufu berdiri.

Perahu Surya Khufu tetap yang paling spektakuler dari semua temuan kapal kuno Mesir hingga saat ini. Sekarang dipamerkan di museum khusus yang dibangun tersendiri, yang berlokasi hanya beberapa meter dari tempat ditemukannya pada sisi selatan piramida. Suatu warisan atau peninggalan jejak peradaban yang dianggap “harus diketahui dunia”, warisan yang mengesankan dari jejak budaya peradaban. Bagaimanapun, alur budaya Mesir masa sekarang tidak dapat lepas dari sejarah masa lalunya.

 

Sang Surya dan Bulan dari Wilayah Rusia dan Sekitarnya

Pada umumnya masyarakat memandang Matahari dengan segala karakternya yang jauh lebih perkasa dibandingkan dengan sifat Bulan sehingga banyak yang membayangkan dalam dunia gender bahwa Matahari mewakili sifat maskulin atau pria (dewa), sementara Bulan mewakili sifat feminin atau perempuan (dewi). Apakah memang konsep ini seragam di dunia?

Dalam serangkaian lagu dari budaya Belarusia tergambar adanya komponen penting terkait dengan kehidupan masyarakatnya yang kalau ditelusuri juga tidak lepas dari masalah kedewaan. Yang kerap muncul adalah hadirnya bog (dewa); sporysh, ramuan herbal yang telah dikenal sejak masa purba, juga tangkai gandum tertentu sebagai simbol kelimpahan; ray (surga); dan dobro (baik atau sesuatu yang baik). Para ahli bahasa menyatakan bahwa asal muasal kata bog berawal dari budaya Indo-Iran yang menandakan sesuatu yang terkait kekayaan, kelimpahan, dan nasib baik, demikian pula sporysh. Sementara itu, ray di wilayah Iran memiliki arti yang kurang lebih sama dan hal ini juga dijumpai kasusnya pada bahasa Slavia sebelum digantikan dengan makna surgawi dalam masyarakat Kristen di sana. Pada kesehariannya, sebutan Bog memiliki kesebandingan dengan kekayaan yang terkait dengan kelimpahan gandum (keberhasilan panen, mungkin dapat dibandingkan dengan hadirnya dewi Sri di ranah Nusantara).

Konsep yang sama juga hadir di Mordvinian, Rusia, yaitu sebutan pa dan riz di mana kini diketahui bahwa kata ini rupanya berasal dari bahasa di Iran. Di antara masyarakat Mordvins, pengertian paz, seperti bog di Slavia, terkait dengan kelimpahan atau kemakmuran bagi tiap rumah atau keluarga. Adopsi kata bog mungkin berasal dari bahasa Slavia, di mana nama pada budaya Indo-Eropa adalah dari sesuatu yang bersifat ketuhanan yang terkait penciptaan alam semesta, yaitu  Deivos (Deva di India Kuno, Dewa di Nusantara, dalam latin Deus, di Jerman Kuno Ziu, dll). Sementara itu, yang mirip adalah di Lithuania, Dievas. Keterkaitan akulturasi ragam wilayah ini pun tidak dapat lepas dari budaya Persia yang akan dibahas kemudian.

Pada budaya Slavic, konsep pasangan baik dan buruk juga terdapat pada konsep dewa, Byelobog (White God) dan Chernobog (Black God). Tokoh yang memiliki posisi seperti Zeus di Yunani, bernama Perun (Rusia) atau Perkun (Lithuania), sebagai dewa perang dengan kilat dan petir sebagai senjata utamanya.

Di antara benda-benda langit, objek utama pemujaan Slavia adalah Bulan. Nama Bulan adalah bergender maskulin pada bahasa Slavia (Mesyats; bandingkan dengan bahasa latin, Mensis). Kata untuk Matahari (Solntse), berlaku sebaliknya, yang bagi mereka mungkin kehadirannya terasa kurang agung, tidak seperti yang banyak pada budaya lain bahwa Matahari begitu besar, gagah, terkait dengan gender maskulin. Dalam banyak lagu-lagu rakyat Rusia, Matahari sebagai subjek diletakkan pada posisi atau bentuk feminin, dan hampir selalu dianggap sebagai pengantin perempuan atau seorang gadis.

Adapun kehadiran Bulan bagi masyarakat Slavia, dikaitkan dengan kelimpahan dan kesehatan. Bulan dipuja dengan cara semisal diselenggarakannya persembahan ragam tarian dan pemanjatan doa khususnya ditujukan untuk kesehatan anak-anak. Selama Gerhana Bulan, senjata dilontarkan ke monster yang konon melahap Bulan (mirip pelontaran panah api di budaya China), diikuti tangis dan ratapan sebagai ungkapan berbagi derita dengan sang Rembulan. Uniknya di Serbia, orang-orang selalu membayangkan Bulan sebagai manusia. Sebutan seperti ayah dan kakek (gender maskulin) bagi Bulan sangat lazim dilantunkan pada lagu-lagu daerahnya. Namun, nyatanya hal ini juga berlaku untuk budaya di Rusia, Serbia-Kroasia, dan Bulgaria. Di daerah Risano (kini Risan, Yugoslavia) konon Bulan memiliki empat kakek. Di Bulgaria, para orang tua mengajari anak-anak kecil untuk menyebut dan memanggil Bulan dengan sebutan “Dedo Bozhe, Dedo Gospod” (Dedo artinya paman, Bozhe terkait kedewaan, dan Gospod terkait kebangsawanan). Para petani Ukraina secara terbuka menegaskan bahwa Bulan adalah dewa mereka. Dalam budaya Rusia juga ditemukan sebutan Bulan adalah “Adam”, gambaran manusia pertama dengan gender maskulin untuk sebutan Bulan Purnama. Pemujaan ini terkait keyakinan bahwa hadirnya manusia berasal muasal dari hadirnya Bulan.

Bila menilik era setelahnya, pada budaya Slavic era Pangeran Vladimir dari Kiev tahun 982, dikenal adanya dewa Matahari (Khors; sun god) dan juga Dazhbog yang uniknya selain dewa api dan kesehatan sekaligus dinyatakan sebagai Matahari (dalam ujud keseharian di langit). Justru Bulan tidak disebut sebagai dewa/dewi, di antara 6 dewa/dewi utama (Wilkinson, 132-3).

Dalam kisah rakyat daerah Baltic (Old Prusia, Latvia, dan Lithuania) terdapat 2 cerita utama. Yang pertama tentang struktur dunia (alam semesta) dan yang kedua adalah persaingan atau perseteruan antara Saule (dewi Matahari) dan Mēness (Latvia; Lithuania: Mènulis atau dewa Bulan). Juga dikenal istilah šī saule (harfiah: Matahari yang ini) dan viņa saule (Matahari yang lainnya) di mana šī saule merupakan perlambang dari kehidupan manusia dalam keseharian, sedangkan vina saule mengindikasikan dunia yang tak terlihat (invisible / underworld) di mana Matahari berkelana pada malam hari (sama dengan kisah Helios di Yunani ataupun Re dengan Apophisnya) yang juga merupakan arena kematian. Kendati demikian, istilah ini tetap menarik untuk ditafsirkan karena banyak kisah rakyat yang beredar.

Ada dua kisah utama tentang invisible world ini, yaitu bahwa dunia ini terletak pada arah terbenamnya Matahari (bandingkan dengan istana Helios saat Matahari terbenam) atau adanya di bawah Bumi ketika Matahari berjalan untuk kembali terbit esok harinya di ufuk Timur (ibarat di lokasi di mana dewa Re harus bertarung dan mengalahkan ular jahat Apopis/Apophis/Apepi). Langit dikisahkan dengan gambaran gunung, kadang batu besar, dan merupakan tempat tinggal para dewa. Saule terbang mengarungi angkasa dengan kereta kuda dengan kuda yang beraneka, dan Mēness pun menyusul naik ke langit untuk bersatu dengan Saule. Sementara itu, Pērkons (Latvia, Lithuania: Perkūnas; "Thunderer"; ibarat Zeus atau Jupiter) bekerja membuat senjata (kilat/guntur) dan beragam perhiasan di langit (kemungkinan bintang gemintang dan benda langit lainnya yang laksana intan terhampar ke segala penjuru kubah langit malam). Konsep terbenamnya Matahari di lautan dan terbitnya di pegunungan pun mirip dengan Yunani (termasuk bentuk Bumi berupa lempeng atau silinder berbentuk lingkaran).

Tokoh dewi Matahari Saule konon merupakan perlambang dari kesejahteraan dan proses daur kehidupan dari semua makhluk di Bumi. Dalam kisahnya digambarkan bahwa dewi ini dari peraduannya di Timur naik ke puncak langit berkendara kereta kuda dengan roda tembaga dengan kuda yang sedemikian kuat yang konon tidak pernah mengalami rasa letih, tidak pula mengenal istirahat. Saat menjelang malam, sang dewi memandikan kuda-kudanya di samudra, lalu beristirahat di puncak gunung sambil memegang tali kekang kudanya yang terbuat dari emas. Kemudian memasuki gerbang terbuat dari perak menuju istananya di tepi samudra (Matahari kita bayangkan terlihat terbenam di samudra di ufuk Barat). Matahari jingga/merah (saat detik-detik hendak terbenam) merupakan salah satu karakter dari Saule. Populer dalam karya seni di daerah Baltic yang dilukiskan laksana cincin api atau kadang ibarat buah apel merah hingga gambaran mahkota. Sebagai benda sehari-hari laksana bola api cemerlang menyilaukan mata, sang dewi ini juga digambarkan sebagai daisy (tanaman padang rumput kecil yang memiliki bunga dengan piringan pusatnya berwarna kuning dan helai bunga di sekitarnya berwarna putih – mirip bentuk bunga Matahari), kadang sebagai roda, atau lainnya adalah hiasan berbentuk mawar.

Dalam mitologinya juga terdapat kisah bahwa sang dewa Bulan sangat tertarik dengan putri dari sang dewi Matahari. Kisah lainnya menyatakan bahwa dewa Bulan itulah yang akhirnya bersanding dengan dewi Matahari. Namun, kadang tokoh dewa Bulan ini menjelma menjadi Bintang Pagi (di sini maksudnya adalah seperti Bintang Pagi yang umum dikenal, yaitu planet Venus). Ada pula cerita bahwa Pērkons (Perkūnas) memotong sedikit demi sedikit tubuh Bulan untuk diberikan ke Saule (Kemungkinan hal ini karena adanya fase wajah Bulan).

Terkait karakterisasi dewi Matahari dengan pertumbuhan dan kesuburan, Saule senantiasa dipuja dalam bentuk doa oleh para petani saat terbit dan terbenam. Selain itu ada semacam perayaan untuk menghormatinya, yaitu Pesta Līgo, festival pada pertengahan musim panas yang diselenggarakan pada tanggal 23 Juni (kini dikenal sebagai St. John’s Eve, mirip spring equinox festival era dewa Marduk di Mesopotamia/Babylonia). Pada hari itu, dewi Matahari dibayangkan berkalung untaian bunga berwarna merah yang sedang menari di sebuah bukit bernuansa perak dan juga dengan bersepatu perak. Lokasinya dikenal sebagai titik balik musim panas. Api unggun besar dinyalakan di perbukitan itu sebagai perlambang pengusiran energi negatif (roh jahat) yang dianggap mengancam kesehatan dan kesuburan. Biasanya para muda dalam festival ini berkalung karangan bunga, menari, bernyanyi, sambil melompati api unggun tadi.

Yang masih menjadi pertanyaan penulis, bahwa apabila ini dilakukan pada tanggal tersebut, maka artinya sejak saat itu justru ketinggian Matahari dihitung dari ufuk akan semakin rendah yang akhirnya dalam rentang 3 bulan kemudian mereka akan mengalami malam yang sangat panjang. Atau dari satu sisi bahwa ilklim akan semakin dingin dan “keperkasaan” Matahari semakin susut. Apakah ini yang akhirnya menjadikan konteks dewi diberikan pada Matahari? Bila posisi masyarakatnya semakin ke utara, maka ada saatnya mereka mengalami malam berbulan lamanya. Namun, kala waktu giliran Matahari terbit, pun akan mengalami siang berbulan-bulan. Mungkin ini uniknya. Walau musim panas, tetap wajah Matahari tidak seperkasa Matahari bila kita saksikan semisal di gurun di daerah dekat ekuator (atau semisal tidak secerah dan sepanas seperti yang masyarakat Indonesia nikmati). Sementara bila malam cerah bertabur bintang, justru penampilan Bulan terasa mendominasi langit. Semakin ke bentuk purnama, maka terasa sekali dominan dalam arti banyak cahaya bintang yang terpudarkan. Sang Rembulan seolah menjadi fokus sejauh mata menatap kubah langit sepanjang malam (Bulan Purnama terbit nyaris bersamaan dengan terbenamnya Matahari, jadi kehadiran Bulan akan dilihat sepanjang malam). Apakah hal seperti ini yang menjadi alternatif penjelasan mengapa Matahari terkait sifat feminin dan Bulan bersifat maskulin? Rasanya masih membutuhkan penelusuran lebih lanjut.

 

Matahari Dalam Budaya Persia

Mithraisme merupakan paham pemujaan kepada dewa Mithra, dewa cahaya bagi masyarakat Persia. Dewa ini juga dikenal sebagai dewa Matahari dan dewa perang. (Wilkinson, 95). Paham ini sebarannya cukup luas, dari India timur (sebutannya Mitra dalam Sansekerta) hingga mencapai wilayah Spanyol, Jerman, bahkan menyeberang ke Inggris dan pada abad ke 8 sudah mencapai daratan Tiongkok. Penyebutan tertulis pertama Mitra adalah dalam Weda di India adalah tahun 1400 SM. Selain itu sempat diketahui sebagai dewa keadilan pada era sebelum munculnya paham Zoroaster di Iran. Pada era Kekaisaran Romawi, abad 2 hingga 3 masehi, dewa ini lebih dikenal sebagai Mithras (Unconquered Sun) dan dihormati sebagai pelindung dari komunitas kerajaan. Kaisar Romawi Commodus dan Julian dikenal sebagai peng-inisiasi dari paham Mithraisme. Pada abad 3 dan 4, kultus Mithras dilakukan dan didukung oleh tentara Kekaisaran Romawi. Tahun 307, Diocletian (Gaius Aurelius Valerius Diocletianus) mentahbiskan sebuah kuil di Sungai Danube untuk penghormatan pada Mithra, Sang Pelindung Kekaisaran. Setelah paham Kristen diterima kaisar Constantine pada abad ke-4, Mithraisme dengan cepat menghilang. Tokoh Mithra sering dikaitkan dengan gambaran pembunuh banteng sebagai konsep keberadaan makhluk di Bumi, kematian, dan kebangkitan kembali.

Dalam mitologinya bahwa Mithras terlahir dari bebatuan di tepi sungai suci dan di bawah rindangnya pohon suci, dan terlahir sudah membawa obor dan senjata pisau, yang lalu menguasai alam semesta. Proses kelahiran yang berasal dari batuan ini pula yang akhirnya dianggap sebagai “anak Bumi”. Suatu saat, dia melontarkan anak panah dan membentuk mata air. Air yang menyembur keluar digunakan bagi siapapun untuk menghilangkan rasa haus di dunia. Apakah ini terkait pembagian dewa dewi yang ditujukan pada penguasa air laut dan air tawar layaknya di budaya Mesopotamia dengan tokoh dewa dewi Apsu – Tiamat – Ea, penulis masih belum menemukan jawabannya. Mungkin saja sekedar simbol dari kehadiran dewa yang terkait air atau pengairan yang terkait musim tanam dan panen yang berlimpah (untuk wilayah Rusia atau area dekat kutub utara, dewa Bulan yang terkait hal ini).

Pada suatu ketika, Mithras berburu banteng dan berhasil menangkapnya. Banteng ini rupanya bukan sembarang banteng, karena tubuhnya sanggup menyerap energi Bulan dan semua kelembaban angkasa (ibarat uap air atau atmosfer, yang pada era Babylonia terkait dewa Mummu). Oleh Mithras akhirnya banteng ini dijadikan persembahan (dijadikan hewan kurban). Ternyata, dari darah banteng inilah lalu muncul beragam hewan dan tanaman.

Dalam mitologi perbintangan, tokoh ini identik dengan Perseus, yaitu mitologi rasi bintang Perseus yang berhasil mengalahkan Medusa, monster berambut ular, dibantu oleh kuda tunggangan milik Zeus bernama Pegasus, dalam rangka membebaskan putri Andromeda.

Kisah ini tidak lepas dari era orang yang sangat dihormati dan dianggap suci yang berasal dari wilayah Iran dan pembaharu agama, Zarathustra yang lebih dikenal luas di luar Iran sebagai Zoroaster (masih belum final kapan periode keberadaannya, ada yang mengatakan kisaran tahun 1000 SM, ada yang menyatakan abad 6 atau 7 SM) dan dianggap sebagai pendiri paham Zoroastrianisme.

Sebenarnya budaya yang berkembang di wilayah Persia sangat unik dan kaya. Aneka suku dan bahasa berkembang dan relatif mapan dalam rentang waktu millennia. Bahwa pengenalan terhadap tokoh dewa Matahari (sebagai the third messenger) pun relatif merata. Pada waktunya juga dikenal konsep trinitas (3 dewa utama) dalam penciptaan dan harmonisasi jagad semesta, baik dalam ranah ujud maupun spirit.

 

Gambar 5. Mithra sedang melakukan persembahan banteng. Relief ini berasal dari abad 2. Kini disimpan di the Städtisches Museum, Wiesbaden (Bavaria-Verlag). Ref.: Encyclopaedia Britannica

 

Dewa Surya dari India

Tokoh Surya, dalam agama Hindu di masyarakat India, adalah Matahari sebagai benda yang sehari-hari kita saksikan sekaligus sebagai dewa Matahari. Meskipun pada periode Weda (Veda: Sansekerta: Knowledge) (Vedic; abad 1500-500 SM, awal masuknya budaya Iran kuno ke India atau masyarakat yang berbahasa Indo-Eropa) beberapa dewa lainnya juga memiliki karakteristik Matahari, dan selanjutnya sebagian besar dewa-dewa ini akhirnya seolah menjadi satu kesatuan dalam dewa Surya yang populer dikenal dan dipuja hingga kini.

Pada awalnya dewa ini setara dengan dewa Wisnu, Siwa, Shakti, dan Ganesha. Banyak kuil didedikasikan kepada mereka di seluruh wilayah India. Kelima dewa ini menjadi sentral pemujaan oleh kelompok Brahmana (pendeta) dan termasuk oleh sekte Smarta. Namun, oleh sekelompok kecil, yaitu dari sekte Saura (Saura Sect), dewa Surya dipuja sebagai dewa tertinggi. Pada sisi lain, nama dewa Surya pada kenyataannya selalu disebut-sebut setiap pagi oleh sebagian besar umat Hindu (mantra Gayatri), dan yang jelas ditujukan pada kehadiran Matahari pada setiap harinya (disadari ataupun tidak, kita semua pastilah berharap masih selalu dapat melihat terbitnya Matahari dan tentu saja kehadirannya menjadi sangat penting bagi roda kehidupan makhluk di Bumi), khususnya sekte Smarta. Hal ini diduga sama dengan budaya Iran kuno (terkait tokoh Mithra dan sistem pemujaannya).

Pengaruh penyembahan Iran kuno terhadap Mithra di India menjadi sangat jelas pada era awal abad pertama. Khususnya di kuil di wilayah India bagian utara bahwa dewa Surya digambarkan memakai pakaian yang sangat khas berasal dari wilayah di utara India, juga dengan bentuk sepatu tinggi serta ikat pinggangnya (avyanga atau Avestan avyonhana). Sementara itu, pada eranya, The Magas (para pendeta di Iran, atau Magi) merupakan pendeta yang khusus berperan dalam pemujaan Matahari dan berdasar sejarah budaya bahwa pada akhirnya mereka inilah yang konon berasimilasi menjadi kaum pada tingkatan Brahmana. Salah satu kuilnya dibangun di wilayah Multan di tepi Sungai Chandra Bhaga (kini Sungai Chenab, di Pakistan) dan merupakan kuil utama dalam penyebaran paham ini, khususnya sejak abad 7.

Dewa Surya sering digambarkan sebagai satria yang memakai kereta kuda dengan seekor kuda berkepala tujuh atau kadang memang ditarik oleh 7 ekor kuda. Berkendara sambil memegang bunga teratai yang mekar. Secara ujudnya juga terdapat lingkaran cahaya (aura) di kepala. Salah satu kuil yang paling indah yang didedikasikan untuk dewa Surya dibangun pada abad ke-13, Surya Deula atau kuil Matahari yang kadang disebut Pagoda Hitam, terletak di Konark – Odisha. Ada relief yang menggambarkan dewa Surya menarik kuda di langit. Bila melihat gambaran ini, adalah mirip dengan Helios. Dimaklumi karena wilayah utara pada masanya berada pada kejayaan Yunani dan Romawi dan kemungkinan besar kisah inipun dibawa oleh masyarakat Scythian kala itu.

 

Gambar 6. Patung Dewa Surya di Deo-Barunarak, Bihar, India, abad 9.Credit: Pramod Chandra (ref.: Encyclopaedia Britannica)

 

Hadirnya kisah ini di wilayah India bagian utara dimaklumi karena masyarakat mereka (dapat dianalisis bahwa ini terkait masyarakat sekte Saura) berawal dari kaum pengembara (nomad) dari masyarakat lebih utara lagi, yaitu pengguna bahasa Indo-Eropa (Indo-Iran atau Iran/Persia), lebih specifik lagi adalah masyarakat Scythian yang populer juga dengan nama masyarakat Saka atau Sacae (ref.: Scythia). Konon, masyarakat ini pula yang bahkan sampai ke Indonesia. Hal ini terkait dengan Raja Kanishka dari Kerajaan Kusana yang tidak lain masyarakat pengembara Mongolia – Yuehchih/Kusana/Kushan yang konon dipimpin oleh Aji Saka yang akhirnya mendarat di pantai Rembang tanggal 14 Maret 78 (Sawitar, 2005). Belum lagi kalau kita kaitkan hadirnya kata bog untuk wilayah Rusia yang ternyata juga berasal dari Indo-Iran.

Tokoh Surya dianggap sebagai sumber hadirnya dewa lainnya yang juga sangat berpengaruh. Salah satu putranya adalah Manu yang merupakan nenek moyang umat manusia. Ketika dewa Wisnu menjelma menjadi ikan – Matsya, dia memberitahu Manu kalau akan terjadi banjir besar yang akhirnya Manu selamat setelah berhasil membuat perahu besar. Banjir ini dalam mitologi mirip dengan tenggelamnya benua Atlantis yang terkait Posseidon/Neptunus (Wilkinson, p.26, 162). Lainnya adalah Yama sang dewa kematian, Ashvins sang tabib kembar untuk para dewa, Karna yang tidak lain seorang pejuang besar dalam kisah yang sangat terkenal Mahabharata, dan Sugriwa sang raja kerajaan monyet dalam lakon populer Ramayana yang mengirim jenderalnya Hanoman membantu Rama untuk membebaskan Sita/Sinta (Wilkinson, p.166-7). Pada kitab Purana (koleksi mitos dan legenda India/Hindu) tercatat bahwa senjata para dewa berasal dari potongan tubuh sang dewa Surya, yang ber-aura keemasan sangat cemerlang. Kekuasaan dewa Surya selain penerang kegelapan juga melingkupi penyembuhan penyakit, dan memberi kehangatan ke seluruh dunia.

 

Gambar 7. Surya Deula, Konark, Odisha, India. Credit: Frederick M. Asher (ref.: Encyclopaedia Britannica)

 

Dewa Bulan di Skandinavia, Norwegia, Islandia, dan sekitarnya.

Budaya dari masyarakat wilayah utara (budaya Norsemen), khususnya Skandinavia, Norwegia, Islandia, dan sekitarnya yang terejawantah dalam mitologinya (bentuk manuscript lengkap yang dijumpai) sebenarnya belum terlalu tua, kisaran abad 13. Namun, tentu saja apabila ditelaah berbasis tradisi lisan sudah berkembang sejak era awal masehi. Sebenarnya, bila ditelusuri akan dimaklumi bila budayanya dengan wilayah Baltic dapat dikatakan (pada suatu masa) mirip. Penghuni daerah ini diduga telah mapan sejak 10.000 SM (wilayah Sjæland), walau bukti budaya berburu dan memancing baru ditemukan kisaran 6500 SM dan budaya agraris dan beternak kisaran 2500 SM. Lebih maju dengan ditemukannya alat pertanian baru kisaran tahun 2000 – 1000 SM (Norse Mythology: Introduction – The Historical Background).

Berdasarkan mitologi kosmologinya bahwa terdapat 9 dunia pengisi pohon jagad raya Yggdrasil. Para dewa mendiami alam Asgard, manusia mendiami Midgard, yaitu wilayah di pusat jagad raya. Juga ada Jötnar, dunia yang ditempati para teman, kekasih, sahabat, keluarga hingga musuh para dewa (ada kemungkinan bahwa penghuninya adalah yang berada di luar jalur kerajaan para dewa, namun terkait erat dengan para dewa tersebut). Ada pula jagad yang didiami para elf (makhluk supranatural) dan jagad yang dihuni khusus oleh para kurcaci. Antara alam dunia yang satu dengan yang lain dapat saling berinteraksi. Pada kisah mitologi inipun, benda langit dipersonifikasikan yang antara lain dengan hadirnya dewi Matahari (Sol atau Alfrodulelf-beam), dewa Bulan (Mani), dan dewi Bumi (Jord atau Fjorgyn ujudnya raksesi; putri dari Nott; ibunda dari Thor). Demikian pula yang terkait dimensi waktu seperti dewa penguasa hari (Dagr) dan dewi penguasa malam (Nott; Jötunn), yang dalam kisahnya Nott merupakan nenek dari Thor (Thor identik dengan Zeus di budaya Yunani atau Jupiter di Romawi, atau kalau sebagai penguasa hari di Indonesia setara dengan Batara Guru / Wrahaspati / Respati, terkait hari Kamis) atau ibu dari Dagr. Pada satu versi dikatakan bahwa dewi Matahari adalah adik dari dewa Bulan, keduanya anak dari dewa Mundilfæri.

Dalam pengembaraannya di langit, para bintang-bintang menyatakan tidak mengetahui di mana mereka berdua (dewi Matahari dan dewa Bulan) bertempat tinggal (kemungkinan justru karena baik Matahari dan Bulan senantiasa bergeser di antara bintang-bintang di daerah Zodiak). Seperti halnya kisah Helios, maka dewi Matahari ini berkelana di langit dengan mengendarai kereta kuda, yaitu dengan ditarik oleh kuda Arvak dan Alsvid (Alsvinn). Inipun berlaku untuk dewi malam Nott). Fungsi dewa Bulan dan dewi Matahari sebagai kakak adik salah satunya adalah “to count years for men” atau “to tell the time for men”, kemungkinan bahwa ini terkait kalender Matahari dan kalender Bulan yang kini dikenal. Bahkan dewi Bulan juga disebut “the shiner” oleh para kurcaci dan “the counter of years” oleh para elf. Ini juga menjadi keunikan sendiri, karena apabila dibandingkan dengan kecerlangan Matahari “rasanya” cahaya Bulan tidaklah seberapa. Namun, julukan “the shiner” tetap diberikan ke Bulan, bukan ke Matahari yang sejatinya dalam hal ini konteksnya adalah Sang Berlian yang bercahaya indah. Kemungkinannya adalah di bentang kubah langit malam yang cerah penuh kerlap kerlip bintang gemintang, hadirnya Bulan sangat terasa kemegahannya (istimewanya saat purnama). Mendominasi pandangan mata. Untuk Matahari mungkin tidak terasa.

Uniknya lagi bahwa dalam salah satu karya puisinya, dikatakan “Matahari (muncul) dari selatan” di mana kemungkinannya bahwa bagi masyarakat di dekat kutub (utara maupun selatan, dalam kasus masyarakat Norsemen di utara), mereka memang tidak mengenal arah mata angin (titik cardinal) timur dan barat, hanya utara dan selatan. Atau paling tidak, seandainya mereka tidak tepat di kutub utara, bahwa Matahari muncul ekstrim dari arah yang cenderung selatan dan hal ini dimaklumi karena lingkaran ekuator langitnya mendekati lingkaran horizon (di Indonesia pun, pada kala tertentu, Matahari pun akan terbit hingga 23,5 derajat ke arah selatan dihitung dari titik timur).

Ada juga legenda, bahwa Matahari dan Bulan seolah berjalan di langit karena dikejar oleh warg (varg, vargar) atau srigala. Dewi Matahari dikejar oleh srigala Sköll, sementara dewa Bulan dikejar srigala Hati Hróðvitnisson, adik dari Sköll. Dari kisah mereka juga dapat disimpulkan bahwa Matahari terkait gender feminin, sementara Bulan terkait maskulin. Dalam kisah lainnya, yang terkait nama hari, tentu tokoh Thor (Thursday), Freya (Friday), Tiw (Tuesday) tentu tidak kalah menarik. Dalam akulturasi terkait Jupiter, Venus, dan Mars.

 

Pertimbangan

Demikianlah sekelumit kisah seputar fenomena kubah langit yang melahirkan ragam kosa kata dan cerita seputar Matahari; dari era Mesir kita dapat belajar tentang kisah piramida yang bila disandingkan dengan pengembaraan Matahari jadilah harmoni kalender yang kita gunakan saat ini. Dari ranah Rusia dan sekitarnya, termasuk wilayah Baltic, serta Norsemen kita pun tahu bahwa citra Matahari dan Bulan ternyata berbeda dalam masalah gender yang selama ini umum menjadi perlambang, yaitu maskulin untuk Matahari dan feminin untuk Bulan; selain itu juga hadirnya konsep kalender seperti di Mesir. Sementara itu, dari wilayah Persia kita dapat belajar bagaimana proses akulturasi budaya yang cukup jelas antara peralihan Yunani ke Romawi sampai ke Persia bahkan akhirnya ke India di mana dari ranah terakhir kita disuguhkan karya epik yang begitu mempesona dalam Mahabarata dan Ramayana, tentu juga hadirnya ragam candi yang sangat berbeda dengan tampilan piramida. Dan dari wilayah ini pula sampailah budayanya ke Bumi Nusantara. Semua tidak lain adalah sekedar sketsa sezarah sejarah dalam dekap kebudayaan manusia yang berbalut penalaran kosmis. Berharap ada yang berminat untuk mengembangkan lebih jauh lagi bahkan berlandas acu ranah Nusantara. Semoga bermanfaat. Salam Astronomi. –WS–

 

Daftar Pustaka

Cornelius, G., 2005, The Complete Guide to the Constellations, Duncan Baird, London, p.150-2

Orchard, A., 1997, Cassell’s Dictionary of Norsemyth and Legend, Cassell, London, p.30, 35, 222, 333-4

Sawitar, W., 2005, Constellations: In the Time Scale of the Cultures, Proceedings of the “9th Asian-Pacific Regional Meeting (APRIM-2005)”, ITB, Bandung, p.328-329

Wilkinson, P. & Philip, N., 2007, Mythology, Dorling Kindersley Limited, London, p.26, 95, 132-3, 141, 162, 166-7, 226-8,

 

Situs: