01.

Informasi Penutupan Pelayanan Publik

Informasi Penutupan Pelayanan Publik terkait pandemik virus Corona di Jakarta.

Selengkapnya

02.

Jadwal Pertunjukan Teater Bintang

Informasi mengenai Jadwal Pertunjukan Teater Bintang (Planetarium) untuk rombongan dan perorangan.

Selengkapnya

03.

Kegiatan Peneropongan Langit Malam

Melihat lebih dekat benda-benda langit malam seperti Bulan dan beberapa Planet menggunakan teleskop.

Selengkapnya

04.

Kegiatan Peneropongan Matahari

Sudah pernah lihat bintik Matahari? Kalau belum, yuk kita neropong Matahari bersama-sama. Silahkan cek jadwal dan waktunya ya.

Selengkapnya
Written by Widya Sawitar
Category:

There is a way on high,

conspicuous in the clear heavens,

called the Milky Way,

brilliant with its own brightness.

(Ovid - Metamorphoses, pada abad pertama di Roma. Ref.: Cosmos, p.268)

 

Sejak dulu bangsa kita sudah mengenal adanya penampakan kabut laksana selendang putih tipis membentang dari langit utara ke selatan seperti awan. Pada bagian tertentu terdapat daerah gelap, seperti gambaran orang sedang bertarung dengan naga. Diyakini bahwa gambaran orang itu adalah salah satu tokoh Pandawa Lima dalam kisah Mahabarata, yaitu Bima yang sedang bertarung dengan ular besar (naga). Dalam cerita, Bima memenangkan pertarungan sedemikian lahirlah nama Bima Sakti untuk kabut putih itu (lihat artikel Bima Sakti: Mitologi dalam Budaya Jawa). Bila dilihat cermat, seakan kabut tadi terbelah menjadi 2 pita. Jadi, bila disaksikan dari ufuk ke ufuk akan dimaklumi bila pada budaya tertentu melihatnya seolah penjelmaan dari makhluk berkaki 4 seperti masyarakat di Mesir Kuno.

Written by Widya Sawitar
Category:
Helios dengan Kereta Kudanya. Credit: theoi.com

Seperti yang pernah dinyatakan pada artikel BIMA SAKTI, Mitologi dalam Budaya Jawa yang membahas mitologi dalam budaya Jawa mengenai nama galaksi kita, bahwa “Penelusuran dalam topik ini yang terkait juga dengan sejarah Astronomi tentu masih menjadi medan penelitian yang terbuka luas yang seolah menjadi cakrawala yang tiada terbatas yang juga dapat terjadi karena perbedaan penafsiran terhadap naskah kuno sebagai tinggalan jejak budaya.”

Written by Widya Sawitar
Category:
Milky Way. Credit: Planetarium Jakarta.

Mengenai penamaan Lintang Bima Sakti, memang banyak versi tuturan ataupun kisah seputar sebutan ini, antara lain cerita terkait Dewaruci, Nawaruci, Bima Suci, Bima Kunthing, Bima Sakti, dll. Beberapa tahun lalu penulis mencoba menelusuri kisah ini sekaligus demi menjawab pertanyaan dari seorang rekan astronom yang sudah sangat senior, baik dari usia maupun kepakarannya. Beliau kebetulan warga Jepang.

Written by Widya Sawitar
Category:
Ilustrasi Pembentukan Tata Surya. Credit: NASA dan ESA

Tata Surya terdiri dari planet, satelit, planet kerdil, meteoroid, planetoid/asteroid, komet, dan Matahari sebagai bintang sekaligus sebagai pusatnya. Delapan planet berturut dari yang paling dekat Matahari adalah Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Mereka mengedari Matahari pada lintasan masing-masing. Kecuali Merkurius (inklinasi/kemiringan bidang orbit 7o),