Articles

Written by Super User
PRESS RELEASE

Kegiatan Penelitian Hisab Rukyat
untuk Penentuan Awal Bulan Ramadhan 1438 H

Oleh Tim Observasi Bulan
Planetarium dan Observatorium
Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

Seperti yang telah dipaparkan pada situs ini sebelumnya (Kegiatan Penelitian Bulan Sabit Usia Muda), bahwa salah satu dari sekian banyaknya aplikasi langsung dari bidang ilmu Astronomi di kalangan masyarakat terwujud dalam bentuk penentuan waktu-waktu yang terkait erat dengan pelaksanaan ibadah keagamaan. Bagaimana pun, ibadah seperti ini banyak yang berpedoman pada kalender berbasis khususnya Bulan (bahkan kombinasi antara posisi Matahari dan Bulan, yaitu sistem luni-solar). Memang secara faktual yang tampak adalah pada umat Muslim yang terkenal dengan kalender Hijriahnya.

Di bawah ini, dapat dilihat perhitungan (hisab) yang dilakukan oleh Cecep Nurwendaya, yang merupakan salah satu anggota tim Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM, juga perbandingan dengan beberapa perhitungan lainnya dalam kegiatan Penelitian Hisab Rukyat di mana hal ini dilakukan dalam rangka penentuan awal bulan Ramadan 1438H. Hasil perhitungan ini nantinya akan digunakan sebagai pedoman kegiatan observasi (rukyat) yang rencananya akan dilaksanakan di kompleks mercusuar Cikoneng, Pantai Anyer, Serang, Banten. Kegiatan observasi ini merupakan ranah pencarian bukti astronomis dari perhitungan yang dilakukan.

Pada tanggal 26 Mei 2017 dalam kalender Hijriah adalah tanggal 29 Sya’ban 1438H, di mana pada hari itu biasa disebut sebagai hari hisab dan hari rukyat dan hari ijtimak. Hal ini karena fenomena ijtimak antara Matahari dan Bulan terjadi pada hari dan tanggal tersebut, yakni terjadi pada pukul 2:46:52,81 WIB. Perhitungan astronomis pun menunjukkan bahwa Matahari terbenam apabila dilihat dari kompleks mercusuar adalah pada pukul 17:47:46,93 WIB. Artinya kondisi fase Bulan yang rencananya akan diobservasi saat Matahari terbenam telah berumur kisaran 15 jam, atau fase Bulan Sabit Awal/Muda (hilal atau Anak Bulan). Jadi, dari perkiraan perhitungan astronomis bahwa Anak Bulan secara astronomis “kemungkinan” dapat diobservasi.

Adapun perhitungan dan pembanding perhitungan, dapat dilihat di bawah ini (semisal ada perbedaan, dimungkinkan sebagai akibat perbedaan lintang dan bujur pengamat ataupun koreksi dimensi ukuran piringan Bulan dan Matahari, kedalaman ufuk, atau lainnya):

Adapun pembanding perhitungan, dapat dilihat di bawah ini (dikompilasi oleh Mila, M. Rayhan, dan tim Planetarium Jakarta) untuk lokasi di kompleks mercusuar Anyer, Serang, Banten dengan:

Koordinat Lokasi     : 06o 04’ 13” LS - 105o 53’ 05” BT
Ketinggian               : 1 Mdpl
Area Waktu             : GMT +7 / WIB
Ijtima/Konjungsi1     : Jumat, 26 Mei 2017. Pukul 02:45 WIB

 

 

 

 

 

Adapun sehari setelah hari hisab/rukyat/ijtimak, Sabtu, 27 Mei 2017, tetap dilakukan pengamatan posisi Bulan Sabit Muda untuk konfirmasi perhitungan. Seperti hasil perhitungan dan pengamatan bulan Sya’ban 1438H yang baru lalu, bahwa ketika Anak Bulan pada saat hari hisab/rukyat/ijtimak belum terlihat, maka bulan Rajab digenapkan 30 hari. Untuk Ramadan kali ini, kemungkinan besar Anak Bulan dapat diobservasi dan dilihat. Namun, untuk konfirmasi terhadap hasil perhitungan astronomis, maka tetap dilakukan observasi pada hari Sabtu, 27 Mei 2017.

Pedoman untuk hari Sabtu, 27 Mei 2017 adalah sebagai berikut:

 

Adapun pembanding perhitungan yang didapat adalah sebagai berikut:

 

 

Pada penentuan kalender Hijriah dapat dikatakan:

  1. Berdasarkan hasil murni perhitungan astronomis (hisab) bahwa Anak Bulan sudah di atas ufuk ketika Matahari terbenam tanggal 26 Mei 2017 (hari hisab/rukyat/ijtimak). Posisi  tinggi Anak Bulan dari ufuk, jarak busur Bulan – Matahari dan umur Anak Bulan sudah memenuhi semua kriteria masuknya awal Bulan yang ada di Indonesia. Jadi tanggal 1 Ramadan 1438H jatuh pada tanggal 27 Mei 2017. Atau artinya pada hari Jum’at, tanggal 26 Mei 2017 malam mulai dilaksanakan shalat tarawih dan melaksanakan sahur sebelum saat masuk shalat Subuh hari Sabtu, 27 Mei 2017.
  2. Berdasarkan hasil observasi (rukyat), maka penentuannya berdasarkan hasil rukyat pada hari hisab/rukyat/ijtimak– Jum’at, 26 Mei 2017. Apabila ada kesaksian satu orang saja dari pengamat melaporkan hilal awal Ramadan, maka tanggal 1 Ramadan 1438H juga jatuh pada tanggal 27 Mei 2017.
  3. Kadang terjadi, hisab atau perhitungan yang digunakan berbeda dengan hasil rukyat. Jadi, dalam kasus ini dimungkinkan akan terjadi perbedaan dalam penentuan awal bulan Hijriahnya. Sebagai contoh: berdasar perhitungan bahwa Anak Bulan sudah di atas ufuk ketika Matahari terbenam di hari hisab/rukyat/ijtimak dan sudah memenuhi kriteria Imkannurrukyat (syarat batas minimal ketinggian hilal dapat dirukyat, bersifat empirik) atau criteria masuknya awal bulan. Namun, tidak ada kesaksian melihat Anak Bulan pada pelaksanaan rukyat.  Pada kondisi kritis seperti ini, ada perbedaan antara hisab dengan kegagalan Anak Bulan pada kegiatan rukyat. Pemerintah dalam Sidang Itsbatnya dapat menggunakan Fatwa MUI tahun 1981 dalam menetapkan Awal Bulan secara Tajribah atau empirik. Kebijakan ini dipakai untuk tujuan kemaslahatan umat. Kalau hal ini tidak dilakukan, maka pengguna hasil perhitungan murni biasanya lebih awal melaksanakan ibadah puasa/Idul Fitri dibandingkan dengan yang menggunakan hasil hisab dan rukyat. Bidang Astronomi sebagai ilmu (pure science atau MIPA) memang kini dapat menentukan “New Moon” atau Bulan baru yang berlandaskan sains murni dengan ketepatan yang semakin dapat diandalkan, namun tidak untuk menentukan “New Month” atau Awal bulan yang berlandaskan kriteria awal bulan hijriah yang lebih ke ranah religi. Kalau pada jaman dahulu kala memang menjadi lumrah apabila seorang astronom juga sekaligus ulama besar sebagai penentu kebijakan ibadah umat, bahkan banyak juga yang kepakarannya berkombinasi semisal dengan ahli Kimia, Fisika, dan Matematika.
  4. Perbedaan awal bulan tidak saja terjadi akibat perbedaan pengguna metode Hisab dan Rukyat saja, sesama pengguna perhitungan atau hisab juga dapat terjadi jika kriteria yang digunakan berbeda. Bahkan sesama pengguna rukyat pun dapat berbeda hasilnya tergantung metodologi, piranti rukyat, dan yang sering terjadi adalah masalah subyektivitas dan objektivitas perukyat. Jika posisi Anak Bulan sedang bersahabat atau “baik hati”, berada di bawah ufuk atau tinggi sekali di atas ufuk pada saat Matahari terbenam, contohnya seperti pada posisi Anak Bulan tanggal 26 Mei 2017, maka awal bulan Ramadan 1438 H tahun ini di Indonesia berpotensi bersamaan waktunya. Menurut seluruh kriteria Perhitungan Awal Bulan sudah memenuhi, begitu pula banyak referensi astronomis, Anak Bulan dapat teramati  di Indonesia.

 

Semoga informasi ini bermanfaat. Salam sejahtera bagi kita semua serta tidak lupa, bagi yang menjalankannya – kami ucapkan selamat menunaikan ibadah Ramadhan 1438H, bulan yang senantiasa dirindukan. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

 

 

Catatan kaki

1https://cycletourist.com/moon/

 

 Press release ini dapat diunduh pada link berikut https://goo.gl/j5Up5p