01.

Informasi Penutupan Pelayanan Publik

Informasi Penutupan Pelayanan Publik terkait pandemik virus Corona di Jakarta.

Selengkapnya

02.

Jadwal Pertunjukan Teater Bintang

Informasi mengenai Jadwal Pertunjukan Teater Bintang (Planetarium) untuk rombongan dan perorangan.

Selengkapnya

03.

Kegiatan Peneropongan Langit Malam

Melihat lebih dekat benda-benda langit malam seperti Bulan dan beberapa Planet menggunakan teleskop.

Selengkapnya

04.

Kegiatan Peneropongan Matahari

Sudah pernah lihat bintik Matahari? Kalau belum, yuk kita neropong Matahari bersama-sama. Silahkan cek jadwal dan waktunya ya.

Selengkapnya
Written by Widya Sawitar
Category:
Avenue of Sphinx. Credit: Gelia/Fotolia

Seperti tema yang pernah dipaparkan pada artikel mitologi Matahari sebelumnya, yaitu yang berasal dari ranah Nusantara (Tèkang Adityamandala – budaya Jawa) dan hadirnya tokoh HELIOS, Sang Dewa Matahari pada budaya Yunani/Romawi, maka kali ini dicoba didongengkan serba sedikit mengenai kisah terkait yang berasal dari ragam budaya manca negara. Sebagian besar kisah kali ini dicoba dengan meringkas data berbasis beberapa situs yang ditulis pada akhir artikel, juga dari rujukan tambahan termasuk latar belakang Astronomi.

25-26 Desember 2016, Pertunjukan Planetarium Tutup

Category:

Diberitahukan kepada pengunjung Planetarium dan Observatorium Jakarta bahwa pada hari Minggu tanggal 25 Desember 2016 (Hari Natal) dan tanggal 26 Desember 2016 (cuti bersama), pertunjukan teater bintang (planetarium), ruang pameran, dan kegiatan peneropongan matahari TUTUP. Pertunjukan teater bintang dan pameran buka kembali pada hari Selasa tanggal 27 Desember 2016. Keputusan ini sesuai dengan ketentuan/kebijakan Planetarium dan Observatorium Jakarta.

 

Terima kasih.

Written by Widya Sawitar
Category:
Galaksi spiral berbatang (NGC1300). Credit: NASA, ESA

Sejak dulu bangsa kita sudah melihat adanya penampakan kabut putih membentang dari langit utara ke selatan seperti selendang awan. Pada bagian tertentu terdapat daerah gelap, seperti gambaran orang sedang bertarung dengan ular besar. Diyakini bahwa itu adalah gambaran salah satu tokoh Pandawa Lima dalam kisah Mahabarata, yaitu Bima yang sedang bertarung dengan naga. Bima memenangkan pertarungan sedemikian lahirlah nama Bima Sakti untuk kabut putih itu. Lain halnya dengan bangsa di Eropa, gambarannya adalah air susu dewi Juno yang tumpah di langit sedemikian mereka menyebutnya Milky Way (Jalur Susu atau Kabut Susu). Masalah ini telah dibahas pada artikel Bima Sakti: Mitologi dalam Budaya Jawa dan Bima Sakti: Mitologi Manca Negara. Yang dipaparkan di sini, akan dibahas berbasis setelah pembuatan teleskop atau teropong bintang oleh Galileo. Sebagai catatan dalam artikel, apabila disebut “Bima Sakti” artinya lajur kabut putih membentang yang dilihat pada malam hari seperti yang disaksikan sejak dulu oleh nenek moyang kita; dan apabila merujuk pada keluarga besar bintang termasuk Matahari didalamnya, disebut galaksi Bima Sakti atau galaksi saja.

Written by Widya Sawitar
Category:

ABSTRAK

Bersama dengan langkah maju keastronomian global, ternyata makin disadari bahwa pada ranah Nusantara pun banyak ditemukan pengetahuan tentang ilmu ini. Di sini akan disinggung sedikit beberapa temuan itu dengan mencoba menyelisik utamanya di budaya Jawa. Tampak bahwa budaya Astronomi yang ada tidak lepas dari tata laksana kehidupan sehari-hari, baik bagi masyarakat agraris hingga para petualang samudera. Adapun masa transisi dapat disebut pada rentang saat dibangunnya Observatorium Mohr di Batavia, Observatorium Bosscha di Lembang hingga RI berdiri. Sementara itu, secara formal pendidikan tinggi Astronomi di Indonesia disepakati dimulai pada tanggal 18 Oktober 1951, yaitu 6 tahun setelah kemerdekaan dan 8 tahun sebelum induknya (ITB) lahir yang kini Prodi Astronomi ITB merupakan satu-satunya prodi Astronomi di Indonesia. Giliran tahun 1964 dibangunlah Planetarium Jakarta yang digagas oleh presiden pertama RI. Tentu pada tahap selanjutnya, dunia Astronomi pun diperkenalkan pada jenjang yang lebih dasar. Ini tidak lepas dari keunikan karakter Astronomi yang berkelindan dengan ragam keilmuan dari ilmu murni hingga sosial–budaya, yang dalam aplikasinya menyangkut banyak lagi keilmuan yang tidak dapat terpisah bahkan hingga dataran religi.

Kata Kunci: Budaya Astronomi – Pendidikan Astronomi – Jejaring keastronomian

Category:
Berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 202 tanggal 20 Oktober 2016. Mulai hari Selasa, 22 November 2016 harga tiket pertunjukan Planetarium Jakarta untuk perorangan adalah sebagai berikut:

 

Umum/Perorangan

  • Dewasa                                     Rp. 12.000,-/orang (tingkat SMP s.d. Dewasa)
  • Anak-anak/Pelajar                    Rp.  7.000,-/orang (2 tahun s.d. usia tingkat SD)

 

Harga tiket untuk rombongan tidak mengalami perubahan. Informasi detil tentang Peraturan Gubernur Nomor 202 Tahun 2016 dapat diunduh di sini

 

Demikian, terima kasih.