01.

Informasi Penutupan Pelayanan Publik

Informasi Penutupan Pelayanan Publik terkait pandemik virus Corona di Jakarta.

Selengkapnya

02.

Jadwal Pertunjukan Teater Bintang

Informasi mengenai Jadwal Pertunjukan Teater Bintang (Planetarium) untuk rombongan dan perorangan.

Selengkapnya

03.

Kegiatan Peneropongan Langit Malam

Melihat lebih dekat benda-benda langit malam seperti Bulan dan beberapa Planet menggunakan teleskop.

Selengkapnya

04.

Kegiatan Peneropongan Matahari

Sudah pernah lihat bintik Matahari? Kalau belum, yuk kita neropong Matahari bersama-sama. Silahkan cek jadwal dan waktunya ya.

Selengkapnya
Written by Widya Sawitar
Category:
Taurus Sang Banteng
(bagian pertama)


Gambar 1 Taurus

Ilustrasi imajinatif rasi bintang Taurus. Di depan Taurus adalah si kembar Gemini dan di belakang adalah rasi bintang Aries. Secara resmi, gambaran banteng ternyata hanya setengah badan, tidak gambar banteng utuh dari ekor hingga kepala.
Credit: Ide: Pasachoff, p.78 (Handelman/The New Yorker Mag.) / direka dan digambar ulang oleh WS.

*Latar belakang:

Gugus galaksi Abell 1689 – NASA, ESA, E. Jullo (JPL), P. Natarajan (Yale Univ.), J.P. Kneib (Laboratoire d'Astrophysique de Marseille, CNRS, France);

*Bintang-bintang:
Gugus bintang NGC 346 di Awan Magellan Kecil – NASA, ESA and A. Nota (STScI/ESA);

*Badan banteng:
Gugus galaksi Cl 0024+17 – NASA, ESA, and M.J. Jee (Johns Hopkins Univ.)

Written by Widya Sawitar
Category:

Ref.: George A. Davis Jr. (p.23)

 

Kembali membahas sejarah pemetaaan langit, maka setelah perkembangan budaya Mesopotamia, Sumeria, dan Babylonia, maka yang patut dicatat adalah pada era astronom dan ahli Matematika (juga kedokteran) Yunani yang bernama Eudoxus (390/408 – 337/340/355 SM, dari Cnidus – Laut Hitam), murid dari Archytas dan Plato (428/427 atau 424/423 – 348/347 SM) sang pendiri akademi ilmu pengetahuan di Athena (Gurunya adalah Socrates dan murid terkenalnya Aristotle). Pada era-nya bahwa Astronomi adalah cabang dari Matematika. Jadi dimaklumi apabila kala itu dalam sejarah budaya Yunani ditemui bahwa seorang astronom adalah juga seorang matematikawan (dan umumnya juga sebagai filsuf).

Written by Widya Sawitar
Category:
Lukisan zodiak di dinding gua. Credit: Constellations – IAU

These stars you can see returning in orderly succession as the years pass,
for all these images are very firmly fixed in the heaven through the moving night.

Aratus (315-245 SM) dalam karyanya “Phaenomena” (275 SM) (Ref.: Hunter)

 

Jika kita melihat bintang gemintang di kubah langit malam nan cerah, kesan yang mungkin terjadi dalam rentang usia hidup kita bahwa konfigurasi mereka tampak abadi dan tidak berubah. Perubahan pun hanya “sekedar” bahwa mereka terbit dan terbenam hari demi hari. Bila kita ikuti waktu demi waktu, mereka semua benar-benar meyakinkan kita bahwa mereka “hampir” tidak pernah berubah. Ketika melihat ke samudra perbintangan, yang jelas bahwa Anda akan melihat bintang-bintang yang sama – yang telah disaksikan oleh leluhur kita atau secara global dinikmati oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu, sejak keberadaannya.