Observatorium

Sejak berdirinya, Planetarium Jakarta telah dilengkapi dengan ruang khusus untuk melihat langsung benda langit melalui beraneka jenis teleskop (teropong bintang) yang dipasang didalamnya. Bentuk bangunannya yang unik adalah pada atapnya dengan struktur setengah bola yang dapat dibuka-tutup dan berputar secara horizontal ke segala arah. Bentuk ini dipilih lebih karena alasan teknis, yaitu mengurangi kuatnya terpaan angin dari luar, kemudahan pengoperasian mekaniknya, masalah sirkulasi udara di atas teleskop agar tidak terlalu acak, dan dapat mengamati seluruh daerah langit. Ruang inilah yang umum disebut observatorium. Walau demikian, dalam pengembangannya secara global bahwa bentuk serta instrumentasi yang ada didalamnya dapat beraneka ragam tanpa mengurangi fungsi observatorium itu sendiri.

Terdapat 3 observatorium di Planetarium Jakarta yang digunakan untuk pengamatan, baik secara visual maupun fotografi. Letak geografis kota Jakarta yang dekat ekuator memiliki keistimewaan, yakni dapat mengamati kubah langit belahan utara maupun selatan secara bersamaan. Jadi, sebenarnya sudah tepat kalau dibangun observatorium saat pembangunan Planetarium Jakarta. Hanya saja yang kini menjadi kendala adalah besarnya polusi udara dan cahaya. Secara pengamatan visual untuk benda redup yang terdapat pada langit malam masih dapat dilakukan. Namun saat melakukan pemotretan, hal ini menjadi sangat sulit dilakukan. Dengan kondisi demikian, maka kini fokus kegiatannya lebih pada memperkenalkan kepada masyarakat tentang apa itu kegiatan observasi (praktek Astronomi) dan pendokumentasian fenomena Astronomi, tidak untuk riset. Andai dilakukan penelitian yang juga sebagai salah satu misinya, tetap dalam skala terbatas untuk membantu dunia Astronomi professional dengan kolaborasi seperti khususnya dengan Observatorium Bosscha ITB di Lembang maupun LAPAN.

Pada kompleks bangunan Planetarium Jakarta yang paling depan di lantai paling atas terdapat observatorium yang berisi teleskop ASKO, jenis reflektor Cassegrainian (memakai cermin) berdiameter 31 cm. Dengan usia yang sudah puluhan tahun, walaupun kondisi optiknya masih prima, teleskop ini sekarang lebih sering digunakan secara manual ataupun untuk sarana pembelajaran. Teleskopnya memiliki medan pandang sempit dan ujud fisiknya cukup besar.

Pada bangunan tengah juga di lantai paling atas, bersanding dengan bangunan planetarium, observatoriumnya berisi teleskop Takahashi, jenis reflektor Newtonian berdiameter 16 cm yang telah dioperasikan sejak tahun 1983. Walaupun tanpa motor penggerak, namun dapat diandalkan untuk kegiatan peneropongan umum. Hal ini karena medan pandangnya tidak terlalu kecil dan ukurannya juga tidak besar sedemikian secara manual masih relatif mudah dioperasikan. Masalah optis tergolong baik, maka tergolong prima untuk digunakan dalam kegiatan pemotretan Matahari, Bulan, dan planet masih dapat diandalkan.

Pada bangunan berlantai 4 layaknya menara di halaman belakang terdapat observatorium yang berisi teleskop Coude, jenis refraktor berdiameter 15 cm (memakai lensa). Saat ini sedang dalam proses pemeriksaan karena tidak sinkronnya sumbu teleskop. Hal ini juga dimaklumi karena baik teleskop dan motor penggeraknya memakai teknologi pada era yang sama dengan awal pembangunan Planetarium Jakarta.

Selain teleskop yang diletakkan di observatorium, masih terdapat 10 portable telescope yang dapat mobile sedemikian dapat dibongkar pasang tergantung kebutuhan. Keuntungannya bahwa teleskop ini dapat dibawa ke lokasi dimanapun tempat pengamatan yang dipilih. Sistem yang digunakan beraneka ragam. Selain untuk pengamatan, juga untuk sarana pembelajaran, baik yang dilakukan di Planetarium Jakarta maupun di luar semisal untuk kegiatan penyuluhan ke sekolah, kegiatan Hisab Rukyat, pembinaan Astronomi Amatir, peliputan fenomena Astronomi, dan sebagainya.